“Lagu sudah dibuat belum?” tanya Ilham memecah kebekuan. Ia menagih janji tempo hari.
“Aduh...lupa, iya... iya... aku buat hari ini deh, janji!” jawab Delina.
“Yaah, gimana sih, gak profesional banget. Padahal aku udah bawa hadiahnya, Lho,” ucap Ilham pura-pura kecewa.
“Aduh, A... serius maafin ya, minggu-minggu ini aku sibuk banget soalnya, bentar lagi mau ujian kenaikan kelas,”
“Ya udah, karena aku baik, nih aku kasih duluan ongkos bikin lagunya,” ucap Ilham sambil menyerahkan sesuatu yang tadi ia bawa-bawa di tangannya.
“Apa ini A? Tanya Delina,” wajah gembiranya tidak dapat disembunyikan.
“Buka aja,” perintah Ilham.
“Emang boleh?”
“Gak Boleh, nanti saja bukanya, kalau bikin lagunya sudah beres,” kata Ilham kesal karena Delina banyak tanya.
“Ah... ya udah... ya udah, aku buka ya,” Delina mulai merobek bungkus kado berwarna merah muda kesukaannya, dengan hati-hati.
Sebuah music box cantik terpampang di hadapannya setelah semua bungkusnya tersibak. Dari dalamnya diputar lagu brahm's lullaby yang mendayu-dayu.
“Ya Ampun, A Ilham... so sweet banget sih,” Delina jadi terharu.
“Suka gak?”
“Ya suka lah, apa lagi A Ilham yang kasih,” ucap Delina antusias. Masih memandangi hadiah yang baru diterimanya.
Mendengar itu hati Ilham mendadak berbunga-bunga, sekaligus berdebar.
“Ya syukur kalau suka,” respon Ilham datar, padahal perasaannya senang bukan main.
“Aku baru pertama kali lho dikasih ginian sama cowok,”
“Wah masa?” tanya Ilham, hatinya tambah berdebar hebat.
“Ih, serius... makasih ya, A!” senyum gembira masih terukir di wajah Delina, pemandangan ini yang sangat disukai Ilham.
***
Mimi sedang menunggu Darel di perempatan jalan, mereka janji bertemu, untuk berangkat bersama ke pesta ulang tahun Febi. Sambil menunggu Darel, Mimi membeli sebungkus cilok dari gerobak yang mangkal tidak jauh dari tempatnya berdiri, lalu menyantapnya dengan lahap.
Tak berapa lama, orang yang ditunggu pun datang, terlihat Darel dengan motor Ninja miliknya tampak gagah dari kejauhan. Mimi hampir-hampir tak mengenalinya. Setibanya Darel di trotoar, ia pun membunyikan klakson.
“Mi...” sapanya.
“Cari siapa ya, Mas?” canda Mimi pura-pura tak mengenali.
“Apaan sih kamu, Mi?” balas Darel sambil melepas helm full face-nya.
Darel itu manis, wajahnya Indo, blasteran Blanda-Sunda. Perawakannya tinggi, putih, dan matanya berwarna hazel. Kalau agen pencari bakat menemukannya, yakin, ia pasti sudah jadi artis dari dulu.
Orang tidak akan menyangka kalau dia sedikit kemayu jika melihat penampilannya yang ini. Dibalut jaket bomber dan kets putih yang sepertinya baru beres dicuci, Darel terlihat ganteng. Walaupun kegantengannya belum sampai se-level Ilham. Karena Ilham itu arti ganteng yang sesungguhnya, meskipun ganteng itu relatif, semua orang yang melihat pasti akan mengatakan Ilham itu ganteng. Intinya, orang sepakat Darel ganteng, tapi Ilham ganteng tanpa harus membuat kesepakatan. Ilham mutlak ganteng.
“Mi, kenapa berubah menjadi patung begitu?” Darel membuyarkan lamunan Mimi, yang sedaritadi kagum dengan penampilannya itu.
“Eh, sorry... sorry... Rel, kamu cakep banget sih, gih cari cewek, pasti mereka bakal teriak-teriak histeris!” puji Mimi.
“Apaan sih? Gak perlu, aku udah punya dua,” pasti yang dimaksud adalah Mimi dan Delina.
“Bukan, maksudnya cewek yang bisa diajak jalan gitu, Rel. Aku ikhlas lahir batin kok, Rel,” kata Mimi menggoda Darel.
“Oh jadi gitu, jadi kalian udah gak mau jalan lagi sama aku? Ok, fine!” gaya ngambek cowok kemayu memang unik dan menggelikan.
“Yaah, dia sensi...” kata Mimi singkat menutup mulutnya sambil menahan tawa.
“Ya udah, omong-omong, udah ada balasan dari Delina? Dia bisa ikut apa nggak? Aku gak dapat kabar apa-apa,” ucap Darel mengganti topik pembicaraan.
“Belum juga. Malah barusan aku kirim chat lagi, berikut ditelefon gak ada balasan apa-apa,”
“Apa langsung aja ya?” ucap Mimi lagi.
“Tunggu... tunggu... biar aku telefon lagi,” Darel pun mengambil HPnya di saku, mencari nama Delina di kontak, dan menghubunginya.
Memang agak lama, namun akhirnya Delina mengangkat panggilan Darel.
“Lin, jadi ikut gak? aku dan Mimi udah mau otw ke sana nih?!” tanya Darel.
“Aduh, sorry banget ya, Rel. Gak usah ke sini, Mama gak kasih izin aku,”
“Oh gitu, kamu ada acara keluarga ya?”
“Iya, Rel, sorry banget ya! Salam buat Mimi. Have fun ya!” kata Delina dari balik telefon.
“Ok, siap,” sambungan pun terputus.
“ Apa katanya?” tanya Mimi pada Darel.
“Delina gak bisa,”
“Oh,”
“Ya udah, buruan naik!” ajak Darel pada Mimi untuk segera menumpak motornya.
“Aduh dibonceng cogan, jadi deg-degan deh!” komentar Mimi usil.
“Lebay!” balas Darel.
Mereka pun meninggalkan trotoar tadi, dan pergi berdua mengendarai motor ke sebuah pesta ulang tahun di kawasan Jalan Setiabudi, gerimis mulai turun ketika mereka beranjak pergi.
***
Ilham mengamati Delina yang sedang menerima panggilan telefon dengan sedikit rasa cemburu. Terdengar samar-samar suara seorang laki-laki dari balik speaker telefon.
“Maaf ya, A, barusan Darel telefon,” kata Delina, kembali duduk di sebelah Ilham yang dipisahkan bangku rotan berbentuk bundar.
“Oh, ternyata Darel namanya,” gumam Ilham dalam hati.
Kebisuan menyeruak, mereka hanya terdiam dan tidak saling menatap. Rasa canggung pun kembali hadir di antara mereka, pohon jambu air kecil di depan rumah, yang di tanam di dalam sebuah pot dari ember bekas cat tembok, menjadi saksi.
Tak lama Linda keluar dari warung, dan menghampiri mereka.
“Lho, kok pada di luar? Gak masuk aja, Ham?” tanya Linda yang melihat Ilham masih duduk di teras rumah.
“Eh, Tante, gak enak di dalam gak ada siapa-siapa, mending di sini aja, Tante, sekalian cari angin sambil lihat motor-motor lewat,” Ilham tersenyum manis.
“Ah, pake gak enak segala, gak ada setan kok di dalam, Ham,” komentar Linda bercanda.
“Aduh, mana gak dikasih minum,” ucap Linda lagi.
Mendengar itu Delina buru-buru beranjak dari kursi.
“A Ilham mau minum apa?” tanya Delina serta-merta.
“Gak usah, Lin, gak apa-apa, nyantai aja,” kata Ilham.
“Ya udah, Tante tinggal dulu ya,” kata Linda sambil masuk ke dalam rumah.
Terlihat anak-anak bermain bola di jalanan depan rumah Delina, sore hari gang rumah Delina memang ramai, motor berseliweran bergiliran dengan anak-anak yang bermain. Jika ada motor anak-anak yang bermain langsung menepi, setelah motor lewat mereka kembali bermain. Pemandangan yang sangat jarang dan mungkin hampir tidak pernah disaksikan Ilham sepanjang hidupnya.
Sebuah Rumah di komplek pemukiman elit yang ditempati Ilham dan keluarganya seperti kota mati, pagar-pagar tinggi menjulang ke atas, rumah-rumah dengan pelataran luas tergembok rapat di bagian gerbangnya. Beberapa rumah bahkan punya pos satpam sendiri, seperti rumah Ilham. Namun di kediaman Ilham ruang satpam di depan rumahnya dibiarkan kosong, karena Mang Mamat sudah lebih dari cukup.
Mang Mamat adalah Penjaga rumah sekaligus asisten rumah tangga Ilham. Kadang kalau sedang tidak ada kerajaan, Mang Mamat sering diajak tanding biliar oleh Ilham, dia partner main biliar paling setia. Yang bisa dikontak kapan pun ia mau.
Selain ada meja biliar, Ilham juga punya seperangkat peralatan tenis meja lengkap, treadmill, ring basket mini, dan seperangkat peralatan Band, yang biasanya digunakan Ilham untuk mengusir kejenuhan.
Meskipun punya rumah besar, yang sangat representatif untuk melakukan party-party setiap hari, Ilham tidak pernah mengundang orang ke rumahnya, kecuali teman-teman satu Bandnya. Bahkan Delina pun belum pernah main ke rumah Ilham sekali pun, meski mereka sudah saling mengenal cukup lama. Delina mendengar cerita-cerita tentang kemegahan rumah Ilham hanya dari mulut Rico saja. Seperti mendengarkan dongeng tentang istana bangsawan.