Makan

1265 Kata
Wanita itu menyerengit saat matanya perlahan membuka merasa kepalanya sedikit sakit lantas berusaha untuk duduk bersandar di ranjang. Ia sangat menyadari posisi Leo sedang duduk di kursi tunggal dekat jendela kamar menghadapnya, matanya yang tajam seakan ingin membunuh membuat dirinya sudah mulai terbiasa dengan sikap lelaki yang menjadi suaminya selama satu bulan penuh. "Makanlah." "Tidak." jawab Cailey sambil menggeleng lemah tanpa menatapnya. "Empat kali..." "Maksudnya?" sontak Cailey memandangi lelaki yang selalu saja berhasil mendebarkan jantungnya, ia kembali memandangi tautan jemarinya sendiri karena terlalu lama menatap rahang tegas mata tajam wajah tampan itu berpotensi serangan jantung efek dari pesonanya. "Apa jarimu lebih menarik?" "Iya?" lagi-lagi ia menatap Leo tak mengerti dan kembali membuatnya salah tingkah karena lelaki itu entah kenapa tersenyum tipis kepadanya. "A-apa yang anda bicarakan?" "Lihat saya Cailey!" ujar Leo kesal karena istrinya itu selalu saja menghindarinya. "Ka-katakan saja yang ingin anda bicarakan." jangan heran Cailey akan selalu tergagap bukan karena takut pada suaminya, tapi ia hanya salah tingkah dengan Leo yang sengaja menggodanya karena lelaki itu sekarang telanjang d**a. Menampilkan perut keras tak berlemak terpahat bak roti sobek yang selalu saja membuat pikirannya melayang dan akan membuat otaknya membayangkan hal yang lebih kotor menanti lelaki itu melepas kain terakhir yang masih menempel di tubuhnya. "A-ap-apa anda tidak ingin memakai baju anda terlebih dahulu?" "Saya akan tetap di sini sebelum mata itu menatap saya." "Anda membuat saya tidak nyaman tuan." cicitnya yang langsung membuat Leo terkekeh pelan. "Kenapa tidak nyaman, bahkan saya sangat senang hati memanjakan matamu yang sering kali mencuri padang melihat tubuh saya yang polos." Cailey gelagapan mendengar itu, ia kembali memasang wajah tak peduli meskipun jantungnya berdetak semakin kencang. "Sudahlah, anda hanya akan merusak moral saya." "Merusak?" Leo menyeringai melihat gelagat tak nyaman dari posisi duduk gadis yang sudah menjadi istrinya. "Moral apa yang saya rusak, kalau orang yang saya lihat sekarang tumbuh di negara yang akan membiarkan masa remajanya lepas keperawanannya sebelum mereka menikah." "Jangan samakan saya dengan mereka, saya tidak sebodoh itu." lagi-lagi Leo tergelak mendengar perkataan istrinya. "Dengan kamu memiliki kekasih yang gila seks, apa itu menjamin dirimu masih perawan." "Apa yang anda katakan, Mike tidak seburuk yang anda pikirkan." seru Cailey tak terima mendengar ejekan Leo. "Wow...! " Leo tepuk tangan lagi-lagi ia menyeringai karena berhasil membuat emosi istrinya meledak-ledak. "Apa kamu punya bukti?" "Bukti? Bukti apa yang anda maksud?" "Kalo pemuda yang kamu bela tak pernah menyentuhmu, sedangkan dia di luar sana telah menghamili dan menggugurkan janin tak bersalah karena perbuatan bejatnya." "Apa maksud anda, dan darimana anda mengetahui itu semua?" ujar Cailey menyipit, mulai menyadari sesuatu yang tak beres telah terjadi. "Jangan pernah mengatakan, kalau Mike juga anda bunuh?" Leo hanya mengendikan kedua bahunya, ia beranjak dari duduknya lalu melangkah ke arah meja dan membuka lacinya untuk mengambil sesuatu. "What the fuckk are you doing," pekiknya karena Leo sudah memborgol kedua tangannya, lalu menggendongnya layaknya karung beras dan membawanya masuk ke kamar mandi. "Hey, are you kidding me?" seru Cailey, sekujur tubuhnya basah karena ia di hempaskan ke dalam bath up yang penuh dengan air serta busa mengembang dengan aroma bunga lily memanjakan. "Mandi." Cailey melongo mendengar jawaban singkat Leo, ia sontak memejamkan mata karena suaminya itu melepas handuk yang tadi melingkar di pinggang. Tubuhnya tergeser saat Leo duduk di belakangnya, seolah semua itu adalah hal biasa. "Lepaskan saya." pekiknya lagi karena Leo mulai menggunting bajunya dan membiarkan tubuh atasnya polos. "Ap-apa yang anda lakukan tuan?" suaranya bergetar karena dirinya sekarang sudah telanjang bulat meskipun tubuhnya tertutup busa-busa yang mengembang. "Membantumu mandi." "Sa-saya bisa mandi sendiri." cicitnya saat Leo berbisik di telingannya, hembusan nafasnya membuat sekujur kulitnya merinding hingga dirinya mulai bergerak-gerak tak nyaman di depan Leo. "Tidak, hari ini saya ingin mandi bersama istri saya." "Ta-tapi anda sudah berjanji tidak akan menyentuh saya tanpa persetujuan saya tuan." "Ap-apalagi tidak akan ada anak di antara pernikahan kontrak kita tuan." seketika gairah Leo menguap mendengar kalimat itu, ia beranjak dari sana dan melepaskan borgol yang berada di pergelangan istrinya. "Mandilah, dan saya tunggu di bawah untuk makan malam." ujar Leo dengan nada dingin, yang selalu saja mampu membuat Cailey ketakutan melihat mata gelap penuh amarah itu. Entah kenapa melihat Leo yang keluar begitu saja dari kamar mandi membuat dirinya kecewa karena gagal merasakan sentuhan lelaki itu. Dirinya merasa begitu birahi melihat tubuh telanjang Leo, seketika membuat bagian intinya basah dan minta di manjakan. "Apa yang aku pikirkan, pernikahan ini tidak nyata. Dan laki-laki itu mengatakan tak memiliki niat lain selain menolongmu Cailey." gumamnya sendiri lantas cepat ia mandi dan menyusul Leo yang sudah menunggunya di meja makan tanpa melihat dirinya sama sekali meskipun ia duduk di hadapannya. "Bi, apa ada bubur?" "Maaf non?" "Hanya saja saya malas mengunyah bi." "Makan nasi, sebelum saya meminta mereka membuang semua ini ke tong sampah." ujar Leo santai tanpa melihatnya. "Kenapa di buang, ini terlalu banyak dan sayang bila hanya masuk ke tong sampah anda tuan." ujarnya dengan cepat mengambil beberapa makanan yang nampak begitu lezat, lalu menyuapnya dengan lahap tanpa menyadari sedari tadi Leo tersenyum melihat tingkahnya. "Bi Sri, nanti kalo tidak ada yang memakannya kamu bisa langsung membuangnya. Saya sudah kenyang dan akan melanjutkan pekerjaan saya, tolong siapkan teh hangat untuk saya." "Baik mas Leo." Cailey memandangi setiap menu makanan yang terhidang di meja makan, wajahnya nampak muram lalu kembali menyuapkan lagi nasi dalam sendok ke mulutnya. "Apa dia selalu begitu bi?" "Apanya non?" "Apa tuan Leo akan membuang makanan bila dia sudah kenyang dengan nasi sedikit di piringnya tadi?" "Eh itu-" bi Sri memandangi Leo yang masih berdiri di balik tembok, lelaki itu mengedipkan mata membuat wanita paruh baya itu mengerti dengan arti tatapan itu. "Iya non, mas Leo akan membuang makanan yang sudah tak menjadi seleranya." "APA?" bibi Sri mengangguk tiba-tiba wajahnya menjadi mendung menatap Cailey. "Begitulah mas Leo, apalagi kalo non Cailey tak mau makan masakan bibi. Bibi harus membuangnya semuanya ke tong sampah." "Kan sayang bi." Cailey cemberut, lagi-lagi ia memandangi satu per satu piring yang masih banyak makanan belum tersentuh. "Jadi apa non mau memakannya? Karena bibi nggak mau kucing bibi yang lainnya mati gara-gara makanan tak tersentuh ini." "Hah?! Ma-maksud bibi, tuan Leo membunuh kucing bibi hanya karena makanan?" "Bukan non, kucing bibi kekenyangan karena memakan sisa makanan tuan Leo." Cailey merasa cengo dan melongo mendengar fakta itu, ia lantas menyendok lagi sayur lainnya yang dari tadi ia lirik. "Tenang saja bi, biar saya habiskan makanan-makanan ini." ia segera menyuapkan nasi ke mulutnya sampai penuh. "Jangan sampai kucing bibi jadi korban karena makanan lezat ini." ujarnya merenges dengan mulut mengerucut penuh makanan. Bibi Sri hanya menggeleng-geleng kepala, dalam batinnya ia berfikir kenapa majikannya mempersunting gadis yang masih bisa di bilang belia karena usianya belum genap dua puluh tahun. Sikapnya yang labil dan kekanak-kanakan terkadang membuat Leo harus memeras otaknya dan berubah menjadi sosok orang lain hanya demi merayu istrinya agar makan yang keyang. "Ya sudah, bibi hari ini bisa tenang. Makasih ya non, bibi ke dapur dulu." Cailey mengangguk semangat, ia dengan lahap memakan satu per satu setiap menu yang terhidang dalam piring tersebut. Melihat bibi Sri masuk ke dalam dapur, Leo segera mengirim pesan ucapan terima kasih kepadanya lantas ia beranjak dari tempatnya bersembunyi di balik tembok ruang makan. "Haha mas Leo benar-benar menggemaskan." ujar bi Sri yang membaca pesan darinya, lantas membalas emot oke serta gambar hati seolah ia sedang menggoda majikannya itu. Matanya beralih pada seekor kucing coklat miliknya tiba-tiba membuat hatinya merasa bersalah kepadanya. "Maaf ya pus, semua ini demi majikan kita. Jadi aku harus memainkan drama tadi agar istrinya mau makan." mengusap-usap kepala hewan yang berbulu itu, lalu beranjak meneruskan mencuci perkakas alat tempur miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN