"Diam kau! Aku tak butuh ocehanmu. Kau harus mendapatkan balasan dua kali lipat dari yang Hawa rasakan. Kau menampar Hawa, Kan sekali?" tanya Adam yang sudah tahu jawaban Dila.
"Yah, aku menamparnya. Tamparan itu membuatnya memohon padaku." Dila melotot seolah menatap Adam.
"Pengawal!? Kalian pasti tahu tugas kalian untuk memberinya pelajaran. Tampar pipi wanita gila itu!?" perintahnya tanpa basa basi. Dila hanya menampar satu kali pada Hawa tapi Pengawal itu memberi tamparan dua kali padanya. Hukuman itu tidak sebanding.
"Kau mendorong dan menjambak rambut Hawa, Kan? Pengawal lakukan tugas kalian dengan benar." Adam tetap melihat cara kerja pengawalnya. Pengawal itu menendang Dila yang di ikat di atas kursi. Ia terhuyung kebelakang, terhempas di lantai merasakan kepalanya pusing. Dila mengeluh kesakitan dengan perbuatan pengawal Adam yang kejam.
Sakit yang Dila rasakan belum mereda, beberapa pengawal itu melakukan aksinya dengan menarik rambut Dila beserta kursinya berjalan kesana kemari. "Sakit ..., Sakit ..., Berhenti menarik rambutku b******k! Kalian lepaskan aku!" Dila berteriak kencang merasakan rambutnya ingin tercabut dari kepalanya.
Tawa Adam menggema di balik telepon membuat Dila memohon. "Tolong lepaskan aku Adam!" Dila meratapi nasibnya yang benar-benar sial.
"Bagaimana mungkin aku melepaskanmu sementara kau masih memiliki 1 hukuman lagi? Ini hanya permainan kecil dan kau lebih dulu berani bermain-main denganku." mata biru Adam melotot menyaksikan Dila yang begitu tersiksa. Rambutnya acak-acakkan serta bekas tamparan menoreh di pipinya yang cantik.
"Tolong lepaskan aku, Adam! Aku janji tidak akan mengganggu Hawa lagi." air mata Dila berderai.
"Memohonlah dengan benar," ujar Adam.
"Berbaik hatilah padaku Adam." suara Dila tercekat tidak sanggup menahan kesakitan di kepalanya. Pengawal itu tak peduli tetap melakukan tugasnya.
"Jaringan teleponku bermasalah, aku tak mendengar permohonanmu," kata Adam yang berpura-pura tuli.
"Maafkan, aku Adam. Tolong lepaskan aku! Aku mohon." suara Dila melemah tidak sanggup menghadapi Adam.
"Pengawal berhenti!" Adam memberi perintah pada pengawal itu agar berhenti menjambaknya. "Sebelum kau melepaskannya selesaikan hukuman terakhir wanita itu, mengerti?"
"Baik, Tuan." pengawal itu mengangguk di balik layar telepon. Mereka mendudukkan Dila seperti semula di atas kursi. Matanya melotot melihat seorang pengawal memanasi garpu di dalam api yang sudah di siapkan. Setelah memanasinya pengawal itu mendekati Dila yang tampak panik.
"Tidak! Tidak! Jangan lakukan ini padaku! Aku sudah memohon padamu Adam." gadis itu menangis histeris mengingat kesalahan yang di perbuat. Bermain-main dengan Hawa sama saja membangunkan Singa yang lapar.
"Darah di bayar darah, nyawa di bayar nyawa dan kau harus terima akibatnya," ujar Adam dengan berapi-api belum puas melihatnya menderita.
"Beri cakaran dengan garpu itu di lehernya!" Adam memberi perintah dan di angguki oleh pengawal itu.
"Tiiiidaaaakk! Jangan...."
Hanya suara itu yang di dengar oleh Adam karena ia sudah mematikan sambungan teleponnya. Ia benar-benar marah, sangat marah tak mempedulikan kesakitan Dila. Pengawal itu pasti akan melepaskannya setelah memastikan Dila tak berdaya.
Itu hanya pelajaran kecil untuk orang yang berani bermain-main denganku gumam Adam pada dirinya. Lelaki itu melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda, sesekali matanya melirik Hawa yang masih tertidur. Adam heran dengannya, dia tidak merasa terusik mendengar suaranya menggelegar selama melakukan panggilan telepon. Mungkin saja obat yang Haww minum tadi, mulai bereaksi membuatnya tertidur pulas.
Mobil Adam berhenti tepat di depan rumah Hawa. Ia menggendong Hawa ala bridal style tak ingin membangunkan gadis itu. Adam memutar handle pintu lalu mendorongnya menggunakan bahu melewati ruang tamu menuju kamar Hawa dan meletakkan gadis itu dengan hati-hati di atas ranjang.
Adam tahu hari ini Bu Leni berada di toko rotinya. Jika memberitahu Bu Leni apa yang terjadi pada Hawa, bisa membuat masalah baru. Ia putuskan untuk merahasiakannya. Adam mondar mandir di dalam kamar mencari kotak P3K, matanya berhenti mengamati setelah mendapatkan apa yang di cari.
Kotak P3K berisi banyak perlengkapan termasuk di antaranya cairan antiseptik, perban gulung, dan mitela. Adam meraih betadine dan kapas mengoleskan pada leher Hawa agar tidak terinfeksi. Sewaktu mengobatinya gadis itu sempat menggeliat dari tidurnya merasa perih. Adam pelan-pelan menekan kapas yang berisi betadine pada kulitnya dengan hati-hati. Setelah memastikan tidak ada luka lain lagi, Adam menyelimuti Hawa yang masih tertidur pulas berada di alam mimpi yang tidak mampu Adam tebak.
"Aku minta maaf menyusahkanmu dan selalu membuatmu kesal dengan sikapku. Kau wanita yang baik," ujar Adam pada Hawa yang tak mendapatkan respon, ia duduk di tepi ranjang. Tangannya mengelus kepala Hawa beberapa kali lalu mendaratkam ciuman singkat di dahi gadis itu.
"Bermimpi indahlah! Besok kita akan bertemu kembali," katanya sebagai ucapan terakhir sebelum meninggalkan gadis itu. Pelan-pelan ia menutup pintu kamar, keluar dari sana menuju mobil pribadinya. Akhir-akhir ini Adam tak lagi membawa supir dan bodyguard. Terlalu bergantung pada mereka bisa menyusahkan nantinya, Adam rindu dengan mansionnya di New York. Tidak lama lagi Adam menyelesaikan kuliahnya lalu menikahi Hawa. Setelah mereka menikah Adam akan membawanya tinggal di sana. Menghabiskan waktu sepanjang hari memeluk istri yang akan di nikahinya di masa depan.
****
Hampir semua orang normal di dunia ini memimpikan memiliki pasangan hidup yang di legalkan dalam ikatan pernikahan. Beragam kisah terurai. Dimulai dari proses perkenalan hingga kemudian menuju pernikahan. Hari ini Nina dan Beno menikah walaupun mereka berada di penghujung akhir semester kuliahnya. Wajah mempelai wanita bercahaya di padu make up tebal bak boneka berbie dan gaun yang indah membalut tubuhnya. Nina tak percaya hari ini ia akan menikah, Hawa terus mendampingi sahabatnya menjelang pernikahannya. Mulai dari ribetnya mempersiapkan undangan, mendekorasi ruangan, memesan katering, dan macam-macam seserahan kepada mempelai pria.
Urusan hati antar sepasang manusia selalu saja menawarkan sejuta cerita. Tak selamanya pernikahan berisi metafora keindahan yang serba manis. Tapi banyak orang yang ingin mencoba walaupun pada akhirnya berujung perceraian.
Pernikahan mewah mereka di adakan di hutan pinus dengan tema Peri Hutan. Keduanya mengaku sama-sama menyukai alam terbuka. Ditambah, Nina dan Beno juga bukan tipe orang yang suka dengan nuansa indoor. Hingga terpilihlah hutan Pinus sebagai tempat acara sakral tersebut. Pernikahan keduanya pun ditayangkan secara live di salah satu saluran TV nasional.
"Selamat, Nina. Akhirnya, kalian menikah." Hawa memeluk Nina yang berada di atas panggung bersama Beno menyambut para tamu undangan. Hawa dan Adam datang ke pernikahan mereka dengan penuh suka cita, Adam mengenakan tuxedo abu-abu dan dasi kupu-kupu membuatnya terlihat tampan. Hawa juga tak kalah cantik memakai gaun putih Siluet A-line cocok dengan Bando bunga kecil menghias rambutnya yang tidak di kuncir.
"Terimakasih sudah datang. Aku harap setelah ini kalian akan menyusul seperti pernikahan kami," seru Nina bahagia melihat sahabatnya datang.
"Tentu saja kami akan segera menikah. Hawa sudah tak sabar menantikan hari itu, bahkan ia bertanya setiap hari mengenai tanggal pernikahan kami." Adam melirik Hawa yang tampak kesal.
"Kau berbohong. Aku tidak pernah mengatakan hal itu," sanggah Hawa mencubit lengan Adam.
"Aku tidak bohong, sayang. Lihatlah pipimu ini sudah memerah menahan malu!" ujar Adam menyentuh pipi Hawa menggoda gadisnya yang merajuk di depan sang mempelai.
"Hey, kenapa kalian membuat drama di depan kami? Cepatlah selesaikan drama dialog kalian. Para tamu sudah mengantri di belakang." Beno jengkel dengan dua sejoli yang di mabuk asmara itu.
"Oh, ya. Maafkan kami Ben, kami akan turun sekarang. Bye!" ucap Hawa akhirnya. Mereka baru sadar banyak orang yang menunggu di belakang mereka untuk mengucapkan doa agar pernikahan mereka langgeng sampai akhir hayat.
Hawa sangat bahagia melihat sahabatnya menikah. Selain itu, prosesi pernikahannya punya momen-momen menarik tersendiri sayang sekali untuk dilewatkan. Mata Hawa tampak mencari sosok Damian yang tidak di lihatnya sejak tadi. Hanya para tamu undangan semakin banyak berdatangan termasuk teman kampus mereka.
"Kau sedang mencari apa sayang?" tanya Adam melihat ekspresi Hawa yang gusar mencari sesuatu.
"Ti-tidak ..., Aku tidak mencari siapapun." Hawa terkejut dengan pertanyaan Adam. Untung saja lelaki itu tidak mampu membaca isi hatinya.
"Aku ingin ke toilet dulu. Hanya beberapa menit setelah itu aku akan kembali." Adam lari terbirit-b***t mencari toilet untuk buang air kecil. Hawa hanya mengangguk lalu berjalan menuju meja yang tersedia beraneka macam kue manis yang lezat. Ia mencicipinya menikmati kue itu, beberapa menit kemudian muncullah sosok Damian mengenakan tuxedo hitam tanpa mengancing kerah bagian atas kemejanya.
Senyum Damian sangat manis melihat Hawa. "Apa kau sedang mencariku? Kulihat tadi kau kebingungan mencari sesuatu."
"Tidak, untuk apa aku mencarimu," sahut Hawa mengabaikan Damian yang masih tersenyum menampakkan lesung pipinya yang imut.
"Jangan membohongi diri sendiri." Damian berkata lembut. Kemudian melihat Hawa mulai dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. "Kau cantik sekali hari ini, mirip peri sungguhan." tambahnya. Memuji Hawa tulus tampak sangat cantik mengenakan gaun itu.
"Terima kasih, tapi aku tak butuh pujianmu," kata Hawa acuh, ia berjalan melewatinya ingin meninggalkan tempat itu namun tangannya di cegah oleh Damian sehingga langkahnya terhenti.
"Jangan terburu-buru seperti ini! Aku masih ingin mengobrol denganmu." Damian sungguh sakit hati melihat sikap Hawa sekarang mengabaikannya.
"Kak, aku mohon jangan menggangguku! Adam pasti akan marah jika kau selalu saja mendekatiku. Aku tidak ingin mencari masalah di hari pernikahan sahabatku. Jika kau masih bersalah dengan kejadian masa lalu, aku sudah berusaha melupakannya. Biarkan aku pergi." Hawa ingin sekali menangis saat melihat wajah Damian. Perasaannya campur aduk hatinya terluka begitu dalam.
"Baiklah, tapi suatu saat nanti kau pasti kembali padaku." Damian melepaskan tangannya.
"Aku harap aku tidak akan kembali padamu."
"Kau pasti akan kembali cepat atau lambat." imbuhnya penuh emosi mendengar Hawa menolaknya. Dirinya tidak berguna sekarang apapun yang Damian lakukan tak merubah sikap Hawa terhadapnya.
Hawa berdiri di depan toilet menunggu Adam keluar, pikirannya begitu kalut setelah bertemu Damian yang masih mengharapkannya. Tak lama kemudian Adam keluar dengan perasaan lega.
"Kenapa kau lama sekali di toilet? Aku bosan!" kata Hawa merajuk meneggalamkan kepalanya di d**a lelaki itu.
"Aku meninggalkanmu cuma sebentar dan sekarang kau sedang merajuk seperti anak kecil. Lucu sekali dirimu ini, aku ingin segera menciummu," ucap Adam gemas mendekatkan wajahnya bersiap menciumnya.
Hawa yang melihat hal itu mendorong jidat Adam dengan telunjuknya. "Apa-apaan kau ini! Dasar pria m***m tak tahu tempat!" tawa Hawa meledak saat melihat ekspresi Adam yang tampak kesal.
"Apa peduliku dengan mereka? Aku tetap akan menciummu sekarang," goda Adam semakin gemas melihat tingkah Hawa yang manja.
"Tidak ..., aku tidak mau. Cium saja dirimu sendiri!" sahut Hawa berlari menghindari Adam.
"Hey, jangan lari! Bagaimana mungkin aku mencium diriku sendiri?" Adam mengejarnya, bertanya pada hatinya yang di buat bingung dengan jawaban Hawa yang tidak masuk akal.
"Pikirkan saja sendiri!" mereka tidak berhenti tertawa saling berkejaran kesana kemari seperti anak kecil. Beberapa tamu undangan geleng-geleng kepala dengan tingkah mereka. Adam sejenak berpikir mungkin ia bisa mencium bayangannya sendiri. Benar-benar ide yang sangat gila. Namun, pikiran konyol itu segera di tepisnya, bukannya mencium bayangan, kenyataannya Adam hanya mencium tembok.
Tibalah acara yang terakhir, prosesi melempar buket bunga yang dibawa oleh sang pengantin. Beno dan Nina sengaja mengembil prosesi ini untuk semakin memeriahkan acara. Mereka ingin buket bunga itu mendapat harapan bagi para tamu untuk segera menyusul sang pengantin, mendapatkan pasangan yang tepat dan menikah lalu hidup bahagia selamanya. Hawa dan Adam tidak sabar berebut buket bunga itu agar cepat menyusul untuk segera menikah.
Nina dan Beno berdiri di panggung sambil membelakangi para tamu, memegang buket bunga yang akan segera di lempar. Hawa terkejut melihat Damian di sampingnya turut mengikuti prosesi acara ini, Adam yang melihat itu memeluk Hawa posesif agar tak mendekat kepadanya.
Banyak orang berkerumung menantikan siapa yang mendapatkan bunga itu. Adam berpindah posisi menggantikan Hawa yang di dekat Damian, lelaki itu begitu khawatir jika Damian mengganggu Adelia.
"Kalian semua siap! Satu ... Dua ... Tiga ..." Nina berteriak membuang buket bunga itu kebelakang. Para tamu undangan berebut mendapatkan buket bunga yang sedang melayang di udara. Tanpa pikir panjang Hawa, Adam, dan Damian melihat buket bunga itu akan jatuh ke arah mereka.
"Dapat!" teriak Adam namun Damian yang melihatnya merebut buket bunga itu di tangan Adam lalu mundur beberapa langkah.
"Aku mendapatkannya," seru Damian mencium buket itu.
"Oh, s**t. Kau mengembil milikku." Adam seketika mengamuk ingin memaki lelaki itu.
"Seperti saat ini aku merebut buket bunga milikmu. Suatu saat nanti aku akan merebut Hawa yang menjadi milikmu." Damian tertawa renyah mengejek Adam tak bisa melakukan apapun.
Adam memijit keningnya karena kepalanya tiba-tiba terasa sakit, sedari tadi pikirannya di kaluti emosi dan amarah yang meluap-luap menghadapi Damian yang sudah jelas-jelas mengancamnya. Adam mencoba menetralisir kemarahannya mengingat ini adalah acara pernikahan sahabat mereka.
"Hawa hanya milikku." Adam mengusap wajahnya kasar menahan emosinya yang ingin meledak.
"Sudahlah Adam, itu hanya bunga kenapa kau permasalahkan hal itu. Biarkan Damian mengambilnya. Aku hanya milikmu," kata Hawa mencoba menghiburnya. Ia mengelus lengan Adam untuk mengontrol emosinya.
"Ayo, kita pulang Hawa! Aku akan menghajar pria itu jika aku masih di sini." Adam menarik tangan Hawa keluar dari area pernikahan itu.
"Baiklah,"
Adam naik ke mobil bersama Hawa. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Adam masih memikirkan kata-kata Damian yang mengancamnya, seolah itu adalah pesan tersirat agar Adam berhati-hati.
Lelaki itu me-rem mendadak menghentikan laju mobilnya, Adam menarik Hawa kepelukannya. Ia sangat takut sekarang, kehilangan Hawa berarti hidupnya akan hancur.
"Kau tidak akan meninggalkanku, Kan?" sahut Adam lembut tak ingin melepaskan pelukannya.
"Kenapa aku harus meninggalkanmu? Kau pria yang aku cintai." Hawa berusaha menenangkan Adam yang di penuhi ketakutan.
"Terima kasih, karena masih tetap bersamaku." Adan melepaskan pelukannya lalu mencium puncak kepala Hawa. Mendengar jawaban itu Adam sedikit lega.