"Pe—pemilik kantor?!" tanya Aina gugup saat Adi bisa menebak. “Iya! Bukannya tadi lo bilang, ada di kantormu?” selidik Adi. “Eee ... maksud gue—" “Lo juga siapin sarapan buat dia. Lo abis bermalam sama pemilik kantor ini?” sela Adi yang melihat Aina makin gugup. Aina hanya bisa tertunduk bingung tidak bisa mengelak lagi. “I—iya, Di,” jawabnya pasrah. “Lo ada hubungan sama Pak Andra?” “Enggak ada, kita cuma temenan aja, kok!" jawab Aina, panik. “Bagus dong, kenapa lo rahasiain dari gue?!" “Gua takut, Di, kalo sampe ada yang tahu Pak Andra temenan sama bawahannya. Gue takut dia malu bergaul sama orang miskin kaya gue!" “Lo boleh rahasiain dari yang laen, tapi jangan dari gue. Gue ini sahabat lo. Apa lo akan buang gue setelah dapet temen orang kaya?” “Ya enggaklah. Gue gak mungkin b

