Kehilangan Mama

2129 Kata
"Tante tidak perlu membayar pengobatan Shila sepeserpun, asalkan dengan satu syarat," ucap Damian bersiap menjalankan misinya. "Katakan saja! Apa itu?" raut wajah Bu Leni sangat bahagia mendapatkan pertolongan dari Damian. "Aku ingin Hawa tidak menikah dengan Adam." senyum sinis tersungging di bibirnya. Damian hanya punya cara ini untuk menggagalkan pernikahan mereka. Hawa adalah miliknya tak seorangpun bisa menyentuh apa yang sudah menjadi miliknya. Bu Leni geram mendengar hal itu, "aku bisa melakukannya tapi apa yang harus aku katakan pada Hawa dan Adam. Mereka pasti tidak akan mau membatalkan pernikahannya." Bu Leni sangat frustasi sekarang memilih keselamatan Hawa atau kebahagian anaknya. "Serahkan saja padaku! Aku akan mengatasi semuanya. Tante hanya perlu mengikuti intruksiku, dan jangan sampai Hawa tahu rencana kita." Damian tersenyum licik rencananya sudah siap untuk di jalankan. "Baiklah, terserah kau saja yang penting Hawa selamat." Bu Leni akhirnya setuju dengan keputusan Damian. Bu Leni mengakhiri percakapan mereka, ia pun mengintip dari balik jendela. Rupanya anaknya belum sadar, ia masih terlelap dibantu dengan tabung oksigen, hidung dan mulutnya tertutup dengan bantuan alat pernafasan. Cairan infus menetes sedikit demi sedikit melalui selangnya. Bu Leni masuk ke ruangan Hawa yang terbaring tak berdaya. Tangisnya pecah melihat kondisi anaknya. Perlahan tangan Hawa mulai bergerak dan matanya terbuka lebar. "Hawa, kamu sudah bangun, Nak?" Bu Leni menghapus air matanya, ia senang melihat Hawa membuka mata. "Ma, aku di mana?" tanyanya sambil membuka selang di mulutnya untuk berbicara. "Kamu di rumah sakit, Sayang! Selama ini kamu membohongi Mama, ternyata kamu tidak pernah mengecek kesehatanmu. Kita akan ke Rusia untuk operasi transplantasi jantung!" kata Bu Leni sambil menangis memeluk Hawa. "Aku minta maaf, Ma! Hawa lelah bergantung dengan obat dan dokter. Hawa mau sehat seperti orang lain tanpa harus selalu minum obat. Satu hal lagi, Hawa tidak mau berobat di luar negeri. Itu sangat mahal, Ma. Darimana kita mendapatkan uang sebanyak itu?" Hawa keras kepala pada keputusannya. "Mama tahu kamu tersiksa selama ini, tapi Mama tidak mau kehilanganmu, Nak. Mama hanya punya dirimu. Mama punya sedikit tabungan uang untuk biaya pengobatanmu disana." Bu Leni menggenggam jemari Hawa meyakinkan anaknya untuk segera pergi. "Aku tidak akan pergi! Karena lusa pernikahanku dengan Adam. Tenang saja, aku akan sembuh, Ma." Bu Leni sambil mengelus rambut Hawa tidak ingin membantah keinginan gadis itu. Damian akan melakukan tugasnya, aku tidak ingin ikut campur yang penting Hawa sembuh. gumam Bu Leni dalam hati. Mata Hawa tidak berhenti menatap Bu Leni, wanita paruh baya itu terlihat sangat lelah, tanda hitam mengelilingi matanya mulai terlihat. Berkali-kali ia menghela nafas sibuk dengan pikirannya sendiri, Hawa benar-benar merasa bersalah menyusahkan Ibunya selama ini. Sejak kecil Hawa hanya punya Ibunya, mengorbankan segalanya demi dirinya. Mana mungkin gadis itu tega melihat Ibunya cemas seperti ini, Hawa tidak mau menunjukkan dirinya seperti orang sekarat. Air mata lolos di pipi Hawa menandakan sedang menangis. "Selama ini Hawa selalu menyusahkan Mama dan tidak pernah membahagiakan Mama. Hawa merasa jadi anak yang tidak berguna." tangan Hawa menyentuh pipi Ibunya. "Kamu tidak pernah menyusahkan Mama justru kamu adalah titik kebahagian Mama selama ini. Mama menjadi orang paling bahagia semenjak melahirkanmu. Kamu Hawa, anak tersayangku, apapun Mama lakukan untuk menyembuhkanmu, Nak," jelas Bu Leni. Ia memegang tangan Hawa yang menyentuh pipinya lalu mengecup tangan itu. Kepedihan hati seorang ibu melihat anaknya terbaring sakit adalah penderitaan yang sebenarnya. Hawa di lahirkan dengan susah payah, membesarkannya seorang diri dan hari ini Bu Leni harus menyaksikan anaknya sakit keras. Ibu manapun pasti tidak akan mau kehilangan anaknya, itu sebabnya Bu Leni mengambil jalan mengikuti rencana Damian demi kesembuhan Hawa. "Ma, kalau Hawa nanti meninggalkan Mama, Hawa mau Mama disini baik-baik saja. Mama harus jaga kesehatan dan doakan Hawa agar tenang. Mama harus berjanji!" ucap Hawa menangis. Ia sadar kalau sekarang ia sedang sekarat, kecil kemungkinan untuk bisa hidup lebih lama lagi. "Jangan bicara sembarangan! Mama tidak akan mau hidup dengan baik disini." mengelus kepala anaknya agar tidak berpikir macam-macam. "Baiklah, Hawa akan berusaha sembuh demi kebahagian Mama. Tapi, Mama tidak memberitahu Adam, kalau Hawa di rawat di rumah sakit?" tanyanya kalap. Adam tidak perlu tahu kalau ia sedang sakit sekarang, Hawa tidak mau Adam mengkhawatirkannya dan ia tidak mau terlihat lemah di hadapan lelaki itu. Penyakitnya tetap menjadi rahasia yang harus di sembunyikan hingga saatnya Adam tahu sendiri. "Tidak, Nak. Mama tidak bilang kepada siapapun," ujar Bu Leni tersenyum lebar. "Syukurlah, Mama tidak memberitahu siapapun." Di tengah perbincangan mereka, suara dorongan pintu menghentikan pembicaraannya dan sekarang mereka fokus pada siapa orang yang masuk. "Maaf, mengganggu. Aku hanya ingin memeriksa keadaan Hawa," ucap Dokter itu. Senyum yang manis dan perawakan yang tinggi, semua orang pasti tahu dirinya. "Silahkan, Nak! Kau periksa keadaan Hawa." Bu Leni bangkit dari kursinya lalu mundur kebelakang mempersilahkan dokter itu. "Kak Damian, terimakasih sudah menolongku," ujar Hawa menatap Damian yang memeriksa keadaannya. "Sama-sama Hawa, aku sangat senang membantu semua pasienku." Damian tersenyum lagi. "Oh, ya. Aku lupa memberitahumu, kau harus operasi donor jantung Hawa! Keadaanmu sekarang semakin memburuk, aku tidak mau kau kenapa-kenapa." sambungnya lagi. "Aku tidak mau operasi. Dua hari lagi aku akan menikah, Kak Damian tidak perlu khawatir karena aku baik-baik saja," Hawa tampak geram menolak operasi donor jantung. Keadaannya sekarang sudah membaik, untuk apa operasi lagi Hawa tidak mau menghancurkan pernikahannya karena sakit yang di derita. "Dengarkan aku! Kau harus operasi Hawa, jika tidak, nyawamu akan melayang dan aku tidak mau kehilanganmu," tandas Damian, ia begitu kesal sekarang karena Hawa keras kepala mempertahankan prinsipnya padahal nyawanya dalam bahaya. "Tidaaak! Apa aku harus mengulangi perkataanku tadi? Kak Damian tahu benar aku sangat membenci rumah sakit apalagi operasi itu." suaranya setengah berteriak membentak Damian. "Demi tuhan! Aku tetap akan memaksamu untuk operasi, dan kau pasti akan setuju." lelaki itu tetap pada pendiriannya meminta Hawa menuruti keinginannya baik secara paksa maupun sukarela. Damian benar-benar tidak ingin Hawa mati karena bertahan pada pilihan bodohnya. "Kak Damian tidak bisa melakukan itu. Jika aku operasi, Adam akan tahu penyakitku dan pernikahanku akan tertunda. Aku tidak ingin di kasihani oleh siapapun. Sebaiknya Kak Damian tetap menutup mulut, menjaga rahasia besarku ini," Hawa geram dengan paksaan Damian. "Tapi--" lelaki itu itu ingin membantah namun terpotong oleh ancaman Hawa. "Tolong, buka infus ini Kak! Aku ingin pulang karena aku sudah sembuh!" pintanya. Hawa tidak ingin tinggal lebih lama lagi di rumah sakit atau Damian pasti akan terus memaksanya. Sakit di dadanya juga tidak terasa lagi. "Aku tidak akan membukanya, kau masih sakit Hawa!" pungkasnya frustasi. "Buka atau aku lepaskan sendiri," ancam gadis itu menatap Damian tajam. "Hawa, kamu masih sakit." Bu Leni yang sejak tadi diam menasehati anaknya untuk tidak keras kepala. Hawa akan mencabut infusnya namun Damian menghentikannya, ia tidak mau Hawa melepaskannya sendiri. "Okay, terserah kau saja. Aku yang lepaskan tapi kumohon kau beristirahatlah di rumah dengan baik." Damian mengalah dengan pilihan Hawa. Dirinya begitu marah sekarang, Hawa yang keras kepala menjadikannya begitu frustasi memikirkan kesehatan gadis itu. "Ya, aku akan menurutimu." Setelah alat medisnya terlepas, Hawa berusaha kuat secara fisik walaupun tubuhnya masih terasa lemas tapi ia tidak mau berada di rumah sakit ini lagi. Bisa saja, Adam curiga dan tahu penyakitnya. Hawa di bantu oleh Bu Leni dan Damian untuk turun ke ranjang, kemudian mendudukkan tubuhnya di atas kursi roda lalu Damian mendorongnya keluar dari kamar perawatan menuju mobilnya. Para perawat yang melihat Damian mendorong Hawa mulai iri dengan perhatian lelaki tersebut. Mereka tahu bagaimana sifat Damian yang selalu membutuhkan pelampiasan nafsunya dengan wanita. Setelah melampiaskan hasrat birahinya mereka akan buang begitu saja tanpa ingin mengenalnya lagi. Semua wanita pasti ingin lelaki kaya dan cerdas sekalipun hanya di jadikan mainannya namun tak ada perhatian apalagi cinta, Tapi tidak dengan Hawa, gadis itu tidak tertarik sedikitpun dengan kakak sahabatnya, hati dan pikirannya sekarang hanya milik Adam. Berdamai dengan masa lalu mungkin lebih menyenangkan daripada menyimpan dendam membuatnya semakin sakit. Hawa ingin tenang di sisa hidupnya, sekalipun Hawa tak akan melupakan pengkhianatan Damian. Ia cukup bersyukur karena Damian tidak pernah ingin merusaknya menjadi wanita yang sudah di nodai. Sampai saat ini Hawa masih menjaga mahkota kesuciannya untuk suaminya nanti. Adam. Nama itu tempat terakhir pelabuhan hati Hawa, tak ada siapapun hanya teman kecilnya yang akan menikahinya. Setelah mereka tiba di rumah, Damian membaringkan Hawa di ranjang dengan hati-hati. Lelaki itu berpesan kepada Bu Leni mengikuti aturan obat yang akan di minum oleh Hawa nanti, gadis itu tertidur saat obat minumnya bereaksi. Damian meminta ijin pamit pada Bu Leni untuk kembali lagi ke rumah sakit. Bu Leni menutup pintu kamar anaknya kemudian mengantarnya keluar. "Bagaimana ini, Nak? Kau dengar tadi Hawa bersikeras tidak mau operasi donor jantung," bisik Bu Leni pada lelaki itu. Senyum kemenangan tersungging di bibir Damian, "penolakan Hawa hari ini jauh lebih menguntungkan. Tante tenang saja, ikuti saja rencanaku," pungkas Damian berbisik kembali pada Bu Leni yang di landa rasa cemas. "Baiklah, aku serahkan semuanya padamu." tepukan bahu di berikan pada Damian sebagai tanda setuju. Hari H pernikahan, Mempersiapkan pernikahan memang begitu ribet sekalipun Hawa hanya terima beres, semua di urus oleh Wedding Organizer pilihan Adam. Hawa berangsur membaik berkat obat dari rumah sakit, untung saja ia cepat pulang dari rumah sakit dan tidak ketahuan oleh calon suaminya. Persiapan hati lah yang paling menguras energi Hawa menjelang hari pernikahan, ia merasa deg deg-an karena sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang istri. Impiannya tercapai karena akan menikah dengan orang yang sangat di cintainya.di samping itu menjelang pernikahannya, ia mengerjakan skripsi dan di kejar-kejar tanggal sidang. Cobaan begitu banyak sebelum ia menikah, mulai dari penyakitnya, tanggal ujian sidang menghitung hari, dan lainnya. Di rumah Hawa, orang begitu sibuk dengan