4. Ikut Pulang

1030 Kata
"Kakak tinggal di gudang lantai dua gak papa?" Tanya Saka ketika tiba di rumah huni mereka. Rumah sederhana dengan dua lantai. Ada tangga di luar rumah yang menuju langsung ke lantai atas. "Hei...kok disuruh di gudang sih Ka? Gudang kan kotor banget." Protes Danu berbisik tapi cukup terdengar oleh semua orang. "Apalagi di sana kan cuma ada barang-barang rongsokan," tambah Candra ikutan berlagak bisik-bisik. Padahal suaranya lebih keras dari Danu. "Saka, gua kira hati dingin lo udah mencair ternyata malah makin parah  seperti kutub selatan." Fikri mendramatisir. Saka hanya mengamati ke-tiga kawannya yang lebay, "Memangnya kenapa? Aku malah ragu jika nanti kak Lala ikut kita di lantai satu dia akan aman" tangannya bersidekap, "apalagi jika sama kamu Can," tandasnya. "Kok gua Ka?" "Siapa lagi di sini yang bisa ngalahin predikat fakboy sekelas kamu?" Candra tersenyum canggung, "hehehe, gak sampai segitu kali Ka. Gua janji dech gak bakal gombalin si mbaknya." "Benarkah?" "Tergantung juga sih. Hehehe," Saka hanya menaikkan alis dan tersenyum sinis. Nah kan. "Tenang aja guys," Fikri menepuk-nepuk bahu saka dan Candra yang berada di samping  kanan kirinya, "gua pasti akan menjaga mbak Lala dengan segenap jiwa dan raga gua." Pletak. Wadawwww. "Halah dasar bocil lo. Gua kepret baru tau rasa lo." Umpat Candra memiting leher Fikri. "Hahahaha..." Tiba-tiba terdengar suara tawa renyah Lala memperhatikan keempat sekawan itu. Baginya mereka sungguh lucu. Seperti anak-anak kecil yang saling memperebutkan permen kesukaan. . Seperkian detik kemudian dia memelankan tawanya ketika melihat 4 cowok itu heran memperhatikannya. "Hehehe maaf jika saya tertawa terlalu keras. Kalian sungguh imut ketika bertengkar." Lala tertawa kembali tapi kini lebih kalem. Tawa yang begitu manis. Tawa yang sanggup membuat cowok-cowok di depannya jadi bertingkah aneh. Candra melongo terpesona. Fikri wajahnya memerah, tersenyum malu-malu. Danu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dan Saka. Cowok itu hanya memandang takjub Lala. Takjub dan........rindu. "Oke kalau gitu saya ke atas dulu ya," pamit Lala menyadarkan mereka. "Gua antar mbak!" Tawar Fikri. "Jangan!!!" Cegah Danu, "ntr kamu gak turun-turun lagi dari gudang. Aku aja yang antar." "Enak aja lo!!!" Protes Candra dan langsung mengamit tangan Lala, "ayo mbak gua antar ke atas." Baru aja satu langkah berjalan tiba-tiba Saka melepaskan genggaman tangan Candra dengan paksa. "Woooiiiii....hemmppppttt" Tak memberi kesempatan Candra untuk protes, Saka langsung membekap mulutnya, "Maaf kak atas sikap para bocah tengil ini. Kakak gak papa kan jika naik ke lantai dua sendiri?" Lala mengulum senyum, "Gak papa mas." "Oke. Silahkan ke atas dulu kak," setelah Lala mengangguk, Saka langsung menyeret Candra masuk rumah. Danu dan Fikri yang tadi sempat ngotot-ngototan ingin nganter, akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti langkah Saka. Lala tersenyum melihat kelakuan para cowok yang baru dikenalnya itu. Entah mengapa dia bisa langsung merasa nyaman dengan mereka. Mungkin karena tingkah cowok-cowok itu kayak bocah. Atau mungkin dia merasa mereka seperti keluarganya dulu. "Ahhhhh.... Keluarga ya," desahnya pahit. Dilangkahkannya kakinya menaiki tangga menuju lantai dua. Di lantai dua begitu luas. Gudang yang disebutkan cowok yang bernama Saka tadi tak terlalu besar. Justru terasnya yang mendominasi. Dan teras itu begitu penuh dengan barang-barang rusak. Lala mengeluarkan kunci yang sempat diberikan Saka tadi dan membuka pintu gudang. Ceklek. Tik. "Waaaaahhhhh ternyata benar-benar kotor." Lala takjub melihat ruangan yang baru saja di nyalakan lampunya. Benar-benar mewakili tempat dengan nama  'gudang'. Tapi gadis itu tidak mempermasalahkannya sama sekali. Bisa tidur di tempat tertutup dan tak berangin, baginya sungguh luar biasa. Mengingat seminggu ini dia hanya bisa istirahat di emperan toko atau pinggiran jalan. Ini sudah anugrah baginya. Dia mulai merapikan gudang tersebut. Tidak harus semuanya. Yang penting ada sedikit tempat bersih untuk tidurnya malam ini.  Esok baru di bersihkan totalitas. Dia menghampiri kursi sofa panjang yang berada di tengah-tengah gudang. Kursi sofa yang sudah sobek dan keliatan busanya itu masih terlihat  bagus. Cuma gak di rawat dan malah di pake untuk penumpukan barang sembarangan. "Oke sepertinya aku bisa tidur di sofa ini untuk sementara." Diambilnya beberapa barang yang ada di kursi sofa. Ada beberapa mangkok, peralatan dapur, dan juga beberapa gelas plastik. Ada juga beberapa helai kain yang dia gunakan untuk membersihkan debu-debu di sofa. Tok tok tok Lala menoleh ke asal suara. Ternyata ada Saka yang berdiri di depan pintu yang terbuka. "Maaf kak, bisa keluar sebentar? Ada yang mau aku katakan." "Iya, bisa." Lala melangkah keluar gudang menyusul Saka yang berjalan di dekat pagar pembatas lantai dua. "Maaf kak tempatnya sangat kotor ya?" Lala tersenyum manis, "gak papa mas. Saya yang terima kasih atas kebaikan mas" Saka menyerahkan selimut di tangannya, "ini kak ada selimut biar gak dingin." "Terima kasih mas." 'Dan ini ada beberapa kaos dan celana aku buat ganti kakak untuk sementara." Lala melongo menerima pemberian Saka yang ini. "Maaf kak gak ada baju ganti cewek. Soalnya semua penghuni rumah semuanya cowok" Lala tertawa. Lucu menghadapi sosok Saka yang ini, "Gak papa mas. Kenapa mas yang dari tadi malah minta maaf. Justru aku yang seharusnya minta maaf sudah merepoti kalian semua." Saka tersenyum canggung, "Gimana kalau jangan panggil mas kak. Panggil Saka saja." "Memangnya mas umur berapa?" "Aku 25 kak." "Waw ternyata umur kita terpaut jauh ya" Lala tertawa, "oke aku panggil Saka aja ya?" Saka hanya mengangguk. "Oke Saka. Perkenalkan saya Lala umur 31tahun," Lala mengulurkan tangan. Ragu, Saka hanya menatap uluran tangan Lala. Apa kejadian dulu harus di ulangi lagi. Tapi tak lama kemudian dia seperti orang yang berusaha memantapkan hatinya dan menerima uluran tangan Lala, "Oke perkenalkan aku juga. Aku Saka umur 25 tahun." "Gua Candra 25 tahun" "Aku Danu 26 tahun" "Gua Fikri 23 tahun. Paling muda dan yang paling ganteng" "Wuuuuuuuuuuu...." Tiba-tiba aja nongol tiga serangkai pengacau. Dan Fikri langsung kena piting Candra dan Danu gara-gara ke-pedea nya. Mereka terus saling eyel dan gak ada yang mau mengalah. Bahkan Saka yang gak tahu menahu di ikut sertakan kena piting. Mereka beralasan Saka gak  setia  kawan karena menemui Lala tanpa sepengetahuan mereka. Lala hanya tertawa melihat kekonyolan para cowok itu. Dia melihat mereka sebagai adek-adek kecil yang lucu dan imut. Dan siapa sangka justru adek-adek yang lucu dan imut itulah yang nanti saling keroyokan suka sama dia. Yang nanti selalu menemani dia. Yang nanti selalu menjaga dia. Yang nant saling berlomba cari perhatian dia. Yang nanti menjaga dia. Menolong dia. Dan juga menghancurkan dia. Siapa dia? Entah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN