"Mama dimana?" teriak Hawa frustasi. Suara deringan ponselnya begitu nyaring dari dalam kamarnya. Buru-buru Hawa mencari ponselnya, mungkin saja Ibunya yang menelpon. Setelah sampai di kamar dia menutup pintu. Nomor yang tak di kenal ingin video call dengannya, Hawa sedikit ragu untuk mengangkat panggilan itu tapi naluri hatinya memaksa. Akhirnya, Hawa memutuskan menggeser tombol hijau di layar ponselnya untuk mengangkat panggilan itu.
"Hawa... Hawa... Tolong, Mama! Mama di kurung di sini." Bu Leni menangis histeris meminta tolong pada anaknya. Sementara itu Hawa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang Ibunya terlihat terkurung di sebuah ruangan dan memakai baju pasien rumah sakit jiwa.
"Mama! Ini Hawa, Mama tidak apa-apa, Kan? Kenapa Mama terkurung disana?" suara Hawa lirih. Air matanya berjatuhan melihat Ibunya di perlakukan seperti itu.
"Semua gara-gara dia! Mama di culik dan di kurung disini," seru Bu Leni seolah menunjuk pada orang yang melakukan panggilan video call. "Keluarkan aku dari sini!" umpat wanita itu.
"Halo, Sayang. Kau cantik sekali dengan pakaian pengantinmu." panggilannya beralih menunjukkan wajah seseorang yang tertawa sinis.
"Kak Damian, tega sekali kau melakukan semua ini? Lepaskan Mamaku!" teriak Hawa mengungkapkan kekesalannya pada Damian. Dari awal ia sudah curiga, Damian punya rencana jahat.
"Kenapa aku harus melepaskannya? Dia pasienku sekarang," jelas Damian.
"Kalau kau tidak melepaskannya, aku akan memberitahu Adam untuk menghajarmu karena menculik Mamaku." Hawa mengancam mendekatkan jari telunjuknya di kamera layar ponselnya berusaha memperingati lelaki tersebut.
"Ssssttt... Tenang sayang, kau terlihat sangat manis jika sedang marah-marah. Sebelum Adam tiba disini aku sudah menyetrum Mamamu sampai mati. Jadi, lebih baik kau tutup mulut saja!" Damian menunjukkan kursi tempat penyetruman itu di dekat Bu Leni. Hawa marah karena perbuatan Kakak sahabatnya semakin berulah dan tak terkendali seolah tak ingin melepaskan mangsa yang sudah terjaring di perangkapnya.
"Tidak... Aku mohon jangan lakukan itu, Kak. Baiklah, aku takkan memberitahu siapapun," Pinta Hawa. Ia tidak berhenti menangis melihat keadaan Ibunya di kurung seperti binatang
"Mamamu akan selamat jika kau menuruti perintahku,"
"Apa yang kau inginkan?" jawab Hawa. Kepalanya di penuhi tanda tanya.
"Kau yang memaksaku melakukan ini! Kau pasti tahu perasaanku padamu melebihi siapapun, aku tidak mau kau mati. Jadi, aku ingin kau pergi bersamaku untuk operasi donor jantung di Rusia." Sorot matanya sayu. Hawa berpikir keras apa semudah itu permintaannya. Demi Ibunya Hawa rela di operasi asal Bu Leni selamat.
"Baiklah, aku setuju. Tapi, aku ingin Adam yang membawaku kesana." Hawa sebentar lagi akan menikah, dan Adam pasti akan mau membawanya kesana.
"Bagaimana mungkin Adam yang akan membawamu? Kau hanya boleh pergi bersamaku. Jadi, telepon Adam sekarang juga dan katakan padanya kalau kau ingin membatalkan pernikahanmu. Satu hal lagi, tutup mulutmu rapat-rapat mengenai kejadian ini. Kalau kau melanggarnya, aku tidak akan segan-segan membunuh calon mertuaku," Damian mengancam meminta persyaratan itu. Hawa terdiam, pikirannya sudah buntu sekarang.
Permintaan itu bagai benalu dalam hidupnya. Kenapa Damian menyiksanya seperti ini? Hari ini adalah hari paling di inginkan seumur hidupnya, menikah dengan Adam. Air mata berlinang di pipi Hawa mewakili kesedihan dan masalahnya yang sangat rumit. Pilihan hanya dua, memilih bahagia bersama Adam atau membiarkan Ibu yang melahirkan dan membesarkannya selama ini mati. Sulit sekali memilih salah satu dari keduanya.
"Aku akan menuruti semua perintahmu. Apa kau puas sekarang?" mata Hawa melotot ingin memakan Damian bulat-bulat, mengoyak daging sampai ke tulangnya. Hawa ingin mati saja, hatinya begitu hancur sekarang.
"Bagus, pandailah berakting dan jangan membuat Adam curiga dengan kesepakatan kita. Setelah kau menghubunginya, naiklah di mobil asistenku! Kita akan pergi ke Rusia bersama Mamamu. Sekarang, buka jendelamu dan lihat keluar!" perintah Damian seolah mengetahui Hawa ada di dalam kamar.
Gadis tersebut membuka kain gorden jendelanya dan melihat mobil hitam alphard terparkir di jalanan. Hawa mematikan sambungan video call lalu menghubungi Adam.
Tuuttt... Tuutttt...
"Halo," ucap Adam di balik ponsel.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kita, Adam. Jadi, jangan pernah mencariku lagi!" Tukas Hawa menahan tangis.
****
POV Adam
Suasana di ruangan bernuansa serba putih, pernak pernik menghias seluruh rumahku walaupun acara resepsi kami akan di laksanakan di sebuah hotel termewah di kota ini, aku mengenakan Tuxedo hitam, terlihat pas di tubuhku yang kekar serta sepasang sepatu hitam sangat serasi dengan dasi kupu-kupu bertengger di kerah jasku.
Aku dan kedua orang tuaku bercengkrama di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Shila yang sedang di jemput oleh supirku. Suara deringan ponsel begitu nyaring di saku celanaku, kupandangi layar ponsel dan melihat nama pemanggil tersebut. Bibirku tersungging saat mengetahui Shila yang menghubungiku, mungkin saja ia sudah tiba di depan rumah.
"Halo," ucapku di balik telepon.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kita, Adam. Jadi, jangan pernah mencariku lagi!" Tukas Hawa To The Point, aku mencerna kembali kata yang tak ingin kudengar di balik telepon itu. Rahangku mengeras menahan emosi melebihi batas kesabaranku, ponsel yang kupegang ingin sekali kuhancurkan menjadi serpihan terkecil agar aku tak mendengar kata-kata menyakitkan menghancurkan hati siapa saja yang mendengarnya. Aku berusaha bersikap tenang tak menunjukkan kemarahanku.
"Kenapa?" tanyaku percaya diri. Hanya pertanyaan itu berhasil lolos dari mulutku.
"Karena aku tidak mencintaimu," imbuhnya.
Jawaban yang baru saja kudengar adalah jawaban paling bodoh sedunia. Apa aku tidak salah dengar? Hawa tidak pandai berakting dalam hal kebohongan, dia adalah teman kecilku, aku tahu kapan ia tertekan, kapan ia menangis. Hari ini dia mengatakan tidak mencintaiku. Kepingan hatiku yang utuh kini beterbangan entah kemana. Mama pasti akan kecewa. Tega sekali gadis itu menghancurkan kebahagian keluargaku.
"Baiklah, Jika itu keputusanmu aku tak akan mencegahmu," jawabku pura-pura cuek padahal ingin rasanya aku mencekik Hawa sampai mati. Ia bukan hanya menghancurkan hatiku tapi Hawa telah menghancurkan reputasiku yang selama ini kujaga.
"Maafkan aku Adam...." suaranya serak seakan menahan tangis.
Nafasku terdengar berat berusaha menghalau semua rasa sakitku. "Haha..., Minta maaf? Setelah apa yang kau lakukan padaku kau minta maaf? Lucu sekali!" tawaku terdengar renyah menakuti gadis itu.
"Maaf ...." ulangnya sekali lagi tapi kata itu tak akan menjernihkan pikiranku sekarang.
"Ada harga yang kau harus bayar atas penghinaanmu ini. Pergilah sejauh mungkin! Sampai aku tak menemukanmu karena jika aku sampai menemukanmu, aku akan menghancurkan hidupmu sampai kau menangis memohon padaku," teriakku penuh ancaman. Langsung saja kututup telepon tanpa mendengarkan penjelasan apapun darinya. Ini semua di luar kendali, Hawa teman kecil yang membuatku malu seumur hidup. Pesta pernikahan yang menjijikkan.
Mama yang melihatku marah mencoba menenangkanku. "Ada apa, Nak?" tanyanya di selimuti rasa khawatir berlebihan.
"Hawa membatalkan pernikahan kami, Ma," jawabku datar. Aku takut melihat Mamaku syok berat setelah tahu kejadian ini.
"Kenapa Hawa tega sekali mempermalukan keluarga kita? Apa yang harus aku katakan pada semua orang," ujar Mamaku menangis. Rasa kecewanya begitu mendalam. Mamaku pingsan nyaris jatuh ke lantai, untung saja aku memeganginya.
"Mama ..., Jangan memikirkan apapun aku akan membereskan masalah ini." aku memeluknya kemudian mengantar kembali ke kamarnya di lantai atas.
Setelah itu aku menuruni tangga dengan kesal, dua buah guci yang berada di ujung tangga kutendang hingga mengeluarkan suara keras, beberapa kristal yang terpajang di atas lemari ku pecahkan dengan emosi. Aku melampiaskan semuanya pada barang-barang di rumah ini.
Papa yang sedari tadi menatapku terlihat khawatir, dia memegangiku agar berhenti berbuat kerusakan dan menyuruhku untuk tenang. Aku menceritakan semua, mulai dari awal sampai akhir. "Tenang, Adam! Hawa pasti punya alasan yang kuat kenapa dia membatalkan pernikahan kalian. Cobalah untuk berpikir jernih! Kalian saling mencintai, jadi berhentilah menghancurkan barang-barang di rumah ini." Papa mengcengkram kedua bahuku, berusaha menenangkan diriku yang di selimuti emosi mengingat kejadian hari ini. Aku membenci gadis itu, suatu hari aku akan memberinya perhitungan.
"Tak ada alasan apapun untuk orang yang menghina keluargaku." mataku berkilat menatap Papa yang merasa iba.
Rasanya hatiku menjadi beku sekarang, takkan kupercayai siapapun lagi, aku ingin menangis mengingat Hawa yang berani bermain-main denganku. Padahal sudah lama kami tidak bertengkar, aku memperlakukan Hawa dengan baik agar wanita itu takkan pernah berpikir meninggalkanku seperti sekarang.
Apapun alasan gadis itu aku tidak akan pernah memaafkannya, lihatlah bagaimana Mamaku bersedih karena keputusan Hawa pergi di hari pernikahan kami. Untung saja aku belum datang ke tempat acaraku, kekecawaanku mungkin lebih besar saat orang lain menghina keluarga kami. Andai saja itu terjadi Hawa pasti akan kuseret kehadapanku dan meminta untuk berlutut di depan semua orang.
Sudah kutugaskan beberapa Bodyguard untuk membersihkan kekacauan ini. "Suruh para tamu pulang dan katakan pada mereka aku membatalkan pernikahanku. Selanjutnya, bakar semua atribut di hotel sampai tak tersisa sedikitpun! Kerjakan tugasmu dengan benar. Suruh pihak hotel menghitung kerugiannya, bahkan semut yang mati sekalipun." suaraku menggema memerintah salah satu Bodyguard yang bertugas di balik telepon.
Setelah itu aku menyuruh Wedding Organizer melepas semua pernak pernik yang sudah terpasang di rumahku, jangan ada yang tersisa sedikitpun karena aku membenci pernikahan sekarang. Kejadian hari ini mengajariku tetap waspada pada hatiku sendiri. Aku akan menghancurkan semua wanita yang berani menyukaiku, sedari awal seharusnya aku tetap fokus pada karirku saja tanpa memikirkan cinta.
"Aku akan tinggal di New York, Pa. Aku akan fokus pada pekerjaanku disana," tegasku pada Papa. Sudah seharusnya memang aku kembali ke tempat kelahiranku, mengelola klub malamku. Lagi-lagi aku menghembuskan nafas dengan frustasi, aku akan mengikuti kemauan Hawa dan mencari gadis itu dimana saja. Tidak ada kisah menyedihkan dalam hidupku kecuali hari ini.
Kepalaku sudah mau pecah memikirkan Hawa yang memilih mundur dari kehidupanku, tak ada penjelasan apapun dari gadis itu. Dan pada akhirnya ia memilih menyerah tanpa tahu apa salahku padanya, kalau saja sedari dulu Hawa tidak pernah berkata mencintaiku mungkin aku takkan berharap besar padanya. Mungkin saja, aku takkan melamarnya dan memilih dirinya sebagai pelabuhan terakhirku dalam memilih pasangan. Jika aku mencintai seorang wanita karena kecantikan, Hawa jauh tertinggal.
Banyak wanita yang rela menyerahkan dirinya untukku bahkan Elena supermodel terkenal di Amerika selalu saja merayuku untuk tidur dengannya. Tapi aku selalu menolak, karena dalam hidup aku sangat menghargai sebuah hubungan dan komitmen. Hanya Hawa yang mampu menerobos pertahananku untuk selalu menjaga diriku dari godaan para B*tch.
Tapi kini, kesalahan yang Hawa perbuat padaku akan kujadikan patokan untuk tidak mempercayai siapapun. Aku akan membalaskan dendamku padanya, bahkan jika suatu saat aku bertemu Hawa, aku akan menunjukkan jika harga diri wanita hanya di kakiku.
****
Suara sambungan telepon tiba-tiba di putuskan sepihak oleh Adam. Alasan bodoh Hawa berikan pada Adam untuk membatalkan pernikahan mereka sangat menyakiti hatinya sendiri. Di dalam kamar Hawa masih mengenakan gaun pengantin, merenungi kisah cinta mereka yang kandas di tengah jalan, Hawa menangis histeris mengingat kata-kata Adam kecewa dengan pilihannya memutuskan membatalkan pernikahan yang sudah di siapkan begitu lama.
Tak ada hati yang lebih sakit berada di posisi gadis tersebut, suara isakan tangis menghapus jejak make up di wajahnya. Hawa tidak tahu dan tidak ingin tahu nasib sial yang menimpa hidupnya. Seharusnya orang paling bahagia itu menikah dengan orang yang kita cintai dan hari ini ia berada di posisi sulit, Hawa membatalkan pernikahannya, dan membuat Adam kecewa dan malu.
"Kenapa takdir mempermainkan hidupku seperti ini?" gumamnya lirih di iringi isakan tangis.
Pilihan Hawa untuk pergi sudah benar, ia memutuskan menjauh dari Adam. Peringatan itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Adam tidak mungkin main-main, Hawa tahu betul karakter dirinya apalagi Adam marah di permalukan seperti itu. Ia bergegas membuka gaun dan mencuci wajahnya dengan sabun untuk menghilangkan make up yang tersisa. Setelah itu ia pergi mengikuti intruksi Damian untuk masuk ke mobil dan pergi meninggalkan kenangan yang pahit.
****
Bandara Soekarno Hatta tampak ramai. Semua orang tampak sibuk, mulai dari membeli tiket sampai menunggu pesawat. Hawa sudah satu jam disana menunggu Ibunya dan Damian untuk berangkat bersama ke Rusia menggunakan jet pribadi. Tak lama kemudian datanglah Bu Leni menyeret koper berisi semua perlengkapan pakaian dan Damian yang memakai kacamata berjalan di sisi wanita paruh baya itu.
Gadis itu sendiri bernafas lega melihat Ibunya baik-baik saja, merekapun tiba tepat di depan Hawa. Suasan canggung terasa sekali di antara mereka.
"Akhirnya kau memutuskan pilihan yang tepat. Aku semakin mencintaimu Hawa," tegur Damian mengulurkan kedua tangan untuk memeluk gadis itu. Tapi Hawa mundur beberapa langkah menghindarinya, Damian kecewa dengan penolakan Hawa.
"Jangan menyentuhku Kak! Sebaiknya kita berangkat sekarang!" ketus Hawa menatap tajam pada pria yang di bencinya.
"Hahaha... Baiklah, kita berangkat sekarang. Aku tidak ingin membuang-buang waktu disini." Damian tertawa memaklumi sikap Hawa yang begitu dingin. Ia yakin suatu hari nanti Hawa akan mengerti kalau Damian sangat mencintainya, apa yang sudah menjadi miliknya takkan rela ia berikan pada siapapun.
Hawa merangkul Ibunya sambil meneteskan air mata karena sebentar lagi jet itu akan berangkat meninggalkan Indonesia. Sebenarnya Hawa merasa berat hati untuk pergi karena tidak dapat bertemu Adam lagi selama beberapa saat, rasa cinta di hatinya takkan berubah sekalipun Adam yang dulunya membuat hidupnya selalu berwarna berubah menjadi kejam lagi. Ia juga tidak tahu kapan akan kembali dan takut pengobatan yang dilakukannya gagal. Tapi, ia meyakinkan dirinya sendiri kalau dia akan sembuh dan baik-baik saja.