"Mama jangan takut! Hawa disini dan akan melindungi Mama dari orang jahat itu." Hawa melirik ke arah Damian berusaha menyindir pria itu agar sadar kalau yang di lakukannya salah.
Bu Leni tersenyum sendu, "Mama baik-baik saja. Jangan pikirkan apapun! Mama mau kamu menjalani pengobatan ini dan sembuh. Mama minta maaf karena Mama, pernikahanmu batal," ujar Bu Leni menangis dengan menampakkan wajah sedih.
"Mama tidak salah justru orang jahat itu yang salah. Hawa iklash membatalkan pernikahan ini bahkan jika suatu hari nanti Adam menemukanku dan dia menghukumku, Hawa senang hati menerimanya," tutur Hawa menahan tangisnya yang akan segera pecah. Damian tersenyum kecut mendengar ungkapan itu. Dia malas mendengar nama Adam lagi yang selalu di sebut olehnya.
"Kau memang anak yang pengertian. Cepatlah sembuh! Setelah itu kau akan bahagia." Bu Leni menghibur anaknya. Setelah cukup lama mengobrol mereka naik ke jet pribadi.
Maafkan Mama karena melakukan ini padamu gumam Bu Leni dalam hati sangat menyesal karena mengorbankan kebahagian anaknya. Bu Leni merasa bersalah karena egois mengikuti rencana Damian. Semua yang dilakukan hanya untuk kesembuhan Hawa, ia tidak mau kehilangan anak semata wayangnya.
****
Beberapa hari kemudian...
Seorang lelaki sangat kesal karena ini sudah hari ketiga tanpa kabar Hawa sedikitpun. SMS-nya tidak dibalas dan nomornya selalu tidak aktif. Jujur saja, Adam sangat khawatir, setelah kejadian itu Hawa menghilang tanpa jejak membuatnya semakin curiga. Sesuai permintaan Adam gadis itu benar-benar pergi, dan sudah saatnya sekarang Adam mencari untuk membalaskan dendamnya. Ia tak main-main dengan ucapannya tempo hari yang lalu.
"Permainan petak umpet kita sudah di mulai! Tunggu saja aku akan mencarimu Hawa dan akan kubuat kau menderita." sorot mata biru Adam menakuti siapa saja yang melihatnya sekarang.
Adam sudah sampai ke rumah Hawa dan memandangi rumah itu dengan kening berkerut. Pintunya tertutup rapat dan pagarnya terkunci oleh gembok. Ia masih tidak percaya dan nekat saja melompat masuk dari pagar. Apa yang ingin dilakukannya kalau sudah melihat pintu utamanya juga terkunci rapat? Kerutan di kening Adam makin dalam. Akhirnya ia memutuskan menunggu Hawa pulang.
Seandainya dia tahu kalau orang yang dicarinya tidak akan pulang hari ini, pasti dia akan mengurungkan niatnya untuk menunggu. Adam duduk di kursi teras rumah sambil menghentakkan kaki ke lantai. Satu jam duduk di kursi, ia merasa mengantuk. Beberapa jam kemudian, malah tertidur di kursi tersebut hingga matahari jingga sudah tampak di langit sebelah kiri dan memantulkan sinar. Hal itu membuatnya terpaksa memicingkan matanya.
Adam sadar sudah senja dan rasanya tidak ada gunanya menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba terlintas di pikirannya satu tempat lagi. Kemungkinan besar Hawa ada di Toko Roti. Tanpa pikir panjang lagi, Adam berlari keluar dan menaiki mobil menelusuri jalan raya.
Adam sudah sampai di tempat parkir toko roti tersebut. Dan....... Dipandanginya dari jendela tulisan CLOSE. Sekarang Adam menarik napas dengan kasar dan sangat bingung harus mencari gadis itu di mana lagi. Setahunya Hawa tidak punya keluarga selain Bu Leni.
Dengan hati kacau dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya Adam tertawa sinis karena Hawa benar-benar meninggalkannya.
Tangan Adam merogoh saku celana dan menekan tombol untuk menelepon nomor seseorang. Tak lama kemudian suara tegas terdengar di seberang. "Selamat sore, Tuan. Apa yang harus saya kerjakan?"
"Alan aku ingin kau mengecek penerbangan atas nama Hawa dan kemana tujuannya," perintah Adam pada Bodyguard baru pribadinya.
"Baik, Tuan. Saya akan mengeceknya."
"Kerjakan sekarang! Aku ingin laporanmu segera." Tanpa basa-basi, Adam langsung memerintah dan menutup telepon. Tiga puluh menit kemudian suara dering ponselnya berbunyi lagi dari Alan untuk memberinya laporan.
"Maaf, Tuan. Saya sudah mengecek semua status penerbangan dan tak ada yang bernama Hawa." Alan bicara dengan gugup mencoba menerima amukan Adam.
"Kau benar-benar bodoh! Mencari hal sepele saja kau tak becus. Aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Ini hari terakhirmu bekerja padaku," Nada suara Adam meninggi karena tidak percaya pada ketololan Bodyguardnya. Adam terkejut. Ia sangat kecewa dan merasa tidak ada harapan untuk mengetahui keberadaan Hawa. Tiba-tiba tubuhnya lemas dan ia bersimpuh di lantai sambil berteriak sekeras mungkin.
"Aaaaarrghh.... Dasar gadis sialan! Jika aku menemukanmu, aku akan membuatmu menderita. Aku tahu ada yang membantumu pergi dan menghapus riwayat penerbanganmu." Adam tahu itu. Hawa tidak punya kuasa untuk menghapus riwayat penerbangannya begitu saja. Ia curiga Damian membawa Hawa kabur untuk mengambil haknya kembali dan membawanya pergi jauh. Adam benar-benar kesal karena Hawa lebih memilih Damian daripada menikah dengannya.
Setiap hari Adam mencari berita tentang Hawa. Ia giat mendatangi toko roti, rumahnya, dan tempat lain yang biasa dikunjungi gadis itu, tapi hasilnya nihil. Sudah sebulan gadis itu tidak pernah muncul lagi. Hari-hari yang dilaluinya begitu menyedihkan. Adam tidak menyangka orang yang pernah dicintainya bisa menghilang begitu saja seperti ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak. Rasa marah dan sakit hati bercampur jadi satu.
Adam mulai bertingkah seperti orang gila bicaranya tidak menentu dan selalu mengigau ketika tidur sambil memanggil nama Hawa. Sikapnya menjadi sangat kasar dan lebih dingin dari sebelumnya, sering marah tanpa sebab dan seringkali mengurung diri di kamar. Pernah sekali Bu Bianka membawanya ke dokter psikiater dan Adam didiagnosis mengalami depresi. Orang tuanya sedih karena sekarang putra mereka menjadi pemarah dan hobi membanting barang-barang di sekitarnya.
"Sampai kapan kamu seperti ini, Nak? Lupakan Hawa! Mulailah membuka lembaran baru," ujar Bu Bianka melihat Adam berpakaian rapi mengenakan setelan santai berjalan ke pintu keluar.
“Aku mencari Hawa bukan karena merindukannya, tapi aku ingin membalas dendam padanya. Dimanapun dia bersembunyi aku tidak akan menyerah mencarinya." Tiba-tiba saja anak lelakinya itu keluar dari rumah dan membanting pintu dengan kasar. Bu Bianka hanya bisa memandangi Adam memakai helm pelindung kepala ingin mengendarai motor besarnya.
"Adam, kamu mau ke mana?"
"Mencari Hawa, Ma." Katanya sambil menancap gas penuh kemudian pergi meninggalkan asap motor menyesakkan d**a Bu Bianka.
Selama di perjalanan, Adam mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, bahkan dia mengabaikan rambu lalu lintas. Jujur saja, Adam sudah lama tidak naik motor. Ia melaju kecepatan di atas rata-rata. Berkali-kali sumpah dan kejengkelan pengemudi lain terdengar, ulah Adam membuat jalanan rusuh karena para pengendara lain hampir saja bertabrakan karenanya.
Selama mengemudi Adam melewati jalan yang berkelok-kelok, setelah sampai disana Adam menatap pintu pagar dengan kecewa. Sudah belasan kali Adam selalu mengecek datang ke rumah itu dan hasilnya tetap sama. Ia mengendarai motor lagi ke Toko Roti. Ketika sampai di sana, ia lebih kecewa lagi karena toko tersebut masih tutup. Adam menghembuskan napas dengan putus asa di mana lagi akan mencari wanita itu? Seluruh tenaga dan waktu sudah dibuang dengan percuma untuk mencarinya. Harus berapa kali lagi ia mendatangi rumah Shila?
***
Seorang wanita duduk di kursi roda dengan pandangan kosong menatap keluar jendela kamar yang sedikit berdebu. Selama di apartment Hawa tidak boleh terlepas dari kursi roda, karena ketika berjalan tubuhnya melemah dan kondisinya semakin memburuk. Ini adalah hari pertama pulang dari rumah sakit setelah sebulan terbaring bergantung dengan obat. Sekarang, tubuhnya makin kurus, wajahnya sudah tidak pernah ceria dan tersenyum. Ia bahkan harus minum lebih banyak obat secara tepat waktu.
Setiap hari Shila bangun pagi sambil memikirkan Adam. Sedetikpun bayangan Adam tidak pernah hilang dalam ingatannya walaupun harus tersiksa peralatan-peralatan medis. Hawa di rawat inap di rumah sakit selama sebulan, namun hasilnya tidak berubah. Oleh sebab itu, Dokter terpaksa melakukan operasi transplantasi jantung dalam tiga hari kedepan.
Selama di Rusia Hawa selalu bertemu dengan Damian walaupun pria itu begitu sibuk menggeluti pekerjaannya. Damian menjaganya dan tidak pernah membuat Hawa marah, jika ia datang ke rumah sakit Damian tidak segan membantu Hawa dalam segala hal.
Bu Leni yang selama ini menemani Hawa sering menangis diam-diam dan banyak berdoa karena tak ada tanda-tanda akan sembuh. Hawa memutar kursi roda menghadap ke meja. Sudah lama sekali ia tidak memegang laptopnya. Ada kerinduan melepas semua beban yang menumpuk di hatinya pada Nina untuk bertukar cerita. Hawa mendapat kabar dari Damian kalau Nina sudah sembuh sekarang berkat Dokter psikiaternya. Hawa mulai menjelajah internet dan membuka email yang tak pernah dicek beberapa bulan ini.
Inbox emailnya dibuka, sangat banyak pesan salah satunya dari Nina yang menanyakan kabarnya.
From: Nina@email.com
Subject: Hawa apa kabar? Aku merindukanmu.
Hawa tersenyum sendiri membaca email dari sahabatnya itu. Ia cepat-cepat membalas.
To: Nina@email.com
Subject: Hei, Na. Aku juga sangat merindukanmu. Keadaanku disini semakin memburuk. Tiga hari lagi aku akan operasi donor jantung. By the way, bagimana kabar Adam?
Beberapa detik kemudian balasan dari Nina ke inboxnya.
From: Nina@email.com
Subject: aku turut prihatin :(
Hawa, kamu harus kuat ya. Aku percaya kamu kuat dan bisa jalani semuanya. Aku baik-baik saja di sini dan bayi dalam kandunganku juga sehat. Tapi, Adam sudah berubah jadi monster mengerikan yang setiap hari marah-marah tanpa alasan. Dia mencarimu kemana-mana untuk balas dendam. Jadi, berhati-hatilah! Adam tidak akan melepaskanmu begitu saja.
Perasaan bersalah mengendap di hati dan pikiran Hawa sekarang. Semua salahnya karena mengecewakan pria tersebut.
To: Nina@email.com
Subject: Aku tahu itu, percakapan terakhir kami di telepon Adam mengancamku untuk membuatku menderita. Kau jangan khawatir! Aku akan baik-baik saja.
Hawa menyeret mouse lebih ke bawah dan matanya melotot melihat e-mail dari Adam.
From: Adam@email.com
Subject: Kemanapun kau lari aku akan terus mengejarmu. Kau tidak akan bersembunyi lebih lama lagi. Cepat atau lambat aku akan menemukanmu.
Hawa menjerit dengan keras tidak peduli pada kondisinya lagi. Tangisnya pecah, air matanya tidak berhenti mengalir. Hawa sadar Adam tidak akan berhenti mengejarnya. Ia ingin sekali bertemu dan meminta maaf tapi Hawa takut Adam tidak segan-segan menyakitinya.
Bu Leni membuka kamar melihat Hawa menangis histeris. Beliau langsung menanyakan apa yang membuatnya menangis histeris seperti ini. Hawa memeluk sambil menceritakan semua tentang Adam, Hawa sangat merindukan pria itu. Hawa takut operasi jantung, ia takut kemungkinan untuk bertahan hidup sangatlah kecil karena kondisinya semakin hari semakin memburuk, usahanya terbuang sia-sia berobat ke luar negeri. Bu Leni ikut menangis tidak bisa membayangkan akan kehilangan Hawa kalau gadis tidak punya semangat hidup lagi.
Padahal..... Padahal apapun telah dilakukan untuk kesembuhan anaknya ini. Keuangannya semakin hari semakin menipis, ia tidak mungkin bergantung terus kepada Damian yang sudah membiayai semua pengobatan Hawa dan tinggal gratis di apartment miliknya. Bu Leni malu pada dirinya sendiri karena mengorbankan kebahagian Hawa yang sangat mencintai Adam.
Entah, apa yang ada di pikiran wanita paruh baya itu? Kenapa pikirannya begitu pendek menerima kesepakatan Damian untuk membatalkan pernikahan mereka padahal jika Hawa menikah dengan Adam, pria itu pasti membiayai hidup anaknya sebaik mungkin. Orang sekaya Adam tidak mungkin jatuh miskin hanya karena pengobatan Hawa. Rasa sesal menyelimuti hatinya, Bu Leni sangat takut jika rahasia mereka terbongkar. Hawa pasti akan sangat marah padanya.
Adam tidak akan memaafkan Hawa begitu saja setelah di permalukan, berkat kesalahan itu. Adam menjadi Trending Topic di Amerika, seluruh majalah dan stasiun televisi membicarakan lelaki yang di puja semua wanita itu di tinggalkan di hari pernikahannya. Suatu hari Bu Leni akan menceritakan semua pada Adam agar memaafkan anaknya yang sudah menjadikannya kambing hitam.
***
3 Tahun Kemudian
Sepasang insan menyusuri sudut-sudut Kota Moskwa di Rusia yang tidak pernah tidur sepanjang malam. Di sini kehidupan justru menggeliat saat hari mulai gelap. Mereka berkunjung ke klub malam Night Flight, tulisan itu terang benderang bersinar lampu di bagian atas gedung ini. Sejumlah lelaki berbadan tegap dengan setelan jas hitam berdiri sangar di depan pintu.
Di tengah pandangan tajam para Bodyguard, merekapun memasuki Night Flight. Di ruangan pertama, mereka berhadapan dengan meja resepsionis. Tak lupa diminta melepas mantel dan menitipkannya kepada seorang petugas yang ada di seberang resepsionis. Mantel-mantel digantung pada hanger yang tersusun rapi.
Ruangan dalam klub sempit sekali, pengunjung saling berdesakan di dalam. Gadis-gadis cantik dan seksi berseliweran. Di bagian atas ruangan ada semacam mezanin, lantai tambahan yang juga diisi dengan kursi dan meja. Dari tempat itu bisa terlihat suasana di seputar klub. Tepat di seberang mezanin, di atas pintu masuk, ada panggung kecil dekat langit-langit. Ukurannya hanya 1 x 2 meter, mungkin lebih kecil. Di panggung itu penari seksi berpakaian mini melenggok diiringi dentuman musik yang keras. Di ruangan ini semua wanita cantik itu terlihat berkelas.
Suasana remang dengan kilatan cahaya lampu serta gambar-gambar gadis dengan pose v****r yang dipajang di sepanjang dinding ruangan seolah menyambut kedatangan para tamu. Di sebelah kiri ada Bar dengan bentuk memanjang ke dalam. Ratusan botol minuman di dalam rak berdinding cermin tersusun rapi. Di sekitar Bar belasan gadis rusia tampak hilir mudik. Sebagian dari mereka terlihat asyik berbincang dengan pria-pria bule yang kebanyakan mengenakan setelan jas lengkap. Sementara sebagian lainnya hanya berdiri dan mengobrol, sambil sesekali mencuri pandang ke arah sekelompok lelaki yang baru masuk ke klub.
"Ikut denganku!" ucap Damian berbisik di telinga wanita itu karena suara dentuman musik terlalu keras. Ia mengikuti langkah pria tersebut mendekati meja Bar. Setelah tiba disana, mereka duduk di kursi Pantry untuk memesan minuman sesuai selera minuman mereka.