"Sabar itu adalah cara untuk lebih bersyukur dan menjadi tenang, kadang beberapa orang tidak mampu karena sabar hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu saja. "
***
Saat kita tertidur kadang kala kita tidak tahu berada di alam mana dan apa yang sedang terjadi, semua itu berjalan dengan sendirinya. Seperti itulah masalah tidak pernah diundang dan dengan tidak permisi bisa saja menimpah kita kapanpun itu.
Nana yang baru diantar Agal berangkat ke kantor melihat Ani yang wajahnya kali ini sangat lesu dan mata sembab. Sebagai seorang sahabat tentu saja melihat Ani seperti itu menjadi beban sendiri dan kesedihan bagi Nana.
"Ani kenapa? " tanya Nana panik karena tidak biasanya sahabatnya itu menjadi seperti itu.
Ani masih menangis dan sesegukan, kebetulan Aji dan Reygan belum datang memang belum masih sangat pagi dan meja kerja masih sangat sepi.
Nana menunggu di samping Ani sampai tangisnya reda, dia terus saja memandangi Ani yang masih menyembunyikan wajah di balik lipatan tangannya.
Nana terus saja menunggu hingga satu persatu orang datang dan Ano belum mau membuka matanya, hingga Aji meletakkan tasnya di sampinh Ani.
"Kenapa Na? " tanya Aji menggerakan mulutnya tanpa bersuara.
"Enggak tahu, " balas Nana menggelengkan kepala dan mengangkat bahu tanda bingung.
Hingga akhirnya Ani membuka lipatan wajahnya itu dan menemukan dirinya sangat kacau, mata sembab, rambut acak-acakkan dan tentu saja sekarang penampilannya tidak seperti orang mah bekerja.
"Nana, gue bingung harus gimana, kemarin ada orang yang nagih hutang papa, tapi kita belum bisa bayar dan Mama di dorong sampai sekarang masuk rumah sakit. "
Mendengar itu Nana langsung saja mengajak Ani untuk izin kepada Ibu Gendut.
"Biar gue aja Ni yang bayarnya," ucap Nana yang tidak akan pernah tega jika sahabatnya itu memikirkan beban yang berat sendirian.
"Nana, ini banyak, " balas Ani dengan tangis yang makin kencang.
Aji yang melihat itu ikut terusik, karena tangis sahabat kita sama halnya dengan kesakitan untuk diri kita juga.
Tidak lama Reygan yang baru saja datang kaget melihat di kantor sudah ada Ani yang menangis.
"Ani, kita bisa sumbangan buat nutupin itu semua. "
Reygan yang sekarang bukan lelaki yang kasar lagi dia juga selalu melakukan yang terbaik untuk orang-orang sekitarnya.
"Kan ada gue juga Ni, " ucap Reygan yang berusaha menangkap percakapan ketiganya tapi sepertinya ini masalah uang, karena memang uang itu teebuat dari kertas tetapi nominalnya selaky saja meresahkan.
"Enggak, gue ga mau ngerepotin kalian. "
Mendengar itu Nana yang memang berani meminta izin kepada Bu Gendut segera menghadap bosnya itu untuk membicarakan hal ini.
"Assalamualaikum Bu. "
"Waalaikumsalam Na, " balas Bu Gendut dengan tumpukan kertas di depan mejanya yang begitu banyak.
"Ada apa Nana? " tanya Bu Gendut karena baru melihat Nana masuk dengan wajah yang cukup panik.
"Ibu, sebelumnya Nana mintak maaf mengganggu waktu Ibu, tapi ini menyangkut Ani. Keluarganya sedang ada masalah Bu. Ibunya masuk rumah sakit dan ayahnya dipenjarakan sementara ada orang-orang yang menagih hutang sampai menyebabkan ibunya masuk rumah sakit, " jelas Nana panjang lebar agar tidak terjadi kesalahpahaman setelah ini.
"Ani mana sekarang Na? "
"Masih di meja kerja Bu, ayo kita ke sana. "
"Ibu, apakah boleh kami berempat, saya, Reygan, Aji, dan Ani untuk izin sebentar Bu," ucap Nana dengan bahasa yang sangat alus.
"Boleh Na, semoga saja masalahnya cepat selesai ya Na, " ucap Bu Gendut berdoa agar Ani bisa terus fokus kerja dan tidak merasa terbebani.
Setelah keluar dari ruangan Bu Gendut bersama orangnya mereka menghampiri Ani yang masih sangat terpukul. Tetapi, harapan Bu Gendut Ani bisa terus kuat meskipun tentu saja sangat berat bertahan dan harus kuat menghadapi semuanya.
"Ani, hari ini gapapa libur aja dulu kerjanya, jangan sedih ya, nanti Nana, Aji, dan Reygan yang antar. Kamu udah makan? " tanya Bu Gendut memberikan uang dua ratus ribu untuk membeli makanan.
"Terima kasih Bu, " balas Ani masih dengan tangis yang terisak.
Mereka berempat pun bersiap untuk mengantar Ani bertemu dengan si penagih hutang yang jahat itu.
Nana, Reygan, dan Aji sudah berdiskusi sebelumnya untuk sumbangan membayar hutang papanya Ani.
Beruntung punya teman yang saling peduli dan mendukung, selalu ada disaat senang maupun susah dan selalu melakukan yang terbaik untuk sahabatnya.
"Nana, makasih banyak ya udah baik banget," ucap Ani tulus, sejak awal masuk di kantor balai bahasa tidak pernah terbayang akan bertemu Nana perempuan baik hati dan selalu ceria.
"Ih kaya sama orang lain aja. "
Nana balas memeluk Ani, karena baginya jika Ani menangis itu adalah sebuah kesakitan juga untuk Nana.
Reygan membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang, dia memang tidak ingin terlalu mengebut. Jalanan memang tidak terlalu ramai banyak sekali mobil dan motor yang bergerak dengan kecepatan yang cukup kencang.
Mereka tiba di sebuah rumah besar di mana rumah inilah tempat ayah Ani meminjam uang dan memakai bunga sekarang hutangnya ada lima puluh juta. Sebagian lagi memang sudah di lunasi sebelum ayahnya masuk penjara.
Mereka memasuki pekarangan rumah itu sambil diam membisu, seperti apa rumah lintah darat ini.
"Oh, kamu ya Anak Baskoro, " ucap lelaki berperawakan tinggi yang menyambut kedatangan keempatnya.
"Saya mau membayar hutang, " ucap Ani kala itu membuat Baskoro senang karena jika Ani membayar hutang tentu saja dia akan mendpatkan banyak uang hari ini.
"Mana uangnya? "
"Ini, " jawab Ani menyerahkan uang tersebut ke arah Baskoro.
Satu koper berisi uang lima puluh juta itu diserahkan Ani kepada Baskoro, dia sudah berniat untuk tidak berurusan lagu dengan lintah darat itu lagi.
Mereka pun akhirnya pulang berempat, setelah diberikan kwitansi lunas, Ani bisa bernapas lega dan sekarang tugasnya adalah menjaga mamanya yang sakit untuk bisa segera sembuh dan kembali pulih untuk melakukan aktivitas seperti biasa.
"Aji, Nana, Reygan, gue makasih banyak sama kalian. Maafin gue yang yang selalu ngerepotin. Buat uang lo bertiga nanti gue ganti waktu udah ada gaji ya. "
Langsung saja Nana menggelengkan kepalanya. "Enggak usah Ni, gue ikhlas, buat lo sama mama, " ucap Nana dengan tulus karena dia memang tidak ingin Ani merasa terbebani, masih banyak hal juga yang harus Ani pikirkan.
"Gue juga Ni, " sahut Reygan yang tidak ngin uangnya diganti lagi.
"Kalo gue, cukup lo ganti sama senyumam, jangan ada kesedihan lagi,," ungkap Aji dengan bangga karena busa membuat Ani kembali tersenyum.
"Gue enggak tahu gimana bisa balas semua kebaikan kalian bertoha, gue sayang banget sama kalian. "
Karena menurut mereka, persahabatan itu adalah berani mengambil resiko dan berani untuk saling mendukung dalam keadaan apapun.