Usai ikut menghadiri rapat, kaki Inggit terasa lemas, terlebih saat melihat Bisma yang bermesraan dengan Bunga di hadapannya. Inggit kembali duduk di balik mejanya dan menyandarkan bahunya di sandaran kursi. Hari pun menjelang siang, rasa lapar langsung menghampiri perut Inggit. Inggit pun beranjak dari duduknya dan pergi menuju kantin seorang diri. Walau Inggit sudah cukup lama bekerja di Regular Company namun kenyataannya ia tak memiliki teman. Terlebih Inggit termasuk dalam pribadi yang menutup diri. Setibanya di kantin, Inggit langsung menge - tap kartu id card miliknya ke dalam mesin sebagai tanda dirinya sudah masuk ke kantin untuk makan siang. Setelah itu, dia mengambil makanan yang disajikan prasmanan. Inggit mengambil kursi tepat di samping jendela, membuat dirinya bisa meli

