Akhirnya mereka berhenti di sebuah perempatan di sekitar Jalan Setiabudi, Delina turun lebih dulu dari angkot. Tak ada yang menduga, tiba-tiba Ilham meremas dengan keras tangan pria yang duduk di sebelah Delina tadi. Ternyata Pria itu hendak menyentuh bagian sensitif Delina dari belakang, tapi berhasil digagalkan. Sang Pria mengerang kesakitan sebelum Ilham akhirnya melepas kembali cengkeramannya.
Ilham hanya melirik tajam ke arah Pria itu tanpa berkomentar apa pun, alih-alih mengumpat, supaya tidak menimbulkan kegaduhan. Bahkan penumpang lain pun tampaknya tidak menyadari kejadian itu. Setelah itu, Ilham beranjak turun dari Angkot, dan angkot pun kembali melaju.
“Angkotnya udah di bayar?” tanya Ilham.
“Udah lah, gak ada yang gratis, A,” kata Delina lempeng, sepertinya Delina tidak menyadari tadi ada orang yang mau melecehkannya. Untung ada Ilham.
“Terus aku gimana?”
“Apanya yang ‘Aku’?” tanya Delina.
“Aku belum bayar, Lin. Angkotnya udah keburu jalan,” ucap Ilham menyesal.
“Huh... “ Delina membuang nafas.
“Sini bayar ke aku aja,” kata Delina lagi.
“Oh udah dibayarin? Makasih ya, jadi malu,” kata Ilham.
“Aku ganti pakai traktiran makan aja ya?” sambungnya lagi.
“Beneran, nih?” lirik Delina pada Ilham. Ilham mengangguk sambil tersenyum. Astaga, senyuman itu benar-benar bisa mengalihkan dunia.
***
Rico sudah pulang. Saat hendak memasukkan motornya ke teras, ia melihat motor Ilham sudah terparkir. Ia berpikir, pasti Ilham sudah menunggu lama. Seharian tadi Rico sibuk bekerja, ia pun belum sempat mengecek HP. Dilihatnya layar, ternyata sepi, tidak ada pesan atau panggilan tak terjawab.
Setelah mengucap salam, Rico langsung menuju dapur, terlihat Linda sedang menyiapkan makan malam.
“Papah, belum pulang dari pasar, Ma?” tanya Ilham.
“Belum, kamu sudah Shalat?” ucap Linda.
“Belum... “ jawab Ilham, lalu membuka kulkas dan menemukan coklat milik Delina masih ada yang tersisa, lalu memakannya.
“Ada Ilham, Ma?” tanya Rico sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.
“Ada, kasihan dari tadi siang sudah menunggu kamu, lain kali kalau ada kerjaan kasih tahu dong dia, biar gak kelamaan nunggu,” ucap Linda mengkhawatirkan Ilham.
“Terus ke mana anaknya sekarang?”
“Pergi sama Delina, daripada dia bosan tunggu di rumah,” Linda menjelaskan.
“Ya syukur lah. Ya Udah, Rico ke kamar dulu ya, Ma,”
Rico bergegas menuju kamar, di luar gerimis mulai turun. Angin malam mulai terasa dingin, jam dinding baru menunjukkan pukul setengah tujuh, tapi jalan di depan rumah Delina sudah sangat sepi, mungkin karena hujan.
Rico membuka pintu kamar, agak kerepotan karena harus menyingkirkan beberapa benda-benda yang menghalangi pintu. Lantai kamar hampir tak terlihat, karena tertutup barang-barang yang berserakan di atasnya.
Setelah Shalat Magrib, Rico mulai membereskan barang-barangnya satu per satu. Tiba-tiba ia jadi teringat Ilham dan Delina yang masih di luar.
“Bro, lu di mana? Gue udah di rumah,” Rico mengabarkan.
Pesan kemudian di balas sekitar lima menit kemudian.
“Udah pulang, Ric? Bentar ya, di sini tiba-tiba ujan gede,” jawab Ilham.
“Oh gitu. Lu lagi sama Delina? Gak bawa motor?” tanya Rico mengkhawatirkan adiknya.
“Iya, Bro, dia aman sama gue. Nggak, rencananya cuma jalan doang sekitar rumah, gak tahu nih jadi nyasar ke sini,”
“Lu emang di mana? Ngapain?”
“Gue lagi di Setiabudi, nongkrong di warung Serabi, lu kesini aja kalau mau,”
“Waduh, jauh banget, ogahhh! Lu ke sana pake apaan? Angkot?”
“Iya, Si Delina yang maksa gue. Gila, Bro, ini pengalaman pertama gue naik angkutan umum, asli gue nyerah!” emot tertawa.
“ha... ha... baru angkot doang. Btw, adik gue gak diapa-apain, kan? Atau jangan-jangan malah lu yang diapa-apain sama dia,” emot tertawa keras.
“Nggak lah, emang ekspektasi lu gue ngapain? Lu gak percaya gue orang baik?” emot kacamata hitam.
“Curiga gue?! Lu kan haus belaian wanita,” emot tertawa hingga dua baris.
“Buset, gitu banget sih lu. Lu harusnya baik-baik sama gue, mana tahu gue jadi adik ipar lu kan? wkwkwk" Ilham senyum-senyum.
“Ngarep, Lu! Ya udah, buruan balik ya, adik gue punya jam malam soalnya!”
“Siap, Boss!”
Rico tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, ternyata selain dirinya, ada orang lain juga yang memperhatikan adiknya. Ilham memang satu-satunya orang yang ia percaya, yang lain tidak. Karena selain Ilham, Delina memang belum pernah diajak jalan-jalan oleh lelaki mana pun.
“Heh, kamu, pacaran melulu! Balik, udah malem!” kini giliran Rico mengirim pesan kepada Delina.
“Kalau punya mulut jangan asal bunyi, siapa juga yang pacaran? Sirik? Bilang!” balas Delina nyolot.
“Siapa yang asal bunyi? Aku nulis chat gak pake mulut kok, pake jempol. Ya udah, adikku sayang pulang ya cantik, sudah malam,” diikuti emot orang muntah.
“Iya... Iya... ini juga mau pulang, berisik,”
Rico menatap jalan yang dibasahi air hujan dari balik jendela kamarnya, udara begitu dingin menusuk. Sepertinya malam ini Kota Bandung merata diguyur hujan, tadi pun saat Rico pulang dari studio awan hitam sudah menggelayut di atas langit.
***
Pesta ulang tahun Febi yang ke-17 berjalan meriah, meski di luar hujan turun dengan lebat. Pesta itu digelar di salah satu restoran cepat saji di kawasan Jalan Setiabudi, dihadiri oleh sekitar 30 sampai 50 orang, kalangan terbatas.
Febi tidak mengundang anak-anak satu sekolah, meskipun orang tuanya sanggup membiayai semuanya. Ia hanya mengundang sahabat-sahabat dan teman-teman yang ia kenal baik. Febi itu adalah satu dari sembilan member geng populer di sekolah. Mereka itu role model untuk kebanyakan anak remaja putri, semua elemen untuk menjadi keren ada pada mereka semua Brain, Beauty, Behavior, dan satu lagi Billionaire.
Selain menjadi member geng populer di sekolah, Febi merangkap sebagai ketua sosis, satu-satunya yang ber-gender perempuan. Dia itu pintar, sejak kelas satu selalu jadi juara umum, juara debat Bahasa Inggris se-SMA di Bandung, hingga sering aktif di acar-acara sosial. Ayahnya anggota DPR.
Febi mengundang Delina bukan karena mereka akrab, tapi karena ia pernah sekelas dengan Febi saat kelas satu dan pernah satu kelompok saat pelajaran Biologi, bersama Mimi dan Darel. Undangannya pun tidak disampaikan secara langsung tapi lewat Mimi dan Darel.
Selama setahun berada di kelas yang sama, Delina jarang berinteraksi dengan Febi, paling-paling hanya bertegur sapa itu pun sekali-kali kalau tidak sengaja berpapasan di lorong atau di kantin, bangku mereka pun berjauhan. Febi itu tak akan pernah terjangkau oleh Delina, meskipun sebetulnya Febi sama sekali tidak pernah memilih-milih teman, tapi orang-orang yang ingin berteman dengannya pasti tahu diri.
“Lho, kok kalian cuma berdua? Di mana satu lagi, siapa itu, ah... Delina. Delina ke mana?” sapa Febi pada Mimi.
“Lagi ada urusan keluarga, Feb,” kata Darel menyambar.
“Iya betul, lagi ada urusan keluarga,” sambung Mimi.
“Ow, okay, ya udah aku ke sana dulu ya,” Febi berlalu, ia sibuk menyapa tamu-tamu yang hadir.
“Ckckck... Itu Si Febi foundation nya berapa lapis ya? Mukanya sampai mulus tak tercela begitu?” Mimi berdecak. Tak sengaja tadi ketika disapa, ia memperhatikan kulit wajah Febi yang bening dan licin. Tidak seperti kebanyakan anak usia puber, penuh jerawat dan berminyak.
“Bukan masalah foundation nya kali, Si Febi tiap minggu perawatan dan skincare nya aja udah berapa juta,” komentar Darel lebih paham dari Mimi.
“Lah, aku apaan coba? Bagaikan remah rengginang di antara mereka?” Mimi meratap. Sambil memperhatikan Febi dan teman-temannya yang bersembilan itu. Semuanya tinggi, cantik, glowing.