Bersama Nana

1567 Kata
"Kamu tahu kenapa bintang malu jika siang karena kamu lebih indah darinya, jad kenapa matahari yang muncul, karena dia tahu silaunya dapat melindungi kamu dari gemerlapnya pandangan duri menjadi sesuatu yang begitu luar biasa. " *** Hidup itu dimensi, ketika memilih untuk bertahan atau berhenti semua orang punya hal, jalanan yanh masih padat membuat perjalanan Nana dan Davin sedikit terganggu. Nana masij tidur dengan nyaman di kursi sebelah sementara Agal duduk di kursi kemudi sembari menunggi kejenuhan. Dia mendengarkan lagu sambil sesekali tangannya mengetuk-ngetuk stir mobil sembari menggoyangkan kepalanya mengikuti irama musik. Untuk kali ini lagunya tiara Andini dan Arsy menemani perjalanan. Kau bukan cinta pertamaku Namun aku berharap Mulai hari ini, saat ini Engkau cintanya aku Yang kurasakan denganmu semua berbeda Kekasih yang baik hati, kini ada di sampingku. Nana terbangun mendengarkan suara Agal, baru kali ini dia bisa mendengar suara indah Agal yang membuat dia merasa beruntung. Nana pura-pura tidur agar bisa terus mendengar suara Nana. Lambat laun perjalanan Agal mulai lancar tidak ada kendala seperti tadi sekarang mobil yang dikendarai sudah melaju lebih cepat. Tempat pertemuan pesta perusahaan itu sangat ramai. Banyak pengusaha yang datang dengan baju mewah dan berbagai macam mobil dengan plat yang berbeda terpakir rapih. "Na, bangun. Kamu kalo mau tidur jauh banget ke sini. " Nana mengucek sedikit matanya untuk menyadarkan dirinya dari rasa kantuk. "Hehhe, maafin ya Gagal, Nana ngantuk banget, jadi enggak nemenin perjalanan." "Iya, saya dijadiin supir sama kamu. " "Ya, maafin Nana, Nananya yang salah sama Gagal. " "Kamu nyebelin. " Nana tertawa menanggapi si pangeran es batu di sampingnya ini, kadang mengahadapi Agal ini membuat Nana suka untuk menggodanya. "Tangan Nana enggak dipegangin? " tanya Nana sudah menyerahkan tangannya ke arah Agal. "Sini pegang, makanya jangan kaya anak kecil, saya repot kalo kamu hilang." Nana tersenyum mendapatkan tangannya digandeng oleh Agal, yang perlu kalian tahu Agal itu sebenarnya pria beku yang manis. Saat memasuki Red Karpet, Nana melihat ke depan dengan senyuman yang begitu anggun. Banyak tamu undangan yang melihat ke arah keduanya, seperti raja dan ratu sedang bersanding. "Oh, itu ya istri Kapten Agal, " ucap suara-suara yang Nana dengar. Kalo Nana semakin menjadi perbincangan maka dia akan semakin senang malah tersenyum dengan bahagia. "Halo Ibu, " sapa Nana kepada ibu yang membicarakan dirinya dengan Agal dan hal itu malah membuat Ibu itu jadi malu sendiri. "Nana, " tegur Agal karena melihat Nana membuat ibu itu malu. "Iya Sayang, " jawab Nana enteng dan hal itu malah membuat pipi Agal jadi memerah, sebelumnya tidak ada yang berani memanggil sayang. Mereka mulai menyapa satu-persatu rekan kerja Agal, karena di tempat kerja Nana memang sering bertemu dengan tamu penting jadinya Nana juga pandai sekali berbasa-basi. "Wah, Mbak Nana tahu ya tentang ini. " "Sedikit belajar Pak, tapi ini emang bagus sekali untuk tempat wisata dan juga bisnis, nah setelah ini nanti bisa juga di buat restoran atau tempat penginapan," jelas Nana yang memang pernah berkunjung ke sana ternyata pengetahuan tentang kebudayaan dan bahasa sangat mendukung Nana. "Wah, hebat sekali Ibu Nana, " puji Bapak Panji namanya yang memang selalu menjadi pemegang saham terbesar serta berpengaruh. Tidak lama ada seorang pria muda dan tampan yang ikut bergabung lalu dia memperhatikan cara bicara Nana dengan sangat fokus. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta, Nana selalu saja punya daya tarik tersendiri, dulu saja Juple yang baru bertemu sudah mengakui kagum dengan Nana. Dari banyaknya penjelasan Nana membuat Agal sangat terbantu dengan dirinya dan membuat para pemegang saham sangat tertarik dengan apa yang Nana jelaskan, bisa menjadi proyek Agal untuk mengembangkan restoran dan penginapan. "Ibu Nana juga cantik sekali ya, " puji istri dari oara donatur san suaminya yang sangt terkesan dengan Nana. "Terima kasih Ibu. " "Sama-sama, nanti ikut grup arisan kami ya Ibu Nana, kalo diluaran nanti saya panggil nama saja. Tapi Ibu Nana kaya seumuran anak saya, " puji istri Pak Panji yang memang selalu saja ramah kepada orang lain. Setelah acara penjelasan singkat Nana tadi, mereka akhirnya membubarkan diri dan mulai menyantap makanan. "Kamu keren tadi, " puji Agal sambil menatap Nana dengan tulus. "Kalo keren mana hadiah buat Nana? " Agal mencium kening Nana dengan lembut, hal itu membuat Nana tidak bisa berkata apa-apa, dia seperti patung yang diam tetapi hanya ada napas sisanya membeku. "Ayo makan, " ajak Agal mengusap kepala Nana dengan lembut. Kalo tahu cara meluluhkan hati Agal seperti ini tahu dari dulu saja Agal selalu berusaha melakukan presentasi seperti hari ini. Mereka pun makan dengan Nana mengambil lauk yang tidaj terlalu banyak karena dia masih kenyang, tapi Nana tidak tahu jika saosnya ya ternyata belepotan. Agal mengusapnya lembut dengan tangannya , "Kaya anak kecil. " Begitulah ucapan yang selalu saja Agal katakan. Nana tertawa disebut begitu, tetapi tidak lama ada Julian yang datang ke tempat Nana. "Agal, " sapa Julian dengan senyuman seperti teman lama yang sudah tidak bertemu. "Julian, apa kabar? " tanya Agal dengan ramah. "Wah istri lo keren banget. Julian ingin bersalaman dengan Nana, dia tersenyum memandang wajah Nana yang sangat imut. Tipe yang selama ini dia cari tetapi sulit untuk ditemukan. "Eh, jangan ngeliatin istri gue terus," omel Agal karena melihat Julian sudah jatuh cinta pandangan pertama dengan Nana. "Tapi istri lo cantik banget. " Langsung saja Agal manarik Nana ke belakang dan badan Agal yang besar menutupi tubuh Nana yang mungil. Sementara Nana hanya bisa tersenyum saja menanggapi, sisanya biarkan mereka sebagai laki-laki yang saling berkomunikasi. "Mbak Nana, nanti kalo misalnya butuh temen main kalo Agal lagi pergi bertugas ke laur sama saya aja. " "Enggak ada, orang istri gue, gue bawa ke perbatasan. " Setelah itu Julian tertawa dan berpamitan kepada keduanya. Seandainya dia bertemu lebih awal mungkin saja ada sesuatu yang akam Julian lakukan menjadikan dirinya istri. Acara itu semakin ramai dengan tamu yang datang dan musik jazz yang membuat suasana menjadi lebih berwana. Nana menikmati acara itu sambil memakan makanan yang disedikan, sambil sesekali tertawa sehabis bercerita dengan Agal. "Emang kalo Nana ditaksir orang Gagal cemburu? " "Iya. " Memang jawaban singkat tapi terlampau jujur dan manis yang membuat Nana makin sayang dengan Agal. "Makanya jangan cuek sama Nana nanti Nana jatuh kepelukkan Julian. " "Saya santet Julian. " Memang menyeramkan suaminya ini, Nana tertawa untuk ulang tahun kali ini bersama suami dan dipenuhi pengalaman baru Nana. Setelah satu-persatu orang mulai meninggalakan tempat pesta, Nana pun juga mengikuti langkah kaki Agal. "Gagal, pelan-pelan. Kaki Nana lecet, " ucap Nana yang jalannya sudah terbata-bata, diujung kakinya sudah luka. Agal berhenti dan posisinya jongkok untuk melihat sepetu Nana dan ternyata benar kakinya sudah lecet dan tentu saja pedih. "Naik. " Agal memutar balikkan badannya. Nana tidak mengerti maksud Agal jadinya dia hanya diam saja, lagian Agal kalo bicara singkat, dia pikir Nana manusia paling paham bahasa singkatan. Agal mengambil tangan Nana dan melingkarkannya ke leher Agal, sekarang Nana berada di gendongan Agal. "Nyusahin." "Kan kaki Nana lecet. " "Makanya enggak usah pake sepatu kaya gitu lagi. " "Masa ke pesta pake sandal jepit, nanti Gagal yang malu. " "Bilang aja modus mau digendong. " "Ihhh enak aja, Nana beneran sakit tahu, " protes Nana tidak terima di bilang begitu. "Iya. " Nana senang hari ini, ulang tahun kali ini juga merupakan salah satu yang terbaik juga. *** Di jalan Nana melihat seorang ibu penjual jamu yang membawa bakul jamunya tanpa merasa terbebani. "Gagal, Nana mau beli jamu itu ya. " Agal memberhentikan mobilnya di depan ibu itu, lalu mereka langsung saja meminta untuk membeli banyak. "Ibu, saya mau beli semuanya tapi boleh enggak dibungkusin satu-satu. " Rencana Nana juga ingin dibagikan ke orang lain yang tentu saja banyak ibu-ibu yang menginginkan itu. Agal menjadi terharu melihat Nana yang begitu baik dengan orang lain, dia bisa tahu ternyata banyak sekali yang Nana lakukan untuk bisa membantu orang lain. "Mbaknya makasih banyak ya udah mau beli jamu Ibu. " "Nana yang makasih Ibu, sudah membuatkan jamu kepada Nana. " "Senang sekali sudah bisa diborong jamunya hari ini Nak, Ibu kebetulan mau bayar uang sekolah anak besok, sudah ditagih terus dari pihak sekolah. " Nana jadi terharu mendengarnya, kadang juga kita tidak boleh menyisahkan makanan, lihat orang di luar sana banyak sekali yang tidak makan sementara kita jika tidaj habis maka dibuang. "Ya Allah, Ibu tetap semangat terus ya, insya allah rezeki selalu aja datang Bu, selagi kita berusaha dan terus bertawakal dengan Allah. " "Aamiin, terima kasih ya Nak. " Ibu itu membungkus sebanyak 50 jamu yang sudah dibuat dengan varian rasa yang berbagai macam dan masih hangat. Nana mengambil itu dan kemuadian membayarnya dengan uang yang lebih. "Terima kasih banyak Nak, semoga kamu dan keluarga selalu dimudahkan rezekinya. " Agal membantu Nana membawanya ke dalam mobil, laku mereka berdua mulai menelusuri jalanan mencari ibu-ibu yanh sering ditemui sore hari. Ternyata masih ramai akan pengamen dan ibu-ibu yang masih meminta di lampu merah. "Kamu di sini aja, biar saya yang turun. " Melihat banyaknya laki-laki dan hari sudah malam, Agal tidak ingin istrinya diganggu oleh orang lain. Setelah semua jamu sudah dibagikan mereka pun pulang dengan Nana yang kepalaran lalu mengajak Agal untuk makan lagi. Memang Nana suka makan tetapi beruntungnya dia tidak gendut. Mereka makan di sebuah restorsn yang menyediakan banyak sekali makanan dengan menu yang enak, dan membuat Nana malah menambah makanana. "Nana boleh nambah lagi?" "Beleh, pesen aja sesuka kamu. " Nana bersiap untuk makan banyak karena kebetulan dia juga masih lapar. Alhasil dia memesan banyak sekali makanan yang terhidang nantinya di meja mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN