“Ra. Tante sama Irul pamit pulang dulu ya.” Ina memandang pada Irul kemudian memandang Asteria yang tak merespon apapun yang dia ucapkan. Ina dan Irul orang terakhir yang pergi. Irul memandang Arestia sekali lagi sebelum menutup pintu dan berlalu pergi.
Asteria hanya terduduk di sana, di atas kursi usang sambil memeluk lutut dengan pandangan mata yang kosong. “Ma. Asteria sekarang sendiri.” Asteria semakin erat memeluk lututnya seolah mencari perlindungan dan kehangatan di sana.
Hari ketiga, Asteria masih di sana masih duduk di kursi usang nya. Tak melakukan apapun hanya diam. Intan dan Irul selalu mampir selepas pulang sekolah hanya untuk memaksa Asteria makan dan minum meski hanya dua tiga suap yang berhasil dia makan.
Hari ke lima Intan dan Irul mampir. Asteria tak ada di sana, tak ada di atas kursi usangnya, taka ada di kamar mandi bahkan kamar. Hanya sepucuk serat yang tertinggal di atas meja. Hanya tertulis kata terimakasih dan selamat tinggal. Sepucuk surat yang menjadi jejak terakhir bahwa gadis yang bernama Asteria pernah ada dan tumbuh di kampung segarsih ini.
***
Sebuah tiket bus menuju Jakarta telah di tagan, dengan hanya berbekal uang beberapa puluh ribu dan tas ransel di punggung yang berisi beberapa helai baju dan barang yang dia anggap penting. Asteria sudah memutuskan untuk merantau ke Jakarta, meninggalkan kota kembang yang penuh kenangan. Asteria sekali lagi menengok ke belakang sebelum bener-benar naik ke dalam bus.
Asteria memandang kosong kearah gedung-gedung yang dia lalui, tas berada di pangkunya di peluk dengan erat seolah benda yang begitu berharga. Di lihatnya benda yang ada di genggaman tangannya, sebuh foto usang seorang wanita yang sedang mengendong dua bayi yang sama.
Asteria tiba di terminal saat waktu telah menunjukan malam hari. Beberapa sopir angkutan umum menawarkan jasa, yang di tolang dengan gelengan kepala. Asteria berjalan tanpa arah dan tujuan meninggalkan hiruk pikuk terminal di belakannya. Asteria memegang perutnya yang mulai terasa sakit, lima hari terakhir dia hanya makan sedikit, hari ini dia hanya satu buah roti dan sebotol air meniral. Asteria terus berjalan dengan rasa sakit pada perut yang semakin tak tertahankan.
Jalan yang di lalui makin tak terlihat orang satupun. Asteria mendengar beberapa langkah yang menuju kearah nya. Menengok ke belakang terdapat dua orang pria berbadan kekar berjalan ke arahnya. Rasa takut membuat Asteria mempercepat jannya, langkah-langkah itu menjadi cepat seolah mengikutinya. Langkah Asteria berubah menjadi lari. Berbelok di persimpangan depan kemudian bersembunya di bekang pohon, Asteria menggigil ketakutan mencoba menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Suara langkah semakin capat, melewatinya kemudian terdengar semakin jauh.
Merosot jatuh terduduk di belakang pohon, air mana tak dapat di tahannya. Ketakutan dan kebingungan tak tau apa yang harus dia lakukan. Setelah beberapa warktu terdiam, Asteria cepat menghapus air matanya. Berusaha berdiri dengan kaki-kaki yang gemetar.
Hap..sebuah tangan menyergap menutup Asteria, di ikuti beberapa tangan lainnya yang memegangi kedua tangannya. Bau alkohol benguar dari mulut orang-orang yang menyergap Asteria. Tatapan kengerian yang di susul air mata, memunculkan seringai dari orang-orang yang menangkapnya. Ada empat orang pria berbatan tidak terlalu tinggi tiga diantaranya berdan kecil dan satu lagi berbadan gemuk.
Asteria mencoba berteriak dan meronta namun tak bisa. Badannya yang tanpa tenaga di tarik paksa oleh empat pria ke dalam gedung terbengkalai yang tak jauh dari sana. Terdapat api yang sengaja di bakar di tempatkan di dalam sebuah drum. Asteria terus mencoba meronta dan membebeskan diri. Di gigitnya tangan yang menutup mulut nya sekuat tenaga.
“Ah, dasar perempun sialan.” Disusul suara tamparan yang memekakan telinga.
Asteria jatuh terhempas di lantain yang berdebu, terasa amis besi dari dalam mulutnya. Telinganya bedengung sesat pandangannya menggelap. Di susul sebuah jambakan pada kepalanya yang membuat jilbab pada kepalanya telepas. Beberapa orang lainnya memcoba memaksa melepaskan baju Asteria.
“Bang jangan, Bang.. tolong jangan. Ma tolongin Ria, Mama.” Srek. Suara kain sobek disusuk hawa dingin terasa menerpa tubuhnya. Tangan-tangan itu sibuk bergrilya di tubuhnya satu orang lainnya mencoba mepaskan celana yang di pakainya. Suara dan jeritan Asteria terus bergema di dalam gedung itu.
***
Pram berjalan tergesa masuk kedalam rumah mewah yang ada di hadapannya. Seorang pembantu menuntun jalannya di depan, mengarahkan pada bagian belakang rumah. Terlihat sepasang lansia yang sedang duduk sambil meminum teh sambil bercengkrama. Keringat terus keluar di dahi dan tangan Pram. Perasaan gugup tak bisa di tutupinya.
“Tuan, tuan Pram disini.” Pembatu itu memberituukan keberadan Pram pada atasannya sebelum berlalu pergi meninggalkannya dengan sepasang lansia.
“Tuan.” Pam memanggil Wicaksono dengan gugup. Wicaksono adalah salah satu konglomerat tanah air. Seorang pengusaha jasa ekspedisi dan angkutan online terbesar saat ini. Beliau juga pernah menjapat segai mentri perekonomian, yang baru saja menyelsaikan masa jabatannya tiga bulan terakhir.
Sebuah senyum yang tadi masih terlihat di wajahnya itu berubah menjadi serius saat bawahannya menemui dia dengan wajah tegang. “Bagai mana Pram. Tidak ada hal buruk yang terjadikan.” Wicaksono mencoba mengonfirmasi pikirannya.
“Tenang dulu pa. dengar dulu Pram mau bilang apa.” Laksmi wanita jawa yang sangat anggun. Wanita penyabar yang sangat keibuan. Mengusap bahu Wicaksono yang mulai menegang.
Pram mengusap keringat pada dahinya kembali sebelum berbicara pada sepasang lansia yang sangat di hormatinya itu. Pram melaporkan hal-hal penting itu dengan wajah serius dan juga tegang. Terliaht raut kengerian pada pasangan yang tak lagi muda itu saat mendegarkan hal-hal yang di laporkan Pram.
Wicaksono memegang dadanya yang tiba-tiba sakit, sebelum jatuh di kursi yang tadi dia duduki. “Pa. Papa harus tenang. Ayo pa, Papa harus kuat. Kalau Papa tumbang bagaimana dengan cucu kita.” Laksmini mencoba menenangkan suaminya, padahal airmata pun tak dapat dia Bendung. Wicaksono mencoba menenangkan dirinya kembali, meremas tangan istrinya untuk mencari kekutan.
***
Suara-suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar di lorong rumah sakir. Terlihat dua orang pria yang duduk di kursi tugu depan ruangan. Bergesas berdiri di hadan Wicaksono, disusul keluarnya dokter dan beberapa perawat dari dalam ruangan.
“Dok ini wali dari pasien.” Pram menunjung pada Tuan dan Nyonya Wicaksono yang ada di sebelahnya. Kebingungan muncul di benak dokter, dia tau siapa orang yang ada di hadapannya ini. Yang menjadi pertanyaan apa hubungan pasien dan mantan mentri di hadapannya ini.
“Mari kita bicarakan di ruangan saya tuan” dokter pergi memimpin jalan, di ikuti wicaksono dan istrinya dari belakang.
Dokter memandang dua orang tua yang sedang kalut di hadapannya. “untuk luka-lukanya tidak ada yang serius pada pasien, Tuan Nyonya. Hanya beberapa luka memar dan goresan. Namun yang mengkhawatirkan paslien mengalami malnutrisi dan mengalami maag kronis di tambah psikis pasien,melihat bagaimana keadaan pasien saat datang kemari. “
“Malnutrisi Dok.” Tuan dan Nyonya Wicaksono memandang Dokter tak percaya. Bagaimana bisa cucunya, keturunannya mengalami ini. Hidup seperti apa yang selama ini cucunya jalani. Laksmini menangis sesenggukan, Wicaksono hanya dapat merangkul untuk menenangkan istrinya. Marah, sedih dan perasaan bersalah yang begitu besar menyergapnya. Laki-laki sepuh yang bisanya terliah kuat dan penuh wibawa hanya bisa menengadahkan kepala untuk menahan air matanya yang akan keluar.
Terdengar suara kutukan di pintu, pintu terbuka setelah di persilahkan. “Dok, pasien di Ruang VIP 3 sudah sadar.” Dokter, Tuan dan nyonya Wicaksono bergegas ke luar menuju ruangan Asteria.
Dokter memasuki ruangan di ikuti Tuan Wicaksono di belakannya. Wicaksono tertegun melihat apa yang ada di depannya. Terlihat seorang gadis remaja duduk meringkuk di atas kasur membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut yang terlihat hanyalah wajahnya yang pucat. Tubuh ringkihnya minggikil ketakutan melihat sekelilingnya tidak focus. Terlihat beberapa tetes darah pada seprai dan selimut yang berwana putih, infus yang tercabut tergeletak di lantai. Beberapa perawat berdiri memberi jarak.
Dokter terdiam sejenak, sebelum berjalan mendekati Asteria. Suara jeritan dan Asteria mulai tak terkendali.”Jangan. Tolong jangan lakukan itu. Mama tolong Ria Ma, mereka jahat.” Asteria mulai melemparkan barang-barang yang ada didekatnya, setelah tak ada yang bisa di lempar dia meringkuk kembali kedalam selimut. Menjerit histeris sambil menyakiti diri sendiri.
Dokter dan perawat bergerak dengan cepat menangkap kedua tangan Asteria dan menyuntikannya dengan obat penenang. Tuan Wicaksono memandang cucu perampuannya dengan sedih sedangkan Laksmi hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan agar tangisnya tak keluar. Dokter dan perawat terpaksa mengikat kedua tangan Asteria pada tempat tidur agar bisa di beri cairan infus kembali.