Prewedding

2253 Kata
Usai sarapan Bu Leni pamit pergi pada anaknya untuk ke toko roti miliknya, Hawa melihat rumahnya berantakan dan ingin membersihkannya terlebih dahulu sebelum berangkat pemotretan Prewedding. Hawa belum tahu dimana tempat mereka akan melakukan sesi pemotretan itu, ia hanya mengikuti perintah Adam yang memilih konsep foto mereka. Setelah menyelesaikan tugas rumahnya, Hawa bergegas ke kamar mandi lalu mengganti pakaiannya. Gadis itu tahu betul bagaimana sifat Adam yang tidak suka menunggu, itu sebabnya selama ini Hawa lebih dulu bersiap dalam hal pakaian karena jika Hawa terlambat semenit saja, Adam akan menghukumnya. Hawa tidak mau kesalahan itu terjadi lagi, ia sudah cukup bahagia bersama Adam yang bersikap hangat padanya walaupun terkadang sangat menakutkan apabila marah. Hawa keluar dari kamar mandi dengan balutan sehelai handuk menutupi sebagaian tubuhnya, ia menggunakan Hair Drayer untuk mengeringkan rambutnya yang basah, dalam hitungan menit uap panas dari Hair Drayer itu mengeringkan rambutnya. Tak lama kemudian bunyi nada dering ponselnya di atas ranjang membuat gadis itu tersentak buru-buru mengambil ponselnya. Sebuah pesan singkat dari Adam. Bersiaplah! Aku sedang menuju rumahmu sekarang. Jangan telat! Atau kau akan tahu akibatnya. By your love Ponsel miliknya di lempar kembali ke atas ranjang setelah membaca pesan itu. Dengan malas Hawa berjalan ke lemari mencari baju atasan kaos putih polos dan floral skirt selutut dengan motif bunga berwarna pink, di padu Ankle Boots yang panjangnya hanya semata kaki, membuat tampilan Shila tetap feminim dan tidak berlebihan. Suara klakson mobil di depan rumahnya menandakan Adam sudah tiba dan siap menjemputnya. Hawa terburu-buru keluar dengan membawa beberapa perlengkapan di tasnya. Gadis itu mengunci pintu rumah lalu masuk ke mobil Adam. "Untung saja aku tidak terlambat," gumam Hawa menahan degupan jantunganya yang berpacu cepat karena berlari. "Baguslah, kau selalu tepat waktu sekarang." menoleh ke arah Hawa yang sedang menggunakan sabuk pengaman. Adam menggerakkan jemarinya ke depan, memberi intruksi pada supirnya untuk mengemudi. "Hari ini kita akan melakukan sesi foto dimana?" Hawa memutar tubuhnya menghadap Adam yang fokus menatap ke dapan. "Kau akan tahu nanti setelah kita sampai di sana. Kita akan mengembil foto Indoor dan Outdoor. Kuharap kau punya tenaga untuk beberapa sesi pemotretan Prewedding kita." Adam berbicara panjang lebar tanpa menoleh. Beberapa jam kemudian mereka tiba di lokasi foto di salah satu rumah rekomendasi dari tim pemotretan House Project pilihan lelaki itu. Pertama kali melihat rumah itu Hawa langsung jatuh cinta. Rumahnya seperti punya karakter sendiri, rumah itu terang banyak jendela, banyak aksen dekoratif yang unik, dapurnya lucu. Setelah berdiskusi konsep dengan Hawa dan Adam, mereka memutuskan memilih Tema Romantis untuk pemotretannya. Sebelum melakukan pemotretan Hawa di rias sedemikian natural dengan sentuhan Flawless. Baju yang mereka kenakan sekarang terkesan santai, cocok sekali dengan tema yang mereka inginkan. Selama proses pemotretan Indoor. Mereka saling membantu untuk menghasilkan foto dan cerita terbaik. Hawa membawa properti untuk mendukung foto seperti buket bunga, topi, kacamata, dan buku art kesayangannya. Sedangkan Adam hanya membawa dirinya saja. Di dalam rumah ada tangga yang bisa naik ke mini library. Waktu di atas Hawa sedikit merinding melihat ke lantai bawah karena ternyata cukup tinggi tetapi Adam selalu sigap menenangkannya saat di balkon mini library. "Kalian harus berakting tertawa! Untuk Tuan Adam anda bisa melakukan pose dengan memberi Nona bunga ini!" Doni selaku fotografer ingin memastikan Hawa agar tersenyum bahagia tanpa rasa gugup dan kaku. Baru saja tangan Doni ingin menyentuh dagu Hawa agar posenya semakin pas untuk di foto, tapi Adam menggertaknya dengan tatapan tajam untuk tidak menyentuh dagu calon istrinya. "Jangan menyentuhnya! Hawa milikku!" Adam menepis tangan Doni untuk tidak menyentuh Hawa. "Maafkan, saya Tuan." Doni meminta maaf atas kelancangannya. Gadis itu begitu jengkel pada sikap Adam yang sangat posesif padahal Doni hanya ingin posenya menjadi lebih bagus. Hawa meminta maaf pada Doni atas sikap Adam yang selalu dingin. Doni hanya tersenyum memaklumi sikap kliennya. Beberapa pose di dalam rumah sudah selesai, tim fotografer meminta Hawa dan Adam untuk mengikutinya ke padang rumput tepat di belakang rumah itu. Adam berbicara dengan Doni secara pribadi meminta fotonya dan Hawa di ambil secara tidak sengaja atas intruksi Adam. Lelaki itu menghampiri Hawa yang terkagum-kagum dengan panaroma pemandangan indah di depannya, terdapat semak dan tanaman perdu. Angin sepoi-sepoi menyentuh ilalang hingga bergoyang kesana kemari. Melihatnya begitu sibuk, Adam menggendong Hawa seperti karung beras membiarkan kepalanya menjuntai ke bawah. "Adam! Apa yang kau lakukan? Hey, turunkan aku!" Hawa sedikit terkejut melihat Adam menggendongnya. Gadis itu tidak berhenti berteriak. Adam meminta Doni untuk segera mempotretnya. Cekrekkk... Senyum kepuasan tersungging di bibirnya, Foto itu sesuai dengan keinginan Adam. Kepala Hawa begitu pusing sekarang, ia tidak berhenti mengumpat, kesal pada Adam. Setelah puas di lokasi pertama merekapun pergi ke lokasi kedua. Butuh beberapa jam untuk sampai di tempat tujuan. Hawa turun dari kapal kecil dengan riang mendahului Adam yang mengekor di belakangnya. Gadis itu tidak menyangka foto Prewedding mereka di Pink Beach. Pantai ini paling ingin di kunjunginya selama ini. Pink Beach begitu unik memiliki pasir berwarna merah muda nan indah. Lembutnya pasir merah muda di pantai sangat jarang Hawa temukan di tempat lainnya. Keindahan pantai itu sudah tak diragukan lagi. Hamparan pasir putih kemerahan yang seperti tepung menyambut siapapun ingin melepas penat. Ciri khas pantai ini ialah dikelilingi tebing dan gunung-gunung kapur, warna-warni terumbu karangnya pun masih terjaga dengan baik. Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti dari mana asal muasal warna pasir merah muda yang cantik ini. "Adam aku tidak percaya ada pantai seindah ini. Kenapa pantainya bisa merah muda?" tanya Hawa mengaitkan tangannya pada lengan Adam yang tersenyum melihat Hawa berloncat ria seperti anak-anak. "Beberapa berpendapat bahwa warna merah muda berasal dari pecahan karang berwarna merah yang sudah mati dan memang banyak ditemukan di pantai ini. Pendapat lain menyebutkan warna merah muda pada pasir Pink Beach karena adanya hewan mikroskopik bernama foraminifera yang memproduksi warna merah atau pink terang pada terumbu karang. Ini adalah salah satu tempat favorite ku di Indonesia yang kaya akan alam begitu menakjubkan," sahut Adam panjang lebar mengetahui fenomena pantai ini. Sekali lagi Hawa begitu kagum dengan Adam, dirinya begitu cerdas, dan tahu segala hal yang Hawa tanyakan padanya. "Seperti itu, yah." Hawa hanya mengagguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Adam yang wawasannya sangat luas. Mereka menyudahi percakapannya, dan melakukan pemotretan lagi. Sebelum mengembil photoshot, mereka mengganti baju dengan Tema Romantis selanjutnya di atas perahu dengan berlatar lautan yang indah. Hawa mengenakan gaun Gold Mermaid Dress dengan bagian bawah beraksen Ruffle menambah kesan glamour, rambutnya di sanggul dengan model Multi Braided membuatnya semakin cantik. Mata Adam tidak berhenti memandangi Hawa yang begitu cantik, persis pengantin sungguhan. Ia semakin tidak sabar menikahi Hawa dan hidup bahagia selamanya. Adam mengenakan Tuxedo putih dengan sepatu brogue detail dekoratif pada tepi ala vintage yang membuatnya terlihat klasik, perpaduan warna Tuxedo dan gaun Hawa sangat serasi. Setelah selesai berhias, mereka siap sesi pemotretan selanjutnya. Hawa naik ke perahu dengan bantuan Adam, perahu itu sudah di hias dengan bunga yang cantik. Mereka terinspirasi dari film My Heart menggunakan tema perahu. Mereka duduk di atas dengan pose tersenyum saling memandang satu sama lain. "Tersenyumlah! Rileks dan jangan kaku Nona," ucap Doni yang mengarahkan Hawa agar tidak canggung. Foto mereka sudah cukup dan hasilnya sangat memuaskan, Hawa tidak berhenti tersenyum dengan kebahagiannya hari ini bersama Adam. *** *Di rumah Hawa Pernikahan Hawa tinggal dua hari lagi, Adam merencanakan semuanya dengan matang tanpa melibatkan gadis itu, pelaksanaan pernikahan mereka akan di adakan di salah satu hotel termahal di Indonesia. Orang tua Adam ingin resepsi pernikahannya juga di adakan di mansionnya di New York, pernikahan mereka akan menjadi pusat perhatian publik. Para pemilik perusahaan besar akan datang di acara itu. Tentu saja, akan banyak wanita patah hati melihat Adam menikah. Sudah seminggu ini Hawa tinggal di rumah atas permintaan Ibunya, ia tidak ingin Hawa kelelahan dengan bekerja keras di toko rotinya. Hari ini Hawa menghabiskan waktunya untuk bersih-bersih rumah. Ia berjinjit meraih kardus yang sudah tidak terpakai di atas lemari dapur. Kardus itu terlalu tinggi, Hawa menggunakan kursi untuk mengambilnya. Sayang sekali, ia masih belum menggapainya. Hawa berjinjit lagi berusaha agar bisa meraih kardus tersebut. Tiba-tiba kakinya bergetar hebat, peluh di dahinya mengucur ke bawah. Hawa sejenak berhenti berjinjit lalu turun dari kursinya berjalan ke arah meja dapur mengambil air putih. Entah kenapa perasaannya mulai tidak enak, jemarinya tampak berkeringat. Rasa sakit di jantungnya kembali mencuat akhir-akhir ini. Ia memang sudah lama sekali tidak pernah ke dokter memeriksa perkembangan jantungnya. Hawa sendiri tidak peduli dengan resiko apapun walaupun rasa sakit itu sering muncul secara mendadak. Sial! Kenapa penyakit ini datang di saat aku ingin menikah? tanyanya dalam hati. Sampai saat ini Adam tidak tahu penyakitnya, akan sangat berbahaya jika calon suaminya itu sampai tahu. Penglihatannya semakin tidak jelas, nafasnya terasa pendek membuat Hawa sesak nafas, dia berjalan sempoyongan ke kamarnya untuk beristirahat. Sesampai di pintu, tubuhnya letih tidak sanggup berjalan lagi. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Energinya semakin melemah dan penglihatannya buram. Hawa tidak sanggup menahan rasa sakit itu. Ia terpaksa merangkak di lantai, bergeser sedikit demi sedikit dengan bantuan kedua tangannya mendekati laci tempat biasa menyimpan obat. Obatnya ternyata sudah habis. Hawa tidak bisa menahan denyutan yang menggebu-gebu serta keringat dingin terus menetes di dahinya. Tenggorokannya terasa kering ia ingin sekali meraih segelas air putih di atas laci, tapi tangannya tidak sanggup digerakkan lagi. Dengan lidah yang kelu, Hawa sekuat tenaga berteriak minta tolong. "T-tolong aku! Tolong...." suaranya parau. Dengan kerja keras, tangan Hawa berhasil mendapatkan gelas itu, lalu ditariknya turun untuk meneguk isinya. Tapi, tangannya bahkan tidak sanggup menahan beban gelas itu. Prang! Akhirnya gelas itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Hawa sangat marah pada dirinya sendiri yang lemah dan tidak berdaya. Di luar rumah, seseorang mendengar suara benda pecah dari dalam kamar Hawa. Ia langsung saja masuk karena pintu rumahnya tidak terkunci. Rasa cemas dan panik menyelimuti dadanya. Damian berjalan melewati ruang tamu memasuki kamar Hawa. Ia histeris melihat gadis itu terkapar di lantai. "Astaga! Hawa kau tidak apa-apa, Kan?" tanya Damian penuh prihatin sambil berjongkok. Awalnya, Damian datang ke rumah Hawa memastikan undangan pernikahan yang di kirim ke rumahnya beberapa hari yang lalu bukan milik Hawa. Dirinya tidak rela kehilangan orang di cintainya selama ini. Saat akan memasuki rumah itu, ia mendengar suara benda yang pecah, Damian sangat khawatir apalagi setelah mengetahui Hawa memiliki riwayat penyakit jantung. "Kak, To-tolong A-aku!" Suara Hawa terdengar parau seperti kehabisan napas. Ia tidak peduli lagi dengan kebenciannya pada Damian sekarang, Hawa hanya ingin ke rumah sakit. "Penyakit jantungmu kambuh Hawa. Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Damian menggendong Hawa ala bridal style ke mobilnya. Sesampai di mobil Ia mengusap wajahnya kasar, ia marah pada dirinya sendiri terlambat datang menolong Hawa. "Aaaarrghh... Sakit!" Hawa merintih kesakitan dan tidak sadarkan diri. "Hawa, kau harus bangun! Jangan menutup matamu!" tangan Damian menepuk-nepuk pipi Hawa dengan pelan sambil mengemudi. Gadis itu tak bersuara sedikitpun, ia masih memejamkan matanya. Damian menepikan mobilnya berusaha membangunkan gadis itu. "Bangunlah! Akan bahaya jika kau terus menutup matamu. Aku tidak ingin kehilanganmu," gumam Damian lirih. Ia memeluk gadis itu berusaha membangunkannya yang tak mendapatkan respon apapun. Damian melajukan mobilnya lagi dengan kecepatan tinggi, ia membawa Hawa ke rumah sakit miliknya. Damian adalah pria kaya yang memiliki beberapa rumah sakit tidak hanya di Indonesia, dia juga memiliki rumah sakit di luar negeri. Perawat yang bertugas di rumah sakit terkejut melihat pemilik rumah sakit itu menggendong seorang gadis. Salah satu dari mereka mengambil Brankar untuk membaringkan Hawa di atas. "Suster! Cepat persiapkan alatnya biar aku yang memeriksa gadis ini!" ujar Damian mendorong Brankar memasuki ruang ICU. Saat memeriksa di dalam Damian merasa terguncang melihat keadaan Hawa yang semakin memburuk, perawat dengan lincah memasang infus dan alat Bedside monitor untuk mengetahui tanda vital pasiennya. Usaha yang di lakukan membuahkan hasil keadaan Hawa sudah normal kembali sekalipun belum sadar sepenuhnya. Damian keluar dari ruangan itu dan melihat Bu Leni tidak diam di kursi ruang tunggu. Ia berjalan kesana-kemari seperti cacing kepanasan. Rasa cemas sudah terlihat dari wajahnya. Wanita ltu hanya bisa berdoa supaya tidak terjadi sesuatu pada anaknya. Sewaktu di mobil Damian tadi menghubungi Bu Leni untuk segera datang, ia meminta agar tak ada siapapun yang tahu kalau Hawa di rumah sakit termasuk Adam. Damian tahu, Hawa pasti tidak ingin Adam mengetahui kalau ia sedang sakit. "Tante jangan panik! Kondisi Hawa sudah membaik sekarang." Damian berbicara lembut. "Bagaimana Tante tidak panik, Hawa sedang sekarat sekarang. Dan dua hari lagi Hawa akan menikah. Untung saja kau datang tepat waktu untuk menolongnya." Bu Leni menangis memeluk Damian, menumpahkan segala kerisauan di dalam hatinya. "Kondisi Hawa cukup prihatin, dia mengalami gagal jantung dan harus segera transplantasi jantung. Jika tidak, Hawa akan mati." Damian membawa berita buruk menjelaskan pada Bu Leni, lelaki itu begitu kecewa pada Hawa karena penyakitnya sudah tiga tahun tidak pernah dikonsultasikan lagi dengan dokter. Dan Hawa hanya minum obat ketika sakit jantungnya menyerang. Akibatnya, Hawa semakin memburuk setiap harinya. "Ini tidak mungkin! Aku tidak ingin Hawa meninggalkanku sendirian. Lakukan apa saja untuk Hawa!" Bu Leni gemetar dan air matanya mulai mengalir. "Saya pasti akan menolongnya. Tapi, itupun kecil kemungkinan ia bisa bertahan hidup. Resikonya juga sangat besar. Kalau saya boleh menyarankan, mungkin lebih baik jika melakukan pengobatan di Rusia. Kalau Tante memang berniat berobat ke sana, saya punya rumah sakit di Rusia dan para dokter ahli siap menanganinya." Bu Leni tercengang dan berpikir keras darimana ia mendapatkan uang sebanyak itu. Ia memutar otak dan baru teringat tentang uang tabungannya yang disimpannya selama tiga tahun. "uang tabunganku tidak cukup untuk pengobatan Hawa di luar negeri." Bu Leni terlihat murung, ia hanya bisa menangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN