Di rumah Marsha
Malam ini langit begitu cerah. Tiada satu pun awan yang menutupi pemandangannya. Bintang-bintang di sekitar bulanpun tak kalah terangnya ikut menyemarakkan suasana malam ini. Para bintang saling berkumpul membentuk sebuah rasi bintang. Menjadikan sinar purnama menyebar merata ke seluruh penjuru kota.
Nina dan Beno telah menyelesaikan pernikahannya hari ini. Beno akan menginap di rumah Nina karena mertuanya memaksa untuk malam pertama di rumahnya. Beno menurut saja dengan arahan mertuanya, mereka mengganti pakaian tidur dan akan memulai penyatuan yang semua orang impikan di malam pertama.
"Aku benar-benar lelah hari ini," keluh Beno merasa seluruh tubuhnya remuk.
"Tidurlah, kita bisa menundanya besok." Nina mengerti dengan keinginan suaminya tak ingin melakukan penyatuan malam ini. Beno mengangguk kemudian terdengar bunyi aneh di perutnya.
Kruuyukk... Kruyukk...
Bunyi itu berasal dari perut Beno yang tampak kelaparan, Nina tertawa mendengarnya. Seharian tadi mereka hanya makan beberapa sendok nasi.
"Kau lapar? Aku akan menyiapkan pasta untukmu," sahut Nina ingin membuatkan makanan untuk suaminya. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Yah, aku sangat lapar," jawab Beno.
"Pastaku akan siap dalam 5 menit. Tolong panggilkan Kak Damian agar makan malam bersama kita! Mama dan Papa sudah tidur, kita tidak mungkin membangunkannya." cerocos Nina lalu menuju dapur. Dengan malas Beno berjalan ke kamar Damian untuk memanggilnya makan malam.
Tangannya memutar handle pintu kamar. "Kak, kau sudah tidur?" ia melongokkan kepalanya mencari lelaki itu. Beno tak mendengar sahutan, ia pun masuk ke dalam kamar, mengamati sudut-sudut ruangan mencari Kakak iparnya.
Beno mendengar bunyi gemericik air di kamar mandi.
"Kakak ipar! Nina memanggilmu untuk makan malam di meja makan," teriak Beno di balik pintu kamar mandi.
"Yah, aku akan kesana."
Setelah mendengar jawaban itu Beno hendak keluar dari kamar Damian tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat foto Adam di dinding, di beri tanda silang menggunakan spidol merah. Dia memicingkan mata melihat dengan jelas tulisan kecil di bawah foto tersebut.
❌Kau akan kehilangan Hawa di hari paling bahagiamu ❌
Beno terkejut dengan rencana kakak iparnya yang ingin merusak kebahagian Adam. Mereka sudah bersahabat sejak lama, tidak mungkin membiarkan Adam celaka. Beno ketakutan saat suara pintu kamar mandi di buka, ia begitu takut Damian mendapatinya melihat foto itu.
"Oh, s**t. Kau sedang lihat apa?" bentak Damian melihat Beno mengetahui rencana yang sudah di sembunyikan selama ini.
"Ti-tidak..., Aku tidak melihat apapun." wajah Beno pucat pasi. Ia begitu takut melihat tatapan Damian yang di liputi amarah.
"Terlalu banyak tahu sangat berbahaya untukmu." mata Damian melotot berjalan ke arah adik iparnya.
"Aku tidak menyangka kau selicik itu Kak." Beno melangkah keluar dari kamar Damian. Ia buru-buru mengambil ponsel dan kunci mobil di kamarnya, berlalu begitu saja mengabaikan panggilan Nina.
"Sayang makanannya sudah siap. Kau mau kemana? Kita makan dulu," teriak Nina mengikuti langkah suaminya yang sudah membuka pintu mobil.
"Aku akan memakannya setelah aku pulang dari rumah Adam. Aku pergi dulu, sayang." Beno mencium pipinya sekilas.
"Tapi ini sudah tengah malam. Pamali meninggalkan makanan yang sudah siap." Nina tampak khawatir namun Beno melihat Damian berlari mengejarnya.
Ia bergegas masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya, Beno akan menceritakan pada Adam apa yang dia lihatnya di kamar Damian. Tangan kirinya meraih ponsel untuk menghubungi sahabatnya.
"Halo. Ada apa Beno menelponku malam-malam begini? Bukankah ini malam pertama kalian." suara Adam terdengar jelas di seberang
"Halo, Adam. Dengarkan aku! Kau harus berhati-hati dengan Kak Damian di punya rencana besar. Kau jangan tidur dulu! Aku menuju ke rumahmu sekarang." Beno menaikkan kecepatan lajunya.
"Rencana apa, Ben?"
"Beno! Apa kau mendengarku?" suara Adam masih terdengar di balik telepon.
Pikiran Beno benar-benar kalut sekarang tidak menggubris Adam di balik ponsel. Namun sayangnya sorot lampu mobil begitu terang mengenai matanya sehingga Beno tidak mampu melihat dengan jelas. Ia hilang kendali banting setir ke arah yang berlawanan.
Braaaaakkkkk...
Suara hantaman dua mobil yang tidak seimbang saling berbenturan. Pengemudi truk itu mabuk menabrak mobil Beno. Darah bercucuran di setir mobilnya.
"Benooooo!?"
"Bicaralah! Apa kau mendengarku?" Adam berteriak mendengar suara hantaman begitu keras. Adam marah tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya.
*Di lain tempat
Hawa merebahkan diri di atas ranjang di dalam kamar. Tulang-tulangnya terasa sakit semua padahal Hawa tidak terlalu bekerja keras di pernikahan Nina. Catty tiduran dengan manja di sampingnya. Kedua mata Hawa menatap langit-langit rumah, merasa sedikit nyeri di dadanya.
Sudah setahun ini dia tidak pernah mengecek perkembangan jantungnya lagi. Obatpun hanya diminum saat ia merasakan sakit. Setiap ditanya oleh Bu Leni, Hawa selalu saja berbohong mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan rutin melakukan check up. Hawa sangat lelah pergi ke dokter dan mengkonsumsi obat setiap hari selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Hawa meraih ponselnya dengan kesal karena telah mengganggu lamunannya. Ia menekan tombol hijau dan mendengar isakan tangis sangat jelas di balik telepon.
"Nina, kau kenapa?" tanya Hawa dengan khawatir.
"A-ada berita buruk. Beno ..., Diaaaa ..., Diaaa ..., ” bicaranya gugup dan terbata-bata.
Hawa memperbaiki posisi duduknya memasang wajah serius, "Ada apa dengan Beno? Bukannya kalian sedang menikmati malam pertama sekarang."
"Tak ada malam pertama, Hawa," jawab Nina dengan isak tangis.
"Terus?" tanya Hawa cepat penasaran menahan degup jantungnya semakin cepat.
"Beno mengalami kecelakaan karena menabrak truk saat ke rumah Adam." Nina menggantung perkataannya sembari menangis tersedu-sedu.
"Apa? Ini bukan waktunya bercanda Nina. Malam-malam begini untuk apa Beno ke rumah Adam." Hawa mendelik. "Dia tidak apa-apa, Kan?" lanjut Hawa matanya mulai berkaca-kaca dan sekujur tubuhnya merinding.
"Beno sudah tidak ada, Hawa," ujar Nina di seberang semakin histeris.
Detik itu juga hati Hawa mati rasa. Sangat mati rasa sampai-sampai tidak bisa merasakan apapun, dia tidak mungkin salah dengar, Kan? Kalau boleh berharap, dia mau telinganya salah dengar dan......
“Jangan bohong! Aku tidak percaya ini. Kalian baru menikah tadi siang. Kenapa Beno sekarang sudah meninggal?" Hawa menangis mengerti perasaan sahabatnya.
"Aku di rumah sakit sekarang belum masuk ke kamar Beno untuk memastikan kebenarannya. Aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan buruk ini Hawa." tangis Nina semakin hebat mengingat kejadian yang dia alami. Baru tadi siang ia menikah, dan setengah jam lalu Beno memintanya membuat makan malam. Dan sekarang Nina harus menerima kenyataan kehilangan suaminya.
“Tunggu aku di sana! Aku ke rumah sakit sekarang. Mungkin saja ini salah paham."
Hawa buru-buru mematikan sambungan telepon dan bergegas mengganti pakaiannya. Ia tiba di rumah sakit dalam sepuluh menit. Damian, orang tua Nina, dan Adam sudah di sana menunggu di depan sebuah kamar.
Raut wajah sedih terlihat di sana. Hawa menghambur ke pelukan Adam yang tampak kacau. Tapi lelaki itu membisu tak bicara sedikitpun. Tak lama kemudian mereka menemukan polisi berseragam lengkap ada di depan kamar jenazah.
Nina mendekat dan menanyakan kejadian sebenarnya. Polisi menjelaskan secara rinci penyebab kecelakaan terjadi. Beno melaju dengan kecepatan tinggi di atas rata-rata sehingga kehilangan kestabilan dan akhirnya menabrak truk. Pengemudi truk itu juga dalam keadaan mabuk dan mati di tempat.
Polisi menyebutkan nomor plat mobil Beno lalu menunjukkan SIM, ponsel dan KTP yang ditemukan di mobilnya. Tidak salah lagi, bukti sudah cukup kuat menunjukkan bahwa korban yang meninggal adalah Beno.
Nina meraih SIM, ponsel dan KTP dengan tangan bergetar. Air mata mengalir deras dan tidak mampu dihentikan lagi. Hawa menangis dan sungguh sulit dipercaya karena baru tadi siang mereka menikah dan sekarang Beno sudah tidak bernyawa.
Polisi mempersilahkan Nina, Adam, Damian, dan Hawa masuk untuk memeriksa jenazah korban memastikan apa benar itu keluarganya. Nina membuka pintu dan memandangi seorang terbaring kaku sendirian di antara banyak ranjang kosong.
Nina mendekat dengan kaki gemetar dan membuka kain putih yang menutupi tubuh jenazah. Tangannya bergerak perlahan-lahan membuka penutup kain kafan. Detik itu juga, Nina merasakan tubuhnya bergetar hebat.
Nina menutup mata hampir hilang kendali. Ia menangis dan menjerit-jerit histeris melihat Beno memejamkan mata untuk selamanya. Wajah Beno tampak pucat karena tidak ada darah yang mengalir di seluruh tubuhnya, tidak ada lagi detak jantung berdetak memompa darah. Hanya sebercak luka di dahi dan d**a menganga dengan lebar.
"Sayang, kenapa kamu tinggalin aku sendirian? Kita baru saja menikah tadi siang." sekarang Nina tertawa terbahak-bahak menahan tangis.
"Jangan diam begini! Kamu pasti bercanda, pura-pura tidur pulas seperti ini untuk menjahili ku, Kan? Bangun, Ben! Ayo bangun! Kita tinggalkan tempat jelek dan mengerikan ini." Setelah tertawa, sekarang gadis itu menangis lagi. Hawa memeluk tubuh yang sudah dingin seperti es. Hawa menenangkan sahabatnya agar berhenti menangis.
"Dek, kau harus kuat. Ini sudah takdir," sahut Damian mengelus kepala adiknya.
"Ini semua gara-gara kau Adam. Kau membuatku janda di hari pernikahanku. Seandainya kau tidak menghubungi Beno, dia tidak mungkin datang ke rumahmu." Nina tersulut emosi menyalahkan Adam atas kematian suaminya.
"Kau salah paham Nina, aku tidak menghubungi Beno untuk datang ke rumahku tapi Beno yang menghubungiku berbicara tentang siasat licik Damian." Adam membela diri.
"Kenapa kau menyalahkanku. Jelas-jelas kau yang menyuruh Beno datang ke rumahmu," bentak Damian yang tidak terima tuduhan itu.
"Diam kau! Ini bukan salahku." suara Adam menggelegar. Hawa pusing mendengar pertengkaran mereka.
"Bagaimana aku bisa hidup setelah ini. Aku tidak bisa Kak, aku tidak ingin anakku menjadi yatim sebelum ia lahir," ujar Nina meratapi nasibnya.
Semua mata fokus pada Nina sekarang "Apa maksudmu Nina?" tanya Damian.
"Aku hamil Kak." tiga kata itu menghujam jantung Damian. "aku hamil, itu sebabnya aku ingin segera menikah dengan Beno." Nina menceritakan kejadian sebenarnya. Damian mengasihani Nina yang harus menerima takdirnya. Kasih sayang Damian kepada adiknya membuat ia punya ide gila.
"Kematian Beno penyebabnya adalah Adam maka dia harus bertanggung jawab untuk menikahimu." semua orang terkejut mendengar keputusan sepihak Damian.
Kata-kata Damian membuat telinga Hawa memanas, ia tidak setuju dengan permintaan Damian yang sudah melewati batas. Semua orang tahu dirinya akan menikah sebentar lagi dengan Adam dan Damian meminta Adam untuk menikahi sahabatnya.
"Tutup mulutmu Kak! Kau tahu benar kami saling mencintai dan aku akan segera menikah dengan Adam mana mungkin aku menyetujui keinginan gilamu itu." mata Hawa membulat besar dia tidak akan pernah menyetujui Adam menikah dengan orang lain. Sekalipun Nina sedang hamil sekarang tapi itu tidak menunjukkan kalau Adam yang menyebabkan suaminya meninggal.
"Dengarkan aku Hawa! Penyebab kematian Beno adalah Adam. Jadi ia harus bertanggung jawab." Damian tetap keras kepala menginginkan adiknya menikah dengan Adam.
"Hentikan omong kosongmu Kak!" matanya tampak kabur oleh genangan air mata.
Adam yang sejak tadi diam menenangkan Hawa yang nyaris menangis. "Sudahlah, sayang kau jangan menghabiskan waktumu percaya pada omong kosongnya," seru Adam menunjuk ke arah Damian yang sedang memeluk adiknya.
"Suka tidak suka kau harus bertanggung jawab Adam," kata Damian berapi-api. Ini kesempatan bagus untuknya, dengan Adam menikah ia punya 2 keuntungan. Pertama, kehormatan adiknya terselamatkan. Kedua, Adam tidak menikah dengan Hawa, sebuah peluang yang sangat besar bisa bersatu dengan orang yang di cintainya lagi.
"Bagaimana aku bisa menjelaskannya? Beno yang menghubungiku membicarakan rencana busukmu dan ingin menjelaskan semuanya setelah sampai di rumahku. Bukan aku yang menyuruhnya datang. Kau percaya padaku, Kan Hawa?" Adam memegang kedua pundak Hawa, menatap matanya, meyakinkan kalau apa yang di katakan adalah benar.
"Yah, aku percaya padamu." Hawa berkata lembut.
"Kau bohong Adam!" Damian setengah berteriak memojokkan lelaki itu agar tak punya pilihan selain menikahi adiknya.
"Aku tidak akan mau menikah dengan seorang pembunuh!" Nina berteriak seperti orang gila. Ia melepaskan pelukan Damian lalu keluar dari kamar itu.
Air mata Hawa bercucuran kenapa masalah datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Ia begitu sakit hati melihat kesedihan Nina dan ia tidak akan pernah rela Adam menikah dengan siapapun selain dirinya. Mereka berteman sejak kecil dan pernikahannya tinggal sebentar lagi. Hawa memutar otaknya membela Adam, ia teringat sesuatu. Sebuah ponsel Adam. Gadis itu meminta ponsel Adam yang berada di saku celananya.
"Tunggu, Nina. Aku punya bukti jika Adam tidak bersalah. Lihat ini!" Hawa mengejar Nina lalu meraih tangannya untuk berhenti sejenak. Dirinya tidak mungkin keliru, tangannya lincah mengotak atik layar ponsel Adam.
"Perhatikan baik-baik! Ini panggilan masuk Beno. Berarti Adam tidak bersalah, ia tidak menghubungi Beno untuk datang ke rumahnya." menunjukkan bukti di balik layar ponsel itu.
"Kau benar Hawa." Nina menghapus air matanya yang sudah mulai kering di pipinya. Apa yang terjadi dengan Beno bukan salah Adam. Dia harus belajar iklash sekarang, dirinya tidak boleh lemah demi bayi yang di kandungnya.
"Tapi, ada sesuatu yang janggal. Kenapa Beno tiba-tiba menghubungi Adam dan mengatakan Kakakmu punya rencana busuk," sindir Hawa melihat wajah Damian pias seolah menyembunyikan sesuatu.
Nina juga merasa heran karena Beno tiba-tiba langsung pergi setelah dari kamar Kakaknya. Namun dirinya membuang pikiran buruknya. "Itu hanya perasaanmu saja Hawa. Kakakku tidak mungkin punya niat buruk kepada orang lain. Aku sangat mengenal Kakakku. Lagipula aku tidak ingin membahas masalah ini lagi." Nina sangat mempercayai Damian.
"Tapi, Nina." Hawa ingin menyanggah tapi Damian datang menyentuh pundaknya. "Kau dengar itu, Hawa. Adikku sangat mempercayaiku, lebih baik kita semua pulang sekarang membawa jasad Beno."
Semua yang terjadi masih menjadi misteri bagi Hawa dan Adam, kejadian hari ini semakin membuat dirinya agar waspada dengan Damian.