Belum hilang rasa jengkel Adam, Damian sudah berdiri menuju taman bunga lalu memetik bunga melati. Dengan piawai, diselipkannya bunga cantik itu di atas telinga Hawa.
"Sangat cantik," ujar Damian memuji Hawa.
Gadis itu muak melepaskan kemarahannya dengan melempar bunga yang terselip di telinganya.
"Jangan menggangguku Kak. Aku tidak akan simpati dengan sikap manismu." Nyaris saja Hawa ingin meledakkan kekesalannya tapi ia masih berpikir, dia tidak ingin terdengar oleh orang di dalam rumah. Adam melihat hal itu, tidak mau kalah juga memetik setangkai mawar putih, lalu diberikannya pada Hawa.
"Terimakasih," Hawa berkata tulus.
Damian tak menghiraukan amarah Hawa, ia kembali memetik semua bunga lily dan mawar yang sedang berbunga kemudian memberikannya pada gadis itu.
Adam tak mau kalah saing ia berdiri lagi memetik semua jenis bunga mawar, lalu diberikannya pada orang yang sama. Taman terlihat gundul karena kehilangan bunga yang menghias di sana.
Hawa bingung dengan kelakuan mereka—gerangan apa yang membuat kedua lelaki ini bertingkah seperti itu.
"Ambillah!" Adam menyodorkan bunga itu lalu Hawa menerimanya dengan senang hati.
"Punyaku saja." Damian tetap berusaha menyodorkan bunga lagi, tapi Hawa membuangnya di tanah, lalu menginjak-injaknya melepaskan kemarahan yang di tahannya sejak tadi.
"Aku sangat membencimu Kak. Jadi jangan pernah berpikir aku bisa melupakan semua kesalahan yang telah lalu." Hawa beranjak dari kursi berlalu begitu saja menjauh dari mereka. Ia menangis mengingat kejadian pengkhianatan Damian.
"Ini semua karena kesalahanmu Damian. Kau mengecewakan Hawa," tegas Adam tak di gubris oleh Damian. Di pikirannya sekarang Hawa bisa memaafkannya.
Mereka mengejar Hawa yang semakin menjauh, tapi Adam dan Damian bersamaan memegang tangan Hawa.
"Kita pergi dari sini!" kata Adam cepat setelah berhasil meraih tangan Hawa.
"Aku tak akan membiarkan Hawa pergi sebelum memaafkanku." Damian menarik Hawa ke arahnya.
"Hawa tak akan memaafkan bajing*n sepertimu." Adam menarik tangan Hawa kembali. Suara mereka beradu dan saling tarik-menarik satu sama lain, tidak ada yang ingin mengalah.
"Kalian Lepaskan tanganku! Ini Sakit," suara Hawa meninggi merasa muak. Hatinya begitu terluka tapi ia di perebutkan dengan cara seperti ini. Hawa menghempaskan tangan mereka, berlari masuk ke rumah Nina untuk pamit pulang. Hawa buru-buru ke parkiran untuk mengendarai motornya. Tapi Damian menghadang Hawa lagi.
"Mau ke mana?" suara Damian mengisyaratkan jawaban dari pertanyaan itu.
"Kak Damian sebaiknya minggir! Atau salah satu dari kita akan mati." Damian merentangkan tangannya mencegah gadis itu pergi. Hawa memutar gas motor sekencang mungkin. Damian melihat motor Hawa berjalan dengan sangat cepat, siap untuk menabraknya. Akhirnya, ia mengalah membiarkan gadis itu pergi hilang dari pandangannya.
Adam berpikir Damian sangat bodoh mengemis pada Hawa, ia hanya tersenyum sinis melihat kepergiannya. Kenapa harus mengejarnya? Dia yang akan mengejarku nanti gumamnya dalam hati.
***
Adam turun dari mobil sambil mengecek alamat yang di pegangnya sama seperti di kertas atau tidak. Tanpa ragu-ragu dia mempercepat langkahnya. Benar saja, dalam sekali pandangan, ia bisa melihat Hawa berdiri di dekat rak roti, yang sedang mengobrol bersama pembeli terlihat sangat ramah kadang juga tertawa lepas. Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kenapa sikap gadis itu sangat berbeda ketika bersamanya? Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Dalam sekali sapuan pandangan, Adam sudah terkagum-kagum dengan dekorasi toko Hawa yang unik dan indah. Di desain dengan warna cerah yang lembut.
Ia terus saja memperhatikan gadis itu sibuk sekali, mondar-mandir kesana-kemari, lalu memasuki ruang belakang. Adam lepaskan pandangannya pada Hawa, melihat wanita paruh baya sedang duduk di kasir. Adam mencoba menghampiri dan memastikan wanita itu.
"Selamat sore, Tante," ujar adam tersenyum tipis.
"Selamat sore. Anak kecil Tante ada disini." Bu leni tertawa kecil, lalu memeluk Adam dengan semangat tahu kedatangan lelaki itu.
"Tante Leni bisa saja. Aku sudah dewasa sekarang, bahkan aku siap menikahi Hawa." Canda Adam ingin menghangatkan suasana.
Bu Leni mengulas senyum. "Kau dan Hawa bagai langit dan bumi. Hawa berasal dari keluarga miskin sedangkan dirimu sebaliknya. Tante tidak pernah bermimpi, Nak. Kau terlalu sempurna untuk Hawa." Bu Leni berbicara sangat tenang.
"Tante jangan bicara seperti itu. Mamaku sudah menganggap Tante seperti keluarga sendiri tak menilai dari perbedaan status sosial," hibur adam tahu bagaimana perasaan wanita itu.
"Kau bisa saja, Nak. Temuilah Hawa! Dia ada di belakang." Bu Leni sambil menebak maksud kedatangan Adam toko rotinya. Menyuruhnya ke dapur pembuatan roti.
Setelah mengobrol sebentar dengan wanita paruh baya yang ramah itu, tanpa ragu-ragu Adam masuk ke dapur tempat pembuatan roti dan meninggalkan Bu Leni di kasir.
Ia harus melewati ruang tengah dan ruang peristirahatan, lalu berhenti tepat di pintu dapur. Adam bisa melihat sosok Hawa dengan cekatan membuat roti. Beberapa kali keringatnya bercucuran lalu Hawa menyekanya tanpa merasakan kehadiran Adam.
Diam-diam ia kagum pada gadis ini, Hawa harus merasakan begitu pahitnya hidup bekerja dengan keras. Adam merasa beruntung tidak perlu bersusah payah mencari uang dengan cara seperti ini. Satu perusahaannya saja tanpa bekerja keras, pundi-pundi uang mengalir ke rekeningnya, apapun yang diinginkan bisa didapatkannya dalam sekejap.
Hari ini Adam mendapatkan pelajaran dari gadis periang yang menjadi musuhnya. Adam sadar jika uang itu sangat sulit didapatkan, tidak semudah jika membeli sesuatu dan menghabiskannya begitu saja.
Adam berhenti melamun dan memberanikan diri menghampiri Hawa sambil memberi satu tepukan pundak. "Kau semangat sekali bekerja."
"Tentu saja, aku tidak ingin seperti bayi hanya meminta uang pada Ibuku tanpa membantunya bekerja." matanya menatap tajam pada Adam.
"Apakah kau sedang menyindirku?" Adam menghela nafas.
"Jika kau merasa dirimu adalah bayi kau pasti akan tersinggung." Hawa tersenyum memancing kemarahan lelaki itu. "Aku hanya bercanda. Kenapa kau tampak seserius ini? Atau mungkinkah kau memang bayi besar?"
"Tentu saja tidak, aku bukan bayi besar. Dua tahun ini aku mengelolah bisnisku sendiri," Sanggah Adam menatap Hawa yang sibuk membuat adonan roti.
"Baguslah, kau sudah tua seharusnya sadar sendiri untuk bekerja," Sindir Hawa menatap Adam yang meraba wajahnya. Adam merasa wajahnya masih muda tak ada keriput sedikitpun.
"Berani sekali kau mengatakan aku tua? Wajah setampan ini tak mungkin terlihat tua." Adam membanggakan diri.
"Kau terlihat tua dengan janggut yang tak pernah di cukur," tawa Hawa meledak memenuhi ruangan meledek Adam yang langsung meraba pipi dan dagunya, ia merasa janggut halus terasa kasar di area wajahnya.
"Ya, kau memang benar,"
Tiga karyawan di belakang Hawa setengah berbisik melihat anak majikannya sedang heboh.
"Wahh ..., Ada pangeran tampan disini. Sampai-sampai aku tak bisa mengedipkan mataku" Fitri berbisik pada Laila dan Nini.
"Iya yah! Bisa-bisanya pangeran tampan masuk ke pembuatan roti. Cowok seganteng dia seharusnya tidak berada di sini kan? Mungkin dia mencari tuan putri yang hilang dan aku orangnya." Nini nyerocos dan terus memperhatikan Adam.
"Aku pikir kau sedang halusinasi sekarang. Duh, kalau saja dia menembakku, tanpa ragu aku langsung terima tunai tanpa cicil." Laila tidak mau kalah mengaguminya. Mereka berhenti bekerja dan malah sibuk mengagumi Adam.
Akhirnya Adam menoleh karena ketiga karyawan Hawa terlalu ribut. Hawa tahu keributan mereka, dia mengenalkan mereka pada Adam. Mereka berkenalan, menyebutkan nama masing-masing. Adam hanya menatap tajam ke arah karyawan Hawa yang kecentilan. Ia heran, tidak di kampus, tidak di toko roti temannya ini, dia tetap memiliki penggemar yang menumpuk seperti sampah.
Mereka berdua menarik pipi Adam tanpa permisi hingga pipinya penuh terigu.
"Beraninya kalian menyentuhku!" Matanya sudah melotot ingin mengeluarkan k********r.
"Sudahlah, Adam jangan tegang begitu. Mereka hanya gemas melihatmu." Hawa tidak ingin melihat Adam murka karena di sentuh oleh orang asing. Hawa melihat terigu yang menempel di pipinya.
"Apa aku terlihat lucu mengundang tawamu?"
"Maaf, aku hanya tertawa karena terigu menempel di pipimu. Mukamu seperti badut dengan make up hanya sebagian." Hawa tertawa geli.
"Sekarang kau tidak akan tertawa lagi." Adam mencelupkan tangan ke mangkok berisi terigu dan melemparkannya ke wajah Hawa.
"Kau mengotori wajahku Adam." Bukannya marah, Hawa malah melempari terigu kembali untuk membalas kejahilan Adam. Mereka asik saling melempar adonan sambil tertawa lepas melihat dirinya membuat keributan. Hawa sudah tidak lagi fokus membuat roti. Ia tidak tahu kapan lagi bisa tertawa kalau bukan sekarang.
Tiga orang karyawannya iri dengan Hawa bisa bercanda dengan Adam yang sangat tampan. Lelaki itu memang menarik. Selain tampan, senyumnya memikat hati.
Bu Leni penasaran. Dari kasir, ia bisa mendengar sedikit keributan di dapur. Akhirnya menengok ke arah dapur dan tersenyum bahagia melihat tingkah mereka. Bu Leni tidak pernah sekalipun melihat Hawa tertawa lepas bersama laki-laki, apalagi jatuh cinta.
"Ehm ..., Ehm ...."
Seketika tawa mereka terhenti. Wajah mereka tampak ketakutan kalau saja Bu Leni akan marah melihat tempat pembuatan rotinya acak-acakan.
"Maafkan kami, Ma." Hawa menunduk.
"Untuk apa kalian minta maaf? Nanti, kan bisa dibereskan," sahut Bu Leni sambil tersenyum.
"Mamaa ...." Hawa merajuk gembira karena tidak jadi mendapat omelan.
"Bersihkan wajah kalian yang kotor atau kalian mau dipanggang jadi roti juga?" Bu Leni tertawa sendiri.
“Ahh.... Mama." Hawa memeluk Bu Leni.
"Ini tissue cepat ambil! Lalu bersihkan wajahmu itu!" Hawa menyodorkan tissue kering, lalu ia membersihkan wajahnya juga. Adam menyadari masih ada sisa kotoran di pipi Hawa, lalu ia menyeka dengan tissue yang dipegangnya. Tatapan mereka saling bertemu. Hawa sangat gugup diperlakukan seperti ini. Jantungnya tidak beraturan lagi.
Hari ini ia merasa sangat istimewa. Mana perang dingin yang selalu ada setiap kali mereka bertemu? Apa sudah hilang?
"Maafkan aku soal kejadian kemarin karena membuatmu kesal dan marah." Adam berbicara serius. Mendengar hal itu Hawa menerjemahkan kata yang baru saja di ucapkan oleh Adam.
Apa aku tidak salah dengar Adam meminta maaf? gumam Hawa tidak percaya. Kata maaf dan terima kasih dua hal yang mustahil Adam katakan. Lelaki yang terdengar dingin ternyata bisa juga meminta maaf.
Hawa terhenyak dari lamunannya. "Jangan di pikirkan lagi! Aku sudah melupakannya." Hawa menepuk pundak Adam.
Adam tersenyum senang mendapat respon baik Hawa. Ia berpikir dengan perubahan dirinya sekarang.
Sebegitu berpengaruh Adelia padaku? Adam mencoba memaknai kata yang membuat dirinya saja tidak percaya bisa berubah.
****
Sepulang dari toko roti Hawa. Di jalan, Adam mengendarai mobilnya sambil tersenyum sendiri ketika teringat kejadian tadi. Entah mengapa sosok Hawa menghampiri pikirannya. Tapi sedetik kemudian tersadar lagi kenapa dirinya bisa berubah, Hawa gadis yang di bencinya, dan selalu saja menyusahkan.
"Bodoh... Bodoh... Seharusnya aku tetap membencinya tapi kenapa perasaanku berubah sekarang," seru Adam memukuli kepalanya sendiri merasa seperti orang paling gila di dunia. Ia berteriak keras di dalam mobil Me-rem mendadak hingga suara decitan terdengar. Adam berhenti sejenak menghempaskan kepalanya di setir mobil lalu mendengus kesal. Sialan, aku benar-benar terjebak sekarang. Gumamnya dalam hati.
Kenapa masih saja terus memikirkan gadis itu sampai-sampai nyawanya akan melayang? Gadis itu benar-benar mengganggu pikiran dan batinnya sekarang. Setelah berdiam diri cukup lama dan menetralkan pikirannya, Adam melanjutkan perjalanan lagi.
Sesampainya di rumah, Adam langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menyapa Ibunya. Bu Bianka memperhatikan anaknya agak berbeda dari biasanya. Wanita paruh baya itu berjalan ke atas melewati tangga melingkar masuk ke kamar Adam. Ia berharap putranya itu mau bercerita sedikit padanya.
Tok... tok... tok
Bu Bianka mengetuk pintu. "Apa Mama boleh masuk?"
"Masuk saja, Ma."
Bu Bianka membuka pintu dan mendapati Adam berbaring di ranjang sibuk dengan pikirannya sendiri, merasa terbebani akan suatu hal yang membuat Adam bungkam. Adam membuang nafas kasar sambil mengacak-acak rambutnya. Ibunya mendekati Adam ingin memancing anaknya agar bercerita dengan masalah yang di hadapi.
"Mama rasa kamu punya masalah. Kenapa sayang?"
"Ah, tidak ada, Ma. Adam baik-baik saja."
"Kau tidak pandai berbohong. Mama tahu dari matamu kalau kau punya masalah," sahut Bu Bianka mengelus kepala anaknya, mencurahkan kasih sayang siap mendengar cerita Adam.
Adam menarik napas, lalu duduk di ranjangnya, "Masalah Adam terlalu rumit, Ma. Ini tentang Hawa. Kalau boleh jujur, Hawa itu gadis unik berbeda dari yang lain. Dia mandiri dan pantang menyerah. Buktinya, setiap ada waktu kosong selalu digunakan untuk membantu Ibunya di toko roti yang sudah berdiri sejak lama. Aku percaya tersimpan banyak kebaikan hati yang tidak ditunjukkan kepada semua orang. Apalagi, dia teman masa kecilku yang hilang dan hadir kembali mengisi hatiku telah lama kosong," jelas Adam setengah melamun. Ia menatap Bu Bianka memasang wajah bingung dengan perasaannya sendiri.
"Mama curiga kau jatuh cinta dengan Hawa.” Ibunya tersenyum lembut.
Adam menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal. "Aku bingung Ma, aku juga tidak tahu tentang perasaanku akhir-akhir ini."
Tiba-tiba saja Bu Bianka tertawa sendiri, "Apa jantungmu berdebar-debar? Atau kamu merasa ada ribuan kupu-kupu terbang di perutmu?" Adam menganggukkan kepala tanda menyetujui pertanyaan Ibunya. Ia menjelaskan jika ia sangat nyaman berada di dekat Hawa walaupun mereka selalu beradu mulut.
Bu Bianka tertawa sekali lagi. "Kenapa kau baru menyadari perasaanmu? Selama ini kalian selalu bertengkar membodohi perasaan kalian sendiri."
Adam tampak berpikir memaknai kata-kata ibunya yang memberi nasihat.
"Entahlah, aku rasa semuanya sudah terlambat," sahut Adam memelas, pikirannya sudah buntu sekarang.
"Tidak ada kata terlambat. Serahkan semuanya pada Mama. Besok malam aku akan mengajak Bu Leni dan Hawa makan malam di rumah ini membicarakan masalah perjodohanmu dan Hawa." raut wajah Bu Bianka sangat bahagia. Ia sudah lama menantikan pernikahan anak kesayangannya dengan gadis sebaik Hawa.
"Kenapa secepat itu?" tanya Adam yang mulai berpikir.
"Apa kau akan menunggu Hawa di lamar oleh orang lain?"
"Tentu saja tidak, Ma."
Adam mengangguk tak mau tahu rencana ibunya. Mungkin ibunya ini memang benar. Mungkin seharusnya memang mempercepat lamaran itu.
* Di rumah Hawa
Hawa mengurung diri dalam kamar karena ingin melampiaskan segala beban yang mengganjal di hatinya. Hawa merenung dan merasa tidak percaya dengan apa yang dirasakannya akhir-akhir ini. Kenapa semuanya terasa sulit untuk dipahami?
"Perasaan apa ini saat aku bersama Adam terasa menyenangkan?” Hawa berbicara sendiri dengan nada menggerutu.
"Aaarrrghhh ..., Sial!" Hawa berteriak keras, air mata sudah membasahi pipinya.