"Mbak!" Desah Brian memeluk Siska dari belakang. Wanita yang sedang berdiri di depan kulkas setelah mengambil sebotol air itu, kaget.
"Brian! Lepas!" perintahnya. "Nanti kalau ketahuan pembantu gimana? Lagian papa sekarang ada di rumah!" Tangannya berusaha melepas rengkuhan Brian di pinggangnya.
"Biaran aja! Papa sedang di ruang kerja. Sepertinya ada tamu!"
"Tapi tetap saja. Nanti kalau tiba-tiba ada orang datang gimana?"
Brian semakin mempererat pelukannya. "Bodo amat! Aku sekarang lagi ingin memakan Mbak Siska rasanya! Aku nggak peduli juga jika ada yang tahu." Digigitnya pundak belakang Siska dengan kuat. Bukannya menjerit sakit, wanita itu malah mendesah nikmat hingga kepalanya menengadah ke atas.
"Mbak! Aku tadi beli borgol dan rantai lho!" bisik Brian parau. "Mau nggak nanti kita coba?"
"Tapi papa di rumah, Brian!" Walau bibir menolak, tapi tubuh Siska merespon berbeda. Wanita itu malah seperti ingin sentuhan yang lebih lagi.
"Aku nggak peduli." Brian ganti menggeser bibirnya ke leher Siska, menggigitnya. "Pokoknya nanti kita coba ya!"
Tok! Tok! Tok!
Kedua sejoli yang sedang dibakar gairah itu segera melepaskan diri mendengar suara ketukan pintu, dan menoleh.
Ada Sekretaris Kenan, sekretaris kepercayaan sang papa, berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu berdiri tenang dan datar, seperti tidak terusik atau memang sudah biasa melihat kelakuan dua anak majikannya yang seperti tadi.
"Maaf, Nona! Tuan Muda! Papa kalian menunggu kalian di ruang kerja!"
"Buat apa?" tanya Brian, lebih ke ingin tahu apa yang ingin dibicarakan papanya pada mereka. Brian tahu, dia sangat tahu, cepat atau lambat papa atau mama mereka pasti akan tahu tentang hubungan gelap keduanya.
Sekretaris Kenan hanya diam, tetap tanpa ekspresi.
Siska mengamit jemari Brian, mengaitkannya pada jemarinya sendiri. Mengajak adik sekaligus kekasihnya itu pergi ke ruangan kerja papa mereka. Bertanya pada sekretaris Kenan itu, percuma saja. Dia nggak bakalan bilang walau memaksanya sekalipun.
Ketika melewati sekretaris Kenan yang minggir sedikit dari pintu, guna untuk memberi jalan dua anak majikannya itu, Siska berhenti tepat di samping Sekretaris Kenan. Dengan satu tangannya yang bebas, wanita itu menepuk pundak sekretaris papanya itu dengan pelan. Menjinjit, agar bibirnya bisa cukup dekat dengan sekretaris yang dingin itu.
"Jangan bilang papa soal tadi! Kalau nggak aku akan bikin skandal denganmu. Entah itu tidur denganmu atau menjebakmu dengan wanita lain. Kamu tahu, aku bisa semua itu. Jadi diam dan pura-pura nggak tahu saja seperti biasa." ancam Siska. Setelah itu, dengan santai, wanita itu melenggang pergi bersama dengan Brian, masih dengan berpegangan tangan.
Sekretaris Kenan hanya diam tanpa ekspresi melihat mereka. Takut? Tidak! Sekretaris itu hanya diam dan mengamati, menyimpulkan, baru setelah itu bertindak. Memang begitulah cara kerja tangan kanan Daniel itu.
"Mbak Siska tadi bilang apa sama Sekretaris papa?" curiga Brian.
"Bukan apa-apa. Hanya sedikit mengancam saja!"
Mengancam sekretaris Kenan? Apa bisa?
Brian melirik sekretaris yang sudah bekerja pada ayahnya sejak dia masih kecil itu, yang berjalan di belakang mereka. Pria itu sungguh sangat sulit di mengerti. Sejak pertama bertemu dengan dia, dia memang sudah seperti itu. Diam dan penuh kemisteriusan.
Siska pun juga tahu akan hal itu. Tapi wanita itu nggak mau ambil pusing. Baginya, sekretaris Kenan cuma seorang pekerja. Sama seperti semua pembantu di rumah ini. Semuanya adalah pekerja yang bisa dia buang sesuka hatinya. Karena dia adalah putri bos mereka, walau putri tiri.
"Selamat malam, Papa!" sapa Siska setelah membuka pintu ruang kerja Daniel. Sebelum membuka pintu, wanita itu sudah melepaskan tangan Brian lebih dulu.
"Selamat malam, Papa!" Brian juga menyapa.
Pria yang sudah mulai beruban itu tidak menjawab. Daniel duduk di sofa di ruang kerjanya dengan seorang pria lain dan seorang gadis yang duduk di depannya. Pria yang duduk bersama gadis itu menoleh, tapi si gadis hanya menunduk. Rambutnya yang panjang sampai jatuh ke depan d**a karena menunduk yang terlalu dalam.
"Kemarilah!" perintah Daniel tanpa melihat kedua anaknya.
Brian dan Siska maju. Daniel menyuruh Brian duduk di dekatnya, sedangkan Siska dibiarkan berdiri.
"Hei, kamu!" panggil Daniel menatap gadis itu. Tapi si gadis masih saja menunduk sampai pria yang di sampingnya menyenggolnya, barulah gadis itu mengangkat wajah.
Melihat wajah si gadis, detik itu juga Brian terkesima dengan kecantikannya. Wajah polos yang sedikit sendu karena habis menangis itu langsung berhasil mencuri perhatiannya.
Daniel yang melihat reaksi anak laki-lakinya tersenyum puas. Diliriknya Siska yang terlihat sebal melihat bagaimana terpesonanya Brian terhadap gadis itu.
Daniel menepuk paha putranya. "Bagaimana menurutmu? Cantik?"
Brian hanya mengangguk.
"Jika kamu mau, itu adalah hadiahmu karena sudah lulus kuliah dengan nilai yang bagus!"
Brian melotot kaget menatap papanya. "Be-benarkah?" Tapi sedetik kemudian, tiba-tiba dia teringat bahwa mbak-nya, kekasihnya ada di dekatnya. Segera pria itu berpaling menatap Siska yang sudah merah padam menahan marah. Ada permintaan maaf yang tersirat di tatapan mata Brian pada Siska.
Daniel tahu kalau anaknya mulai goyah.
"Kalau tidak mau, juga nggak papa. Nanti Papa bisa bermain dengan gadis polos ini sepuas Papa." Daniel memprovokasi.
Brian yang bingung, ganti menatap Papanya tidak terima. Bukankah hadiah ini untukku? Kenapa malah diambil lagi? Begitulah arti dari tatapan mata Brian.
Daniel mencondongkan tubuhnya mendekati Brian. Menempelkan pipi kanannya ke pipi kanan Brian. "Bukankah kamu habis beli borgol dan rantai yang panjang, tadi pagi?" tanyanya berbisik.
Brian kaget, benar-benar sangat kaget, hingga tanpa sadar melemparkan tubuhnya sendiri ke belakang. Cowok itu tidak menyangka kalau Papanya sudah tahu.
Daniel mencengkeram bahu Brian kuat, menahan tubuh cowok yang kaget itu agar tidak menjauh darinya ke belakang. "Tenang saja. Selama ini Papa tahu apapun yang kamu lakukan, termasuk cerita hitammu dengan kakakmu sendiri, jadi nggak perlu kaget seperti itu."
Tubuh Brian semakin menegang.
"Tidak perlu takut! Aku nggak akan memarahimu hanya karena masalah itu. Lagian itu semua juga salahku!"
"Apa Papa tahu ketika aku pernah mengintip dulu?"
"Tentu saja tahu!" Daniel menepuk-nepuk paha Brian dengan tangannya yang bebas. "Jadi tidak perlu takut dan tegang! Santai saja!"
Tubuh Brian yang sempat menegang tadi, mulai agak rileks.
Daniel yang sudah merasa anaknya nggak sekaget tadi, mulai merenggangkan cengkeramannya dan kemudian melepasnya. Pria itu menarik lagi tubuhnya ke belakang. Menepuk-nepuk pundak Brian yang seakan-akan membersihkannya dari kotoran.
"Kamu boleh mengambil hadiah dari Papa ini dengan satu syarat! Kamu harus menikahi gadis itu!" Daniel menunjuk gadis yang ketakutan di depannya. Saking takutnya, hingga wajahnya memucat.
"Tidak bisa, Papa! Brian masih terlalu muda. Nggak mungkin dia menikah terlalu cepat!" Tolak Siska, tanpa sadar malah berteriak.
"Apa pendapatmu diperlukan di sini?" Tanya Daniel sarkas menatap Siska.
Wanita itu diam tak bisa menjawab, walau hatinya dongkol setengah mati.
"Benarkan, Brian?" tanya Daniel, meminta dukungan anaknya sekaligus mengetesnya. Ditatapnya anaknya penuh dengan tatapan ancaman.
Brian menunduk, bingung.
Di satu sisi, ada kekasihnya. Di sisi yang lain ada gadis yang sejak pandangan pertama sudah mencuri hatinya
Dia nggak mau kehilangan mbaknya, kekasihnya. Tapi dia juga tidak mau kehilangan gadis yang sudah menyita perhatiannya. Dia ingin memiliki keduanya.
"Gimana?" desak Daniel. Dia merasa sudah di atas angin.
"Oke! Aku akan menikahinya!' putus Brian.
"BRIAAANNN!!!" teriak Siska kaget. Tidak percaya Brian memutuskan seperti itu. Pria yang sejak kecil di asuhnya, disayangnya, di cintainya itu kini membuangnya. Pria yang begitu dicintainya hingga dia sanggup menyerahkan tubuhnya untuk disakiti itu, kini menelantarkannya. Ini semua hanya karena seorang gadis yang bahkan belum dikenalnya. Gara-gara w***********g, yang bahkan baru ditemuinya.
Siska ganti menatap garang pada gadis yang sudah mengambil kekasihnya itu. Gadis itu juga nggak kalah kaget dengan Siska. Cuma bedanya, kalau Siska kaget marah tapi gadis itu kaget ketakutan.
"Maaf, Mbak! Aku menginginkannya!" kata Brian tanpa berani melihat Siska.
Dengan amarah yang memuncak, Siska berderap melangkah meninggalkan ruang kerja itu.
"Bagus, Nak! Kamu memang anakku!" Daniel menepuk pundak anaknya bangga.
Brian menyentuh lembut tangan Daniel yang ada di pundaknya. "Aku nggak tahu, kapan Papa tahu tentang hubunganku dengan Mbak Siska. Aku juga nggak tahu, apa rencana Papa dengan semua ini? Tapi satu hal yang aku tahu, Papa begitu tidak menyukai mbak Siska pasti gara-gara mama Frida yang meninggalkan kita. Dan Papa juga perlu tahu satu hal, bahwa aku tidak akan membuang mbak Siska seperti mama Frida meninggalkannya dan membuangnya!" Setelah mengungkapkan isi hatinya, Brian berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerja. Tapi sebelum benar-benar melangkah kelaur pintu, Brian berhenti dan menoleh sedikit. "Sekretaris Kenan, antarkan calon istriku itu ke kamarku. Aku nggak mau menunggu lama!" Setelah berkata seperti itu, cowok itu benar-benar hilang di balik pintu.
Daniel menatap kepergian anaknya dengan sedikit termenung. Ya, dia tidak menyangkal kalau dia tidak menyukai Siska gara-gara mamanya meninggalkan rumah dengan kekasih brondongnya. Dia juga tahu, dan sangat tahu, bahwa kepergian Frida itupun juga gara-gara dia yang suka membawa wanita bayaran pulang ke rumah. Tapi pria itu tidak mau mengakuinya. Dia adalah pemimpinnya. Dia berhak melakukan apapun sesuai kehendak dan keinginannya. Semua harus menurut dengannya. Tidak ada yang boleh menentangnya, karena dia adalah pemilik mereka. Begitulah pemikiran Daniel terhadap rumah dan seluruh penghuninya.
Dan untuk hubungan gelap antara Brian dan Siska itu di luar pemikirannya. Sungguh, dia juga kaget atas laporan Sekretaris Kenan dua tahun yang lalu. Pria itu mencari berbagai cara untuk bisa memisahkan mereka. Dan ini lah saat yang tepat. Ketika ada seorang gadis yang pasti sesuai dengan selera anaknya masuk ke rumah, karena dijual ayahnya sendiri.
Sungguh ironis.
"Ayah!" Panggil si gadis memohon pada laki-laki yang duduk disampingnya. "Aku mohon! Jangan lakukan ini!" Dipegangnya tangan laki-laki yang dipanggilnya ayah, memohon.
"Diam!" bentaknya. "Kamu harus nurut pada, Tuan Daniel!"
"Tapi, Ayah ...."
Plak!
Laki-laki yang dipanggil ayah itu, tanpa perasaan menampar anak gadisnya.
"Diam! Atau kupukul lagi!"
Si gadis diam sambil memegang pipinya yang terasa perih.
"Kenan!" panggil Daniel pada sekretarisnya. "Bawa gadis itu ke kamar Brian! Jangan biarkan bocah itu menunggu lebih lama lagi."
Setelah mengangguk Sekretaris Kenan segera memapah gadis itu berdiri, kemudian menuntunnya menuju kamar Brian.
Di kamar Brian, di lantai dua, Sekretaris Kenan membuka pintu kamarnya.
Si gadis terbelalak kaget melihat pemandangan mengerikan di depannya. Cowok tadi, yang dipanggil Brian oleh seluruh orang di ruangan tadi, duduk bertelanjang d**a di ranjang king size. Di tangan kirinya ada borgol, seperti borgol polisi, yang dikenakan di pergelangan tangannya cuma satu sisi, sisi yang satunya dibiarkan bergelantung. Sedangkan tangan kanannya memegang ujung rantai yang lumayan besar, dan tangan satunya memegang ujung rantai yang lain.
Cring! Cring! Cring.
Bunyi gesekan antar besi rantai, yang setiap, setelah rantai dilonggarkan lalu ditarik begitu kencang oleh kedua tangan.
Cring! Cring! Cring!
Suara yang membuat telinga gadis itu berdenging takut, ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan pria yang tidak memakai baju itu padanya.
Cring! Cring! Cring!
"Silahkan masuk, Nona!"
Si gadis hanya diam mendengar perintah sekretaris Kenan.
Masih dengan wajah yang dingin, sekretaris Kenan mendorong gadis itu masuk ke kamar Brian. Menutup pintu dan menguncinya.
Duak! Duak! Duak!
Suara pintu dipukuli.
"Tolong! Tolong buka pintunya! Kumohon! Tolong buka pintunya!" teriak gadis itu histeris ketakutan.
Duak! Duak! Duak!
"Tolong! Tolooonggg!"
Sekretaris Kenan, masih diam di depan pintu kamar Brian. Mendengar teriakan gadis itu tanpa ekspresi.
"Tidak, Tuan! Ku mohon, jangan!"
Terdengar lagi teriakan si gadis. Dan sekretaris Kenan masih berdiri diam di sana. Tak bergeser sedikitpun
"JANGAN, TUAN! TOLONG JANGAN!"
Suara gadis itu semakin keras.
"TIDAK! JANGAN, TUAN! KUMOHON! JANGAAAANNN!!!"
"JANGAN TUAN!"
"JANGAAANNN!"
"KUMOHON!"
"TIDAAAKKK!"
#########
Pagi hari setelah malam yang mengerikan
Byuuuuurrrr ...
Si gadis yang semalam diporakporandakan Brian, gelagapan disiram air.
Bukan hanya tubuh polosnya yang basah kuyup, tapi juga ranjang, selimut dan juga bantal. Semua basah.
Walau kaget tapi gadis itu masih bisa gerak reflek menutupi tubuhnya dengan selimut yang basah.
"HEI ... " Siska berdiri pongah melihat gadis yang sudah merebut kekasih hatinya itu masih tidur tanpa memakai busana apapun. Wanita itu dengan kejam dan tanpa perasaan menyiram gadis itu dengan seembar air banyak."BANGUUUNNN.!!! ENAK AJA JAM SEGINI MASIH TIDUR! BANGUUUNNN!"
Si gadis masih diam di balik selimut, walau Siska juga seorang perempuan tapi dia tetap merasa malu jika harus terlihat telanjang.
Kesal karena si gadis masih meringkuk, di sibakkannya selimut yang menutupi tubuh si gadis dengan kasar.
Terpampanglah tubuh polos yang penuh dengan bilur-bilur biru di sekujur tubuhnya. Bekas banyak gigitan di bagian paha dan perutnya. Di leher juga ada garis merah melingkar sampai belakang, Siska yakin, itu pasti bekas cekikan rantai cinta Brian. Pergelangan tanganpun juga terlihat memerah, itu pasti bekas borgol.
Melihat itu semua, Siska semakin geram dan benci. Dia berkeyakinan, seharusnya bekas-bekas nikmat itu semua, tadi malam adalah miliknya. Gara-gara si gadis ini datang, Siska jadi gagal mendapatkan semua kenikmatan itu. Wanita ini memang psiko seks. Wanita ini dan Brian sama-sama psiko seks, punya seks yang menyimpang. Mereka belum puas dan tidak akan merasa puas jika belum menyiksa pasangannya. Dan ironisnya, gadis malang itu harus terjebak dalam kegilaan keduanya.
"Siapa namamu?" tanya Siska masih memperhatikan gelagat si gadis yang masih berusaha untuk menutupi tubuhnya walau hanya dengan memakai bantal. Hanya itu yang tersisa. Selimut sudah di lempar Siska entah kemana.
"La-Laura, Mbak."
Satu pemahaman yang muncul di benak Siska. Gadis ini, yang tadi bilang bernama Laura, adalah gadis yang pemalu. Sangat pemalu. Dan Siska semakin bernafsu untuk menyiksanya.
Siska duduk di tepi ranjang, dekat Laura. "Jadi namamu Laura?" Siska memegang bantal yang didekap gadis itu. "Nama yang cantik!"
Greb. Siska meremas bantal dan menariknya dari pelukan Laura dengan sangat kuat.
"JANGAAANNN!"
Lepas. Bantal itu lepas dari pelukan Laura. Dan gadis itu kembali telanjang tanpa penutup apapun. Tinggal kedua tangannya menutupi dadanya.
Siska, walau dia juga seorang perempuan, dia tidak memungkiri bahwa tubuh gadis ini memanglah indah. Walau ada luka di sekujur tubuhnya tapi tidak menutupi kulitnya yang putih bersih. Di mata Siska semua luka itu malah terlihat seperti tato alami cantik yang diciptakan Brian di atas tubuhnya.
"Kenapa? Malu?" tanya Siska meledek. Ditariknya tangan Laura hingga tak dapat menutupi bagian dadanya. Dipaksanya tubuh Laura telentang dan kedua tangannya di cengkeram ke atas kepalanya. Perlahan Siska mendekatkan wajahnya pada wajah Laura. Merasa nggak nyaman, Laura langsung memalingkan wajahnya menjauh dari Siska. Wanita itu terkekeh. "Semalam saja kamu nggak malu merebut Brian dariku, lalu kenapa sekarang kamu malu telanjang di depanku?"
Laura masih memalingkan wajah. Sungguh dia benar-benar malu dipampang seperti ini. Ingin sekali dia membantah, kalau semua itu bukanlah kemauannya. Bukan keinginannya. Tapi Laura juga tahu, membantah orang seperti ini, hanya akan memberikan lagi alasan untuknya buat menyiksa lebih kejam lagi. Seperti ayahnya.
Jadi dia hanya diam.
Sebal karena Laura tidak menjawab, wanita itu mengigit telinga Laura kuat.
"Aaaa ...." jerit Laura. Tubuhnya juga meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Siska.
"Mbak! Sudah, Mbak! Sakit!" rintihnya. Air mata gadis itu sudah mengalir deras di pelipis kanan kirinya.
Siska melepaskan gigitannya. Menatap Laura. "Bagaimana mau lagi?"
Laura menggeleng dengan tangis yang sesak.
Siska menghela napas. Menarik tubuhnya ke belakang dan sekaligus melepaskan cengkramannya pada tangan Laura.
Dia berdiri dan melangkah sedikit menjauh. "Sekarang mandilah!" perintahnya.
Dengan menahan nyeri di seluruh tubuhnya, perlahan Laura berdiri. Dan berjalan terseok ke arah kamar mandi di dalam kamar. Tangannya masih berusaha mendekap dadanya, menutupinya.
Melihatnya, rasa haus Siska kembali mencuat. Wanita itu berderap cepat mendekati Laura dan menjambaknya.
"Aaaa ...." Lagi-lagi Laura menjerit dan kaget.
Tanpa ampun, Siska segera menyeret Laura masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya keras.
Brak!
"JANGAN, MBAK!"
Terdengar lagi teriakan Laura.
Duak!
Duak!
Brak!
"JANGAN, MBAK! AMPUN! AKU MOHON!"
Prang!
Buak!
Duk!
Suara pukulan, benturan, kaca yang pecah memenuhi kamar mandi yang tertutup itu.
Dan suara jeritan memohon Laura menggema hingga memenuhi kamar dan rumah di pagi hari yang sunyi.
"MBAK! JANGAN!"
"SAKIT, MBAK!
"TOLOOONGGG! TOLONG!!!"
Buak!
Duak!
Brak!
"KUMOHON, MBAK! JANGAN!"
"JANGAN!"
"JANGAAANNN!!!"