Menikahlah denganku?

2106 Kata
Tiba-tiba Nina tegesa-gesa membuka pintu seperti orang kesetanan, sejak tadi Nina di rumah Hawa bersantai di ruang tamu. Ia datang berkunjung memberi penjelasan pernikahannya yang sebentar lagi di laksanakan. Nina memutuskan menikah dengan Beno karena lelaki itu sangat baik. Ia juga tak ingin menunda pernikahan jika merasa sudah cocok. "Hawa kenapa kau teriak?" "Jawab aku Hawa!" Nina bertanya lagi karena sahabatnya itu tidak menyahut. Nina menarik lengan Hawa untuk bangun. "Kamu menangis? Baru kali ini aku melihatmu sesedih ini. Kenapa, Hawa?" tanya Nina dengan cemas. “Aku cuma kelilipan, tadi ada debu masuk." seru Hawa berbohong. "Kamu tidak bisa membohongiku. Ingat, Hawa. Kita udah bersahabat sejak lama." Nina menarik Hawa ke arahnya. Hawa berusaha tegar dan membuang muka, tapi ia tidak sanggup membendung air matanya lagi langsung memeluk Nina dengan sangat erat sedangkan air mata membasahi bahunya. "Kalau kamu merasa satu-satunya cara membuat kamu lega adalah menangis, maka menangislah. Aku selalu ada setiap kamu butuh." Hawa akhirnya buka suara walau agak serak. "Akhir-akhir ini aku mirip orang bodoh yang sering senyum-senyum sendiri. Aku tidak mengerti perasaanku. Jantungku juga berdetak cepat, sebelumnya aku tidak pernah mengalami hal itu. Kamu harus jelasin perasaan apa ini, Na." "Itu cinta, Hawa. Aku sudah bilang padamu perasaan itu akan datang suatu saat nanti." "Kenapa harus aku? Kenapa harus aku? Sekarang aku sudah bahagia dan tidak membutuhkan cinta. Ada Mama saja sudah cukup." "Kamu salah, itu tidak cukup. Setiap orang pasti akan merasakan cinta untuk melengkapi kebahagiannya. Hidup tanpa cinta akan hampa seperti toples kosong." Nina masih menenangkan Hawa yang bercucuran air mata. Ia tahu rasanya ketika cinta itu datang di waktu yang tidak tepat. Perasaan sahabatnya ini pasti sedang kacau. "Seandainya cinta itu indah, pasti Mama dan Papa masih bersatu. Tidak mungkin Allah memisahkan mereka." "Jangan bicara seperti itu. Hapus air matamu sekarang dan tunjukkan pada dunia kalau kamu wanita yang kuat. Apa kamu jatuh cinta dengan Ada?" ucap Nina hati-hati. Hawa mendongak dengan cepat, "Maksud kamu apa?" "Aku bisa menebak perasaanmu, jangan menyangkal lagi." “Itu tidak mungkin, itu mustahil." Hawa mencoba menyangkal, tapi tangan lembut menyentuh pipinya sambil sahabatnya itu memberikan senyuman kecil. "Cukup! Jujur saja sekarang! Karena aku mengerti perasaanmu." "Jujur, saat aku bersama dia ada hal yang berbeda." "Itu namanya cinta. Tidak ada yang tahu kapan ia datang dan siapa orang yang dipilih." Hawa membenarkan perkatan sahabatnya. Tissue sudah bertebaran di lantai. Hawa berpesan untuk tidak memberitahukan kejadian hari ini kepada orang lain. Sebenarnya... Kalau boleh jujur, Nina ingin sekali mengatakan sesuatu padanya tentang Damian yang masih mencintainya dan berharap Hawa dapat memaafkan kakaknya. Tapi mengurungkan niatnya karena ia takut sahabatnya itu tidak sanggup menahan beban di pikirannya lagi. Di balik pintu, seseorang telah memasang telinga lebar-lebar dan mendengar semuanya. Ia sudah mendengar semuanya tentang pengakuan Hawa yang mencintai Adam. Lelaki itu memang selalu menjadi penghalangnya dan memberi jarak pada Hawa. Hati Damian terasa sangat hancur. Ia merasa kakinya tak lagi kuat menopang tubuhnya. Beberapa detik setelah itu, ia jatuh sempoyongan dan akhirnya menekuk lututnya di lantai. Dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernafas. Hatinya kacau untuk merasa apapun kecuali sakit itu sendiri. Damian datang ke rumah Hawa untuk menjemput adiknya sekaligus alasan bertemu dengan mantannya. "Aku akan memberi Adam pelajaran karena sudah membuat Hawa jatuh cinta." Damian mengepalkan tangannya, memegang dadanya sendiri merasakan sesuatu yang sakit. Mendengar pengakuan itu Damian langsung pergi tanpa memberitahu siapapun ia datang kesana. Dari sekian banyaknya wanita, dan dari semua teman wanitanya, cuma Hawa satu-satunya orang yang membuatnya terobsesi dengan gadis itu. Damian menghapus setitik air mata hangat yang jatuh ke pipinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa patah hati. **** *Di rumah Damian Njna masuk ke dalam rumahnya sendiri setelah datang berkunjung ke rumah Hawa yang sedang menangis. Beberapa hari yang lalu, orang tuanya keluar kota lagi untuk menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai dokter karena banyak nyawa membutuhkan keahliannya. Ia mendorong pintu yang tidak terkunci dan melihat ruang tamu tampak acak-acakan. Sangat acak-acakan. Koleksi barang berharga pecah dan kertas bekas remasan tangan bertebaran di lantai. Nina ketakutan. Kakinya berjalan dengan sangat hati-hati karena takut tertusuk serpihan kaca. Tiba-tiba, terdengar teriakan keras di kamar lain. Hati Nina bergetar. Tanpa menunggu lama, bergegas masuk ke kamar Damian lalu melihat kakaknya tampak stress berat dan duduk di lantai tepat di ujung ranjangnya. Dia kembali berteriak keras sambil menghamburkan barang-barang yang ada di kamar. Nina masih berdiri dan memperhatikan secara seksama. Matanya berkaca-kaca dan hatinya sedih melihat Damian berubah menjadi ganas dan mengamuk tanpa sebab. Tanpa pikir panjang, Nina langsung memeluk kakaknya dari belakang untuk menenangkannya. "Kenapa Kakak menjadi liar seperti ini?" tanyanya dengan sedih karena akhir-akhir ini Damian banyak berubah menjadi murung dan pendiam semenjak tahu Hawa pacaran dengan Adam. "Kakak sedang marah sekarang. Aku akan menghancurkan hidup Adam karena merebut Hawa dariku. Sedikit demi sedikit aku memberinya pelajaran." Damian mengepalkan tangan menatap adiknya dengan raut datar. "Biarkan mereka bahagia Kak," “Tidak akan," jawab Damian sambil menatap adiknya sungguh-sungguh dan meyakinkan adiknya. "besok Kakak akan ke luar kota. Aku akan kembali bulan depan sebelum kamu menikah." "Apa?! Secepat itu, Kakak tega meninggalkan Nina sendiri?" "Kakak butuh waktu untuk berpikir." Wajah Nina tampak kecewa karena Damian langsung bangkit berdiri meninggalkannya tanpa banyak omong lagi. *** Malam ini, Hawa dan ibunya datang ke rumah Adam setelah mendapatkan undangan makan malam di kediamannya. Hati belum sepenuhnya baik, Hawa masih takut bertemu Adam. Seharusnya ia bisa mengendalikan diri tak menyimpan perasaan pada Adam, status sosial mereka jauh berbeda. Tidak mungkin Adam menyukainya yang terlahir bukan dari keluarga orang kaya. Tampilan Hawa hari ini sederhana mengenakan mini dress Navy di padu high heels senada. Ia memandangi wajah ibunya yang tirus. Senyumnya masih terlihat sama seperti saat pertama kali mengingat wajah ibunya sewaktu Hawa kecil. Hanya rambutnya yang kini kelabu, juga garis-garis samar di wajahnya mengingatkan Hawa akan daun kering yang menunjukkan usianya tak lagi muda. Hawa balas tersenyum sambil mengambil dan meremas lembut jemarinya. Mereka berjalan perlahan menuju meja panjang dengan beberapa kursi yang tampak anggun dalam temaram lampu berwarna kuning. Nyala api lilin yang bergoyang tertiup angin, jatuh bersinar di mata Bu Leni. Bu Bianka sejak tadi hangat sekali menyambut mereka, mata Hawa mendapati Adam dan Pak Charles sudah lama menunggu mereka di meja makan. Lelaki itu tersenyum melihatnya datang. Hawa menarik kursi mempersilahkan ibunya duduk terlebih dahulu. “Terima kasih,” kata Bu Leni halus, saat ia sudah duduk dengan nyaman di kursinya. Ia segera duduk di kursi. Dua gelas tinggi di hadapan mereka mengembun karena cairan bening yang dingin di dalamnya. Adam mengambil gelasnya, lalu menyesap minumannya sedikit. Matanya melirik Hawa yang tak lepas menatap tubuhnya yang dibalut Mini dress berwarna Navy. “Kau cantik sekali malam ini,” seru Adam menampakkan senyum semanis mungkin. "Terimakasih," Hawa tersipu malu mendapat pujian itu. Tidak sia-sia ia lama berdandan di depan cermin. Hawa meraih Seat belt memasang dengan lincah lalu meraih sepotong Beef Tendorlion Steak. Mata orang tua mereka sekarang fokus pada Hawa dan Adam "Ini makan malam pertama kita semua setelah sekian lama.” Bu Bianka mencairkan suasana yang sejak tadi canggung. Matanya seakan menerawang, mengingat-ingat masa lalu. “Benar, kita sudah lama sekali tidak makan malam bersama.” jawab Bu Leni lembut. “Ah, aku harap kita akan selalu makan malam bersama setiap hari.” Bu Bianka tersenyum. Hawa membulatkan mata heran dengan ucapannya. Mereka mulai makan dengan pilihan menu masing-masing. “Akupun berharap seperti itu.” Bu Leni mengunyah makanannya pelan. "Itu sebabnya aku mengundang makan malam hari ini membicarakan masa depan anak kita Leni." raut wajah Bu Bianka tampak serius. Hawa semakin di buat bingung dengan perbincangan mereka. "Apa maksudmu?" tanya Bu Leni penasaran. Hawa meneguk air putih karena haus. "Aku ingin menjodohkan Adam dengan Hawa. Sesuai perjanjian kita sewaktu mereka di dalam kandungan," Bu Bianka berbicara serius. Uhuuuk... Uhukk... Hawa tersedak mendengar hal itu nyaris memuntahkan makanan yang baru saja di makan karena terkejut. Mereka semua memandanginya khawatir. Tapi ia tersenyum mengatakan kalau dia baik-baik saja. "Sebaiknya kau pikirkan keputusanmu baik-baik Bianka. Kau tahu benar kehidupan kami." Bu Leni tahu dirinya yang memiliki kehidupan biasa-biasa saja. "Aku tak memikirkan hal itu. Hawa anak yang baik dan Adam mencintainya. " Bagaimana mungkin Adam mencintainya? Gumamnya dalam hati. "Om juga setuju kau menikah dengan Adam." Ayah Adam tersenyum kearah Hawa. Sikap Ayah Adam begitu tenang. "Yang akan menikah adalah Hawa bukan aku. Jadi, aku butuh pendapatnya." mata ibunya beralih ke arah Hawa meminta jawaban. Ia takut memilih jawaban. "Aku tidak bisa menjawab sekarang beri aku waktu," kata Hawa akhirnya. Mereka semua hanya mengangguk saja menerima keputusan. Ia melihat raut wajah Adam penuh misteri. Bagaimana bisa pria yang di idolakan banyak wanita seperti Adam jatuh cinta pada wanita sepertiku? tanyaku pada diriku sendiri. Adam tak pernah mengatakan apapun bahwa mencintai Hawa. Kenapa hari ini Hawa mendengar kata itu, Hawa tahu akhir-akhir ini hubungan mereka sudah membaik tapi ia merasa belum pantas mendampinginya. Hawa wanita yang sekarat, belum tentu Adam mau menerimanya apalagi susah payah menyembunyikan penyakitnya. Hawa melihat Adam menyudahi makan malamnya, ia memberi Hawa kode melalui sorot mata dan goyangan kepala untuk mengikutinya ke taman belakang. "Aku kebelakang dulu, Ma, Tan dan Om." hanya anggukan kepala kudapatkan dari mereka yang makan di meja makan. Sesampai Hawa di taman Adam duduk diam menatap Hawa berjalan ke arahnya. Terdapat meja bulat dan dua kursi disana, ia duduk di kursi yang masih kosong berhadapan dengan Adam. Angin malam mempermainkan anak-anak rambutnya di dekat telinga. Hanya kesunyian menemani mereka, Hawa menopang dagu dengan telapak tangan menunggu Adam bicara duluan. "Aku tidak ingin penolakan darimu. Mau tidak mau kau harus menerimaku!" Kulihat Adam tampak gundah menunggu jawaban Hawa. Apa lelaki itu memang selalu memaksa? Hawa tidak tahu jawaban apa yang harus di katakan. "A-ku masih memikirkannya Adam. Tapi jika aku berkata tidak, apa kau akan marah?" sahutnya dengan terbata-bata. "Bahkan ketika kau menolak aku akan tetap memaksamu dan akan menghancurkan hidupmu jika kau berusaha kabur dariku." Adam menatap tajam ke arahnya. Lelaki itu memang tidak tahu memperlakukan wanita seperti apa. Kadang-kadang ia membuat orang lain tidak nyaman dengan kata-kata kasarnya. "Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang tidak mencintaiku?" tanyanya memancing Adam untuk berbicara sendiri, mengenai perasaannya. "Aku menyukaimu tapi aku belum mencintaimu. Jika kau mampu membuatku jatuh cinta aku akan membahagiakanmu. Apa perkataanku ini sudah cukup agar kau bisa menyetujui pernikahan kita?" jawaban lucu Adam membuat pikiran Hawa semakin kacau. Mengapa ia tak mau mengakui perasaannya? "Aku akan memikirkan lagi," jawabnya. Menikah dia masih takut dengan lelaki ini, Hawa tahu ia mencintainya tapi masih memikirkan penyakitnya yang berbahaya. Adam akan patah hati jika suatu hari nanti Hawa mati. Adam meraih jemarinya untuk di genggam. "jangan kecewakan aku dengan jawabanmu. " sorot mata birunya sendu. Hawa merasa jantungnya berdebar lagi, dia tak mungkin bisa menolaknya. "Aku tahu teman kecilku." Hawa mengulas senyum di wajahnya agar menghibur Adam yang berharap banyak. mereka masuk kembali ke rumah. Orang tuanya sudah berada di ruang tamu berbincang-bincang banyak hal. Setelah merasa tak ada lagi yang ingin di bicarakan mereka meminta ijin pulang. **** Wajah cemberut sudah tampak sejak tadi. Hawa duduk dengan gelisah di taman sambil menunggu seseorang yang belum juga muncul di depannya. Tiba-tiba, dari belakang muncul seseorang yang menutup matanya dengan tangan. Hawa meraba-raba tangan itu dan merasa tidak asing lagi. Ia bisa menebak kalau tangan tersebut milik Adam lalu menuntunnya berjalan ke arah taman belakang gedung yang jauh lebih indah. Hawa bertanya-tanya apa gerangan ingin ditunjukkan lelaki itu. Setelah sampai di sana, Adam melepaskan tangan yang menutup mata Hawa, lalu ia menariknya dengan lembut untuk mendekat ke arah pohon besar dan tinggi. Hawa tidak melihat apa-apa di sana selain seutas tali hijau yang bergantung di atas, ekspresi Adam tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa. Hawa kesal. Ada apa sini? Beberapa detik kemudian, ia mundur melangkahkan kakinya untuk pergi dengan perasaan kecewa, tapi Adam menyuruhnya menarik tali hijau tersebut. Ia menarik tali itu, sambil menoleh sekali lagi takut Adam mengerjainya. Sambil menutup mata, ia menariknya. Ternyata sesuatu berjatuhan dari atas pohon. Ia cepat-cepat membuka mata, seketika itu juga takjub dengan sekelopak mawar berderai yang jatuh seperti hujan. Tangan Hawa mengadah ke atas seakan-akan merasakan turun hujan. Ribuan kelopak mawar jatuh berserakan di tanah. Sementara Hawa menikmati suasana seperti ini, Adam mendekat sambil menyembunyikan sesuatu di punggungnya. Adam berlutut. "aku tahu kau masih bimbang untuk menerima lamaranku tadi malam. Setelah aku berpikir ternyata aku mencintaimu. Will you marry me? Kau mau menikah denganku dalam suka dan duka selalu bersamaku sampai maut menjemput." Ia lalu menunjukkan sebuah kotak di dalamnya kalung kupu-kupu biru yang terbuat dari perak dan berlian. Rasa bahagia tak dapat di deskripsikan oleh Hawa, ini adalah moment yang paling ia tunggu-tunggu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN