Part 1
Uhuk..uhuk..
Suara batuk berat terdengar dari salah latu balik kamar yang berpintukan kain gorden usang. Rumah petak dengan satu kamar tidur, ruang tamu kecil dengan dapur dan kamar mandi kecil. Asteria cepat-cepat menyelsaikan jemuran bajunya bergegas kedapur mengambil air hangat.
Larasati terbaring tak berdaya di atas tempat tidur usangnya. Tubuh ringkihnya sulit di ajak berisitrahat, setiap kali berbaring batuk tak akan berhenti menyerangnya. Asteria datang dengan gelas berisi air hangat di tangan kanan dan piring berisi nasi yang disiram sup di tangan kirinya. Menopang tubuh ibunya dan membantu memberikan minum dan memberi makan sebelum dia bersiap pergi ke sekolah.
Sudah berminggu-minggu Larasati sakit dan terbaring di tempat tidur. Semua pekerjaan rumah dan cuci setrika baju tetangga, dan berjualan gorengan Asteria yang mengerjakan. Asteria mematut dirinya di depan cermin untuk memasang jarum pada jilbabnya bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah, dengan keranjang berisi gorengan yang akan di titip pada warung depan sekolah.
“Ria. Ria tunggu.” Intan berlari terburu-buru menuju Asteria. Rok abu panjang tak menyulitkan kakinya untuk berlari.
Astaria berdiri di samping jalan menunggu Intan yang berlari menghampirinya. Lengan intan begelayut pada tangan Asteria. Intan yang ceria dan energik berbanding terbalik dengan Asteria yang pendiam dan tak banyak bicara. Setelah berjalan beberapa waktu sebuah motor metik berhenti tak jauh di depan mereka.
“Intan ayo ibu antar.” Ibu intan wanita berjilbab awal umur 40 tahun memanggilnya dari atas motor metik.
“Intan jalan kaki sama Ria aja bu” Intan menolak.
“Ria kamu gak apa-apa kan jalan sendirian, Intan biar berangkat dengan Ibu.” Ibu Een memandang dengan intens pada Ria.
“Iya Bu gak apa-apa, Intan ikut ibu kamu aja sana” Asteria melepaskan tangan intan yang mengait di lengannya. “Ibu. Intan aku duluan ya.” Ria melanjutkan berjalan kaki. Meninggalkan Intan dan Ibunya di belakang. Masih terdengar gerutuan Intan pada ibunya.
‘Kamu itu sudah berapa kali Ibu bilangin. Jangan sering-sering bergaul sama si Ria itu.” Kepalan tangan Asteria di gengam dangan kuat, sekelebat emosi terliahat di wajahnya.Ibu Een tidak berusaha mengcilkan suaranya, seolah-olah ingin Asteria mendengar kata-katanya. Terdengar pula gerutuan intan atas kata-kata ibunya. Kata-kata menyakitkan namun tak asing yang sering Asteria dengar. Hamper semua orang tua di kampungnya membicarakan Asteria dan Ibunya. Larasati dan Asteria datang ke kampung ini saat Asteria berusia Tiga tahun, seorang single parent dengan anak setengah bule membuat warga kampung banyak membicarakan hal buruk tentang Asteria dan Ibunya.
***
“Bagaimana, masih belum ada perkembangan juga” Seorang pria paru baya dengan semua rambutnya yang telah beruban namun tak menghilangkan kewibawaannya, memandang bawahannya dengan dengan marah. Ruang kerjanya menambah aura d******i peria paruh baya tersebut. Seorang peria di sebrangnya hanya bisa menundukan kepala tak berani memandang pria paruh baya tersebut.
“Sudah mulai ada titik terang pak, kemungkinan besar mereka ada di kota Bandung. Orang-orang sudah mulai di kerahkan untuk mencari kesana.”
“Percepat dan segara pastikan, ini sudah terlalu lama. Semoga tidak ada hal buruk pada meraka.” Ucapannya melemah tak sekuat tadi, pandangan mata sedih terpokus pada pigura kecil di atas meja kerjanya.
“ Baik tuan.” Membungkuk pelan kemudian meninggalkan ruangan kerja tersebut.
***
“Ta hebat banget kamu, bisa punya hp iphon itu. Meski bukan keluaran terbaru tapi itukan bukan hp murah.” Saat masuk ke dalam kelas Asteria melihat teman-teman sekelasnya sedang mengerubuni Rita yang sedang memamerkan hp barunya. Tanpa memperdulikan kerumunan itu Asteria berjalan menuju bangkunya di baris ketiga pinggir tembok. Intan yang sudah sampai terlihat sudah menempati bangku samping Asteria.
Rita yang sedang memamerkan Iphon pada teman-temannya memandang ke Asteria dengan remeh dan benci. Rata wanita cantik khas sunda dengan kulit kuning langsat dan rambut hitamnya. Sedari kecil dia sudah sering mendengar orang-orang memuji kecantikannya, melihat tatapan dan pujian orang-orang padanya menumbuhkan kepercayaan diri yang lebih dan sikap tak mau kalah. Rita mulai membeci Asteria saat pertama kali melihatnya di sekolah menengah pertama. Wajah indo Asteria terlibih dengan jilbab yang dikenaknnya mencuri tatapan orang-orang dan membuat berpaling darinya. Prestasi yang di bawah Asteria dan laki-laki yang di sukainya mengejar Asteria. Banyak hal yang di lakukan Rita agar orang-orang tidak menyukai dan menjauhi Asteria, salah satunya menyebarkan kepada anak-anak lain bahwa Astria anak haram, ibunya hanyalah TKI yang keluar negri untuk menggoda majikannya.
“Ria di panggil Bu Reni” Salah seorang siswa memanggil Asteria dari depan pintu kelas. Asteria yang sedang mengembil baju olah raga bergegas membereskan tasnya, menyuruh Intan yang mengajaknya mengganti baju bersama pergi terlebih dahulu.
SMA 2 Segarsih adalah SMA swasta tempat Asteria bersekolah sebuah SMA yang terletak di ujung pulau. Sebuah danau buatan terbentang sekitar 200m setelah melewari SMA 2 Segarsih. Sekolah tak menuntut dan memberikan kebebasan untuk pilihan berpakaian siswanya. Terdapat siswi yang seraham pendek seperti umumnya dan lebih banyak lagi yang berseragam panjang dan berjilbab.
“ Kalau begitu aku tunggu di lapang ya.” Intan berbelok ke kiri masuk kemar mandi deangkan Ateria belok ke kanan menuju ruangan Bu Reni.
Asteria menghela nafas, menyiapkan hatinya sebelum mengetuk pintu. “Masuk,” Suara sahutan setelah asteria mengetuk pintu.
“ Assalamuaikum Bu. Ibu manggil saya.” Asteria membuka pintu melihat sosok wanita berjilbab dangen wajah yang bersahaja duduk di belakang meja kerja.
“Ia. Masuk Ria” Bu Reni memandang dia dengan sayang terlihat raut kasihat di wajahnya. “ Ria sebelumnya ibu minta maaf, bukannya ibu gak mau bantu kamu lagi. Tapi pihak sekolah sudah gak bisa memberi kelonggaran lagi, pihak sekolah meminta kamu segara membayarkan tunggakan selama Empat bulan ini. Jika tidak kamu tidak bisa mengikuti ujian kenaikan kelas. Sekolah memberikan kamu waktu satu minggu untuk melunasinya.”Bu Reni berdiri menepuk bahu muridnya pelan.
“Iya gak apa-apa. Ria yang harusnya bilang makasih sama ibu sudah bantu Ria selama ini. Ria usahin untuk bayar tungalkannya secepatnya supanya bisa ikut ujian.”
***
Rasa optimis yang tadi Asteria tunjukan di depan Bu Reni menghialang seiring meninggalkan ruangan itu. Asteria tau sudah tak ada harapan baginya untuk melanjutkan sekolah. Kerja keras dengan hanya tidur Empat yang selama ini dia lakukan tak menghasilkan uang banyak. Tinggal di kampung kecil dengan orang-orang yang tak teralalu ramah pada mereka, tanpa sanak saudara, yang bisa dia lakukan hanyalah diri sendiri. Sedikit uang yang dia kumpulkan selama ini hanya cukup untuk memberi obat untuk ibunya. Mungkin ini sudah waktunya untuk dia melepaskan cita-cita dan mimpinya.
Duk. Sebuah hantaman keras yang kemudian di susul rasa sakit yang Asteria ingat sebelum kegepan menghinggapnya.
Sebauh tempat yang meski tidak terlihat jelas karena kabut masih terlihat keindahnya. Rumput yang halus Asteria rasakan di kaki-kakinya yang tanpa alas kaki. Pohon-pohon yang rimbut tak terliat puncaknya karena tertutup kabut. Asteria melihat semua hal di sekelilingnya. Terlihat sosok perempuan dengan gaun putih duduk di sebuah batu besar, pandangan perempuan itu terpaku pada orang-orang yang berkumpul dan tertawa bahagi tak jauh darinya. Orang-orang dengan pakayan putih, Lima orang laki-laki dan seorang perempuan dewasa mengelilingi seorang gadis remaja, terpancar kebahagiaan dari wajah-wajah mereka.
Kaki-kaki Asteria melangkah mendekati orang-orang yang tak jauh darinya. Dilangkah nya yang ketiga dia berhenti sosok di atas batu itu melihat ke arahnya. Perempuan cantik yang meski terlihat berbeda tapi tetap dia kenali. Sebiah senyem kecil terliah di bibirnya,tapi matanya seolah berhianat miski tak ada air mata, mata itu seolah menangis. “Ma” cicit Asteria pelan. Wanita itu mengalihkan pandangannya, melihat kembali orang-orang yang berkumpul di depannya. Asteria mencoba melangkah kembali menghampiri ibunya, tapi seolah ruang gelap menahan dan menarik menjauhi ibunya.
“MA. Mama.” Astaria tersentak bangun, melihat sekeliling nya. Ruang Kesehatan sekolah tempat Asteria sekarang berada, Intan yang duduk di sampingnya memandangnya dengan cemas.
“Ria Kenapa. Kamu mimpi buruk?” Intan sontak berdiri mencoba menenangkan sahabatnya itu. “Ini kamu minum dulu” Intan menyodorkan gelas dengan air hangat. Menyesapnya sedikit kemudian memberikan kembali pada Intan.
“Makasih. Tan, kenapa aku bisa di sini.”
“ Kamu tadi pingsan, kepala kamu kena bala yang di lampar Rita. Aku yakin bangin dia pasti sengaja tuh buat celakain kamu.” Intan bicara tanpa henti dengan sewot.
Buk. Pintu ruang kesehatan terbuka dengan kencang. Seorang pria yang masih mengatur napasnya birdiri di depan pitu ruang kesehatan memandang Asteria dengan cemas. “Ria katanya kamu pingsan, kamu gak apa-apa kan”. Menghampiri Asteria yang sedang duduk di tempat tidur.
“Ria gak apa-apa bang Irul. Kenapa sih buka pintunya harus gitu, kalau rusak gimana coba.” Ira memandang Irul dengan dengan sengit. Irul dan Intan adalah sepupu ayah Irul adalah kakak Ibunya Intan. Tak seperti keluarga lain keluarga Irul cukup baik pada Asteria dan Ibunya. Ibu Irul seorang guru ngaji di kampungnya, yang juga mengajar ngaji Asteria saat kecil sedangkan ayahnya adalah seorang karyawan kantor yang saat ini di tugaskan di ibu kota. Sudah jadi rahasia umum kalau Irul menyukai Asteria.
“Yang nanya kamu siapa coba.” Intan yang kesal mencoba memukul Irul.
“ Udah, ko malah mau berantem. Aku gak apa-apa bang.” Astaria memotang cepat sebelum mereka bertengkar.
***
“ Assalamualaikum Bu. Ria Pulang.” Asteria membuka pintu, menyimpan keranjang gorengan di atas meja. Masuk kedalam kamar melihat Ibunya yang sedang tidur, perlahan-lahan Asteria mengganti baju tanpa minimbulkan suara. Perlahan keluar kamar dengan membawa sebuah dompet usang di tangannya.
Asteria duduk di kursi lusuh di tengah rumah, kursi yang telah sobek di beberapa bagian. Mengelurkan beberapa lembar uang dari dalam dompet, dampet yang indah namun telah usang di makan zaman. Asteria menghitung jumlah uang di tangannya. Tiga uang Lima puluh rubu, empat uang dua puluh ribu dan beberapa lembar dua ribu.
Uang yang cukup untuk membeli obat ibunya minggu ini, namun untuk biaya sekolah rasanya sudah taka da lagi harapan. Asteria masuk kembali ke dalam kamar untuk menyimpan dompetnya. Malihat pada ibunya yang masih tertidur dengan posisi yang sama. Asteria menatap ibunya dengan bingung, berjalan menghampirinya.
“Ma” Asteria memegang bahu Ibunya kemudian mengguncangnya pelan. “Mama. Ma. Bangun” Semakin cepat gincangan Asteria, namun Larasati tak merespon. “ Ma, jangan tinggalin Ria ma.”