urusan pernikahannya, gaun putih rancangan Oscar De La Renta yang dikenakan Hawa di hari pernikahannya, membuatnya terlihat anggun dan cantik. Gaun putih off shoulder ini sangat kaya detail bordir dan lace, serta dilengkapi veil super panjang dan lebar. Adam jauh-jauh memesan gaun dari Amerika milik perancang ternama Oscar De La Renta, agar pernikahannya menjadi paling termewah dan sempurna. Jika Hawa yang ingin memesan gaun ini mungkin akan berpikir seribu kali, bagaimana tidak. Gaun ini sangat mahal bahkan menjual rumahnya saja tidak cukup untuk membelinya. Hawa menatap dirinya di dalam cermin di depan para perias yang sibuk membenahi rambutnya. Ia tidak percaya bahwa dirinya yang ada di depan cermin. Hari ini dia menjadi ratu sehari, sangat cantik apalagi Hawa jarang memakai make up membuatnya memiliki aura kecantikan tersendiri. Suara dorongan pintu dari luar kamar membuatnya menoleh. Hawa sudah selesai di rias dan ia tersenyum melihat Ibunya masuk. "Ya, Tuhan, anakku kau cantik sekali hari ini. Mama tidak percaya anakku bisa secantik ini," ujar Bu Leni mengulas senyum. "Ah, Mama...." rajuknya memeluk Ibunya erat. Sebulir air mata jatuh di pelupuk matanya. "Jangan menangis! Nanti riasan di wajahmu luntur, Sayang." Bu Leni menghapus jejak air mata anaknya. "Setelah menikah Hawa akan tinggal bersama Adam. Mama pasti akan sendirian di rumah ini," suara Hawa begitu lirih melepas pelukannya lalu menatap mata Bu Leni dengan sendu. "Mama tidak apa-apa sendirian, Nak. Yang penting kamu sehat dan bahagia bersama Adam. Kamu bisa datang ke rumah ini kapanpun kamu mau," jawab Bu Leni. "Tapi, Hawa mau Mama tinggal sama Hawa nanti, Adam pasti akan setuju." rayunya memegang tangan Bu Leni agar ikut tinggal bersamanya. "Tidak, Nak. Mama disini saja, Mama tidak ingin menjadi beban dalam rumah tanggamu." Bu Leni sudah memutuskan pilihan. "Tapi--" "Sebanyak apapun kamu membujukku, Mama tidak akan berubah pikiran," tegasnya agar meminta anaknya untuk tidak bicara lagi. "Bukan waktunya untuk memikirkan Mama sekarang! Satu jam lagi supir pribadi Adam akan menjemput kita." tambah Bu Leni lalu keluar dari kamar anaknya. Hawa mengiyakan perkataan Ibunya, ia tidak berhenti berdoa agar pernikahannya berjalan lancar. **** 1 jam kemudian.... Hawa mendapatkan pesan singkat dari Adam kalau supir pribadinya sudah menuju ke sana. Gadis itu tersenyum bahagia, sungguh hari ini begitu mimpi baginya. Hawa berjalan keluar dari kamarnya memberitahu Bu Leni untuk bersiap pergi ke tempat acara. "Ma...." panggil Hawa memasuki kamar Bu Leni tampak kosong. Ia tak menemukan wanita paruh baya itu di sana, Hawa berjalan pelan mengangkat gaunnya yang begitu berat. Seluruh ruangan sudah di telusuri Hawa untuk mencari keberadaan Ibunya. Kenapa Mama tidak ada di rumah? Apa terjadi sesuatu dengannya? Tanya Hawa pada dirinya sendiri. Wajahnya tampak cemas, peringatan Beno malam itu memenuhi otak gadis itu. Rasa panik menyelimutinya sekarang. Hawa bertanya pada semua staff Wedding organizer dimana keberadaan Ibunya tapi tak ada yang melihat. Seseorang menghampiri Hawa di ruang tengah. "Maaf, Nona. Satu jam lalu saya tadi melihat Bu Leni pergi ke minimarket di seberang untuk membeli sesuatu, setelah itu saya tidak melihatnya lagi," ujar salah satu wanita yang meriasnya tadi. Deg! Jantung Hawa terasa ingin melompat, ia bertanya-tanya dalam hati kenapa Ibunya tidak kembali padahal ini sudah satu jam. Raut wajah yang tadinya bahagia kini berubah menjadi suram, Hawa tidak tahu apa yang terjadi dengan Ibunya, rasa khawatir terus menghantuinya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN