Beberapa hari kemudian, rumah Nina menjadi hening, ia masih berduka cita. Sudah empat hari ini Nina mengurung diri di dalam kamar dan tidak mau makan sedikitpun bahkan tidak mau berbicara kepada siapapun. Ruangan itu masih seperti biasa sangat rapi dan bersih. Aroma parfum masih tercium, di dinding kamar masih terpajang foto kebersamaan Nina dan Beno. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya dan ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri kalau sangat rindu akan sosok Beno.
"Apakah hati ini salah jika mencintaimu terlalu dalam? Maafkan aku yang tak mampu membahagiakanmu selama ini. Aku salah telah memendam perasaan yang bergejolak cinta. Aku lebih baik memilih mati daripada tak memilikimu seutuhnya." Nina berbicara sendiri seolah syair itu mewakili hatinya yang teramat sakit.
Tiba-tiba saja Nina merasa tidak mampu menopang tubuhnya sendiri, ia jatuh sempoyongan, air matanya bercucuran dengan deras melalui kedua matanya. Dia menangis sejadi-jadinya. Damian bersama ibunya masuk ke dalam kamarnya, Seketika itu juga mereka merasa tubuhnya lemas. Air mata Ibu Nina yang ditahannya sejak tadi akhirnya tumpah.
"Jangan terus seperti ini, Nak. Mama mengerti perasaanmu. Mama juga merasa kehilangan Beno, Bukan cuma kamu."
"Mama aku ingin sendiri. Jangan menggangguku! Sekarang aku sedang bersama Beno." Suara Nina terdengar parau, pertama kalinya ia berbicara setelah Beno meninggal.
"Sadar, Nak. Beno sudah meninggal. Dia sudah tidak ada di dunia ini." Ibu Nina prihatin dengan kondisi anaknya yang tidak stabil.
"Tidak! Mama bohong, Beno masih hidup. Hahaaa ...." Nina tertawa keras menganggap ada yang lucu dengan pernyataan Ibunya.
"Nina, lihat mata Mama! Kamu harus terima kenyataan ini. Beno sudah meninggal. Kami semua masih menyayangimu di sini." wanita paruh baya itu menangis memeluk anaknya yang tampak stress.
"Beno tidak mungkin meninggalkanku sendirian. Kami saling mencintai dan tidak akan berpisah." Nina menatap ibunya dengan tatapan sayu lalu menangis histeris dan tertawa seperti orang gila.
Ibunya menarik napas panjang, "Damian hubungi Dokter Ani. Kita butuh dokter psikiater untuk adikmu. Mama tidak sanggup melihatnya seperti ini," perintahnya pada Damian.
"Baik, Ma. Aku akan menghubungi Dokter Ani agar segera datang hari ini. Nina benar-benar terluka kehilangan Beno," ucap Damian beranjak keluar. Ia tetap saja menyalahkan Adam atas kejadian ini, seandainya Beno tidak melihat foto itu mungkin saja hari ini dia masih hidup dan Nina tidak akan frustasi seperti sekarang.
Tak ada seorang Kakak manapun di dunia ini sanggup melihat adiknya menderita. Apalagi Nina adalah adalah adik kesayangannya. Apapun dia lakukan untuk kebahagian Nina termasuk memilihkan pasangan hidup yang layak untuknya. Di lihat dari kondisinya sekarang Nina berada di tahap awal menjadi gila. Kita hanya mampu berdoa agar gadis itu sembuh dan bisa melupakan seluruh rasa sakit yang menggerogoti hati dan otaknya.
****
Pov Hawa
Malam ini sedikit mendung dengan hujan gerimis, terduduk di depan jendela memandang ruang luar yang perlahan terbasahi oleh alam. Ya, hari ini hari dimana aku menjadi satu tahun lebih tua. Ulang tahun mengingatkanku jika umur bertambah tapi usiaku semakin berkurang. Banyak ucapan selamat ulang tahun dari teman, sahabat, dan keluargaku. Kue ulang tahunku adalah Rainbow Cake, dengan warna bagai pelangi yang begitu mencolok. Kue itu dikelilingi nyala api menerangi bagian atas lilinnya. Pernak-pernik berjejer di setiap sudut rumah menambah keindahan tersendiri.
Sudah ada kedua orang tua Adam datang ke rumahku. Untuk pertama kalinya tahun ini sahabatku Nina tidak datang, dia masih melakukan perawatan untuk kesembuhan mentalnya. Tiga bulan berlalu Nina belum juga sembuh, hatiku benar - benar sakit melihat kondisinya sekarang, untung saja bayi yang ada dalam kandungannya sehat-sehat saja.
Malam ini perayaan ulang tahunku sekaligus perayaan wisuda Adam kemarin. Perayaan kecil - kecilan ini hanya di hadiri keluarga Adam dan Mama. Kami tidak mengundang orang lain untuk hadir karena aku tidak ingin seperti anak kecil merayakan ulang tahunku dengan mengundang banyak orang.
Lengkap sudah kebahagian yang kurasakan, aku meniup lilin, dalam hitungan detik asapnya sudah berterbangan membawa harapanku. Potongan kue pertama kuberikan pada Ibuku dan Bu Bianka, dua sosok wanita paruh baya yang berarti dalam hidupku.
"Happy birthday my dear, semoga segala keinginanmu terkabul," ucap Adam memelukku erat.
"Terimakasih, Adam. Selamat atas gelarmu juga." aku melepaskan pelukan itu.
"Oh, ya. Aku sudah melamar Hawa beberapa bulan lalu. Dan hari ini kuputuskan untuk menikahinya minggu depan." Adam tersenyum senang. Mataku melotot mendengar penuturannya yang ingin mempercepat tanggal pernikahan kami.
"Kau mengambil keputusan terburu-buru. Lebih baik bulan depan saja! 2 minggu lagi aku ujian meja untuk mendapatkan gelar sarjanaku." protesku padanya.
"Tidak! Itu terlalu lama kau bisa ujian meja setelah kita menikah, Kan?" Adam masih keras kepala dengan keinginannya.
"Aku setuju pendapat Adam. Tidak baik menunda terlalu lama Hawa," ucap Bu Bianka sejak tadi menyimak perbincangan kami.
"Kau benar Bianka. Aku juga ingin mereka segera menikah." Ibuku tersenyum menyetujui pendapat Bu Bianka.
"Terserah kalian saja," pungkasku menuruti keinginan mereka.
Tiga puluh menit kemudian, Adam berpamitan pada Ibuku karena ingin mengajakku ke pantai pasir putih yang tidak jauh dari rumahku. Sesampai di sana aku melihat langit malam sangat pekat di hiasi bintang-bintang kecil yang berkedip-kedip.
Ada dua buah ayunan terbuat dari ban mobil hitam berbentuk donat bergantung di bawah pohon besar. Kami memilih duduk disana. Aku menikmati semelir hembusan angin mengenaiku. Ombak menghempas tepian pasir dan menjadikannya rata kembali ke bentuk semula.
Raut bahagia terlihat di wajah Adam. Banyak suka dan duka dalam perjalanan cinta kami. Selama itu, canda, tawa, tangis, dan bahagia bercampur menjadi satu. Aku masih mengingat semua kenangan kami. Bagaimana Adam takut kehilanganku, dan selalu saja bersikap posesif jika ada yang mendekatiku. Ia tidak akan mengijinkanku jalan-jalan jika tidak pergi bersamanya. Keputusan Adam menikahiku minggu depan merupakan berita gembira untuk dua belah pihak keluarga kami.
“Kenapa kau mengembil keputusan terburu-buru Adam? Bahkan kita belum melakukan sesi pemotretan Prewedding," sahutku cemas keberatan dengan keputusan Kai.
“Kita akan melakukan sesi pemotreran Prewedding besok," Kata Adam sambil mencubit pipiku gemas.
"Ada apa denganmu? Bahkan kau tidak membicarakannya terlebih dahulu denganku. Jujur saja, aku belum siap." Keluhku pada dirinya yang sibuk menatapku karena rambutku menari-nari bersama hembusan angin. Adam paling suka melihat rambutku beterbangan seperti ini.
"Siap tidak siap aku tidak akan mengubah keputusanku. Kau ingatkan beberapa bulan lalu kau menerima lamaranku? Itu berarti kau sudah siap dengan keputusanku hari ini." Adam memegang tanganku mencoba menjelaskan agar aku tidak mengeluh lagi.
Aku menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. "Terserah kau saja,” kataku pasrah tidak ingin berdebat lagi.
"Baguslah, kau akhirnya bisa mengerti." Adam mengerutkan kening dengan bingung melihatku membuang muka.
“Aku takut Adam dengan Kak Damian. Kau ingatkan peringatan Beno malam itu, aku sangat takut Kak Damian benar-benar punya rencana jahat pada kita." mataku fokus melihat ombak di pantai.
Adam menggeleng sekali lagi dengan cepat mendekatkan jari telunjuknya di bibirku agar diam, "Kau jangan khawatir! Semua akan baik-baik saja." Adam mengusap punggungku agar tidak berpikir macam-macam. Hitungan mundur dimulai.
Tiga...
Dua...
Satu...
"Ini hadiahmu!" Adam menunjuk ke atas langit. kemudian aku melihat ratusan lampion biru yang memiliki sinar berwarna kuning terbang ke atas.
Sungguh, ini adalah hal yang sangat menakjubkan dan indah. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat malam ini, bibirku membisu tidak tahu harus berkata apa lagi. Tidak hanya aku yang takjub dengan pemandangan itu, tapi semua orang yang sedang bersantai di pantai juga kagum menyaksikan fenomena menarik.
"Ini seperti mimpi, aku tidak percaya orang sepertimu bisa sangat romantis," sindirku padanya. Adam yang terkenal dingin, ternyata memiliki keistimewaan tersendiri. Seandainya aku tidak malu mungkin aku menangis menahan haru dalam pelukannya.
"Apa kau pikir aku pria kaku yang bodoh?" tanya lelaki itu sambil memelukku dari belakang.
Aku mendongak ke atas menatap Adam yang lebih tinggi dariku, redup cahaya mengenai kornea mata biru itu. "Kau sendiri yang mengatakannya bukan aku," jawabku lirih menyambut tangan hangatnya yang memelukku dari belakang.
"Aku mencintaimu Adam," tukasku akhirnya menjadi wanita paling bahagia di dunia.
"Love you even more," jawab Adam.
Setelah itu, dia mengajakku pulang karena sudah larut malam. Tiba di rumah, aku menutup dan mengunci pintu sambil senyum-senyum sendiri. Sungguh, aku tidak pernah menyangka, akhir dari sebuah perang dingin diwarnai dengan cinta. Aku melangkah ke kamarku. Namun, kakiku terhenti di depan kamar Ibuku karena pintunya sedikit terbuka.
Jadi, kuputuskan sedikit mengintip di celah pintunya, aku ingin memastikan apa Ibuku sudah tidur pulas. Tapi, aku cukup terkejut melihat dirinya duduk di kursi di depannya meja kecil dan dan kue tart beserta lilin yang masih menyala. Aku penasaran ingin sekali masuk mempertanyakan apa yang sedang Mama lakukan. Keningku semakin berkerut melihat Ibuku mulai menangis di depan lilin menyala tersebut.
Ibuku menangis? Kenapa? Ada apa? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan darinya? gumamku dalam hati.
"Selamat ulang tahun, sayang! cuma ini yang bisa kulakukan setiap tahun untukmu." Suaranya setengah berbisik tapi aku masih bisa mendengar jelas.
Aku mengurungkan niatku untuk masuk, aku berlari kecil ke kamarku menutup pintu pelan-pelan. Aku menangis. Pasti ada sesuatu yang telah disembunyikan dariku. Tubuhku lunglai dan dibanjiri keringat dingin. Detik itu juga, aku merasa seperti ada jarum menusuk dadaku. Aku bisa merasakan sakit yang sangat dahsyat. Napasku mulai sesak. Tubuhku kembali lemas tak berdaya dan penglihatanku mulai kabur. Detak jantungku juga sudah tidak beraturan. Aku sekuat tenaga berjalan menuju laci dekat ranjangku.
Tanganku mengacak-acak isi laci mencari obat yang biasa kuminum untuk penahan rasa sakit. Obatku tinggal sebutir. Dalam sekejap wajahku memucat. Napasku tersengal-sengal, aku memegang d**a sebelah kiriku menyeka peluh yang mengalir di dahiku. Aku meraih segelas air putih di atas laci lalu duduk di lantai bersandar pada ranjang. Tangan mungilku bergetar hebat memegang gelas yang berisi air putih tersebut. Dengan susah payah aku memasukkan obat kecil ke dalam mulutku lalu meneguk air putih itu, berharap sakit di bagian dadaku segera hilang.
Jujur saja, setelah beberapa bulan lalu baru kali ini sakit jantungku kumat lagi. Tahun lalu aku bisa bebas dari obat tanpa merasa sakit sedikitpun. Tahun ini, ketika sakitku kembali kambuh, aku hanya membeli obat tanpa berkonsultasi lagi dengan dokter. Kecerobohanku dulu semakin memperburuk kondisiku saat ini.
Aku mengatur napasku agar stabil. Beberapa menit kemudian, obat yang kuminum telah bereaksi, sakit yang kurasakan sedikit berkurang. Aku kembali berdiri pelan-pelan merebahkan tubuhku di atas ranjang.
****
Keesokan harinya,
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar di telingaku, tak lama kemudian Ibuku berteriak. Aku bergegas bangun sambil mengucek mataku ingin membuka pintu.
"Hawa bangun, Nak! Ini sudah pagi," suaranya terdengar panik karena aku lama membuka pintu. Syukurlah dadaku tidak sakit lagi, hanya saja tubuhku masih sedikit lemas. Aku menenangkan diriku berusaha keras tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.
“Iya Ma, aku sudah bangun," kataku membuka pintu tersenyum manis pada Ibuku.
"Kamu baik-baik saja, Kan? Kalau kamu sakit, beritahu Mama ya, jangan menanggungnya sendirian!" Raut wajahnya cemas langsung memelukku.
"Aku baik-baik saja. Jangan panik seperti ini, Ma!" jawabku menenangkan Ibuku.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Kamu pasti lapar, Mama sudah membuatkanmu sarapan untukmu." Ibuku menarik tanganku ke meja makan.
"Aku mau bertanya sesuatu, Ma?" tanyaku setelah duduk di meja makan.
"Ya, Sayang?" Ibuku mengerutkan keningnya.
"Tapi Mama harus jawab dengan jujur."
Mama berhenti menggigit rotinya lalu menatapku bingung, "kamu mau tanya apa?"
"Apa Mama menyembunyikan sesuatu dari Shila selama ini?" Aku berhenti mengunyah fokus menatap mata Ibuku.
"Apa yang kamu bicarakan? Mama tidak menyembunyikan apapun," tegasnya padaku. Aku tahu pertanyaan yang kulontarkan salah.
"Adam melihat Mama tadi malam meniup lilin dengan kue tart itu." Nada bicaraku datar penuh penekanan.
Ibuku hanya diam terpaku mendengar pertanyaanku seolah lidahnya terasa kelu.
"Jawab Ma! Jangan diam seperti ini!" Kataku menyidik. Berharap pertanyaanku dijawab olehnya.
"Sebenarnya Mama punya saudara angkat yang seumuran denganmu dulu. Tapi dirawat oleh bibimu dan meninggal sewaktu umur satu tahun."
"Mama selalu saja membohongiku selama ini." mataku berkaca-kaca tidak percaya.
"Lihat mata Mama! Tak ada kebohongan disana." raut muka Ibuku tampak sedih karena pertanyaanku menyakiti hatinya.
"Terserah Mama saja! Bahkan ketika Mama masih berbohong, aku akan tetap percaya." Air mataku jatuh begitu saja. Perasaanku masih sakit dengan kenyataan yang selalu kudapatkan. Kali ini aku percaya alasan yang di berikannya padaku. Entahlah aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Oh, ya. Hari ini aku akan pergi pemotretan Prewedding bersama Adam. Mungkin aku pulang terlambat." Aku membereskan piring kotor di atas meja lalu membawanya ke westafel. Tak ada sahutan dari Ibuku, Wanita itu selalu saja bungkam jika aku bertanya mengenai seluk beluk keluarga kami.