Kunjungan yang Tak Biasa

1386 Kata
“Ya iya lah, biasanya juga Si Ilham emang ke kamar. Kamar aku lagi berantakan banget, gak enak, jadi tunggu aja di teras, atau kamu kencan aja sama Si Ilham sambil nungguin aku... Ehem...” Rico pura-pura batuk sambil melirik. “Oalah, kirain kamar siapa?” Delina lega. Ternyata pikirannya selama ini terbang ke mana-mana. “Lha, kamu pikir kamar siap? Kamar kamu?! Astagfirullah...ckck,” Rico berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala, kemudian tertawa geli. “Apaan sih?” wajah Delina langsung memerah. “Kamu mirip Si Ilham lho kalau lagi malu, jangan-jangan kalian jodoh,” kata Ilham lempeng. Delina membalas dengan memukul pundak Rico menggunakan tangannya yang beraroma ayam mentah. Setelah itu Rico pergi sambil membonceng Sam pergi meninggalkan rumah dengan motor. Setelah menyemprotkan beberapa kali parfum spray tentunya, di bekas telapak tangan Delina yang penuh aroma amis ayam mendarat. Tak berlama-lama, Delina pun segera kembali ke warung. Hatinya masih berdebar mengingat Ilham hari ini akan datang, setelah sekian tahun Ilham sering bolak-balik ke rumahnya rasanya biasa saja, tapi belakangan ini rasanya jadi sedikit berbeda. Dari kejauhan motor Ilham sudah terlihat, tak lebih dari satu menit, Ilham sudah sampai di depan gerbang kediaman Delina. Linda memperhatikan siapa yang datang dari pintu warung. Delina menengok ke arah lain pura-pura tak melihat, padahal ia tahu betul itu Ilham. “Lin, itu bukannya Ilham ya? Lha, barusan bukannya Rico pergi kerja?” tanya Linda heran. Biasanya Ilham ke sini jika Rico ada. “Iya, Ma, A Rico suruh aku bilang ke A Ilham tunggu di rumah dulu sampai A Rico pulang katanya,” jawab Delina, pura-pura cuek. Padahal sejatinya jantungnya berdebar hebat, seperti akan keluar dari rongga d**a. “Ya udah, sana, temui Ilham dulu, kasihan jauh-jauh!” kata Linda. “Aduh... Neng Delina udah ada yang apel ya?” kata salah satu Ibu yang sedang mengantre di warung ayam potong. Sambil ikut tersipu-sipu. “Ah Si Ibu bisa saja, itu temennya Rico, Bu,” sahut Linda. “Tapi asli cakep, Ceu... lumayan kalau jadi mantu, perbaikan keturunan,” ibu itu menahan tawa. “Dasar Si Ibu ini, doain aja ya Bu biar Delina jodohnya enteng. Eh, berapa kilo tadi, Bu?”  kemudian mereka pun tidak membahasnya lagi. Delina membuka kain celemek yang terbuat dari bahan parasut, yang menutupi pakaiannya, kemudian digantung di paku dekat pintu ke luar. Setelah itu ia bergegas masuk rumah untuk membersihkan diri. “Permisi, Tante, Rico nya ada?” tanya Ilham dengan sopan. Basa-basi. “Iya, eh Ilham, Rico baru aja berangkat, udah janjian?” tanya Linda. “Sebetulnya udah sih, Tante,” kata Ilham. “Oh kalau gitu, tunggu aja, langsung masuk aja, Ham, ada Delina kok,” kata Linda. “Biar tunggu di sini dulu aja, Tante, boleh?” tanya Ilham sambil menggeser sebuah bangku panjang di depan warung, terbuat dari kayu ala kadarnya yang paku-pakunya pun seperti mau lepas. “Oh, boleh... boleh... ” jawab Linda, sedikit tidak enak sebetulnya. “Tapi tidak apa-apa dianggurin? Tante masih ada pembeli,” kata Linda lagi. “Gak apa-apa, Tante, dilanjut aja!” Ilham tersenyum, membuat pelanggan yang sedang mengantre terkesima. "Kayak artis ya, Bu!" Ilham dapat mendengar bisik-bisik ibu-ibu itu. "Iya..." Sambil menunggu, Ilham merogoh HP dari sakunya, ia baru teringat ada tiga pesan Rico yang belum dibaca. “Ham, sorry, gue ada lembur ternyata, tapi gak lama-lama sih, cuma belum tahu pulang jam berapa. Kalau lu gak keberatan, lu mau kan tungguin gue bentar? Jangan dulu balik. Soalnya gue juga ada perlu sama lu,” pesan Rico. Selanjutnya... “Oh ya, please, lu jangan masuk dulu ke kamar gue ya. Berantakan, malu,” emot tertawa. Selanjutnya... “Oh ya, kalau lu bosen nungguin gue di rumah, ada Si Delina, lu ajak jalan kek ke mana, tapi inget jangan diapa-apain, awas lu!!” emot marah. Tiga pesan dari Rico yang berderet sudah dibaca. Ilham tersenyum membaca pesan Rico, kemudian membalasnya. “Siap, Bro! Ah, lu pake gengsi-gengsian segala, kalau gue cewek sih wajar lu malu ketahuan kamar lu berantakan, lah ini ke gue, lagian najis banget gue naksir sama lu,” *** Delina sedang asyik duduk di depan cermin, di kamarnya. Berdandan memang bukan hobinya, tapi sepertinya insting kewanitaan Delina mulai bekerja pada tubuhnya, ada kalanya ia sangat menikmati aktivitasnya di depan cermin ini Beberapa kali ia membubuhkan lip tint ke bibirnya, tapi beberapa kali juga menghapusnya, karena takut tampak norak. Tunggu, memangnya Delina mau ke mana? Bukannya ia tidak diizinkan Ibunya pergi ke pesta ulang tahun Febi?. “Lin, lagi ngapain sih?” terdengar suara Linda dari luar sambil mengetuk pintu kamarnya. “Iya, Ma, sebentar,” Delina bergegas membukakan pintu. “Lin, itu temenin dulu Ilham, dari tadi sendirian, kasihan.” “Iya, Ma,” kata Delina singkat. “Tunggu... Tunggu... Kamu mau ke mana? Cantik amat?” kening Linda berkerut memperhatikan anak gadisnya yang mungkin baru puber. “Ah, gak ke mana-mana kok, Ma? Emang kelihatannya kayak mau pergi ya?” tanya Delina kikuk. “Engga juga sih,” jawab Linda tak yakin. “Ya udah sebentar, Ma,” Delina berniat kembali masuk kamar untuk melihat penampilannya, jangan-jangan betulan norak. “Eh, mau ke mana lagi, udah sini... itu temenin Ilham!” Linda berhasil menarik tangan Delina, sebelum ia kembali masuk ke kamarnya. Delina pun menutup pintu kamar, lalu berjalan mengikuti Linda. Debaran aneh itu kembali muncul, setiap langkah menjadi teras begitu berat rasanya. “Lin, kamu sakit?” tiba-tiba Linda bertanya, ia melihat Delina dengan penuh kekhawatiran. Insting seorang ibu kadang sangat tajam. “Nggak, Ma,” jawab Delina. “Oh, ya sudah, tuh temenin Ilham,” Delina melihat punggung Ilham dari kejauhan, hari ini ia menggunakan kaos berkerah berwarna biru muda. Melihat Ilham dari belakang saja sudah terpancar aura ketampanannya, apa lagi dari depan. Tak heran jika ada orang yang memandang Ilham kemudian mendadak pingsan karena silau. Ilham masih duduk di bangku reyot yang terletak tepat di depan warung ayam potong Linda, bangku itu memang diperuntukkan bagi pelanggan, agar tidak lelah saat antre. Maklum lah, warung Linda tak pernah sepi. Delina sudah berdiri di belakang Ilham sekitar tiga menit yang lalu, namun tiba-tiba mendadak tubuhnya menjadi kaku, mulutnya pun jadi kehilangan kemampuannya berbicara mendapati Ilham di depannya. Seperti mengirimkan sebuah sinyal, Delina tidak perlu menyapa Ilham agar menyadari keberadaannya, tanpa diminta tiba-tiba Ilham berbalik. “Lin, udah lama berdiri di situ?” sapa Ilham tersenyum. Ganteng bukan main. Sulit mendeskripsikannya. “Maaf A, nunggunya sendirian ya?” “Gak apa-apa, di sini rame kok,” jawab Ilham sambil menunjuk beberapa pelanggan yang sedang menunggu giliran dilayani oleh Linda. “Ah, A Ilham bisa aja, A Rico nya juga pergi, A...” “Tapi katanya jangan dulu pulang!" ucap Delina dan Ilham berbarengan tanpa diberi aba-aba. Mendadak mereka pun menjadi canggung. “Eh.. iya maksudnya tungguin dulu aja di rumah,” Delina kikuk. “Hush, kalian ngobrolnya di rumah atuh, jangan di situ, ini menghalangi yang mau beli!” tiba-tiba terdengar teriakan Linda. Delina pun mengajak Ilham ke teras rumah, dan Ilham mengikutinya dari belakang. Ia bisa merasakan aroma wangi sabun bunga mawar dari tubuh Delina yang terbawa angin. Ilham berpikir, sepertinya Delina baru saja berdandan. Jangan-jangan memang betul akan ada seseorang yang datang hari ini menemui Delina. Pasti orang yang dimaksud adalah orang yang pesannya nyasar ke HP Ilham. “Mau tunggu di mana, A?” tanya Delina basa-basi. “Gak apa-apa di sini saja, Lin. Udara segar,” kata Ilham. “Mau tunggu di kamar?” tanya Delina. “Kamar?” “Hm.. maksudnya mau tunggu di kamar A Rico?” “Oh, kirain kamar kamu? Nggak, Lin, di sini aja gak apa-apa,” canda Ilham, ia tertawa. Teringat pesan Rico, bahwa hari ini ia dilarang masuk kamarnya. “Masa iya kamar aku sih,” muka Delina langsung memerah. "Nanti kan aku nyamar jadi temen kamu," "Ah, A Ilham mah bisa wae," Delina kesal namun tertawa. Refleks memukul bahu Ilham, yang berhasil ditangkis. Tiba-tiba saja mereka seperti tersengat arus pendek. Saling terdiam. Delina sering melakukan itu, tapi dulu, dulu sekali, mungkin saat ia masih SD. Delina memang kerap jadi bulan-bulanan Rico dan Ilham. Jika kesal Delina hobi sekali memukul dan mencubit pundak atau tangan mereka. Tapi semakin Delina bertumbuh dewasa, ia semakin canggung menyentuh Ilham secara fisik, begitu pula sebaliknya. Karena semakin ke sini Delina sudah memandang Ilham sebagai seorang pria bukan lagi sebagai sahabat kakaknya semata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN