5. G-String? Apa itu?

1864 Kata
Kabut tipis melapis rumput. Menampakkan siluet bayang-bayang hitam pepohonan yang tumbuh di pekarangan. Udara yang masih terasa dingin menyentuh kulit tak berselimut. Fikri menggigil. Menarik selimut yang berserak entah sejak kapan. Dinginnya udara pagi membuatnya ingin terpejam lagi. Tapi hidungnya tidak sinkron dengan matanya. Hmmmmm... Wangiiiii.... Hidungnya mengendus-endus. Aahhhh.... Sial...!!!! Umpatnya ketika mendengar perutnya berbunyi. Setengah sadar karena masih merasa ngantuk berat, cowok yang paling muda diantara pangeran lele itu turun dari ranjang. Mengikuti bau aroma masakan yang menggugah air liurnya. Apalagi perutnya juga terasa keroncongan. "Siapa?" Tanyanya agak kaget ketika sampai di dapur. Dia melihat seorang wanita yang memasak di dapur. Bukan si Candra yang seharusnya piket masak pagi ini. "Ooohhh sudah bangun? Maaf apakah saya terlalu berisik memasaknya?" Melihat siapa yang menoleh, Fikri langsung tersenyum kegirangan. "Nggak kok mbak. Gue memang biasa bangun pagi. Gak seperti para cowok yang suka molor di rumah sini." Bualnya Lala tersenyum, "Duduk dulu fik. Sebentar lagi masakannya matang." Fikri girang mendengar penuturan Lala. Bukannya duduk dia malah langsung menghampiri Lala yang sedang memasak. "Mbak inget nama gua?" "Ingatlah. Siapa juga yang gak ingat adek manis kayak kamu" Makin merah lah wajah si Fikri. "Mau gua bantu mbak?" "Gak perlu. Bentar lagi hampir selesai." "Gak papa mbak. Gua bantu nata perlengkapannya di meja ya?" "Oke. Makasih ya fik" Lala mengusap-usap kepala Fikri lembut. Baginya Fikri seperti adek kecil yang baik dan penurut. "Ehem. Ehem." Lala dan Fikri menoleh ke asal suara deheman "Selamat pagi" Lala tersenyum. "Sudah selesai olahraganya Ka?" Saka gak langsung menjawab. Di lihatnya tangan Lala yang berada di atas kepala Fikri. "Hmmmm" jawabnya ambigu dan langsung ngeloyor pergi ke kamar. "Si bos kenapa mbak?" "Entah. Mungkin capek." Lala juga merasa aneh. Seingatnya tadi pagi pas ketemu Saka baik-baik saja. Cuma pamit mau olahraga setelah memberi ijin Lala yang ingin bikin sarapan. Gak mau ambil pusing Fikri segera menata meja makan. Membantu Lala menyiapkan segala keperluan untuk sarapan.  Setengah jam kemudian para penghuni sudah bangun semua dan segera menuju ruang makan. "Waaahhhhh makan besar nih." Danu yang pertama duduk di meja makan kagum melihat berbagai macam hidangan sarapan yang tersedia. "Busyeeet dah semua kok makanan kesukaan gua. Ihhhh mbak Lala tau aja yang gua suka" Candra datang dan langsung duduk menggoda Lala. "Emangnya ada makanan yang gak lo suka can?" Fikri mulai kerusuhan "Ada lah" "Cih... Apa emang?" "Semua makanan masakan lo gua kagak suka. Weeeekkkk" "Anjir lo!!!!" "Emang bener" "Gua tabok lo baru tau rasa" "Nih tabok nih. Nih" Candra menyodorkan kepalanya. Keduanya terus aja perang adu mulut. Lala hanya memperhatikan dan tersenyum melihat kelakuan dua cowok dewasa di depannya. "Kalian mau debat terus? Gak jadi sarapan nih?" Danu melipat kedua yangan di d**a. Mulai kesal. "Sarapan lah" kompak keduanya. "Oke. Siapa yang mau saya ambilin nasi dulu?" Tawar Lala dan seketika melongo. Ketiga-tiganya langsung menyodorkan piring mereka ke gadis itu. Bletak "Wadawwww" Bletak "Aduhhh" Bletak "Anjiiiirrrrrr....." "Emangnya kalian bocah SD. Sana ambil nasi kalian sendiri" Saka yang tiba-tiba datang dengan kejamnya langsung menjitak para berandalan anak buahnya. Ketiganya langsung berdiri sambil ngedumel tapi patuh. Berjejer rapi mengantri mengambil nasi di magic com deket kompor. Masih dengan merenggut ketiganya kembali ke meja makan. "Nah anak pintar" puji Saka tersenyum kayak seorang bapak yang senang anaknya mau menurut. Sekarang ganti cowok yang menjelma kebapakan itu giliran mengambil nasi. Diambilnya piringnya beserta piring Lala. Sekalian mengambilkan nasi untuk gadis itu. Dan lagi-lagi ketiga perusuh itu ngedumel-ngedumel gak jelas melihatnya. "Ini kak nasinya" "Makasih" Semuanya mulai sarapan dengan seru Candra, Fikri dan Danu tidak berhenti berdebat. Dan Saka sesekali menimpali dengan dingin. Lala hanya mengamati dan beberapa kali ikut tertawa mendengar ocehan mereka. Dia begitu senang melihat dan mendengar mereka adu mulut dan kadang saling menjitak. Dan Saka. Saka, cowok itu, walau terlihat acuh dan dingin tapi dia selalu mengamati Lala. Memperhatikan dan menatap intens. Intens dan penuh.......rindu. " Kak nanti tolong ikut aku belanja ke pasar ya" ajak Saka pada Lala. "Kok ngajak mbak Lala, Ka?" Protes Danu. Selama ini biasanya Danu-lah yang selalu menemani Saka tiap ke pasar. Bahkan jika Saka ada urusan di luar sampai beberapa hari, Danu di percaya untuk membelanjakan kebutuhan warung dan rumah sendiri. Selain karena dia koki warung, cowok manis itu juga lihai memilih dan memilah bahan makanan yang bagus. "Curang lo Ka!!!" Semprot Fikri, "masak lo mau gebet mbak Lala langsung." Lala kaget. Saka menahan amarah. Raut mukanya udah keliatan kesal. "Jangan bilang lo mau ngajak dia kencan!!!" Tuduh Candra. "BERISIIIIIIIIIKKKKKKK!!!" Saka membanting sendoknya ke piring dengan keras. "Kalian gak liat apa pakaian kak Lala? Masak iya dia harus pakai baju bekas kita terus?" Si para tukang rusuh langsung menatap Lala. Baju Saka yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Celana pendek di bawah lutut yang kebesaran juga. Melihat celana yang di pakai Lala, ketiga cowok itu langsung berpikir sama. 'kok celananya gak melorot ya?' 'Apa di ikat dengan tali rapiah?' Candra 'Apa di kasih cemiti kanan kiri?' Danu 'Apa perut mbak Lala buncit ya sampai gak melorot?' Fikri Dan ketika ketiganya kembali menatap wajah Lala setelah penilaian celana, pikiran mereka bersatu lagi. 'cantik.' mereka mulai senyum-senyum gak jelas, 'walau rambutnya di cepol keatas asal-asalan dengan wajah alami kayak gitu, malah keliatan imut. Cantik dan imut.' dan tanpa ada sebab musababnya ketiga jejaka itu malah kesengsem dengan wajah merona. "EHEM...EHEM...!!!" Saka berdehem keras membuat mereka sadar seketika, "ayo kak kita ke pasar!" Masih kesal, Saka langsung berdiri dan keluar menuju garasi. Lala yang masih agak bingung segera mengikuti Saka setelah pamit pada Danu, Candra dan fikri. Sejak diperjalanan menuju pasar naik motor, Saka belum berkata sepatah katapun sampai tiba di pasar. Sedangkan Lala agak ragu ingin memulai percakapan menilik kekesalan Saka di rumah tadi. Sebenarnya Lala juga agak bingung kenapa cowok pendiam ini begitu kesal. Akhirnya dia hanya mengikuti Saka mengelilingi pasar tradisional. Memilih dan memilah berbagai bahan makanan. "Kak tolong pilihkan tomat ini yang segar-segar ya!" Pinta Saka ketika mereka berhenti di pedagang sayuran. "Ah...iya" agak kaget Lala mendengar suara Saka. Aahhh.... Bodoh. Kenapa malah ngelamun sih. Rutuknya. Kedua sejoli itu kembali diam. Sibuk memilih dan menimbang berbagai macam sayuran. Selesai di stand sayuran mereka kembali berkeliling pasar. "Lho nak Saka, tumben gak sama si Danu?" Seorang ibu paruh baya dengan dagangan ayam potong di mejanya, menyapa Saka. "Gak Bu. Danu di rumah aja untuk hari ini." Jawab Saka tersenyum sopan. "Waaahhhh jadi hari ini nak Saka ngajak ceweknya nih?" Si ibu senyum-senyum menggoda. Lala melongo kaget, "saya bukan....." "Iya Bu" potong Saka, "hari ini lagi pengen belanja sambil kencan" "Kencan kok ke pasar to nak nak"  Saka hanya tersenyum. "Cie cieeee si anak pendiam ternyata diam-diam punya pacar ya." Timpal ibu-ibu pedangan ikan gurami yang duduk di sebelah ibu pedagang ayam, terkikik geli. Lagi-lagi Saka hanya tersenyum. Dan Lala semakin bingung  "CK ck ck dasar anak jaman sekarang. Diam-diam menghanyutkan" Si ibu pedangan ayam malah gemas. "Aku kira si bocah petakilan Danu yang punya pacar duluan. Eh...malah si k*****t pendiam ini. Bwahahahah" sambung bapak-bapak penjual timun. "Duuuuhhhh andai kita dulu kayak gitu ya Bu sum. Pasti kita bahagiaaaaaaa banget" si ibu pedagang gurami malah curhat pada Bu pedagang ayam yang di panggil Bu Sum. "He'em Bu Retno. Kita mah apa atuh. Baru ketemu satu dua kali udah langsung maen ngajak kawin aja. Huuuffftttt" "Apalagi bapaknya anak-anak Bu. Baru ngeliat satu kali eehhhh besoknya udah nyosor ngelamar aja. Milih calon istri kok kayak milih baju. Sekali liat, suka, embat dah. Bwahahaha" "Itu namanya cinta pada pandangan pertama Bu Retno" bapak penjual timun ikut-ikutan. "Lah kalau gitu ya Ndak romantis to pak Bambang," keluh Bu Retno, pedagang ikan gurami. "Iya pak," Bu Sum menimpali, "kurang greget gimana gitu." "Ya greget to Bu. Kan malah enak. Kalau pas malam pertama kan bisa malu-malu gimana ngeong. Bwahahaha" Bluuusssshhhh. Tiba-tiba saja wajah Saka jadi memerah mendengar penuturan para pedagang itu. Cowok pendiam yang dari tadi memilih ayam potong itu tanpa sebab yang jelas, merasa begitu malu. Sedangkan Lala hanya ikutan tersenyum bingung mendengar mereka. "Sudah Bu. Berapa semua?" Saka memberikan beberapa ayam potong yang sudah di pilih. "5 kg 450 ribu nak. Tapi bayar 400 ribu aja. Yang 50 ribu buat jajan kencan kalian." Bluuusssshhhh Kini ganti wajah Lala yang memerah. "Makasih Bu." Mereka segera berlalu dari tempat itu setelah Saka membayar barangnya dan berpamitan. Mereka kembali saling diam lagi. Gara-gara mendengar perbincangan para pedagang itu, entah mengapa membuat mereka merasa canggung dan malu. Makin siang suasana pasar makin ramai dan berdesak-desakkan. Lala sering kali tertinggal di belakang mengikuti Saka. Saking ramainya gadis itu sampai gak begitu memperhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba ada yang menyenggol bahu Lala agak keras, membuat tubuhnya limbung dan hampir saja terjatuh kalau Saka tidak memegangi tangannya. "Hati-hati kak. Aku gandeng dulu ya biar kakak gak ilang" "Hhmm," agak malu, Lala hanya mengangguk dan membuat Saka tersenyum senang. Keluar dari pasar tradisional, Saka menyeberang jalan menuju mall yang ada di seberang pasar. Lala hanya mengikuti saja. "Saka" panggil Lala. "Ya?" "Mall ini kayaknya belum terlalu ramai." "Hmm" angguk Saka. "Jadi..." "Jadi?" Kali ini Saka berhenti berjalan dan berdiri menghadap Lala. "Jadi kukira, kamu bisa melepas pegangan tanganmu"  "Oh...maaf" Saka langsung melepas tangannya. "Gak papa" "Kalau gitu ayo kak kita ke gerai baju dulu." "Apa kamu serius mau beliin aku baju?"  "Iya kak" "Apa boleh aku meminta suatu hal yang lebih penting selain baju?" Saka mengangkat kedua alis. Bertanya. "Kalau masalah baju sebenarnya aku gak keberatan memakai baju-baju bekas kalian. Aku sebenarnya nyaman-nyaman aja memakai baju cowok. Tapi...." Saka hanya diam menunggu kelanjutan kalimat Lala. Entah mengapa, bagi Saka, gadis itu seperti ragu ingin mengatakan sesuatu. " Selain baju, sebenarnya...." "........" "Sebenarnya....." "......." "Sebenarnya...." "Apa kak?" Menunduk dalam, tiba-tiba Lala malah teriak, "SEBENARNYA AKU JUGA BUTUH BAJU DALEMAN" Krik krik krik Karena gak ada sahutan, Lala akhirnya mendongak kembali menatap Saka. Cowok itu terlihat syok menatap Lala. "Ohhhh" Saka ngebleng. "Oh?" "Oh" Saka bingung harus nanggepi permintaan Lala gimana. Baju daleman? Apa seperti kebutuhan wanita yang itu? Kayak bra dan sejenisnya? Sungguh cowok kaku itu gak bisa mikir sama sekali. Matanya jelalatan melihat berbagai toko di sekelilingnya. Dan ketika matanya bertumbuk pada satu toko yang di depannya ada patung cewek yang hanya dipakaikan underwear, barulah otaknya yang kosong terisi kembali. "Kalau gitu kita kesana kak" bos warung pangeran itu berjalan kaku mendahului ke arah toko. "Selamat datang!" Seorang SPG cantik menyambut mereka, "ada yang bisa saya bantu tuan dan nyonya?" Di panggil seperti itu, dua sejoli itu malah jadi kaku. "Saya....saya mencari sesuatu buat ini" Saka melirik Lala. "Oohhhh....ternyata pengantin baru ya" si mbak SPG berspekulasi sendiri, "makanya masih keliatan malu-malu" dan malah cekikikan senang, "ayo saya antar pilih-pilih." SPG dengan seragam warna abu-abu itu berjalan mendahului menyusuri toko, "Mau model yang kayak gimana tuan, nyonya?" Tanyanya lembut, "mau model biasa dengan bahan yang nyaman dan lembut keluaran terbaru merk Bodas? Atau mau model yang agak seksi berenda keluaran merk Sarierri terbaru? Atau mau underwear dari Lesgrilslesb yang berfokus pada bra pantai?" Si mbak SPG agak heran melihat dua pelanggannya sama sekali tidak menanggapi, dan malah terlihat bingung dan malu. Seperkian detik kemudian terlintas satu model daleman di benaknya, "Ahaa!!!" Dia menjentikkan jari penuh semangat dan ceria, "gimana dengan model G-String?" "G-STRIIINGGGGG...!!!!" Pekik Lala kaget. "Ya. G-String." Si mbak SPG malah tersenyum bangga Saka bingung melihat ekspresi keduanya dan bertanya, "G-String? Apa itu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN