Sedang Diusahakan

1700 Kata
"Dia datang dengan harapan bahwa setelahnya gerimis akan hilang dari matanya dan tawa akan mengganti tangis itu. " -Agal- *** "Saya ga kangen. " Masih sama dengan terakhir kali, kaku dan sulit tersentuh. Seolah beku yang selalu ada dalam auranya, seketika aura bandara terasa sama dinginnya seperti kebekuan yang dia ciptakan. Nana melihat Leon, Ajon, dam Deri di belakangnya, tentu saja Nana langsung menyapa ketiganya. "Mbak Nana, aku udah punya puisi baru lagi, " ucap Deri seperti anak kecil yang melapor kepada kakaknya. "Wah keren banget Der, nanti kirim ya ke Wa Mbak, " balas Nana dengan senyuman bahagia. Menulis itu adalah salah satu cara menyampaikan apa yang tidak bisa diungkapkan dengan lisan tetapi bisa tertulis dalam lisan dengan begitu baik. Sementara Agal yang melihat kedekatan keduanya hanya diam. "Ini Kapten kamu kaku banget Der, padahal kan es batu itu walaupun dingin tapi lama-kelamaan mencair 'kan. " "Heheh kalo itu udah dari lahir Mbak, " timpal Leon yang ingin tertawa tapi langsung menutup mulutnya karena Agal sudah menatapnya dengan tatapan mematikan. "Mbak, makan dulu, " ajak Ajon begitu sopan, memang dia kerap kali serius tetapi Nana akui Ajon memang anak-anak good boy karena sopannya kebangetan. Deri melihat Ani dan dengan langkah pasti menyapa seseorang yang sejak beberapa bulan terakhir ini selalu dia nanti kabarnya dan menjadi salah satu barisan kata yang dirangkai dalam tulisannya. "Ani, apa kabar? " tanya Deri sangat ramah. "Alhamdulillah baik, gimana program membantu anak jalanan untuk belajar? " tanya Ani balik karena dia tahu selain tugasnya sebagai aparat negara ternyata Deri juga menyelesaikan tugas relawan untuk membantu anak yang buta huruf dan ingin mengaji yang diajar langsung oleh Agal. "Alhamdulillah udah terlaksana kemarin, mereka seneng banget apalagi Ajon ngadain konser gratis ngundang temennnya yang artis. " Ajon memang anaknya sangat aktif bermain media sosial itulah dia mengenal banyak orang dalam jaring media sosial. Sedangkan Leon yang sering kali memberikan sumbangan konsumsi, sejak remaja jiwa sosialnnya sudah tinggi makanya dia juga sering ikut pencinta alam untuk menjelajahi gunung. "Eon, sehat kan di sini? " tanya Nana sambil tersenyum gembira karena Eon juga seperti adiknya yang sangat manis. Reygan pun ikut menghampiri Agal yang masih memandang Nana dengan wajah yang sulit diartikan. "Dia Nana, emang anaknya mudah dekat sama siapa aja, " ujar Reygan sambil merangkul Agal. Tapi yang dirangkul tidak membalas apa-apa hanya diam seribu bahasa seolah mengisyaratkan jika dia tidak ingin diganggu. "Gue suka sama Nana, udah dari lama. Ga tau kenapa dia lebih milih orang yang jelas-jelas hatinha bukan buat dia." Reygan tidak suka jika Nananya sakit hati apalagi Nana perempuan baik, dulu ketika awal masuk bekerja di Balai Bahasa Reygan dibuat takjub dengan kebaikan Nana yang rela terkena hujan demi menolong seorang Ibu yang kelaparan, sampai dia bingung kenapa orang sebaik Nana harus tersakiti dengan lelaki seperti Reygan. "Dia istri saya, " balas Agal memperingati Reygan untuk tahu posisisnya hanya sahabat Nana tidak seharusnya menghakimi. Nana masih tertawa sambil bercerita dengan ketiga sahabatnya sesekali Aji juga menanggapi dengan tawa, mereka berencana untuk melakukan bimbingan belajar kelompok tentang bahasa daerah atau mungkin camping bersama anak-anak remaja agar lebih mencintai dan menumbuhkan rasa cinta terhadap indonesia. Pertemuan itu akhirnya dipisahkan karena Agaal mengajak untuk makan terlebih dahulu, hari juga sudah siang tentu saja mereka lapar. Agal berjalan di belakang sambil mengiring teman-temannya yang sudah di depan, melihat itu Lana menyamakan langkah kakinya untuk berada di sebelah Agal. "Gagal, kenapa diem aja dari tadi? " Tidak ada jawaban hanya suara angin dan langkah kaki yang mendengar ucapan Nana, tetapu bukan Nana kalo tidak ada cara jitu menghadapi dingimnya sikap Agal. Nana sedikit menyilangkan kakinya dan membuat dia terjatuh di samping Agal, sementara temannya yang lain sudah jauh di depan dan tidak akan tahu jika Nana terjatuh. "Argh, " teriak Nana menghembuskan kakinya dengan lembut. "Makanya hati-hati. " Meski sambil marah Agal langsung mendudukan dirinya dengan posisi jongkok untuk menggendong Nana. Senyuman Nana mengembang sempurna, ternyata berhasi membuat Agal memperhatikan dirinya. "Kan Nana lagi jatuh, harusnya disayang bukan dimarahin, " ucap Nana berpura-pura sedih. "Makanya udah dibilangin kalo jalan itu lihat-lihat, kaya anak kecil sih pecicila." "Seneng deh kalo Gagal ngomong panjang gini, apa Nana harus jatuh dulu baru Agal jadi cerewet? " "Saya ini enggak ngomelin kamu. " "Oh, itu tanda perhatian ya, ih kenapa pake kode-kode segala sih, kana Nana waktu dulu suka salah kalo teka-teki lagian kan Nana enggak belajar kimia ga perlu pakai kode sama rumus-rumus, " balas Nana dengan tertawa. "Pegangan. " "Nana mah kalo sama Gagal pasti pegangan. " "Nyusahin, anak kecil." "Awas, nanti jatuh cinta sama anak kecil Om, " balas Nana tertawa apalagi menggoda Agal dengan panggilan baru Om. "Kenapa manggil Om, kan saya suami kamu." "Wah, ada kemajuan sekarang Gagal udah anggap Nana sebagai istri. " "Udah jangan ngomong terus." "Tapi kalo dekat Gagal, Nana sukanya bicara apalagi kalo mau ngungkapin perasaan. " "Bawel. " Dalam hati Nana tertawa, mungkin hari ini hatinya bukan milik Nana tapi doanya selalu sama semoga saja sang pembolak-balikkan hati mengerti langkah dan arah yang tepat. Koridor itu masih menjadi tempat yang bising acara musik akustik malam yang biasa disetel jika siang tak ada penyanyinya. Kadang sering kali berpikir sebenarnya apa yang di cari di dunia, seringkali mengingkan sesuatu terlalu berlebihan hingga tidak sadar bahwa itu menyakitkan. Agal menggendong Nana seperti tidak ada beban dan perasaan senang Nana benar adanya. Dulu kata orang jangan mencintai sepihak karena hanya akan memahat sepiak hati dan kepingannya menjadi berantakkan. "Kapten Agal, " sapa seorang anak kecil yang memakan cokelat. "Iya Danu. " Ada yang istimewa dari Danu, dia tidak memiliki kaki yang utuh lagi, tetapi dengan senyuman paling tenang dia berjalan mendekati Agal. "Danu, sekarang di sekolah udah belajar cara merakit pesawat kapten. " "Wah keren banget, semoga nanti bisa jadi pembuat pesawat untuk negara kita ya Danu, " ucap Agal dengan senyuman. "Aamiin, ini semua berkat bantuan Kapten Agal yang selalu kasih Danu buku-buku baru. " Danu belum menyadari jika dalam gendongan Agal ada Nana yang bersembunyi sambil mendengarkan. "Iya, pokoknya selama Danu mau belajar pasti Kapten Agal usahakan untuk mencari buku yang banyak. " "Terima kasih Kapten." Danu baru menyadari ada seseorang yang sedang digendong oleh sosok om yang selalu memberikan dia semangat dalam belajar. Agal memang sangat baik dan perhatian terhadap anak kecil. "Wah, ada siapa itu Kapten? " "Halo Adik kecil, Aku Nana, istrinya Kapten Agal, " ucap Nana memberikan sebelah tangannya untuk salaman dan disambut Danu dengan semangat. "Bu Kapten, salam kenal ya. Titip Kapten Agal ya Bu, jangan sampai sakit. " Nana tersenyum mendengar perhatian anak kecil berumur 10 tahun yang sudah tidak memiliki kaki yang utuh namun semangatnya sangat besar, dia merasa sangat tertampar kadang masih suka mengeluh dengan keadaan seolah merasa bahwa Allah tidak adil, diberi cobaan sedikit sudah menghakimi Allah sedemikian rupa sampai merasa semuanya salah sang Pencipta, memang dasar hidup ini. "Salam kenal kembali Danu, semoga Danu selalu semangat ya, jangan sungkan juga tanya sama aku kalo ada kesulitan ya. " "Iya Bu Kapten, Danu sayang juga sama Bu Kapten. " Kasih sayang dari orang yang baru bertemu bisa sangat dekat dan mengaggap kita seperti sedekat nadi membuat Nana tersenyum. "Kapten Agal pergi dulu ya Dan, ini Bu Kaptennya lagi sakit abis jatuh, kaya anak kecil kan. " Agal sengaja menyindir Nana biar Nana sadar bahwa dia sudah berbuat masalah dengan terjatuh. Danu pun tersenyum dan membalasnya dengan tangan kanan yang melambaikan tangan ke kanan dan kiri. Danu pun berpamitan dan menyalami tangan keduanya secara bergantian, salam hangat untuk keduanya. *** Pagi ini hujan mengguyur kota Kalimantan, para pejalan kaki berlarian mencari tempat bertuduh, rasanya mereka semua memilih untuk berlindung di balik selimut sambil terlelap atau bercerita bersama keluarga. Tapi yang aneh hari ini adalah Ani, dia banyak diam dikala hujan, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya tentu saja membuat Nana memperhatiknya dengan seksama. Bulan September ini memang sering sekali hujan baru kamarin di tanah Jawa sekarang sudah di tanah Kalimantan. Nana mulai khawatir, tidak biasanya Ani malah diam seribu bahasa seperti sekarang. Pasti ada masalah besar yang sedang meracuni pikirannya. "Kenapa Ni? " Ani awalnya tidak menjawab, sepertinya karena tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Ani mencoba sekali lagi mencari alasan kenapa sahabatnya itu murung. "Kenapa Ni? " tanya Aji yang ikut memberikan isyarat kedipan mata ke Nana untuk mencari tahu apa yang terjadi. "Enggak tahu, " jawab Nana membalas dengan huruf yang tidak terdengar namun tahu dari cara pengucapan bibirnya. Ani akhirnya sadar dan melihat kedua temannya itu dengan pandangan lesu. "Mau cerita? " tanya Nana yang masih menunggu penjelasan dari Ani. "Aji, Nana, ayah gue ketahuan korupsi dan sekarang dibawa ke pihak berwajib sambil menunggu Berkas-berkas." Ternyata hal yang paling tidak diinginkan terjadi dalam hidup Ani harus terima kenyataan bahwa sang Papa dipenjara karena kasus korupsi. Dia berharap masalah ini segera selewsai agar Ani dapat kembali tersenyum dengan pelukkan Nana memeluk Ani menyalurkan energi apa saja yang bisa diberikan untuk sang sahabat. Selama Nana kenal dengan Papa Ani tidak ada yang aneh dengan dirinya sama seperti ukuran papa lain yang sangat sayang anaknya dan melakukan apa saja yang ia bisa untuk mmebahagiakan anaknya dengan sangat baik, sampai kadang beberapa kejadian sweet yang selalu ditunjukkan pada story membuat terharu. "Gue yakin Ni, Om pasti bukan pelaku utamanya Ni, pasti ada dalang yang tega ngelakuin ini semua, " ucap Nana sambil memeluk Ani. "Iya Na, semoga bukan Papa. Tapi di rumah lagi heboh banget, sampai tetangga berdatangan dan buat mama sedih. " "Ani, kita bakal selalu ada buat lo dalam kondisi apapun. Tetap kuat ya Ni, " sahut Oji tidak pernah tega melihat Nana atau Ani yang menangis sesegukan seperti ini. Mereka bertiga berpelukkan saling menguatkan dan berusaha melakukan yang terbaik dan berdoa. Nana percaya akan ada pelangi setelah hujan. Semua ketakutan itu agar segera terobati dan selalu melakukan yang terbaik. "Gue bakal terus ada di samping lo Ni," ucap Aji lagi dengan kekuatan yang lebih besar agar Ani tetap kuat. "Ani itu anak yang kuat, kenapa cobaannya berat karena Allah percaya kalo lo mampu ngelewatin ini semua Ni, " ujar Nana juga dengan air mata yang ikut jatuh. Kali ini tangis air mata dari ketiganya seoalah mewakili jika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Berharap semua akan cepat berlalu dan hilang dari ketakutan besar yang melanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN