Gadis lusuh

1651 Kata
"Nanti saya akan cuci piring jika anda berkenan memberi saya makan nasi seperempat porsi saja" suara gadis itu melas dan bergetar, seperti menahan tangis yang sudah hampir keluar. Bibir Candra bergerak ingin mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba... "Ada apa ini?" Tanya Saka yang sudah berdiri menjulang di dekat mereka. "A...." Ketika Fikri ingin menjelaskan kronologi kejadian, Saka keburu menatap tajam gadis lusuh yang menunduk di depannya dan bertanya, "Siapa dia?" Gak enak hati Candra menarik Saka menjauh  dari gadis itu. Dia mengkode Fikri agar menyiapkan tempat duduk buat si gadis. "Ada apa ini? Siapa dia?" Berondong Saka tidak sabar sekaligus heran. Kenapa malah dia yang di seret menjauh. "Sabar napa sih" gerutu Candra, "Emangnya kapan Lo balik? Kok gua gak denger  suara motor Lo?" Saka hanya diam menyilangkan tangan di d**a. Baginya pertanyaan Candra tidak penting dan tidak perlu di jawab. Candra mendesah, "Iya iya gua jawab. Gak sabar amat sih" Candra bergeser, yang semula berdiri di depan Saka kini dia beralih di sampingnya . Diperhatikannya gadis lusuh yang duduk di meja nomer 2 itu. Sedari tadi kepalanya terus saja menunduk menyembunyikan wajahnya. Candra tebak gadis itu pasti sedang gemetar, terlihat dari jemarinya yang saling memilin kuat seakan sedang berusaha keras untuk menekan gemetarannya. "Gua gak tau dia siapa, tiba-tiba saja dia datang dan minta tolong, minta makan nasi barang seperempat porsi saja. Katanya nanti dia bayar dengan cara cuci piring" jelas Candra "katanya sudah seminggu gak makan nasi" "Lalu?" Candra menatap Saka kaget, "LALU?" dan seketika langsung marah, "LALU LO BILANG!!!!", suara naik 5 oktaf, "Lo habis pulang dari nuker duit kerasukan jin pailit ya. Tega banget Lo bilang 'lalu?'" naik 7 oktaf "Gua tau Lo itu orangnya emang gak peka, dingin, cuek dan kaku. Cuma gua gak nyangka kalau Lo emang setega itu. Kejam Lo Ka" naik 10 oktaf dan melow. Saka mendesah sebal. Dongkol juga liat si Candra ngamuk-ngamuk gak jelas, "maksudku...lalu apa udah kamu kasih makan tuh si mbaknya? Hadceeeehhhh" "Oooo....", Si cowok ngamuk speechless,tersenyum canggung,"belum. Hehehe" "Kamu kira rasa kasian aja bisa buat dia kenyang" omel Saka meninggalkan Candra berjalan masuk area dapur. "Bukannya gua nggak mau ngasih makan Ka. Tadinya gua mau ngasih makan tapi keburu lo dateng dan nginterogasi nggak jelas" Saka mengambil nasi di mangkok. Dicetak dan diletakkan di piring besar. "Siapa yang nginterogasi?" "Kan tadi lo tanya siapa cewek itu?" "Bilang aja kalau kamu gak mau ngambilin makan buat dia." "Bukannya gitu Ka!!!" Bela candra Saka membuka etalase yang berisi lauk pauk. Mengambil ayam goreng dan ditaruh di samping nasi,"Lalu apa?" Dilanjutkan mengambil sambal dan lalapan. Ditata begitu apik di atas piring nasi. "Kan keburu lo dateng. Jadinya belum sempat." Candra gak mau kalah. "Kebanyakan alesan. Udah ambilin teh anget dulu buat dia" Candra mau protes lagi tapi Saka  sudah berjalan meninggalkannya, menghampiri gadis yang menunduk itu sambil membawa nasi. "Silahkan dimakan dulu mbak," dengan hati-hati Saka meletakkan piring nasi ayam di depan gadis itu. Ketika gadis itu mendongak dan mata mereka bertatapan tiba-tiba saja Saka kaget dan spontan mematung. "Terima kasih." Ucap gadis itu tersenyum membuat tubuh Saka semakin kaku. Tatapannya tidak bisa beralih dari senyum tulus di depannya. Senyum itu. Ekspresi itu. Entah mengapa membuat Saka seketika nge-bleng. "Ini minumnya mbak" Sebuah senggolan di lengan Saka membuatnya tersadar. Candra meletakkan segelas teh hangat di meja gadis itu sekaligus menyenggol Saka yang sempet melongo tadi. Candra terkikik geli melihat wajah Saka yang kikuk. Tanpa aba-aba lagi Saka langsung pergi meninggalkan meja si gadis. Sayup-sayup masih terdengar suara gadis itu berterima kasih pada Candra atas minumannya. "Gimana Ka? Cantik kan?" Goda Candra sudah berada di meja kasir. Mengekori Saka yang langsung pergi tadi. "Apanya?" Elak Saka. "Ya si mbak itulah," jawab Candra menggebu-gebu, "walau mbak itu terlihat kucel tapi kecantikannya masih keliatan dan gak ketulungan" histeris cowok itu bahkan tanpa menutupi ketakjubannya. Matanya berbinar kagum. "Itukan menurutmu" Candra tertawa mengejek,"Aish emang susah ya ngajak ngomong cowok sok cool kayak lo. Udah tadi kepergok sampek melongo liatnya,ehhh sekarang masih ngeles dan gak mau ngaku. Anjrit lo Ka emang. Bwahahaha." Seketika wajah Saka menghangat. Untuk menutupi rasa malunya,cowok cool itu pura-pura mengecek bon-bon yang sudah masuk sejak sore tadi. "Nih pesanan si mbak yang kamu godain tadi,udah jadi Can." Danu datang membawa 2 kotak pesanan ayam bakar. "Asssiiiaappp." Candra meraih kotak tersebut dan langsung melesat menuju 2 cewek pemesan ayam bakar. "Godain siapa lagi dia?" Tanya Saka basa-basi untuk mengalihkan rasa malunya. "Tuh..." Danu mengendikkan dagu,menunjuk 2 cewek yang disamperin Candra, "mau ikutan dibungkus juga katanya. Di bawa pulang juga mau dia" "Basi!!!" Olok Saka. "Tapi Ka, tumben kamu liat cewek sampek terpesona segitunya," heran Danu mengingat kembali mimik wajah Saka ketika terpukau, "kemaren pas digoda cewek yang cantiknya kayak IU aja kamu gak lirik," curiga Danu. Karena setahunya,semenjak kenal Saka,cowok itu tidak pernah terlihat tertarik dengan cewek. Bahkan yang secantik artis pun tidak ada yang menarik minatnya. Saka hanya mengendikkan bahu. "Mungkin benar apa kata Candra," sekarang dia mulai berspekulasi. "Jangan-jangan kamu sudah kena sindrom aura kecantikan cewek itu yang terlalu kuat." "Kamu lama-lama ketularan si Fikri, Dan. Lebay." "Gak juga. Aku hanya rasional gara-gara melihat sikapmu tadi. Kamu...." "Ma... Maaf..." Tanpa mereka sadari,gadis lusuh yang jadi perbincangan itu tiba-tiba udah berdiri di dekat mereka. Menghentikan ocehan Danu. "Ya?" Tanya Saka. "Saya sudah selesai. Terima kasih atas hidangannya. Sungguh sangat enak sekali."puji gadis itu tulus. "Iya. Sama-sama." "Kalau boleh tahu, dimana tempat cuci piringnya?" "Udah mbak. Gak usah. Saya ikhlas kok" Saka mengerutkan alis mendengar Danu yang menjawab. "Untuk yang secantik mbak. Apa sih yang nggak" sekarang saka malah mengangkat alis,takjub dengan rayuan yang di sertai senyuman maut Danu. "Gak mas. Saya yang gak enak. Tolong ijinkan saya membantu cuci piring sebagai ucapan terima kasih saya." "Gak .... aduuh!!!"Danu sudah mangap mau melayangkan tolakan dan rayuan lagi tapi punggungnya segera di tepuk Saka dengan keras. "Terima kasih kak atas tawarannya. Kalau gak merepotkan tempat cucinya di sebelah sana." Saka menunjuk arah tempat cuci piring. Tidak terlalu jauh dari tenda warung. Ada di pojok salah satu toko yang sudah tutup. Ada kran air pendek di  depannya. "Terima kasih mas." Gadis itu langsung menuju tempat yang ditunjuk Saka tadi. "Kok kamu tega gitu Ka?" Setelah tadi diprotes Candra, sekarang ganti Danu yang protes. "Kakak itu memang gitu orangnya. Dia gampang gak enakan. Dia bakal terus ingin membantu sebagai balasan atas kebaikan orang lain." "Kok kamu tau Ka?" Tiba-tiba saja Saka seperti baru sadar dengan ucapannya sendiri. Di raihnya lagi bon-bon yang sudah di cek tadi. Entah mengapa dia merasa gugup,"keliatan dari wajahnya." Danu tertawa,"Sejak kapan kamu jadi dukun pembaca wajah orang Ka? Hahahaha." "Cereweeeetttt.... Dah mulai masak lagi sana. Tuh pelanggan dah mulai berdatangan lagi." "Oke siap pak bos" setelah berlagak hormat kayak tentara, cowok pecinta masak itu langsung melesat ke dapur. Ke empat sekawan itu mulai sibuk kembali. Pukul 01.00 dini hari pengunjung sudah mulai sepi. Bahan makanan pun juga tinggal dikit. Saka mengomando untuk tutup lebih awal karena biasanya warung pangeran itu tutup jam 03.00 pagi. Fikri dan Candra girang bukan kepalang. Tapi Danu agak curiga dengan sikap Saka. Mereka ber-4 mulai mengemasi lapak. Menata piring-piring, gelas ke box penyimpanan. Me-lap dan menggotong meja kursi ke gudang penyimpanan dekat deretan toko. Menggulung tikar dan merapikan tenda. Setelah semua selesai mereka agak heran melihat gadis lusuh tadi masih berdiri di dekat tempat cuci piring dan belum pergi. Fikri yang berinisiatif menghampiri gadis itu. "Mbak kok belum pulang?'tanyanya lembut. "Gak boleh pulang dulu kata mas-nya tadi." "Gak boleh sama siapa mbak?" Tanya Fikri bingung. "Sama mas yang itu." Gadis lusuh itu menunjuk Saka yang mendorong gerobak dengan Candra. "Bentar ya mbak. Gua tinggal dulu."Tambah bingung, akhirnya Fikri menghampiri kedua cowok itu, sekalian membantu mendorong gerobak. "Ka,kata si mbak itu lo ngelarang dia pulang?" "Iya" "Kenapa?" Kepo Candra. "Karena dia gak ada tempat untuk pulang." "Maksudnya?" Fikri "Dia gak punya rumah." "Haaa...!!!!" Kaget dua cowok itu sampai berhenti mendorong gerobak. "Dari mana lo tau?"cecar keduanya. Saka menghela nafas sebal melihat dua cowok kunyuk di sampingnya, "tanya aja dia sendiri kalau gak percaya," cueknya melanjutkan mendorong gerobak sendirian sampai benar-benar berada di tempat biasanya. Candra dan fikri mau protes tapi Saka segera ngacir meninggalkan mereka. Males ngeladeni 2 tukang protes. Dia menghampiri gadis itu yang berdiri ditemani Danu. Akhirnya mau tak mau kedua tukang protes pun ikut menyusul. "Gimana Dan?" Tanya Saka berbisik. "Bentar aku tanya dulu." Balasnya berbisik-bisik juga. "Nama mbak siapa?" Danu bertanya sopan. Gadis itu awalnya diam,ragu. Tapi setelah beberapa detik kemudian dia menjawab pelan. "Lala" Tiba-tiba saja ada yang aneh pada Saka. Kaget yang menyengat,seperti tersengat listrik. Dia seperti jadi agak gelisah dan gagal untuk bersikap tenang. "Siapa?" Ulang Saka, lebih seperti ke menuntut dari pada bertanya sopan kayak Danu. Gadis itu menatap mata Saka dan tersenyum. Kini dia menjawab lebih mantap, "Lala" Saka mengamati kedua mata gadis yang mengaku bernama Lala itu beberapa detik lalu mengangguk dan kemudian diam. "Mbak mau ke mana sekarang?" Kini ganti suara Candra yang bertanya, "mau gue antar ke kantor polisi? Wadauuuuww" kaget. Ternyata Fikri menginjak kaki Candra kuat dan memelototinya. "Mau aku antar ke RT atau RW setempat mbak? Biar mbaknya aman." Danu menawarkan. "Gak usah mas. Makasih" balas Lala tersenyum. Senyum yang sanggup menghipnotis cowok-cowok itu. Aish busyet dah. Senyumnya bikin diabetes beud. Candra Aje gile...bikin hati brondong meleleh ning. Fikri Duuuhhhhhh emak...boleh gak aku bawa pulang kampung yang manis atu nih. Danu "Ikut kami aja kak. Pulang ke rumah huni kami" Haaaaa....!!!! Bukan hanya Lala aja yang kaget atas ajakan itu. Ketiga cowok yang sempat terlena dengan senyum Lala itupun juga gak kalah kaget dengan tawaran Saka. Bahkan mereka sampai melongo dengan perubahan cowok yang terkenal super cuek itu. "Gimana?" Dan lagi-lagi nada pertanyaan Saka seperti seperti bukan orang bertanya, tapi orang yang menuntut jawaban 'iya'. Ketiga cowok yang melongo itu ganti melihat Lala. Gadis yang entah mengapa, walau lusuh tapi punya daya pikat yang begitu kuat. Lala masih diam, bingung. "Gimana? Mau?" Tuntut Saka lagi. "Baiklah. Jika tidak merepotkan mas-mas ini saya mau."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN