Tipuan

2016 Kata
Cheers! Suara dua gelas saling berbenturan menikmati seteguk alkohol yang sangat nikmat bagi pecandunya. Mata mereka bertautan, saling mendamba satu sama lain. Ciuman panas memadu kasih di antara mereka tanpa memikirkan apapun lagi. Semua orang di dalam klub malam sibuk dengan aktivitas masing-masing. "Stop it! Aku butuh udara. Kau terlalu liar saat mabuk seperti ini," ujar wanita itu melepas ciuman, menatap mata pria yang menampakkan senyuman. "Setiap hari aku memikirkan dirimu." Damian menggenggam tangannya lalu mengecupnya seolah tak ingin melepaskan dirinya. Pasca pulang dari rumah sakit 3 tahun lalu hidupnya berubah 180 derajat. "Jangan selalu menggodaku! Aku ingin bermain piano di atas panggung. Tunggu aku disini!" ucap wanita itu meninggalkan Damian. *** Seseorang turun dari mobil dan berjalan santai di temani terpaan angin malam yang dingin. Ia menggosok telapak tangannya beberapa kali untuk membuatnya sedikit merasa hangat. Ia memasuki klub Night Flight tanpa pemeriksaan dari Para Bodyguard yang berjaga disana. Adam memilih kursi yang membelakangi panggung dan ia duduk sendirian di pojok paling belakang. Adam sengaja datang ke sini untuk menikmati makan malam di luar hotel untuk merayakan kebahagiaannya memiliki bisnis gelap yang sukses besar. Malam itu Adam memakai kemeja bergaris hijau dengan jaket tebal yang dipadu celana jeans hitam. Permainan alat musik di atas panggung mengalun begitu indah. Adam menoleh dengan penasaran, pandangannya tertuju pada seorang wanita pemain piano. Ia merasa sangat mengenal sosok itu. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan, tapi firasatnya seolah berteriak bahwa wanita itu adalah sosok yang dicarinya selama beberapa tahun ini. Dia segera berpindah tempat duduk ke meja yang paling depan dekat dengan panggung untuk mengamati wajah wanita itu secara seksama. Adam terdiam, terpana dan jantungnya berdebar begitu keras setelah ia melihat kalung kupu-kupu biru bergantung di lehernya. Ia mengucek matanya sekali lagi. Oh, s**t! Benarkah? Benarkah itu? jerit Adam dalam hati. Permainan piano selesai. Tepuk tangan meriah menghiasi klub. Wanita itu turun dari panggung, Adam loncat dari tempat duduknya, mengikutinya dari belakang. Tidak salah lagi, itulah sosok yang dicarinya. Dengan jantung berdebar, Adam menarik lengan wanita itu untuk menghentikan langkahnya. Wanita itupun berhenti berjalan dan menatap Adam. "Bisakah kau melepaskan tanganku?" ia berbicara dengan sangat sopan. "Hawa!" Refleks, Adam semakin mempererat pegangannya tidak peduli perintah wanita itu. Ia telah kembali dan tidak ingin di lepasnya. Wanita itu mengerutkan kening tanda tidak mengerti dengan sikap Adam yang menahan tangannya. Gemuruh dalam d**a memuncak, wanita tersebut mencoba mengendalikan dirinya. "Lepaskan tanganku! Aku bukan Hawa, kau salah orang," Jerit wanita itu menghentakkan tangan Adam agar pegangannya terlepas. "Apa kau berpura-pura tidak mengenalku lagi seperti dulu? Kau pikir siapa dirimu ini berani membohongiku. Apa kau lupa ini kalung pemberian Ibuku?" katanya sambil memegang kalung yang bergantung di leher wanita itu. "Ini kalungku bukan kalung pemberian Ibumu!" balasnya mendorong d**a Adam agar menjauh tapi Adam bersikeras tidak melepasnya pergi. Wanita tersebut mulai ketakutan kalau lelaki ini memang akan berniat jahat. "Minggir! Atau aku akan berteriak memanggil security untuk mengusirmu." matanya melotot ingin sekali memberi Adam pelajaran. "Panggil saja! Kau pikir aku takut," suara Adam meninggi seakan tidak terima perlakuan wanita tersebut. "Dasar pria gila! Kau benar-benar menyebalkan," umpat wanita itu. Adam terdiam. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi ia yakin seratus persen bahwa dia adalah Hawa. Wanita itu sangat mirip dan tidak ada bedanya sedikitpun hanya potongan rambut wanita di depannya ini sedikit pendek. Adam percaya kalau semua yang terjadi bukan karena kebetulan. Pria manapun di dunia ini tidak akan berusaha melepaskan wanita yang berpenampilan seksi dan menggiurkan seperti di hadapannya. Adam menarik pinggang wanita tersebut lalu menciumnya dengan liar seolah melepaskan hasrat besar selama bertahun-tahun di pendam. Mata wanita itu membulat besar tidak menyangka dengan kelakuan Adam yang kurang ajar. Mereka sekarang menjadi tontonan semua orang di dalam klub. Hentakan sepatu yang tergesa-gesa menghampiri mereka yang sibuk menikmati hasrat membara, tertuai dalam ciuman panas. Awalnya wanita tersebut meronta tapi dengan permainan ciuman Adam yang menggoda, membuat dirinya tidak tahan untuk membalas ciuman pria itu. Bughhh... Bughhh.... Dua pukulan mendarat di pipi Adam yang sibuk memadu kasih, ciuman mereka terlepas karena pukulan itu. Adam menghapus darah yang mengalir di sudut bibirnya lalu menatap tajam pada pria yang memukulnya. "Damian! Kenapa kau mengganggu aktivitas panasku?" ucap Adam penuh emosi. Bughhh.... Bughhhh... Dua pukulan berhasil Adam layangkan pada perut Damian membuat pria itu mengerang kesakitan. "Wanita ini milikku! Berani sekali kau menciumnya," teriak Damian memperingati Adam yang menatapnya tajam. "Aku tahu kau dalang dari peristiwa 3 tahun lalu. Hawa meninggalkanku di hari pernikahanku. Dasar b******k! Akan kubunuh kau!" geram Adam menarik kerah baju Damian dan memberi pukulan maut lagi. Perkelahian semakin memanas, usaha saling jotos menjotos memenuhi kengerian di dalam klub, tidak lama kemudian beberapa Bodyguard penjaga datang memegangi mereka berdua. "Tendang pria itu keluar!" teriak Damian menatap Adam penuh kebencian. Adam mengusap bajunya yang berantakan dengan kesal. "Klub ini milikku. Kau yang akan di tendang dari sini." "Klub ini milikmu?" tanya Damian heran. Ia tidak menyangka Adam semakin sukses sekarang, klub malamnya ada dimana-mana padahal dulu Adam hanya punya satu klub di New York. Damian berpikir keras punya rencana lain untuk Adam, ia ingin mempermainkan dan menyiksa batin lelaki tersebut. "Hawa pergi bersamaku karena dia mencintaiku. Coba pikir jika Hawa mencintaimu untuk apa ia membatalkan pernikahan kalian." Damian berbicara serius. Adam tampak berpikir memaknai maksud Damian. "Itu tidak benar! Kau pasti mengancamnya." bantah Adam tidak terima jawaban Adam. "Adam, Adam..., jika aku mengancamnya kenapa hubunganku baik-baik saja sekarang. Hawa pasti sudah kabur sejak dulu dan mengadukannya padamu. Kau hanya di permainkan selama ini." Imbuhnya menertawai Adam yang pucat pasi memikirkan kata-kata Adam ada benarnya. "Apapun alasan Hawa aku tidak peduli. Urusanku dengannya belum selesai dan kau harus mengembalikan dia padaku, ada harga yang harus di bayar atas perbuatannya di masa lalu," sengit Adam menarik paksa tangan gadis itu tapi di tepis olehnya. "Aku sudah bilang kalau aku bukan Ha--" perkataan gadis itu terpotong, saat Damian tiba-tiba menepuk bahunya. "Dia memang Hawa. Jika kau ingin membawanya pergi bawalah dia tapi jangan heran jika suatu saat nanti, Hawa kembali lagi padaku," ejek Damian melototkan matanya memberi kode yang langsung di mengerti oleh gadis itu. Adam tidak curiga sedikitpun. "Seret Damian keluar dari klubku!" perintah Adam pada Bodyguard untuk membawanya pergi. "Kalian jangan menyentuhku! Aku bisa berjalan sendiri," geram Damian menepis tangan para Bodyguard tersebut lalu pergi keluar meninggalkan mereka dengan amarah yang memenuhi kepalanya. Damian tidak menyangka akan bertemu Adam di Rusia padahal selama ini, ia sudah bersembunyi tanpa meninggalkan jejak. Rasa kesal memenuhi kepala Damian, seharusnya ia mendapatkan jatah tidur dengan gadis itu sekarang. Damian mengumpat berkali-kali sambil mengirim pesan pada seseorang. Misinya kali ini lebih penting dari nafsu birahi yang ingin di lepasnya. Damian takkan merubah kegilaannya pada s*ks. Ia benar-benar tidak peduli akibat dari bergonta-ganti pasangan. Dan tidak akan membuatnya jera berhenti meniduri siapapun yang di inginkannya. Damian menderita kelainan Hypersex dan masih belum sembuh sampai sekarang, ia bisa gila jika sehari saja tidak tidur dengan wanita bayaran yang berusaha memuaskan dirinya. Hana kerjakan tugasmu sebaik mungkin! Kau pasti sudah mengerti dengan apa yang aku ceritakan dulu dan waktunya sudah tiba hari ini. Pesan itu terkirim cepat sampai pada penerimanya. Damian melajukan mobil dan ingin kembali ke Apartmentnya. **** Getaran ponsel dua kali dalam tas membuat gadis itu ingin membaca pesan yang baru saja masuk. Ia masih di dalam klub bersama Adam, mereka duduk dengan kursi saling bersisian di meja Bar. Hana membaca pesan singkat dari Damian yang mengancamnya. Gadis itu bukan Hawa tapi Hana, mereka memiliki wajah sangat mirip serta kepribadian yang berbeda 180 derajat. Hana hidup dengan dunia glamour dan kesenangan yang selalu di nikmati selama ini. Dunia malam adalah tempat yang sangat menyenangkan untuk Hana, melepas semua beban pikiran yang memenuhi kepalanya. Seharusnya Hana menjadi wanita bebas tanpa beban, karena semua yang dinginkan telah di milikinya tapi ternyata ia salah kejadian tiga tahun lalu membuat hatinya sakit dan terpaksa menuruti semua perintah Damian. Lelaki itu bukanlah manusia, ia adalah monster yang menganggap penderitaan adalah kebahagian ia tak memikirkan perasaan orang lain, hanya Hawa sebagai candunya, melakukan apapun untuk gadis itu asalkan membuatnya bahagia. Hana berada di sisi Damian hanya sebagai pelampiasan nafsunya menganggap dirinya Hawa. Kapanpun Damian inginkan, ia harus menuruti permintaannya termasuk pesan singkat itu. Hana harus berpura-pura menjadi Hawa, dulu ia sudah mendengar semua latar belakang Hawa dan Adam termasuk siasat Damian membatalkan pernikahan mereka. Damian sudah lama mempertimbangkan kejadian hari ini. Sedari awal Hana sudah mendapatkan intruksi jika Adam tiba-tiba datang kembali dan apa yang harus ia lakukan untuk menipu lelaki tersebut. Adam pasti akan datang dan Hana harus melakukan tugasnya untuk berpura-pura menjadi Hawa dan memperdayai Adam agar ia percaya bahwa dirinyalah yang asli. Hana begitu muak dengan permainan Damian. Tapi apalah daya, tiga tahun lalu ia menyelamatkan nyawa Hana di ambang kematian dan Hana harus membayar sebagai rasa terimakasih. Hana menghapus pesan yang baru saja di bacanya dengan kesal. Adam melihat ekspresi wajahnya begitu frustasi. "Kau tidak apa-apa?" tanya Adam mengerutkan dahi tidak mengerti pikiran gadis itu. "Aku baik-baik saja. Soal kejadian tiga tahun lalu aku minta maaf karena meninggalkanmu dan menghilang selama tiga tahun. Kau pantas marah padaku karena mengecewakanmu," ungkap Hana berpura-pura memasang mimik wajah bersalah, seolah memerankan peran Hawa sungguhan. Mata Adam mengkilat mengingat masa lalu yang menyakiti hatinya, Adam geram kemudian menatap mata wanita itu, "kau masih berani minta maaf setelah menyakiti hati orang tuaku? Aku datang kesini bukan untuk mengembalikan hubungan yang telah lama berakhir, tapi aku ingin menyiksamu agar dendamku terbalas. Aku benar-benar menunggu hari ini saat melihat kau menderita." spontan tangan Alfin mencekal pipi Hana membuat gadis itu sulit bicara. Gadis itu menangkap dari mata Adam sebuah kebencian mendalam, serta cinta yang teramat besar berubah menjadi dendam membara ingin segera menuntaskan kemarahannya. Hana tahu selama ini Adam sangat menderita karena masa lalu yang mencekiknya setiap hari. Hawa begitu beruntung di cintai dua pria yang kaya, rela melakukan apapun untuknya. Hana ingin sekali memberitahu Adam bahwa dirinya bukan mantan tunangannya. Tapi, Hana tidak punya keberanian mengatakan hal tersebut. "Sadarlah Adam! Aku tidak bersalah kau yang selalu memksaku untuk menikah denganmu padahal aku tidak mencintaimu," ucap gadis itu spontan. Seketika kening Adam berkerut tanda tidak mengerti dengan sikap yang di anggapnya sebagai Hawa. Hana mungkin salah mengucapkan kata-kata. "Memaksa? Kau pikir aku memaksamu menikah denganku? Ingat baik-baik masa lalu yang kita habiskan bersama dan kau sangat menikmatinya. Apa itu yang di sebut memaksa?" satu tangan Adam menarik pinggang Hana lebih dekat padanya dan mengunci tangan Hana kebelakang agar ia tidak memberontak. Habislah Hana, ia salah dalam mengucapkan kata-kata bahwa Adam yang memaksanya menikah. Dirinya bodoh memberikan alasan yang tidak masuk akal. "Le-lepaskan aku Adam! A-aku terpaksa menikmati kebersamaan kita untuk menyenangkanmu saja dan dari awal aku tidak mencintaimu karena aku hanya mencintai Damian. Itu sebabnya aku membatalkan pernikahan kita dan pergi bersama Damian." semoga saja alasannya benar, Hana takut membuat Adam curiga karena lelaki tersebut sangat pintar. "Hahaha... Kau lucu sekali mengatakan bahwa kau mencintai Damian. Seharusnya kau mencari alasan yang logis, aku bukan anak kecil yang bisa kau bodohi. Dari awal kau tidak pernah mencintai Damian dan bagaimana mungkin kau mencintai pria yang berselingkuh di belakangmu, Hah? Jawab pertanyaanku!" tegas Adam melihat wajah Hana pucat pasi. Adam butuh jawaban yang bisa membuat lelaki tersebut yakin alasan Hawa meninggalkannya dulu. Pikiran Hana buntu sekarang jawaban yang diberikan menjebak dirinya. Hana ingin sekali menangis, mengapa Damian menyuruhnya berakting di depan pria yang pintar. "Jangan mencampuri urusanku! Aku mencintai Damian atau tidak itu hakku. Jika kau masih mempertanyakan alasan aku meninggalkanmu, sebaiknya berhentilah berharap karena aku akan mengatakan alasan yang sama." Hana membela diri tidak ingin berdebat lagi. Adam melepaskan cengkraman pada wanita tersebut, membiarkan Hana bebas dari kungkungannya. Percuma saja Adam mengintrogasi wanita itu karena ia akan tutup mulut, Hana pasti memberinya alasan menurutnya tidak masuk akal. Adam harus bersikap tenang mencari tahu jawabannya sendiri. "Baiklah, aku tidak akan mempertanyakan alasanmu lagi. Kau jangan lupa peringatanku dulu." Adam meminta alkohol pada bartender untuk di teguknya. Hari ini ia benar-benar pusing memikirkan semuanya, pertemuan dengan Hawa membuat Adam terkejut. Bagaimana tidak, Adam datang ke Rusia untuk melihat perkembangan klubnya yang selalu jadi incaran semua kalangan karena fasilitas lengkap tersedia di Night Flight membuat siapapun merasa tenang menikmati kesenangan dunia yang menipu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN