Bermimpi

2090 Kata
Setiap orang masuk kesini akan lupa kesusahan yang memberatkan hatinya. Mereka semua keluar dari klub dalam keadaan senang karena telah melampiaskan pada wanita, perjudian, dan alkohol. Penjagaan ketat membuat para polisi sekalipun tidak bisa menangkap orang yang berada di klub, hanya dengan uang masalah selesai. Semua orang tahu siapa Adam bahkan para mafia kalangan atas tidak berani bermain-main dengannya. Adam menjadi salah satu orang yang paling di segani di dunia hitam seluruh eropa. Ketampanan yang mendarah daging sejak ia lahir membuat setiap wanita bertekuk lutut padanya bahkan siap memberikan keperawanan hanya untuk tidur semalam dengannya. Lelaki tersebut masih saja di dambakan oleh para kaum hawa sekalipun ia pernah gagal menikah. Adam semakin kejam sekarang tidak peduli dengan perasaan apapun, luka mendalam yang tertancap di hatinya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri untuk bisa terlepas dari bayang-bayang Hawa. Mata Hana tidak berhenti menatap Adam yang meneguk beberapa gelas alkohol. Sejak tadi mereka hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Hana kagum pada sosok Adamal yang tampan dan berkharisma kuat bahkan tadi Hana sempat mencium aroma tubuhnya yang khas saat di cekal oleh pria itu. Bagaimana mungkin Hawa meninggalkan pria sempurna seperti di hadapannya ini? Hana tahu Adam pria baik dan orang yang mampu membuatnya jatuh cinta akan di perlakukan layaknya ratu. Merasa ada yang memperhatikannya sejak tadi, Adam menoleh ke arah Hana yang masih menatapnya. "Kau jangan mengagumiku seperti itu. Bahkan aku merasa kau hantu membayangiku setiap malam." racau Adam setengah sadar menyadari tatapan Hana. "Adam...." panggil Hana merasa sakit hati melihat lelaki tersebut terluka dan masih terjebak di masa lalunya. Hana bingung, ia mengambil sesuatu dari tasnya berbentuk kotak, menarik sebatang rokok untuk melampiaskan kekesalannya pada Damian yang selama ini membuat Adam menderita karena memisahkan dua orang yang saling mencintai. Ia membakar ujung rokok itu menghisapnya pelan, menikmati asap yang memenuhi rongga dadanya kemudian membuang ke udara meninggalkan kumpulan asap menyesakkan d**a bagi perokok pasif yang menghirupnya. "Tolong beri aku minuman alkohol terbaik disini!" ucap Hana pada bartender di hadapannya. Setelah minuman itu siap, Hana meneguknya langsung tanpa menyisakan sedikitpun. Kesadaran Adam masih terjaga setelah minum beberapa gelas, ia mengucek matanya tidak percaya melihat sikap gadis yang di anggapnya selama ini berperilaku baik, tiba-tiba merokok dan minum alkohol. Dulu Hawa sangat benci rokok apalagi minum alkohol, menurutnya tidak baik untuk kesehatan. Adam bertanya-tanya dalam hati kenapa Hawa bisa berubah sekarang. "Kau merokok?" tanya Adam penasaran. Hana tidak mengerti dengan pertanyaan Adam yang di anggapnya lumrah di kota ini. "Apakah sebuah kejahatan dengan merokok?" pertanyaan itu sukses membuat Adam semakin ragu dengan wanita di hadapannya ini. Hana menghisapnya lagi hingga habis, puntung rokok itu di buang di bawah kakinya lalu menginjak-injak hingga nyala apinya padam. "Kau minum alkohol?" tanya Adam lagi merasa tidak nyaman dengan Hana. "Haruskah aku menjelaskan padamu kenapa aku berubah, memilih merokok dan minum alkohol?" ucap Hana jengkel dengan Adam yang banyak tanya. "Dulu kau paling benci dengan dua kebiasaan buruk itu dan sekarang kau melakukannya. Aku tidak yakin kau benar-benar Hawa," tukas Adam. Hana melotot karena Adam mulai curiga dengan kebiasaan buruknya itu. Kenapa dia begitu ceroboh? "Lihat kalung ini! Kau ingatkan ini adalah pemberianmu? Jika kau masih tidak percaya padaku, ayo kita temui Mama Leni besok!" jawaban Hana sukses membuat Adam percaya kembali karena itu memang kalung pemberiannya dulu dan Ibunya Hawa bernama Bu Leni. "Baiklah, kita akan menemui Tante Leni besok jika aku tidak sibuk," kata Adam akhirnya. Ingin memastikan sendiri keraguan yang memenuhi hatinya, Hana mengangguk mengerti pada keputusan lelaki tersebut. Dia akan menghubungi Damian nanti kalau Adam memintanya bertemu dengan Bu Leni besok. "Aku tidak ingin melihatmu merokok dan minum alkohol lagi! Itu tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi kau seorang wanita." tambah Adam menasehati Hana dengan kebiasaan buruknya. Untuk pertama kalinya ada yang menasehati Hana, ia terharu pada nasehat lelaki tersebut. Mata Hana berkaca-kaca melihat ketulusan Adam yang menganggapnya Hawa walaupun membenci wanita itu. "Siapa dirimu berani sekali melarangku!" teriak Hana ingin menguji sebesar apa cinta Adam pada Hawa. "Aku teman kecilmu. Ini bukan permintaan tapi perintah!" bentak Adam mengguncang tubuh Hana yang seketika membeku mendengar jawabannya. Wanita itu berpikir Hawa begitu beruntung di cintai oleh Adam yang peduli padanya. "Baiklah, terserah apa katamu." Hana menyerah untuk berdebat. Adam tersenyum senang melihat orang yang di anggapnya Hawa menuruti permintaannya. Sudah cukup pembuktian cinta Adam untuk Hawa. Sampai kapanpun Hana sadar Adam akan selalu mencintai Hawa sekalipun ia sedang marah sekarang. Setelah jam menunjukkan pukul 03.00 A.M Adam membawa Hana pulang, malam ini Adam puas menikmati kesenangan di klubnya. Adam berjalan sambil memijit keningnya merasa pusing, Hana mabuk berat di papah oleh Bodyguard Adam. Lelaki itu tak ingin terbawa dengan perasaannya lagi. Adam tidak akan lupa dengan dendamnya. Besok pembalasan dendamnya di mulai, akan ada hadiah yang besar untuk wanita tersebut. Sesampai di mansion, para pelayan masih terjaga. Mereka tidak berani tidur sebelum tuannya pulang, Adam murka jika para pelayan tidak menyambutnya. Mereka berjejer di depan pintu saat mobil Adam terdengar sudah tiba di mansion. Ia melewati para pelayan kemudian langkahnya terhenti. "Emma! Siapkan kamar tidur di lantai atas untuk wanita itu. Aku akan tidur di lantai bawah. Kalian semua bisa tidur sekarang!" perintah Adam pada Emma sebagai kepala pelayan di mansion ini. "Baik, Tuan." Emma membungkuk menuruti permintaan majikannya. Melihat Adam berlalu, para pelayan pergi untuk istirahat di kamarnya masing-masing. Setelah tiba di kamarnya Adam membuka seluruh pakaian yang ia kenakan lalu mengganti dengan piyama tidur. Adam merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk tak lama kemudian matanya terpejam. **** Seseorang menggunakan gaun putih di atas lutut dengan lengan membentuk lipatan berkerut. Rambutnya tergerai panjang dan menggunakan bando yang teranyam dari bunga putih di atas kepalanya. Ia tersenyum manis di atas ayunan akar yang dihiasi mawar putih. Kakinya bergerak perlahan karena ayunannya didorong oleh Adam. Hari itu Hawa seperti sesosok bidadari yang wajahnya tampak cerah seperti rembulan dan tertawa bahagia bersama Adam. "Jangan membenciku Adam! Aku sangat tersiksa karena kau membenciku selama ini." Kalimat itu terucap lirih. Kemudian, ada sesuatu yang ganjal di dekat pohon besar di sana, muncul cahaya putih bersih berkilauan. Seorang laki-laki berbadan tegap memakai baju lengan panjang putih sewarna dengan Hawa keluar dari cahaya itu. Mereka tampak bercahaya seperti malaikat tanpa sayap. Hawa berjalan ke arah cahaya yang tiba-tiba muncul lalu menoleh kebelakang, ia berbicara sesuatu pada Adam. "Kembalikan hidupku Adam!" Hawa memasuki cahaya terang, dalam sekejap menghilang setelah memasuki cahaya itu. Adam berteriak keras memanggil nama Hawa. "Hawaaaaaaaa!" Adam memegang dadanya sendiri. Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa ia memimpikan Hawa? Kenapa mereka memakai baju serba putih? Adam mengusap peluh di dahinya sendiri yang dipenuhi keringat dingin. "Hawaaaaa." Sekali lagi berteriak sendiri memanggil gadis itu. Baru satu jam Adam tertidur dan sekarang ia bermimpi aneh lagi. Sekarang Adam benar-benar tidak mengerti. Kenapa dia harus bermimpi yang sama hampir setiap hari? Kenapa bunga tidurnya begitu menakutkan? Untuk kesekian kalinya mimpi itu tidak nyata dan ia bangun dalam keadaan ketakutan. "Apa maksud semua ini? Hawa tidur di lantai atas dan kenapa aku masih memimpikannya?" suaranya terdengar parau karena menahan tangis. Mimpi itu mengagetkannya setiap saat. Napasnya menjadi tidak stabil kembali, kemudian ia keluar dari kamarnya. Langkah kaki Adam di percepat saat menaiki tangga, ingin sekali tiba di kamar orang yang berpura-pura menjadi Hawa. Adam memegang handle pintu dengan hati-hati mendorongnya agar tak menimbulkan suara membangunkan gadis tersebut. Adam melihat Hana terlelap mengenakan selimut sampai di bawah dagunya. Adam duduk di tepi ranjang menatap Hana dalam diam, ingin sekali Adam memukul gadis itu saat mereka bertemu tadi di klub tapi Adam tidak bisa padahal kebencian sudah memenuhi hati dan pikirannya. Semua salah Damian membawa Hawa pergi tiga tahun lalu seharusnya Adam sudah bahagia sekarang. Gadis itu semakin dewasa dan tumbuh cantik, dulu Hawa masih sangat polos dan tak mempedulikan make up tapi sekarang ia malah mengenakan make up tebal seperti seorang model. Adam tidak mengerti semua perubahan Hawa, mulai dari penampilan, rokok, alkohol, tadi Damian dan gadis tersebut sangat akrab padahal Adam mengenal dirinya, Hawa membenci Damian karena perselingkuhan di masa lalu. Kepala Adam ingin pecah memikirkan kejadian hari ini sangat mengagetkannya. Ia juga tidak mengerti mimpinya yang baru saja dia alami, Hawa meminta tolong padanya dan Hawa sekarang di hadapannya. Adam juga heran pada dirinya sendiri, mengapa ia tak merasakan sesuatupun saat dekat dengan gadis tersebut. Semuanya terasa hambar seolah perasaan Adam telah hilang padahal ia tahu dirinya sampai hari ini masih tersisa kepingan hatinya yang patah milik Hawa. Move on adalah hal paling sulit Adam lakukan, berulangkali ia berusaha melupakan gadis itu bahkan menjalin hubungan baru dengan Elena tapi tidak berhasil. Pesona teman kecilnya sangat kuat, mencabik-cabik hatinya untuk tetap bertahan pada rasa sakit. Seandainya saja Adam tahu kalau gadis di hadapannya ini bukan Hawa mungkin Adam tak akan bingung. Waktu akan menjawab semuanya, mengungkap sebuah rahasia yang selama ini mereka tutupi. "Aku sangat membencimu Hawa! Kau tidak tahu bagaimana kekecewaan orang tuaku padamu bahkan mereka masih berharap kau kembali. Tapi, aku tidak menginginkanmu lagi. Tidurlah dengan tenang, besok aku akan membuatmu menderita," bisik Adam mencoba mengancamnya, namun tak di dengar oleh Hana yang sibuk bersama mimpi indahnya. Adam keluar dari kamar Hana menuju ke kamarnya untuk tidur lagi, melepaskan rasa pusing dari kepalanya berharap besok mendapat kabar baik. **** Keesokan harinya, suara ketukan pintu sangat keras tidak membangunkan Hana di tempat tidur. Adam dan Emma menyelonong masuk melihat Hana masih tidur pulas. "Buka tirai jendela!" perintah Adam pada Emma sebagai kepala pelayan. Wanita itu membuka tirai jendela, matahari yang sudah meninggi melewati jendela kamar tepat mengenai Hana. Tapi, ia tidak bangun dan terganggu sedikitpun dengan cahaya matahari yang mulai panas. Adam kesal, Hana tidak bergeming di tempatnya. "Emma berikan aku air!" tegas Adam melihat pelayan itu mengambil segelas air minum di atas nakas di samping ranjang Hana. Byuuurrrrrrr Suara guyuran air terdengar jelas di telinga Emma. Adam menyiram wajah Hana dengan air membuat wanita itu spontan terbangun, ia terbatuk-batuk karena air masuk di hidungnya, bantal dan sprei basah karena ulah Adam. "Sialan! Siapa yang menyiramku?" teriak Hana langsung terduduk sambil menyapu wajahnya yang basah dengan tangan. Hana terkejut melihat tatapan dingin Adam dan seorang pelayan berdiri di belakangnya. Ia begitu takut memandangi pria di depannya ini, aura kejam tampak menguar dari tubuhnya. Hana baru sadar kalau ia di mansion Adam sekarang, karena mabuk Hana tidak ingat kejadian semalam. "Aku yang menyirammu. Lihat jam berapa sekarang! Kau bukan nyonya di rumah ini seenaknya saja bangun sesukamu," bentak Adam menyibakkan selimut Hana memaksa gadis itu bangun. Dengan sempoyongan Hana turun dari ranjang tanpa membantah sedikitpun. Sebuah pakaian melayang tepat mengenai wajah Hana. "Bersiap-siaplah Hawa, lalu pakai baju pelayan itu! Aku tunggu kau di bawah 10 menit jika terlambat, rasakan akibatnya." Adam melempar pakaian itu secara tidak sopan. ia benar-benar malas mengurusi hal tidak penting. Ia terpaksa melakukannya untuk melihat gadis tersebut menderita. Hana mendengar langkah kaki mereka keluar dari kamarnya. Ia mendengus kesal dengan kelakuan Adam yang dingin, Hana pikir Adam akan memperlakukannya seperti ratu. Ternyata halusinasi saja, apa ia lupa kedatangannya disini karena Adam balas dendam. Sial sekali hidupnya selalu berurusan dengan pria gila. Adam jauh lebih menakutkan dari Damian, mereka dua pribadi sangat berbeda. Damian akan bersikap baik jika Hana sudah melayani pria itu tapi Adam seperti mayat hidup kaku dan dingin lupa untuk tersenyum. Semua keinginannya harus terlaksana, Hana mandi di bawah guyuran shower otaknya masih tidak bisa berhenti berpikir terjebak pada dua pria yang memanfaatkan mereka. "Sial! Sial! Aku ingin kebebasanku. Semua pria sama-sama menyebalkan," gerutu Hana menggosok badannya dengan sabun cair. Setelah Hana merasa tubuhnya sudah bersih ia meraih handuk melilitkan pada badannya lalu keluar dari kamar mandi. Hana terkejut melihat Adam berdiri di depan pintu, mata biru Adam menatap tajam seakan ingin menelan Hana hidup-hidup. Ia tahu kesalahannya karena terlalu lama mandi ia jadi terlambat turun ke bawah. "Apakah kau tidur di kamar mandi? Kenapa kau membuatku menunggu?" geram Adam mendekati Hana sedari tadi membeku di tempatnya. Ia sadar kalau Adam tidak tertarik sedikitpun dengannya bahkan menggunakan sehelai handuk sekalipun. Tapi Hana akan menguji iman lelaki itu. Hana punya paras cantik dan tubuh aduhai mana mungkin Adam menolaknya bahkan Damian saja bertekuk lutut saat bermain di atas ranjang, sialnya Damian hanya menyebut nama Hawa. Hana mendekat meraba d**a lelaki itu pelan, ia sungguh penasaran pada Adam yang memiliki tingkat sempurna dalam hal ketampanan dan kekayaan. Sungguh Hawa sangat beruntung. Adam membuang muka merasakan tangan Hana meraba dadanya lalu naik ke wajahnya berusaha menggodanya. "Jangan menyentuhku, Hawa! Kau tahu benar aku benci di sentuh tanpa kemauanku. Apa sekarang kau berganti profesi menjadi w************n? Atau kau coba memancingku untuk tidur denganmu, Hah?" sorot mata biru Adam memancarkan kemarahan. Ia mendorong Hana hingga wanita itu mundur beberapa langkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN