"Pertemuan itu hanya sebentar karena yang paling lama adalah perpisahan. Selamat menikmati waktu karena kita tidak pernah tahu perpisahan seperti apa yang Allah dan semesta rencanakan. "
-Agal-
***
Bu Gendut sudah menelepon keempatnya untuk pulang hari ini, karena waktu dinas mereka telah selesai, sekarang waktunya berkemas.
Nana masih setia melihat layar HP-nya sambil sesekali memilih untuk tidak memikirkan apa yang beberapa hari ia alami, baginya itu hanya hentakkan kecil yang tidsk seharusnya membuat nyali Nana memudar.
"Na, lo tau enggak lagu ini? " tanya Ani yang menghidupkan lagu beat dan membuat Nana bergoyang.
"Enggak bisa denger lagu dikit, " ucap Nana gembira.
Hari ini pemandangan yang berbeda Nana lihat, Agal sengaja mengantar kepulangan Nana dengan membawa Rara.
Reygan yang melihat itu rasanya sudah mau mencempelungkan lelaki yang bernama Agal itu ke dalam lautan karena padahal sudah jelas Reygan ingatkan untuk menjaga perasaan Nana tapi malah melalukan hal tidak Reygan sukai.
"Gue mau ngomong sama lo, " ucap Reygan langsung saja menghampiri Agal.
Agal mengikuti langkah kaki Reygan dengan menyesuaikan kecepatan, entah apa yang ada dipikiran Agal sampai sangat tega menyakiti hati Nana.
"Kenapa ajakin saya ke sini? " tanya Agal dengan suara khasnya yang sangat tegas.
"Lo kalo enggak bisa buat bahagia seenggaknya jangan ngancurin rasa percaya dan harapan orang sama lo! "
"Emang gue ngapain? "
"Berani lo buat Nana sakit, gue bakal enggak segan-segan matahin tulang lo, jangan karena Nana sayang sama lo, jadi seenaknya. Inget ya! Hargai adanya sebelum enggak adanya lo rinduin, " lanjut Reygan yang kesal jika sampai Nana disakiti.
"Kenapa? Nana istri saya. Kamu yang bukan siapa-siapa jangan ngatur-ngatur."
Agal meninggalkan Reygan yang masih sangat kesal dengan dirinya. Rara yang ditinggal sendiri melihat Agal dengan tatapan yang berbeda.
"Kenapa? " tanya Rara saat Agal kembali lagi ke tempat semula.
"Gapapa. "
Agal memang sengaja sebenarnya bilang tidak suka dengan Nana, karena dia takut semakin memberikan harapan kepada Nana nanti akan menyakiti Nana jauh lebih dalam lagi.
Dia juga tidak menyukai Rara, tapi separuh dirinya masih tertinggal dengan Dinda, kadang merasa sangat bersalah dengan Nana selalu mengecewakan perempuan ceria itu.
"Gagal, ke sini nganterin Nana ya? " tanya Nana yang tidak memperdulikan adanya Rara.
"Ini jaket, " ucap Agal memberikan jaket tebal karena Nana kadang suka sekali lupa memakai jaket padahal sekarang sering kali hujan yang membuat dingin jika dalam perjalanan.
"Nana mau peluk boleh? " tanya Nana sambil mengambil jaket pemberian Agal.
"Beleh, " jawab Agal masih sangat dingin.
Nana pun memeluk Agal dengan senang apalagi hal itu membuat panas Rara yang ada di sebelah Agal.
"Tuan Es, jangan galak-galak dulu ya hari ini. Nana pengen akur. "
"Kan saya enggak jualan Es, kenapa manggil Tuan Es, " jawab Agal dengan wajah datar yang sering ia tampilkan.
"Astaga enggak gitu konsepnya Ucup. "
"Nana, kamu ganti nama saya terus. "
"Kan lucu Gagal, " balas Nana sambil tertawa.
"Ya udah jaketnya dipakai, ini juga kartu ATM jangan lupa jajan ya, saya belum tahu kapan pulang. kamu di sana tetap jaga kesehatan. "
Agal itu kalo sedang manis, sebenarnya banyak yang kalah dengan kemanisan dirinya.
"Wah Nana bisa terAgal-Agal kalo begini. "
Reygan yang melihat itu menahan cemburu tapi dia senang jika Nana diperlakukan dengan baik, jangan menyakiti Nana karena seorang perempuan akan menjadi ratu ditangan laki-laki yang tepat.
"Iya, iya yang lain cuma ngontrak, " ucap Ani dengan harapan tahun ini dia juga akan diperlakukan sama dengan sudah ada yang mendampingi.
Kemarin jahat hari ini baik, suasana hati Agal memang tidak pernah bisa ditebak, kadang seolah membenci Nana dan kadang juga seperti sangat sayang dengan Nana memang suka-suka Agal dan Moodnya saja.
"Mbak Nana, ini puisi yang udah Deri buat tapi ternyata Kapten Agal juga buat puisi."
Dua buah amplop kertas yang berisi puisi Nana lihat dan baca, ternyata itu adalah sebuah puisi yang bertuliskan untaian kata-kata penuh makna.
"Lah, kok bisa kamu pegang Der? " tanya Agal kaget, karena dia tidak pernah ingin orang lain tahu kalo dia juga pandai dalam merangkai kata.
"Heheh maaf Kapten, tapi tadi Deri emang cari tahu cara biar bisa mencurinya."
"Emang Deri jiwa-jiwa mencurinya udah terasah, " timpal Leon dengan tertawa.
Rara kesal juga ternyata di sini hanya menjadi obat nyamuk untuk keduanya, dia menatap Nana dengan pandangan meremehkan sebenarnya apa yang unik di Nana.
"Tadi Kapten Agal galau loh Mbak Nana, " seru Leon polos sekali dia sangat lucu dengan mengatakan kejujuran.
"Hehhe, Nana pulang dulu ya semuanya. Baik-baik juga di sini. "
Nana dan teman-temannya sudah siap untuk berangkat karena memang perjalanan mereka menuju Jakarta memang Nana bertugas di sana bersama ketiga temannya ini.
Sebelum berangkat Agal memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu yang membuat Nana terharu, dia tidak pernah tahu Agal bisa memainkan musik karena selama ini yang Nana lihat hanya dinginnya es potong ini.
Agal menyanyikan lagunya--Lyodra
Sadar ku tak berhak untuk terus memaksamu
Memaksamu mencintaiku sepenuh hati
Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu
Tapi terimalah permintaan terakhirku
Genggam tanganku, sayang
Dekat denganku, peluk diriku
Berdiri tegak di depan aku
Cium keningku 'tuk yang terakhir
Ku 'kan menghilang jauh darimu
Tak terlihat sehelai rambut pun
Tapi di mana nanti kau terluka
Cari aku, ku ada untukmu, ho-oh
Ku tak membencimu
Kuharap kau pun begitu, ha-ah (kuharap begitu), yeah, yeay
Tak ingin kau jauh
Tapi takdir menginginkan kita 'tuk berpisah
Lana yang mendengar itu merasa kalo lagu itu sangat mewakili perasaan dirinya mungkin bagi Agal itu biasa saja tetapi bagi Nana lirik itu bermakna dan pas sekali untuk dia kaum mencintai sendirian.
Setelah Agal selesai menyanyi Nana tersenyum dan memberikan tepuk tangan.
"Makasih ya Gagal, semoga kita selalu sama-sama terus. "
"Iya, Maaf Na, tapi saya nyanyi ini biar kamu paham maknanya. "
"Nanti pas pulang Nana pahami, sekarang mau berangkat dulu. Sampai ketemu Agal. "
"Iya hati-hati. " Agal ingin memeluk Nana tapi ketika tangannya ingin terangkat langsung ia urungkan lagi ternyata memang susah dengan orang yang memiliki gengsi tinggi seperti Agal.
"Gagal jangan kangen, soalnya Nana kan emang cantik, " balas Nana tidak nyambung.
"Ga jelas. "
"Iya, emang ga jelas, cukup hubungan kita aja yang di kasih kejelasan, " balas Nana dengan tawa yang hangat.
Karena ketika semua yang ada ini hanya titipan, manfaatkanlah momen berharga yang sudah Allah rancang dengan sangat baik karena kita tidak pernah tahu kapan Allah akan mengambil orang-orang itu dalam hidup kita.
"Nana pulang dulu semuanya. "
Nana pun berangkat dan melihat Agal dengan wajah yang sangat lesu ternyata memang hari ini Agal kurang sehat badan ketika Nana menanyai melalui Deri.
"Ani, nanti kalo tugas gue udah enggak banyak kita lamaran ya, " ucap Deri yang dapat di dengar orang lain.
Ternyata memang Deri sudah ingin serius, tidak ingin terlalu banyak bermain lagi dengan orang lain.
"Iya, datang aja ke rumah, " balas Ani dengan tawa diakhirnya.
Akhirnya mereka memang benar-benar pulang dan Nana berharap setelah ini hubungan keduanya.