"Ma, maaf karena aku merepotkanmu membawa seorang tamu." Hana menghambur ke pelukan Ibunya. Melihat Hana kadang ia merasa dirinya adalah Hawa bahkan Bu Leni selalu salah memanggil nama Hana. "Hawa!" ucap Bu Leni sedih. Mungkin dengan menganggap dia adalah Hawa mengobati kerinduan wanita paruh baya tersebut. Hana selalu saja mendengar nama itu yang selalu saja di sebut Ibunya. Rasa kecewa hadir di hatinya melihat semua orang di sekitarnya terjebak pada saudara kembarnya tanpa memikirkan perasaan Hana yang sakit. Harus berapa lama Hana bertahan bersama orang-orang yang tak pernah menganggap kehadirannya bahkan Ibunya. Hana ingin di akui dan semua orang tahu keberadaannya tanpa memikirkan saudara kembarnya yang sedang koma. Ia menyesal memiliki wajah yang mirip dengannya. "Iya, Ma." sebuti

