"Sini!" panggil seorang wanita pada anak laki-laki yang bersembunyi di balik tubuh seorang laki-laki dewasa.
Laki-laki dewasa itu, mengelus lembut kepala bocah laki-laki yang bersembunyi di belakangnya. "Nggak papa, Sayang! Tante Frida orangnya baik kok. Cepat ke sana!" bujuknya.
Sedikit demi sedikit anak kecil itu mulai berani mengintip wanita yang dipanggil Frida, kemudian melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sini, Sayang!" Frida duduk berjongkok dan melambai, kembali memanggil si anak laki-laki kecil.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Bocah laki-laki itu begitu pelan mendekati wanita tersebut. Rasa cemas dan takut memenuhi perasaannya.
"Apa Tante boleh tahu siapa namamu?"
"Bri-Brian!" Bocah laki-laki itu begitu gugup.
"Wow, nama yang bagus. Sebagus dan seganteng kamu!" Gemas, Frida mencubit pipi bakpao Brian. "Namaku Frida. Dan kamu bisa memanggilku Tante Frida."
"Tan-Tante Frida?" ucap Brian hati-hati.
"Yap, betul!" jawab Frida begitu senang.
Bocah laki-laki yang agak gempal itu mulai merasa rileks berada di dekat Frida.
"Dan Tante punya anak perempuan yang sangat cantik. Dua tahun lebih tua dari Brian." ungkapnya. "Sekarang Brian umur berapa?"
"De-delapan tahun, Tante!"
"Wow, sudah masuk Sekolah Dasar dong? Pintar!" Ada sedikit senyum bangga yang tercipta di bibir Brian mendengar pujian Frida. "Umur anak Tante, sepuluh tahun. Dan sekarang kelas empat SD. Apa nanti Brian mau berteman dengan anak Tante?"
Brian mengangguk.
"Anak pintar!" Puji Frida sambil mengelus kepala Brian. "Nanti anak Tante menyusul ke sini. Dia tadi pamit sebentar ingin membeli es krim untukmu."
Walau sudah agak rileks, tapi bocah laki-laki itu masih takut-takut menatap Frida. "Untukku?" tanyanya.
"Mama!" Belum sempat Frida menjawab, seorang gadis kecil berteriak memanggilnya. Bocah itu membawa dua es krim dengan cup yang lumayan besar di tangan kanan dan kirinya. Sedikit tergesa, gadis kecil itu berjalan menghampiri Mamanya.
Frida pun berdiri, menyambut kedatangan sang putri.
"Mama! Apa ini yang Mama bilang calon adikku?" Tanya gadis kecil itu setelah sampai, dagunya mengendik ke arah Brian.
"Iya, Sayang!" Frida mengelus rambut gadis kecil di sampingnya. "Nanti, dia akan jadi adikmu. Dan Om ini, " Frida menunjuk laki-laki yang jadi tempat persembunyian Brian tadi, "akan menjadi Papamu. Namanya Om Jarvis."
Gadis kecil itu menatap laki-laki yang berdiri menjulang di belakang Brian. "Selamat sore, Om Jarvis!" sapanya. " Perkenalkan namaku Siska. Putri Mama satu-satunya yang cantik sedunia." Katanya penuh semangat.
Laki-laki yang bernama Jarvis itu terbahak. "Wow, benarkah? Om sungguh terpana dengan kecantikan tuan putri satu ini"
"Harus dong!" balas gadis itu begitu percaya diri. "Kalau nggak, maka Om akan kesusahan untuk jadi Papa Siska nanti." ancamnya
"Siska! Nggak boleh gitu, Sayang!" tegur Mamanya, khawatir nanti Jarvis tersinggung dengan kata-kata putrinya.
Tapi laki-laki itu malah tertawa keras. "Nggak papa, Sayang!" Panggilan 'sayang' ini, ditujukan pada Frida. "Biarkan dia mengekspresikan keinginannya. Putrimu sungguh sangat lucu dan menggemaskan."
"Maaf ya, Sayang!" kata Frida pada Jarvis.
"Nggak papa, santai saja! Aku suka dengan sikap putrimu."
"Tapi, Om!" Si gadis menyela omongan kedua orang dewasa itu. "Kenapa anak Om gendut dan jelek? Padahal Om Jarvis begitu ganteng!"
Jarvis dan Frida saling pandang, sebelum Jarvis lagi-lagi tertawa keras. Bahkan lebih keras daripada tadi. Dan Frida begitu malu atas sikap putrinya.
"Siska! Nggak boleh kayak gitu!"
Gadis itu tidak memperdulikan teguran Mamanya, juga tidak mengindahkan tawa Jarvis. Bocah itu malah melangkah mendekati Brian, dan mengulurkan satu cup es krim pada bocah itu. "Nih, buat kamu!"
Brian pun menerimanya.
"Nggak usah takut! Walau kamu gendut dan jelek, aku masih suka kamu kok. Kamu kan sebentar lagi jadi adikku." Seperti orang dewasa, gadis itu mengelus pundak Brian. " Dan jangan khawatir! Besar nanti, kamu pasti akan kuubah jadi ganteng kayak Om Jarvis! Aku janji!"
Mendengarnya, Jarvis dan Frida terbahak bersama. Interaksi dari dua bocah itu benar-benar menggemaskan. Kedua anak itu lalu makan es krim bersama, dengan Siska yang terus saja berceloteh seperti burung berkicau. Ada saja yang dibicarakannya.
Dan itulah, awal pertemuan antara Brian dan Siska. Pertemuan pertama yang sangat manis dan lucu. Pertemuan pertama yang begitu penuh perhatian dan kasih sayang.
Lalu kenapa ketika mereka dewasa bisa berubah menjadi begitu sadis dan kejam. Suka sekali menyiksa Laura. Apa yang memicunya. Dan bagaimana itu bisa terjadi?
Sudah bisa ditebak, setelah pertemuan dua keluarga itu, tak menunggu waktu lama. Frida dan Jarvis menikah. Mereka pindah ke rumah Jarvis yang besar. Siska pun pindah sekolah di tempat yang sama dengan Brian.
Di situlah, Siska baru tahu, kalau di sekolah Brian ternyata jadi bahan bulyan teman-temannya. Dan gadis itu tidak segan-segan membela Brian, bahkan membelanya sampai berkelahi dengan para murid laki-laki.
Sejak saat itulah Brian tidak bisa lepas dari Siska. Kemanapun Siska pergi, Brian pasti mengikutinya.
Bertahun-tahun setelahnya.
Mereka sudah masuk Sekolah Menengah Atas, SMA. Siska memenuhi janjinya pada Brian ketika masih kecil. Awal masuk SMA, Siska memaksa Brian untuk ikut olahraga Gym. Diet dan membentuk tubuhnya. Makanan Brian pun dijaga ketat oleh Siska. Gadis itu juga mengajak Brian, datang mengunjungi dokter kecantikan langganannya. Berkonsultasi dengan dokter tentang kondisi Brian.
Tak membutuhkan waktu lama, hanya lima bulan saja, Brian yang awalnya cowok gendut, pemalu dan tertutup, berubah menjadi cowok ganteng, dengan body yang seksi tapi tetap tertutup. Dan karena cowok itu yang begitu tertutup, membuatnya menjadi pria yang begitu misterius dan di gandrungi cewek-cewek satu sekolahan.
Siska, yang melihat itu begitu puas. Janji dan kerja kerasnya untuk mengubah Brian terlihat hasilnya.
Tapi lama kelamaan melihat adik yang selalu dijaganya itu mulai dikerubungi para cewek, ada sesuatu yang mengganjal pada diri Siska. Seperti seorang yang tidak terima, miliknya dilirik orang lain. Dan Siska, tidak menyembunyikan ketidaksukaannya itu. Setiap ada cewek yang mendekati Brian, maka Siska siap menjadi tameng untuk adiknya.
Dan begitulah seterusnya, hingga nggak ada satupun yang berani mendekati Brian lagi. Dan Brian juga tidak keberatan dengan itu.
Di rumah, keadaannya sangat berbeda dengan di sekolahan.
Jika di sekolahan Siska jadi premannya, mengusai seluruh siswa, tapi di rumah dia hanyalah tetap seorang anak. Dan begitu juga dengan Brian.
Keharmonisan antara Jarvis dan Frida tidak bertahan lama. Sejak Siska dan Brian masuk SMP hingga SMA, mereka sudah sangat sering bertengkar. Saling menyalahkan, dan saling menuduh selingkuh. Jarvis, yang memang hobi main perempuan tidak mau kesenangannya itu di ganggu Frida, istrinya. Sedangkan Frida sendiri, tidak mau kalah dengan Jarvis. Jika Jarvis bisa punya wanita lain, maka dia juga harus punya pria lain juga. Begitu lah prinsip wanita itu.
Hingga suatu hari, Jarvis terang-terangan membawa wanita bayarannya pulang dalam keadaan mabuk dan b******a dengannya di rumah. Pria gila itu, sudah nggak memperdulikan marahnya Frida, atau pun perasaan anak-anaknya. Dan Frida, karena saking marahnya, malah melakukan hal yang sama. Dia membawa pulang juga gigolo yang ditemuinya di bioskop.
Siska ataupun Brian sudah muak dengan kelakuan kedua orang tuanya. Mereka bahkan sudah tidak peduli entah sudah beberapa kali mereka membawa pulang para selingkuhan mereka.
Siska yang sudah bosan melihat, seringkali keluar malam dan pulang pagi. Dan menghabiskan setiap siangnya di sekolahan atau di kafe. Tapi Brian, dia masih menjadi anak rumahan. Sekacau apapun orang tuanya, dia pura-pura tuli dan pura-pura buta. Bahkan ketika cowok itu mempergoki mereka b******a dengan para simpanannya, cowok itu tetap tidak mau tahu dan pura-pura tak melihat. Hatinya terasa sudah mati.
Hingga suatu hari, ketika Brian baru pulang sekolah, tiba-tiba saja Siska menariknya menuju kamar Papa mereka. Gadis itu memang ijin nggak masuk pada hari itu dengan alasan sakit, padahal nggak. Dan seharian itu, dia hanya berdiam diri di rumah. Hingga Papanya pulang dan langsung masuk ke kamar dengan seorang wanita tanpa menutup pintunya.
Siska, yang mulanya lagi bersantai di ruang istirahat keluarga, mulai terganggu dengan suara pukulan, jeritan tertahan, desahan, dan nafas ngos-ngosan. Dengan mengendap-endap gadis itu mulai berjalan menuju asal suara. Dan matanya terbelalak kaget melihat Papanya memukul, mencabuk, dan menjambak seorang wanita sambil menyetubuhinya. Ada rasa ngeri yang dirasakannya ketika melihat mereka, tapi anehnya, ada juga rasa senang dan terangsang melihat bagaimana kuat dan cepatnya pergumulan dua orang yang sudah lupa diri dan lupa dengan sekitar itu.
Ketika Siska mendengar suara pintu terbuka yang menandakan Brian pulang, karena memang sudah jam waktunya bocah teladan itu sampai rumah, gadis itu segera berlari dengan kaki telanjang agar tidak menimbulkan suara, dan segera menghampiri Brian. Menyeret cowok itu untuk mengikutinya denga syarat tidak boleh berisik. Gadis itu begitu senang ingin memperlihatkan pada Brian tontonan live yang seru.
Sampai di depan kamar Papa, Siska dengan bersemangat menunjukkan bagaimana gagahnya Sang Papa memporak-porandakan tubuh wanita selingkuhannya. Gadis itu begitu senang melihat tubuh polos keduanya penuh dengan peluh gairah.
Brian, yang sudah tidak asing dengan pemandangan itu, menatap jengkel pada Siska. Jengkel karena gadis itu menatap penuh senang dengan tubuh dan gairah Papanya.
Segera ditariknya tangan Siska dan mendesak tubuh Siska ke tembok.
"Apa Mbak Siska ingin seperti itu?" tanya Brian pelan penuh tekanan.
Siska yang kaget, hanya bisa menatap Brian.
"Apa mbak Siska mau?" tanyanya lagi sedikit memaksa.
Siska, yang memang sudah mulai terangsang gara-gara melihat Papanya b******a, mengangguk mau.
Tak mau menunggu lebih lama lagi, Brian segera menarik tangan Siska, menyeretnya masuk ke dalam kamarnya, dan menciumnya ganas. Merobek baju Siska dengan kasar, dan melemparkan gadis itu ke kasurnya yang empuk. Brian menarik dan melepas ikat pinggangnya. Mendekati Siska yang terbaring hanya tinggal memakai bra dan celana pendeknya, lalu mencambuk kakinya. Dan anehnya, walau Siska merasa sakit tapi justru itu yang membuatnya senang dan lebih b*******h lagi. Brian yang melihatnya, tersenyum miring. Dan dengan gairah yang memuncak, cowok itu langsung menerkam Siska, kakak tirinya.