Cailey

1342 Kata
Hari setelah Leo memutuskan untuk membawa gadis kecil itu bersamanya, hal itu membuat keluarga besar Harrison heboh karena melihat putra semata wayang mereka membawa seseorang perempuan cantik meskipun masih muda tapi wajahnya sangatlah mempesona. Mereka tentu bertanya-tanya, ini kali pertama bagi Leo berhubungan dengan lawan jenis, pasalnya lelaki tak pernah berkencan atau memiliki pasangan sampai sekarang. "Siapa itu nak?" tanya ibunya yang heran mendapati putranya menggendong seseorang yang nampaknya tertidur begitu pulas. "Calon menantu anda." ujarnya tenang ia berlalu tanpa niat menjelaskan lebih detail karena tubuhnya pun begitu lelah untuk hari ini. Jessy melongo takjub dengan jawaban putranya, ia memutar badan menatap suaminya yang duduk di sofa dengan wajah yang begitu sumringah. "You heard it, Gary...!? Our son made my dream come true, and soon I will have grandchildren." wanita paruh baya itu melompat-lompat bahagia membuat suaminya tersenyum menatapnya. "Sepertinya gadis tadi sangat berharga untuknya, hingga mampu membuat putra kita luluh padanya." "Exactly, she is so beautiful right?" lelaki paruh baya itu meraih pinggang istrinya untuk duduk di pangkuannya. "In my eyes, only you are beautiful princess." "Ish, aku serius sayang." "Aku juga." ujar Gary menyeringai tangannya meremas pinggang istrinya. "Dasar tua-tua keladi." Jessy beranjak dari pangkuan suaminya, ia berlari kecil begitu riang gegas menuju kamar mereka. Tangannya cepat meraih ponsel miliknya yang tadi dia simpan di atas nakas, menggulir layar ponselnya mencari-cari nama yang akan ia ajak berghibah. Tut... Tut.... Nada sambung terus berbunyi tapi tak ada yang menjawab membuat dirinya kembali meneleponnya, berharap panggilan yang kedua di angkat oleh seseorang yang berniat ia hubungi. Hallo... "Hallo jeng." Hey, sombong amat Jes, kemarin-kemarin kemana aja? "Haha, maaf ya. Habis kalo mau hubungin kalian pasti udah pada tidur." Ck... Alasan doank ah, gimana kabarnya nih? "Aku baik Mir, amat sangat baik untuk hari ini." ujarnya senang membuat mama Mira terkekeh mendengarnya. Syukurlah, Gary sama keluarga di sana sehat? "Mereka sehat, kamu sendiri apa kabar ni?" Ah kita semua juga baik. ibu Leo mengangguk paham lalu mendengarkan lagi ucapan mama Mira. Rasa-rasanya ada yang bahagia ni, ada cerita apa ni? Mendengar pertanyaan itu Jessy ibunda Leo langsung senyum merekah lantas duduk di pinggir ranjang sambil berdeham guna menjernihkan suaranya. "Iya Mir, aku lagi bahagiaaaaa banget. Karena Leo membawa calon istrinya pulang, nggak nyangka kan kamu?" Masa sih? Yakin itu calon istrinya? "Ck, nggak percaya banget sih jeng." ujarnya berdecak sebal. Hahaha, aku percaya... Dasar bawel. "Nah gitu donk." Udahan dulu Jes, nanti sambung lagi. Sudah waktunya makan malam disini. "Oke, salam ya buat kalian." Jessy menutup panggilan teleponnya lantas mencari-cari nama kontak lainnya untuk melanjutkan gibahnya. Memang wanita paruh baya itu selalu menjadi yang terdepan dan terheboh apalagi sekarang menyangkut calon menantunya yang di bawa pulang sendiri oleh putra semata wayangnya. Sedangkan di tempat lain mama Mira nampak gelisah, karena ia merasa kalah start dari sahabatnya yang tinggal di London itu. "Nggak boleh dibiarin nih, masak aku kalah dari Jessy." gerutunya berjalan mondar mandir di ruang tengah sambil menyusun rencana. "Aha aku harus maksa suamiku buat ngerayu Bimo biar cepet-cepet nikah, sebelum keduluan dari dia." mama Mira yang hendak menyusul suaminya di kamar pun urun karena papa Ibnu sudah berjalan menuruni tangga sambil memandangi ipadnya. "Pa..." "Mmm." "Ish papa, dengerin mama dulu." ujar Mira menggoyang lengan suaminya, lalu menariknya untuk duduk di sofa ruang tengah. "Ada apa sayang." ujar papa Ibnu lantas meletakan ipad miliknya di meja kemudian menatap istrinya dengan matanya yang sudah berkaca-kaca membuatnya menyerengit tak mengerti. "Kamu kenapa sayang?" Mama Mira memulai aksinya, ia menangis sesenggukan menceritakan perihal yang telah terjadi satu bulan lalu mengenai tragedi makan siang dan istri David yang melahirkan. Tapi rencana yang ia susun begitu matang harus hancur dengan reaksi suaminya, karena papa Ibnu malah tertawa terpingkal-pingkal dan tak merasa terprovokasi sama sekali membuat mama Mira geram dan menghukumnya tak membiarkan ia tidur bersamanya di kamar. ***** "Jadi bisa jelaskan siapa dia?" ayah Leo memulai percakapan di pagi hari di saat mereka sarapan membuat Leo menghentikan kunyahannya sejenak lalu melanjutkan makannya lagi tanpa niat menjawabnya. "Sayang, kenapa calon istri kamu tidak kamu ajak sarapan bersama kita." "Dia sedang tidak enak badan." "Leo... Ayah mengerti tentang kasus kamu yang ingin membalas dendam sekelompok mafia itu, tapi kamu jangan lupa semakin kamu mengejar mereka semakin dalam jurang yang kamu gali nak." ujar Gary yang selalu mengingatkan Leo untuk tidak gegabah, meskipun ia tahu betul dengan sifat putranya. Leo selalu berfikir masak-masak sebelum bertindak yang membuat dirinya mampu menyingkirkan musuh mereka. Tapi masalahnya kasus yang ia gali adalah kasus beruntun yang berkaitan banyak pihak, yang mungkin akan memakan waktu yang sangat lama untuk membereskan mereka satu per satu. "Leo mengerti, anda tidak perlu khawatir." "Sudahlah jangan membahas masalah kantor di sini." ujar Jessy mencoba menengahi. "Jadi kapan kamu akan menikahinya sayang?" "Hari ini...?!" jawabnya singkat membuat kedua orang tuanya terkejut bukan main. "Tapi kita belum mempersiapkan segalanya nak." ujar wanita paruh baya itu panik tapi Leo masih saja tenang hingga ia mengatakan hal yang lagi-lagi membuat keduanya terkejut. "Tidak ada perayaan, cukup kita berempat karena saya tidak mau orang lain mengetahui pernikahan saya." "Tapi-" "Sudahlah Jes, anakmu tidak akan mengubah keputusannya." "Baiklah kalo begitu." ujar Jessy pasrah membuat Gary sedikit iba tapi tak bisa membantunya, karena Leo bukanlah lelaki yang mudah di kendalikan. "Nanti siang saya akan beri tahu anda berdua, dimana tempat saya menikahinya." Leo menyudahi makannya lantas beranjak dari duduknya. "Saya permisi." "Bawakan makanan untuk calon istri kamu nak." ujar Jessy hanya di angguki kepala oleh Leo, lelaki itu lantas menerima sebuah nampan sudah terisi penuh dengan makanan. Ia membawanya masuk kedalam kamar dan memberikan sarapan itu kepada gadis kecil tersebut. Hingga siang harinya, Leo benar-benar menikahinya. Mengucapkan janji suci dan hanya orang tuanya yang menjadi saksi, membuat gadis kecil itu menangis terisak-isak tapi ia tetap menyetujui pernikahan kilat sesuai keinginan lelaki yang masih sangat asing baginya. Malam harinya berlalu, bukanlah sebuah malam seperti pengantin baru pada umumnya, karena Leo menyetujui syarat-syarat keinginan gadis yang sekarang menjadi istrinya sebelum mereka menikah. Leo tak boleh menyentuhnya sebelum istrinya yang menginginkannya dahulu. "Apa anda benar memakamkan mereka dengan layak," "Iya." "Boleh saya menjenguk mereka besok pagi sebelum anda membawa saya pulang kembali ke Indonesia?" "Iya." "Terima kasih banyak." Leo benar-benar menuruti janjinya lagi, mengantar istrinya untuk menjenguk makam orang tua nya. "Dengan begini, kehidupan baru saya akan lebih berwarna." Gadis itu nampak bahagia memandangi batu nisan di hadapannya tertuliskan nama-nama anggota keluarganya telah di bantai oleh sekelompok lelaki asing yang berpakaian serba hitam hari itu. Meskipun lebih tepatnya pembunuhnya itu adalah suaminya sendiri, tapi entah kenapa ada rasa lega dari dalam lubuk hatinya karena selama ini dirinya hidup sengsara di bawah tekanan ibu tirinya. "Ayo kita pulang." ujar Cailey yang langsung di angguki oleh Leo. Pulang dari makam orang tua Cailey, Leo menyampaikan keinginannya pada orang tuanya bahwa ia akan kembali ke Indonesia karena terlalu lama mangkir dari pekerjaannya. Sebenarnya Jessy dan Gary masih merindukan putranya itu, tapi karena profesionalisme dalam kerja membuat kedua orang tua Leo tak bisa berbuat lain hanya mampu memberi restu serta doa kepada kedua pengantin baru tersebut. Semenjak itu Leo sama sekali tak membiarkan istrinya itu keluar dari rumahnya, membuat Cailey frustasi hingga melakukan aksi bunuh diri berkali-kali tapi tetap saja tertolong karena ia merasa di penjara setelah mereka kembali di Indonesia. Dalam pikiran Cailey saat ini, mati adalah sebuah keputusan yang sangat pas dari pada hidup bersama lelaki berdarah dingin yang sewaktu-waktu akan membunuhnya apabila Leo sudah merasa bosan padanya. "Non, makan dulu non." "Tidak bi, saya belum lapar." "Tapi non belum makan dari tadi pagi." ujar asisten rumah tangga itu yang hanya di tanggapi dengan senyum. "Nanti saja bi, saya masih mengantuk." "Ya sudah, nasinya saya taruh sini ya non." ujar wanita itu lalu permisi dari kamarnya. Cailey memandangi gelas kaca yang ada di meja bersanding dengan piring serta isinya. Ia meraih gelas tersebut lalu memecahkannya dan mengambil sebagian ujung pecahan kaca itu dan memposisikan di pergelangan tangannya. "Lebih baik aku mati dari pada hidup bersama monster sepertinya." ujar Cailey kembali merencanakan aksi bunuh diri selanjutnya tapi harus gagal lagi karena gelagatnya mudah di ketahui oleh anak buah Leo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN