Suasana pendapa di Rengganis begitu damai dan asri. Disekelilingnya sudah pasti terjejer tanaman dalam pot yang begitu mudah memanjakan mata. Memang, warna hijau mampu membuat mata menjadi segar, nyaman dan juga rileks. Seperti halnya Dion yang berharap perasaannya bisa sedikit lega berada disana. Hanya Bara yang bisa ia ajak bicara saat ini, yang paham dengan permasalahan dan perasaannya. Rambut rapinya kali ini sedikit acak-acakkan, kemejanya bagian bawah juga sudah tak lagi sembunyi dalam pinggang celana. Sedikit frustasi. “Gue harus gimana, Bar?” “Tenang dulu, Di.” “Gimana gue bisa tenang, Bar, Kayana sudah jelas-jelas menerima Aksa.” “Bukannya tempo hari itu Kayana bilang kalau nggak suka sama laki-laki itu ya?” “Iya, Bar. Gue juga bingung kenapa Kayana bisa berbalik jadi mau me

