Yes, I will

2052 Kata
Hawa begitu haru, rasanya di lamar romantis seperti ini mimpi baginya. Wanita manapun takkan sanggup menahan air matanya seperti Hawa rasakan saat ini. Ia di lamar oleh orang yang dicintainya secara romantis tak mungkin di lupakan begitu saja. Gadis itu ingin mencoba hidup bersama Adam sekalipun suatu saat nanti mereka berpisah. "Yes, I will. Aku mau menikah denganmu Adam," sahut Hawa menerima lamaran lelaki itu. Ia memutuskan untuk menerima lamaran yang sempat tertunda tadi malam. Hawa sudah berpikir jernih, untuk apa menolak lamaran Adam yang mengungkapkan perasaannya bahwa dia mencintainya. Hawa tidak ragu Adam pasti bisa membuatnya bahagia. Mendengar lamarannya di terima oleh gadis yang di cintainya, Adam memeluk Hawa erat merasakan hangat dalam sentuhannya. Ia sempat ragu di tolak olehnya tapi pada akhirnya gadis itu menerima lamarannya. Adam tidak masalah jika Hawa menolaknya, Adam bisa saja mengancam dan memaksa gadis itu menikah dengannya. Tapi apa dengan memaksa bisa membuat Hawa bahagia? Tentu saja tidak, pernikahan yang di paksa bisa berujung perceraian. Adam tak mau menerima resiko buruk nantinya. Adam memakaikan kalung di leher Hawa. Ia memintanya untuk berjanji tidak akan melepas apalagi menghilangkan kalung itu karena tidak ada duanya di dunia ini. Adam mulai bercerita kalau kalung itu adalah benda yang turun-temurung dari keluarganya yang diberikan pada setiap generasi selanjutnya. Bu Bianka mempercayakan kalung itu pada Hawa karena menganggapnya calon istri yang akan menjadi anggota keluarganya. Hawa mengangguk dan berjanji pada Adam akan menjaga kalung tersebut baik-baik. Setelah itu, Adam bergegas ke mobil untuk mengantar Hawa pulang. Keduanya tertawa ringan dan mengobrol. Namun Hawa gelisah setiap kali menatap kaca spion karena sejak tadi mobil merah yang tidak dikenal mengikutinya dari belakang. Sebenarnya dia ingin sekali memberi tahu Adam, tapi Hawa mengurungkan niatnya dan segera membuang pikiran negatif memenuhi otaknya. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Adam curiga melihat mimik muka Hawa berubah. “Tidak ada, aku tak memikirkan apapun," kata Hawa masih memperhatikan kaca spion. "Kelihatannya kau kelelahan?" Adam membuang nafas pelan. "Tidak, Adam. Aku baik-baik saja," seru Hawa lembut. Tiba-tiba mobil Adam berhenti di depan salah satu rumah yang tidak dikenalnya. "Mau ke mana?" tanya Hawa dengan perasaan was-was. "Tunggu sebentar, aku mau ke rumah Rico untuk mengambil buku anatomi yang di pinjamnya minggu lalu. Sudah beberapa hari ini Rico tidak masuk kuliah. Kau mau ikut?" “Tidak, aku tunggu disini saja." "Baiklah, aku masuk dulu yah. Kau tidak apa-apa menunggu di luar?" tanyanya sekali lagi. Hawa hanya mengangguk melihat Adam meninggalkannya sendiri tanpa pengawal maupun Bodyguard. Hawa keluar dari mobil dan melihat puluhan bunga matahari berkilauan di seberang jalan. Ia tertarik ke sana untuk memetiknya. Hawa tak pernah menyadari kalau ada sorot mata tajam memperhatikannya sejak tadi. "Kau senang sekali di lamar oleh Adam." Hawa menoleh kaget. Tiba-tiba Dila sudah berdiri di belakangnya dengan sorot mata yang tajam, dengan kasar ia mendorong Hawa ke pagar besi pembatas jalan. "Memangnya kenapa kalau Adam melamarku. Kau iri? Jelas saja kau iri, kau harus tahu w************n sepertimu cocok di tempat sampah." Hawa berbicara dengan ketusnya, lalu gantian mendorong Dila. "Dasar Jala*ng! Kau berani sekali menghinaku. Dengarkan aku baik-baik, kau tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Aku bisa nekat mencelakaimu kalau kau masih keras kepala tidak melepaskan Adam." "Aku tidak takut dengan ancamanmu." tatapan mata Hawa lebih tajam seolah siap menerkamnya. Plakkk... "Aku bisa saja memberi warna lebih terang di pipimu ini." Tangannya berhasil mendarat mulus di pipi Hawa kemudian mencekik lehernya secara membabi buta, "Jadi jangan banyak bertingkah yang menjijikkan bersama Adam, mengerti?" "Lepasin! Sa-sakit!" suara Hawa terbata-bata dan napasnya sesak tak terkendali. "Uuhh.... Sayang, sakit yah? Kasihan. Mau aku tambah lagi? Ini tak seberapa dari sakit yang aku rasakan!" sorot mata Dila semakin tajam tetap mencengkram lehernya lebih keras membuat wajah Hawa menjadi merah bahkan urat matanya terasa mau putus menahan nafas. Kaki yang tadi di tanah kini terangkat lebih tinggi. Dila memang memiliki postur tubuh semampai dan kuat karena dia jago karate. "Lepasin! Kau bisa membunuhku." napas Hawa terasa tersumbat. Wajahnya semakin memerah. Sebisa mungkin meronta mencoba melepaskan diri, tapi kekuatan Hawa habis terkuras. Akhirnya, Hawa menggigit tangan Dila yang bukan tandingannya lalu ia berlari, berteriak minta tolong. Terakhir, Hawa berhasil melepaskan diri berlari memakai tenaga yang tersisa. Tapi sial, penyakit lamanya kambuh di waktu yang tidak tepat, kakinya bergetar hebat dan terjatuh di tanah. Kali ini dia tidak sanggup berlari lagi. Hawa tidak tahu dimana harus minta tolong. Tempat ini terlalu sunyi, dia tahu Dila pasti akan membunuhnya. Hawa duduk di trotoar dan mundur beberapa kali karena Dila semakin mendekat. Gadis itu menjambak rambutnya. "Lepaskan aku!" teriak Hawa jengkel. Dila melepaskan jambakan itu lalu meraih bongkahan batu besar tidak jauh dari kakinya. Ujungnya terlihat runcing dan tajam. Dila bernafsu ingin menghempaskan batu tersebut ke arah Hawa untuk memecahkan kepala wanita lemah di depannya itu. Seseorang tiba-tiba muncul menolong Hawa yang ingin di bunuh oleh Dila. "Dasar jal*ng! Berani sekali kau menyentuh Hawa. Aku akan lapor polisi sekarang atas tuduhan percobaan pembunuhan." Hawa mendongak, dan melihat seorang lelaki sudah menghempaskan Dila ke tanah dengan kasar. "Aku Jal*ng tapi kau menikmati sentuhanku di ranjang, kan sayang." Dila mengejek Eric yang tiba-tiba datang menolong Damian. "Wanita iblis! Pergi dari sini sebelum tanganku membuat wajahmu rusak!" ancam lelaki itu dengan nada sangat marah. "Coba saja lakukan! Kau tidak usah mencari muka di hadapan Hawa. Dia sudah membencimu," seru Dila mengejek pada Damian yang menahan amarah. "Kalian membuang-buang waktuku saja. Seharusnya kau sudah mati sekarang tapi untuk kali ini kau selamat. Urusan kita belum selesai, jadi tunggu tanggal mainnya." Dila mengancam Hawa, lalu meninggalkan mereka. Hawa sejak tadi diam, tubuhnya benar-benar lemas. Dadanya terasa di tusuk-tusuk jarum. "Hawa, wajahmu pucat sekali," ucap lelaki itu khawatir. “Tinggal-kan aku sekarang! A-ku tidak mau dekat-dekat denganmu Kak," ujar Hawa menahan sesak, berusaha berjalan ke mobil Adam yang tidak jauh darinya. Padahal Hawa sedang merasakan kesakitan hebat di bagian jantungnya. "Jangan keras kepala Hawa! Aku ingin membantumu." Damian cemas memegangi lengan Hawa agar tidak jatuh tapi gadis itu marah mendorong Damian. Ia semakin curiga ada yang tidak beres dengan gadis itu saat melihat Hawa memegang dadanya menahan sakit. "Ahhhh, Kak, tolong ambilkan obat di plastik biru itu di tas!" Hawa menyerah untuk tidak meminta tolong. Jantungnya benar-benar sakit sekarang. Ia tidak sanggup menahan rasa sakitnya lagi. Damian cepat-cepat meraih obat dan air minum kecil di dalam tas Hawa yang tidak jauh terlempar di tempat kejadian tadi. Dengan bercucuran keringat dingin, Hawa meminumnya. Untung saja, obat itu mulai bereaksi. Akhirnya, Hawa sudah bisa bernapas dengan baik kembali. "Hawa, obat ini bukan obat sembarangan? Apa yang kau sembunyikan dariku selama ini? Kau sakit, Kan?" Damian memicingkan matanya membaca nama obat itu. "Itu cuma obat Kelelahan. Sudahlah, lebih baik Kakak pergi saja." Hawa merebut obatnya dari tangan Damian lalu menyimpan dalam tasnya. “Aku ini dokter ahli jantung. Aku tahu ini obat apa. Kau tidak bisa membohongiku. Kau harus jawab pertanyaanku dengan jujur." Damian sudah bisa mengira ada sesuatu yang tidak beres yang disembunyikan oleh gadis ini. Hawa bungkam dan tidak mau bicara. Tapi Damian menatapnya dalam-dalam dan memintanya untuk jujur. "Apa pedulimu Kak jika aku sakit? Jangan bersikap baik padaku. Aku tetap membencimu." air mata Hawa sudah meleleh mengingat kesalahan Damian yang mengkhianatinya. "Hawa dengarkan aku! Kau harus check up rutin. Nyawamu bisa dalam bahaya." jelasnya kaget tidak mampu melanjutkan kata-kata lagi. "Ya, aku tahu, aku sedang sekarat sekarang aku harus bergantung obat setiap hari selama bertahun-tahun tapi jangan pedulikan aku. Aku tidak butuh belas kasihanmu Kak." tangisnya pecah. Damian terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri dan bisa merasakan sakit yang menyerbu hatinya. "Hawa sudah terima kenyataan ini, sekarang Kakak sudah tahu semuanya? Aku harap Kakak bisa menjaga rahasiaku. Aku akan coba berdamai dengan hatiku agar tak membencimu lagi." Hawa menatap dengan tatapan sendu. Damian menghembuskan nafasnya kasar sambil berpikir keras bagaimana menjaga Hawa lagi. "Baiklah, aku janji akan merahasiakannya. Tapi kau harus Check up rutin Hawa. Datanglah di klinikku! Aku akan melihat perkembangan kondisimu." Damian semakin khawatir jika Hawa semakin keras kepala. "Terimakasih atas tawaranmu, Kak. Tapi aku tidak membutuhkannya." Hawa tetap pada pendiriannya tak ingin berurusan lagi dengan Damian. Hatinya cukup hancur, mana mungkin ia sanggup melihatnya setiap kali check up, luka hatinya pasti semakin bertambah sakit. "Dengarkan aku Hawa! Aku masih mencintaimu bahkan jika kau bersikeras menolakku aku tetap akan memaksamu kembali padaku." Damian berteriak mengikuti Hawa mendekati mobil Adam. "Berhentilah bermimpi Kak aku akan segera menikah dengan Adam," ujar Hawa menoleh ke arah lelaki itu. Kemarahan Damian sudah memuncak mendengar Hawa akan menikah. Tapi Damian bersikap tenang, mengikuti Hawa lagi. Memastikan Hawa baik-baik saja sampai di mobil Adam. Beberapa saat kemudian Kai keluar dari rumah Rico dan kembali ke mobil. Adam melihat Damian berdiri di samping mobilnya tampak kalut. "Kenapa kau berada di sini?" seru Adam memanas. "Jangan banyak tanya. Kau kemana saja? Hawa sedang terluka sekarang." Damian meluapkan amarahnya memandang Adam dengan tatapan tidak menyenangkan. "Apa? Hawa, kau baik-baik saja, Kan?" tanya Adam dengan cemas mendekati Hawa yang duduk jok mobil. "Apanya yang tidak apa-apa! Coba, lihat lehernya!" Damian menatapnya tajam. Adam melihat Hawa tampak acak-acakan dan bekas cakaran di lehernya. Sorot matanya berubah tajam karena ada yang berani melukai Hawa. Hawa memeluk Adam. "Tadi Dila datang marah-marah sewaktu aku di seberang jalan itu. Dia tadi mencekikku dan menancapkan kuku panjangnya di leherku. Lalu Kak Damian datang menolongku." Suara Hawa terbata-bata dan tampak ketakutan. "Oh, s**t. Aku di kelabuhi wanita itu. Tenang saja, Aku akan memberi pelajaran pada Dila," sorot mata Adam tampak menakutkan setelah melihat bekas kuku tertancap di leher Hawa. "Aku minta maaf karena meninggalkanmu sendirian." Adam mengambil tangan Hawa, kemudian mengecupnya. Damian melihat kejadian itu. Detik itu pula hatinya hancur. "Lain kali jangan bertindak ceroboh tinggalkan dia sendirian. Kau harus jaga Hawa baik-baik. Suatu saat nanti aku akan merebut kembali apa yang sudah menjadi milikku." Senyum sinis tersungging di bibir Damian tampak berbicara serius. Adam menarik kerah baju Damian kasar "Jangan coba-coba mendekati Hawa atau aku akan menghajarmu," teriak Adam marah. Hawa yang melihat perdebatan mereka mulai gusar. "Lihat, saja nanti! Kau yang menang atau aku. Ingatlah! Hawa akan meninggalkanmu." tawanya terdengar renyah seolah ribuan siasat licik memenuhi otak Damian. Sampai kapanpun lelaki itu tak ingin melepaskan Hawa. Bugh... Bugh...Bugh... Adam melepaskan cengkramannya memberi tiga pukulan pada Damian yang sudah melewati batas, hingga dia jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir di sudut bibirnya, "Kau jangan coba-coba mengancamku. Hawa tetap menjadi milikku. Kau dengar itu?" teriak Adam sambil menunduk menarik kerah baju Damoy yang tampak lemas. "Berhenti! Ayo, kita pulang, jangan ladeni Kak Damian yang tak tahu malu." Hawa menyentuh lengan Adam agar segera masuk ke mobil. Gadis itu sudah sangat lelah ia tidak ingin kekacauan lagi. "Adam, kau akan membayar pukulan ini suatu hari nanti. Ingat kata-kataku tadi!" seru Damian dengan nada mengancam. Mereka melaju tanpa mempedulikan perkataan Damian. *Di mobil Kemarahan membara memenuhi kepala Adam melihat Hawa terluka, gadis itu tertidur sambil bersandar di bahunya yang sedang fokus mengemudi. Mobilnya menepi di pinggir jalan, Adam merogoh kantong celana untuk menghubungi seseorang. "Bagaimana dengan tugasmu? Apa kau sudah menyelesaikannya?" seru Adam merangkul Hawa yang tertidur pulas di bahunya. "Iya Tuan, saya sudah menyelesaikan perintah Tuan. Gadis itu sudah kami tangkap dan sekarang berada di gudang," jelas pengawal itu melalui sambungan telepon. "Tunjukkan wajahnya! Aku ingin melihat penyiksaan kalian," perintah Adam. Pengawal itu langsung menunjukkan video call kepada bosnya. Adam tidak sabar menunggu untuk melakukan pembalasan. Tampak seorang wanita sedang meronta, tangan dan kakinya di ikat dengan tali di atas kursi, dan lakban menutupi mulutnya agar tidak berteriak. "Mmmm... Mmmm." Dila terlihat panik di dalam video call itu. Saat pengawal membuka lakban yang menutupi mulutnya gadis itu berteriak kencang. "Tolong, lepaskan aku! Lepaskan ikatan ini. Aku akan memberi kalian pelajaran." gadis itu berteriak-teriak seperti orang gila. Adam menyeringai dengan senyum sinis. "Berhenti berteriak bodoh! Takkan ada yang bisa menolongmu kecuali Tuhan. Berani sekali kau melukai Hawa. Kau harus membayar apa yang kau lakukan padanya." suara Adam menampakkan kemarahan yang sudah mencapai puncaknya. "Tega sekali kau melakukan ini padaku karena gadis m*rahan itu. Lepaskan aku Adam! Hawa pantas mendapatkannya karena merebutmu dariku." air mata Dila mengalir deras tidak menyangka Adam tega menyakitinya demi gadis itu. Suaranya tampak putus asa ingin memberontak mendengar Adam selalu saja membela Hawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN