Delina gelisah, ia cukup sering menengok jam dinding yang tergantung di ruang tamu, jam dinding itu dapat terlihat langsung dari teras rumah. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Rico belum saja kembali. Ilham juga sama, ia tampak mati gaya, sudah hampir dua jam ia duduk di bangku teras.
“Sebentar ya, A,” ucap Delina tiba-tiba sambil beranjak. Memecah kesunyian antara mereka.
“Iya... mau ke mana, Lin?”
“Ke warung bentar,” kata Delina mencoba melarikan diri dari suasana yang canggung.
“Ok... “
Delina bergegas berjalan masuk ke warung yang tepat bersebelahan dengan teras rumah.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Linda heran.
“Bantuin Mama,” jawab Delina polos.
“Terus Ilham gimana?” tanyanya lagi sambil menengok ke luar. Terlihat Ilham sedang duduk sambil bermain HP.
“Itu ada,” jawab Delina singkat.
“Aduh, Lin, maafkan Mama yang kurang mengajari kamu etika terhadap tamu,” Linda menepuk keningnya sendiri.
“ ... “
“Udah sana, hari ini kamu libur, sana temenin Si Ilham!”
“Tapi, Ma...”
“Udah jangan banyak tapi-tapi, sana!” kalau Linda sudah memberi perintah tidak ada yang bisa membantah.
Delina pun kembali ke teras, Ilham tersenyum melihat Delina datang.
“Sudah, Lin?” tanya Ilham.
“Iya, A...A Ilham bosan ga? Maaf ya aku juga gak tahu kalau ternyata A Rico perginya selama ini,” kata Delina tak enak.
“Ah, gak apa-apa kan ada kamu,” canda Ilham. Wajah Delina langsung memerah.
Andai saja Delina tahu, tujuan Ilham ke rumahnya memang hanya demi Delina bukan karena semata-mata ingin bertemu Rico. Lebih tepatnya ingin mencari tahu orang yang “dianggapnya" tengah mendekati Delina. Tapi tentu akan terdengar aneh jika ia terang-terangan ingin bertemu Delina, bisa habis mereka menjadi bulan-bulanan Rico.
“Mau jalan?” tanya mereka berbarengan, secara tiba-tiba.
“Eh, tubrukan lagi kan ngomongnya,” ucap Ilham mencoba meredam rasa malu dan berdebar. Ini sudah kali ke dua mereka bentrok. Mungkin mereka memang sehati.
“Jalan-jalan maksudnya?” tanya Delina.
“Lah, barusan kamu ngomong ‘jalan’ apa dong?” Ilham balik tanya. Mereka salah tingkah.
“Mau ke mana, A?”
“Hmm.. ke mana ya? Ke mana aja terserah kaki melangkah,” Ilham mulai berpikir hendak pergi ke mana.
“Ya udah, ayo, daripada bulukan di sini,” ucap Delina. Ilham mengangguk.
Maaf Tante, mau izin ke luar sebentar sama Delina,” kata Ilham menengok ke pintu warung yang terbuka.
“Eh, Iya Ilham, maaf ya, Si Rico emang suka ngaret anaknya. Iya, silakan, hati-hati ya!” sahut Linda. Ia terlihat sibuk hendak menutup warungnya.
“Berangkat dulu ya, Ma!” kata Delina.
“Iya, pulangnya jangan malam-malam!” Linda mewanti-wanti.
“Pergi dulu Tante,” Ilham berpamitan, sambil mengangguk sopan.
Mereka berjalan ke luar gerbang, Ilham memberikan helm kepada Delina untuk dipakai.
“kok naik motor, A?” tanya Delina.
“Hah?! Kamu pengen naik mobil ya?”
“Nggak... bukan... bukan... kirain aku jalan kaki,” kata Delina. Karena tadinya ia menyangka hanya akan jalan sekitaran rumah.
“Oh mau jalan kaki aja? Ya sudah, ayo!” jawab Ilham sambil menyimpan lagi helmnya di bagasi motor.
Mereka pun berjalan beriringan, wajah bahagia terpancar dari keduanya. Meski tidak seromantis di film-film drama, berjalan berdua dengan orang terkasih memang beda rasanya.
“Kamu cantik hari ini, Lin,” celetuk Ilham tiba-tiba.
“Jangan mulai deh, A!” respon Delina.
“Ih, serius ini. Emang kelihatan bercanda ya?” kata Ilham.
Delina bukan tak percaya apa yang dikatakan Ilham, tapi ia merasa insecure berjalan berdampingan dengan orang yang ketampanannya di luar batas kewajaran. Sedangkan ia gadis dengan wajah biasa-biasa saja, berdandan pun masih belajar. Sepanjang jalan tidak sedikit tetangga yang melirik ke arah mereka, maklum pemukiman padat penduduk di sore hari memang ramai, apa lagi kondisi cerah tidak hujan.
“Mau ke mana kita?” tanya Ilham.
“Ke mana ya? Hmm.. Kalau aku sih mau nya ke hatimu,” Delina balas dendam, merasa tadi sudah dibercandai oleh Ilham. Sambil menahan tawa.
Ilham merasa senang Delina berkata begitu, terlepas itu hanya bercanda atau sungguhan. Ingin rasanya langsung menggenggam tangan Delina dengan erat saat itu juga, untuk membimbing Delina berjalan menuju hatinya.
Sambil berjalan menyusuri trotoar, Delina dan Ilham sudah terlihat seperti sepasang kekasih. Ilham berjalan di sebelah kanan Delina, di sisi lainnya kendaraan berseliweran. Kedua telapak tangannya di masukan ke dalam saku celana, udara sore itu memang agak dingin, untungnya Delina sudah memakai cardigan, jadi tidak perlu beradegan romantis ala drama Korea.
“Ke mana dong?” tiba-tiba Delina bersuara.
“Ya udah, kita ke arah Lembang saja, di sana kan banyak tempat nongkrong, sambil makan,” Ilham memberi ide.
Spontan Delina langsung mencegat angkutan umum, ia sudah sangat fasih rute-rute angkot di Kota Bandung.
“Ke mana, Lin?” Ilham kaget karena angkot tiba-tiba saja sudah berhenti di hadapannya.
“Ayo naik, aku tahu jalannya,” kata Delina.
Ilham duduk tepat di sebelah Delina, di bangku panjang yang sejajar dengan sopir. Di sisi lain Delina, duduk seorang pria, mungkin usianya sedikit di atas Delina, hampir sebaya dengan Ilham. Penumpang angkot saat itu memang penuh sesak. Mungkin gara-gara malam minggu.
Delina memperhatikan wajah Ilham yang agak kikuk berada di dalam Angkot yang padat. Jangan-jangan ini pertama kali seumur hidupnya menaiki kendaraan umum. Rasa tidak nyaman pun tersirat di wajah Ilham. Belum lagi para penumpang yang memperhatikan Ilham seperti melihat seorang publik figur. Sangat membuatnya tidak nyaman.
“Bisa duduk, A?” tanya Delina sambil menggeser tubuhnya sedikit ke arah depan. Agar menciptakan ruang.
“Sudah... sudah... Lin, aku duduk kok,” kata Ilham.
Sepanjang jalan lumayan macet, kendaraan berplat "B" mulai berdatangan memadati jalan. Akhir pekan di Kota Bandung memang tidak ada jalan yang lengang, di mana-mana macet dan padat.
Delina memperhatikan sepasang kekasih yang duduk tepat berseberangan dengan mereka, sepertinya keduanya masih berusia SMA. Sang Wanita bersandar di pundak kekasihnya, sementara yang Pria menggenggam erat telapak tangan pacarnya tanpa malu-malu.
Melihat itu Delina mulai tidak nyaman, sebetulnya bukan Delina saja, sepertinya menumpang lain pun merasa canggung melihat pemandangan itu. Apa lagi Sang Wanita berpakaian sangat minim, hanya ditutup jaket kekasihnya agar pahanya tidak terlihat ke mana-mana.
Delina membuang wajah ke arah jendela, mending melihat pemandangan jalan daripada melihat pemandangan kekasih yang sedang dimabuk cinta. Tepatnya, lebih baik memandangi wajah Ilham, yang memang berada di sebelahnya sekarang. Sesekali mata mereka beradu, saat Ilham melirik ke arah Delina yang sedang memperhatikan jalan.
“Lagi hitung pohon ya, Mba?” tanya Ilham tertawa pelan.
“Iya,” jawab Delina sekenanya.
“Gak pengen lihat yang depan aja, Mba?” Ilham berbisik ke telinga Delina. Maksudnya ke arah sepasang kekasih tadi.
“Nggak, Mas, makasih!” jawab Delina ketus. Ilham hanya senyum-senyum.
Bahu Ilham dan Delina yang saling beradu itu sudah cukup bagi mereka merasa bahagia. Sebetulnya dari tadi Ilham sudah merasa panas dingin, Delina tidak pernah duduk sedekat ini di sampingnya. Keringatnya mulai menetes karena gugup, untungnya hawa di dalam angkot memang agak panas, jadi tidak ada yang curiga.
Ilham juga berusaha keras untuk mengontrol tangannya agar tidak menyentuh tangan Delina. Karena kalau diperhatikan kadang-kadang Delina tanpa sadar mendaratkan tangannya di paha Ilham karena sempitnya ruang di angkot saat itu. Ini sebuah kode keras bagi Ilham; posisi tangan yang mengundang untuk digenggam. Ilham hanya bisa merespon tindakan provokasi itu dengan menarik nafas panjang.