[11] Seseorang Dari Masa Lalu

1682 Kata
Tubuh Inggit terasa kaku saat melihat pria yang berdiri di hadapannya. Wajah familiar yang bahkan masih menempel dengan jelas sosoknya dalam ingatan Inggit.  Seorang pria yang selama ini berusaha Inggit bersihkan jejaknya dari benaknya, berusaha Inggit hilangkan dari dalam ingatannya, justru berdiri di hadapannya. "Bi - bisma?" gumam Inggit saat melihat wajah Bisma yang kini berdiri di hadapannya. Gafin yang mendengar Inggit menyebut nama Bisma pun menatap di antara mereka dan langsung menatap Inggit dan Bisma secara bergantian. "Kalian sudah saling mengenal rupanya?" ujar Gafin. Gafin menghampiri Bisma dan memukul da da pria itu. "Aku tidak tahu kau mengenal wanita di sini, dia bahkan sangat cantik," bisik Gafin pada Bisma. Bisma menatap wajah Inggit. Tanpa berkata apapun, pria itu langsung masuk ke dalam ruangan dan berjalan melewati Inggit yang masih terpaku di ambang pintu.  Gafin pun hanya melempar senyuman kakunya dan ikut masuk ke dalam. Inggit bisa melihat Bisma yang dengan santainya duduk di atas sofa lalu membuka botol wine nya sendiri lalu menuangkannya ke dalam gelas yang sudah Inggit siapkan di sana. "Aku juga mau," ujar Gafin lalu menyodorkan gelas kosong miliknya pada Bisma. "Tuang sendiri," ujar Bisma. Air mata Inggit serasa ingin turun. Terlebih saat ia kembali mendengar suara bass khas Bisma yang kini kembali ia dengar. Entah Inggit harus merasa bahagia atau justru marah melihat kembalinya seseorang dari masa lalunya. Tak ingin tangisannya menjadi tontonan bagi kedua pria itu, Inggit pun pamit izin ke toilet. "Saya permisi sebentar," ujar Inggit lalu keluar dari ruangan itu. Gafin mencelos melihat Inggit yang langsung keluar dengan menundukan kepalanya seolah berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Inggit langsung berlari menuju ke kamar mandi. Setibanya di toilet, ia langsung mengunci pintu dan tak membiarkan seseorang masuk ke sana. Buru - buru Inggit mengambil tissue lalu menyeka air matanya. "Astaga kenapa kau menangis bodoh? Bukankah kau sadar kalau dia meninggalkanmu? Sadarkan dirimu Inggit! Dia hanya orang yang merusak masa depanmu dan menghancurkan masa lalumu. Kau harus sadar! Kuatkan dirimu. Ingat hanya malam ini saja baru setelah itu kau berhenti bertemu dengannya!" ujar Inggit kepada dirinya sendiri sembari menyeka air matanya. Inggit menatap pantulan dirinya di depan cermin wastafel yang ada di kamar mandi.  "Kau bodoh jika menangisinya," sambungnya lagi. Berusaha menguatkan diri untuk tidak tampak lemah di hadapan Bisma, Inggit pun memejamkan matanya. Berusaha menambah kata - kata yang harus menjadikannya sebagai wanita kuat. "Jangan sampai waktu 2 tahunmu sia - sia hanya karena bertemu dengannya lagi. Sepertinya dia juga baik - baik saja tanpamu. Dia bahkan tak merasa bersalah sama sekali setelah meninggalkanmu begitu saja," gumamnya. Akhirnya setelah Inggit merasa jauh lebih baik, Inggit pun membuang tissue yang ia gunakan tadi, lalu keluar dari dalam toilet. Untung saja tak ada orang yang mengantri untuk masuk.  Inggit kembali masuk ke dalam ruangan 2, tempat Bisma memesan ruangan. Tepat sebelum masuk, Inggit kembali teringat pada nama pelang gan yang mendaftarkan diri sebagai seorang VIP dengan atas nama Dallas. Inggit teringat jika Dallas adalah nama belakang Bisma. "Mungkin dia bertemu dengan wanita kaya raya," gumamnya karena mengingat jika Bisma langsung melunasi biaya pendaftaran pelang gan VIP untuk satu tahun yang mencapai ratusan juta. "Maaf menunggu lam--" ujar Inggit saat baru saja masuk ke dalam ruangan itu namun hanya mendapati Bisma yang duduk seorang diri sembari meminum wine miliknya. Inggit mengedarkan pandangannya mencari sosok Gafin yang menghilang. "Dia pergi, pacarnya membutuhkannya," ujar Bisma lalu kembali meminum wine miliknya. "s**t! Sekarang hanya ada aku dan dia? Kenapa tidak kau saja yang pergi?" ujar Inggit di dalam hatinya. Bisma tampak terdiam lalu menyodorkan botol wine yang sudah habis pada Inggit. Inggit hanya menatap Bisma, begitu pula dengan Bisma yang menatap Inggit balik. "Kosong," ujar Bisma. "Ah." Inggit kembali tersadar jika dirinya kini sedang melayani pelang gan VIP dari Angelwings Bar.  Mau tak mau, suka tidak suka, Inggit harus tetap melayani Bisma yang notabene adalah mantan pacarnya itu. Inggit mengambil botol wine merah yang telah kosong lalu memindahkannya ke dalam tempat pembuangan khusus botol kosong. Inggit kembali membuka laci penyimpanan dan mencari wine merah lainnya, namun nihil. Ia tak menemukan wine merah lagi di sana. "Wine merah habis, mau wine putih saja?" tanya Inggit pada Bisma. Inggit benar - benar berusaha mengontrol dirinya untuk tidak bertanya lebih. Dirinya kini hanya berfokus pada posisinya sebagai seorang pelayan dengan pelang gannya. "Vodka saja. Aku kurang suka wine putih," jawab Bisma. Setelah mendengar jawaban Bisma, akhirnya Inggit mengeluarkan sebotol vodka dari dalam sana. Dengan sigap ia membuka botol itu dan mengambil gelas kosong, lalu ia letakkan di depan Bisma. "Boleh minta es?" pinta Bisma. Tanpa menjawab, Inggit langsung berjalan menuju kulkas lalu mengeluarkan es batu dari dalam sana. Ia memindahkan ke dalam wadah sebelum akhirnya ia berikan pada Bisma. Melihat Bisma yang tak membutuhkan apapun lagi, Inggit mengambil duduk di sudut ruangan. Menunggu Bisma yang kembali membutuhkannya untuk mengambil minuman alkohol lain. Bisma benar - benar menghabiskan sebotol wine dan vodka miliknya seorang diri. Tak ada hal lain yang bisma lakukan selain meneguk habis minuman di hadapannya. Bahkan TV yang dibiarkan menyala dan bisa digunakan untuk karaoke pun tida disentuh oleh Bisma. Beberapa jam kemudian, Bisma berhasil menghabis vodka miliknya. Lalu menyodorkan botol kosong itu kepada Inggit. "Kosong," ujar Bisma memberitahu pada Inggit jika botol vodkanya telah kosong. Inggit pun mengambil botol kosong itu, dan menggantinya dengan vodka baru dengan merk yang sama. Bisma menggerakan tangannya untuk mengambil vodka itu, namun baru saja tangannya mengangkat botol itu, tiba - tiba botol itu jatuh di atas sofa hingga isinya tumpah dan membasahi sofa yang Bisma duduki. Setelahnya, Bisma langsung tertidur dan kesadarannya pun menghilang. Sontak Inggit langsung menhampiri botol vodka yang tumpah di atas sofa dan membersihkannya. "Astaga. Baunya pasti akan sulit hilang," gumam Inggit sembari membereskan vodka yang tumpah itu. Selagi membersihkan sofa, Inggit melirik ke arah Bisma yang matanya terpejam. Satu jarinya menyentuh tubuh Bisma seolah memeriksa apakah pria itu masih bangun atau tidak. Namun kenyataannya, Bisma tak bergerak sama sekali. Untuk meyakinkan dirinya, Inggit pun mengguncang tubuh Bisma namun pria itu masih terpejam, "Dia mabuk?" gumam Inggit. Setelah membereskan sisa vodka yang tumpah. Inggit pun memeriksa kantong Bisma, berusaha mencari ponsel pria itu untuk menghubungi rekannya. "Dimana ponselnya? Kenapa tidak ada di dalam sakunya?" gumam Inggit yang masih terus mencari ponsel Bisma namun tak kunjung menemukannya. Inggit akhirnya menyerah mencari ponsel Bisma, "Apa mungkin terbawa dengan Gafin? Atau tertinggal di mobil? Astaga aku bahkan tak tahu mobilnya yang mana. Apa dia lebih baik aku bawa ke kamar inap saja?" tanya Inggit pada dirinya sendiri sampai menggigit bibir bawahnya sendiri karena sibuk berpikir. Setelah berpikir selama 10 menit, akhirnya Inggit memutuskan untuk membawa Bisma menuju kamar khusus VIP. Susah payah Inggit membopong tubuh Bisma yang jelas - jelas lebih besar dan lebih berat darinya. Inggit membopong tubuh Bisma yang tak sadarkan diri itu seorang diri.  Dan kini Inggit akhirnya tiba di kamar VIP yang untung saja berada di lantai yang sama. "Kau tahu bahwa tubuhmu itu berat sekali?!" cibir Inggit yang merasakan pundaknya langsung kaku setelah memindahkan tubuh Bisma ke dalam kamarnya. Inggit bisa menatap wajah Bisma yang terlelap di hadapannya. Wanita itu bahkan masih mengingat dengan jelas, pria yang pernah bersamanya selama 15 tahun ketika tidur, sedih, bahagia dan marah sekalipun. "Bahkan ketika kau sudah meninggalkanku, aku masih nyaman melihat wajahmu yang terlelap. Tolong beritahu padaku bagaimana caranya aku bisa melupakanku dan bisa membencimu, Tuan Dallas," ujar Inggit pada Bisma yang sebenarnya ia tahu pria itu tak akan mendengarnya. Inggit menghela napas beratnya di hadapan Bisma. Lalu beranjak dari sana. Saat baru melangkah pergi dari hadapan Bisma, tiba - tiba Inggit merasa sesuatu menahan lengannya dan sontak Inggit langsung menoleh.  "Jangan pergi," ujar Bisma sembari memejamkan matanya dengan tangan yang menahan pergelangan tangan Inggit. Dalam satu kali gerakan, Bisma langsung menarik Inggit ke atas tempat tidur lalu memutar posisinya menjadi Inggit yang berada di bawahnya. Perlahan, Bisma mengerjapkan matanya saat tubuhnya berada di atas Inggit, yang membuat wanita itu kini berada di bawah kekuasaannya. Inggit bahkan bisa mencium aroma alkohol dengan jelas dari napas yang dihembuskan oleh Bisma ke wajahnya. "Kau mabuk. Sebaiknya beristirahat. Aku mau pulang," ujar Inggit.  Saat dirinya berusaha untuk keluar dari kurungan Bisma, tubuhnya justru ditahan oleh pria itu. Membuat Inggit kembali ke posisi awal. "Lepaskan akhh--" Ucapan Inggit langsung terpotong saat bibirnya dibungkam dengan bibir Bisma. Entah sejak kapan Bisma menjadi bergerak dengan begitu cepat, bahkan Inggit tak sadar sejak kapan Bisma mengambil aba - aba untuk menciumnya. Inggit memukul d**a bidang Bisma, berusaha melepaskan tautan bibir mereka. Namun dengan kekuatan Bisma, pria itu menahan tangan Inggit dan bibirnya terus menciumi Inggit. Hingga kini ciuman itu berubah menjadi lumatan. Usaha Inggit sia - sia, karena wanita itu tentu saja kalah kuat dibandingkan Bisma. Terlebih tubuh Bisma yang kini jauh lebih berotot dari pada 2 tahun yang lalu. Lama kelamaan Inggit justru ikut terbuai dalam sentuhan Bisma, hingga akhirnya Inggit menyeimbangkan lumatannya dengan Bisma. Merasa Inggit yang mulai menerimanya, Bisma menggerakan tangannya ke arah bagian tubuh Inggit yang lain dan mulai menyentuhnya dengan seduktif. Inggit tidak bisa membohongi dirinya, dia menyukai setiap sentuhan Bisma yang diberikan padanya. Kegiatan yang dimulai dengan sentuhan dan lumatan ringan, kini kian memanas. Bahkan Inggit merasa dirinya ikut mabuk dalam alkohol yang disalurkan oleh saliva pria itu padanya. Hatinya terus menolak, namun tubuhnya berkata lain, ia menginginkan Bisma. Inggit menginginkan pria itu. Bisma dengan lihai memanjakan setiap inchi tubuh Inggit dengan tangannya. Dan bahkan tanpa mereka sadari, kini tak ada sehelai benang pun yang menghalangi jarak mereka. Pakaian yang semula menempel di tubuh mereka, berserakan di atas lantai.  Suara Inggit dan Bisma bersautan menggema ke penjuru ruangan. Kedua insan itu seolah melupakan apa yang telah terjadi di antara mereka. Tanpa mempedulikan hal lain, Bisma dan Inggit menghabiskan malam panas mereka bersama. "Akhhh Ing - Inggith!" pekik Bisma saat mencapai klimaksnya yang ke empat kali di dalam tubuh Inggit. Pria itu langsung jatuh ambruk di atas tubuh Inggit. Keduanya saling memburu oksigen karena merasa kehabisan napas akibat kegiatan mereka yang baru saja ia lakukan. Bisma langsung menggeser tubuhnya ke samping Inggit, menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Tanpa berkata apapun, Bisma dan Inggit terlelap setelah menyelesaikan malam panas mereka bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN