Agal

1604 Kata
"Kalo ditanya apa yang berbeda maka dia adalah sesuatu yang sangat berbeda dan sukar untuk ditemukan, karena dia selalu menghadirkan banyak sekali rencana. " *** Untuk hari ini Nana dan Agal akan pergi ke rumah Papa Hanif dan Mama Alin, mereka sudah menyiapkan beberapa bingkisan untuk kedua orang tuanya. Banyak sekali yang Nana sudah siapkan dari mulai makanan, kue-kue kering yang sudah dibungkus dengan cantik. Setelah itu Agal membantu Nana untuk memasukkannya ke dalam mobil, mereka pun mulai membelah jalanan dengan kecepatam sedang. Nana sudah tidak sabar untuk berbicara dengan Mama dan Papanya. Semenjak pengungkapan rasa Agal kepada Nana, dia jadi pria es batu yang sangat perhatian meskipun sikap dinginnya memang sudah menjadi jati diri. Kalo bisa pergi menembus angin ingin bermain dengan kencangnya agar bisa menembus awan dan mengungkapkan kepad Sang Pencipta jika Nana bersyukur bisa memiliki orang-orang yang luar biasa sayang kepada dirinya. "Na, tolong ambilin minum disamping tangan kamu, " ucap Agal yang masih sibuk menyetir sambil sesekali melihat pergerakkan Nana. "Ini apa? " tanya Nana melihat ada sebuah cincin putih cantik di sana, karena tidak biasanya Agal asal meletakkan barang. "Itu cincin saya beli di Kalimantan Na, ditempah sama bapak yang tekenal di sana, coba deh lihat dibaliknya ada nama kita berdua. " Mendengar itu Nana langsung saja melihat ke arah Agal dengan pandangan terharu karena tidak biasanya dia dibelikkan barang yang luar biasa pasti mahal. Kebetulan sekarang Agal memang bekerja di daerah tempat tinggal sendiri dan kerjanya masih santai, karena dia tidak ada kegiatan hari ini. " Ahh, Nana seneng banget. Ini bagus banget Gagal. Makasih ya, Nana juga punya hadiah buat Gagal. " Nana mengeluarkan sebuah s**u stroberi yang dia punya di dalam tas, lalu dia meminum s**u itu sedikit baru diberikan kepada Gagal. "Ini buat Gagal. " "Ternyata dikasih yang bekas, " balas Agal dengan tertawa, lagian Nana diberikan memang suka ada-ada saja tingkahnya. "Ini itu kan minuman kesukaan Nana, nah kebetulan cuma satu, jadi untuk Gagal aja gapapa. Nana ikhalas," balaa Nana memberikan kotak minuman stroberinya kepada suaminya. "Hahha kamu itu ada-ada aja. Gapapa buat kamu aja Na. " "Enggak, ini buat Gagal biar semakin semangat nyetirnya. Tapi nanti kotak susunya buat Nana soalnya udah banyak yang bisa dijadikan kerajinan, " balas Nana tersenyum. Besok Agal mau mengajak Nana untuk berkunjung ke Bengkulu karena ada saudara mama yang menikah, itulah kenapa mereka hari ini diminta untuk berkunjung ke rumah Mama. *** Ternyata Papa Hanif sedang membersihkan taman dan menanamnya dengan berbagai macam Bunga, kebetulan Mama Alin memang sedang menyukai tanaman jadinya setiap sudut rumah sudah berisi berbagai macam jenis bunga mawar, bunga keladi hias, dan masij banyak yang lainnya. "Assalamualaikum Papa, " sapa keduanya lalu berjalan ke arah Papa yang sedang melakukan misi penanaman tanamana hias. "Waalaikumsalam, wahh ada menantu Papa, libur Gal? " tanya papa melihat Agal yang sekarang ada dihadapat dirinya. "Iya Pa, kebetulan sehabis kerja diperbatasan sekarang bisa liburan dulu sekeluarga. " Memang Mama Alin asli orang Bengkulu jadinya masih sering pulang ke sana. Agal membantu Papa Hanif untuk memperbaiki tanaman hias Mama, sementara Nana masuk ke dalam rumah sambil melihat banyak tetangga yang sedang berkunjung ke rumah Nana. "Assalamualaikum," sapa Nana dengan tawa bahagia dan menularkan keceriaan itu kepada ibu-ibu di sana. "Waalaikumsalam Nana, " balas semuanya kompak, mereka juga sedang membantu Mama membuat kue Juada Kere yang memang merupakan makanan khas Bengkulu, yang terbuat dari beras yang sudah di giling dan hal itu membuat Nana tertawa karena Ibu-ibu arisan teman mamanya itu membuat vidio, mereka bilang untuk menyapa sobat Youtube padahal tidak masuk Youtube tapo senang saja berperan seperti Youtuber terkenal. Sesekali Nana yang mengambil gambar agar nampak semua, mereka berbincang hangat, tentang bagaimana waktu dulu awal tinggal. Dan Nana menyimak obrolan itu sambil tertawa karena tidak biasanya mereka malah fokus dengan satu obrolan kadang random biasalah ibu-ibu sudah banyak mengecap asin-manis kehidupan dan banyak untuk diceritakan. "Na, kenapa makin cantik aja sih? " tanya Bu Rica yang merupakan teman baik Mama Alin selama dia lah yang sering membantu Mama jika ada acara dan selalu siap siaga dalam keadaan apapun. "Ah masa si Bu? " tanya Nana dengan senyum malu-malu karena jika dibilang cantik maka Nana suka malu. "Iya, ibu udah lama enggak ketemu Nana, jadi suka kangen. " "Nana sekarang udah bisa jadi istri Bu, " ucap Nana sambil tertawa karena memang dia suka bercanda dengan Bu Rica. "Alahamdulillah, udah besar ya sekarang, makin jago pasti masaknya. " "Hahhaha kaya yang kemarin-kemarin Bu," balas Nana dengan mencari mamanya untuk memberikan makanan dan beberapa oleh-oleh yang sudah dia bawa. Nana dan mama Alin memang suka bercerita jika malam hari kadang sampai tertidur. Hari ini ternyata Papa Hanif juga memesan beberapa nasi kotak dan tumpeng untuk mengajak warga sekitar main di sini. "Na, ayo lah cerita gimana sekarang waktu jadi istri abdi negara," ucap Ibu Rica yang kepo, mulailah yang lain sambil membuat kue fokus mendengarkan. "Jadi Bu, ternyata jadi istri Abdi Negara itu harus sabar dan sama seperti istri-istri di luar sana yang dituntut sabar dengan cara masing-masing. " "Katanya jarang pulang dan suka ditinggal Na, " balas Bu Rice lagi. "Itu Bang Toyib Bu yang suka ninggalin, " balas Nana bercanda dan malah membuat yang lain juga ikut tertawa. Benar juga yang sering kali meninggalkan memang Bang Toyib, mereka tertawa mendengar itu. "Yang suka ninggalin tanpa kepastian, itu apa Mbak Na? " tanya Lala yang masih SMA. "Udah La, mending ditinggalin aja kalo nunggu yang enggak pasti dan ga ada kejelasan. Kan perempuan butuhnya kepastian bukan janji tanpa penjelasan, " balas Nana tertawa. Ternyata membuat kue khas Bengkulu dan mengobrol bersama tetangga sejak Nana masih kecil memang menyenangkan, apalagi sekarang sudah dewasa dan mempunyai keluarga yang baru. Sambil tertawa Nana tidak sengaja melihat seorang anak kecil yang ada di belakang Ibu Rica dan dia seperti ketakutan melihat Nana dan orang lain, sepertinya ada trauma yang membekas dihatinya. "Itu siapa Bu? " tanya Nana menunjuk ke belakang. "Oh, ini cucu saya, dia memang ada trauma Na, takut sama lingkungan yang ramai, tapi ini udah lumayan baik, harus sering-sering dibiasakan dibawa ke tempat ramai. " Mendengar itu, mereka lalu bermain dengan anak itu. "Halo adik kecil," sapa Nana dengan sangat ramah. Awalnya anak kecil itu sembunyi di balik Ibu Rica dan menangis karena dia memang takut terhadap orang baru tapi Nana tahu kadang setiap orang selalu membebani dengan berbagai ucapan tanpa tahu betapa susahnya orang lain bertahan untuk terus hidup setiap harinya jadi belajar dari itu Nana mencoba pelan-pelan bergabung dalam dimensinya. "Ma, Nana sering banget nemuin adik-adik kecil yang kena mentalnya, sampai ada juga yang udah dewasa juga sering banget down cuma karena masalah fisik." "Makanya Na, kita sekarang enggak kehilangan orang pintar tapi kehilangan orang yang memiliki sikap yang baik," jelas Mama Alin karena kadang kala orang-orang pintar mengkritik tapi tidak memikirkan dampaknya bagi orang lain. Nana tahu cara menghadapi anak-anak yang takut seperti ini dengan memberikan perhatian yang lebih dan memancingnya dengan kesukaannya. Kebetulan Nana memiliki s**u stroberi dan memberikan kepada adik kecil yang sudah mulai penasaran dengan apa di tangan Nana. "Mau? Sini sama Tante Nana dulu," ucap Nana mulai memancing dan ternyata dia memang mau dan tersenyum kepada Bu Rica mendapatkan hadiah dari Nana. Trauma itu memang harus disembuhkan dengan berusaha mendekatkan diri dengan dirinya bukan malah menjauh. Mama Alin tersenyum melihat anak kecil itu sudah mulai tenang, karena mendengar cerita Bu Rica kadang dia masih suka ketakutan malam-malam akibat trauma Lala juga sangat menyenangkan, dia bercerita tentang pernikahannya yang gagal karena ternyata laki-laki itu tidak serius. Kali ini Nana memang memasak kue tapi dengan lingkungan tetangga rumahnya dulu, memang sejak masih muda dulu Nana sering sekali ikut kegiatan ibu-ibu selain menambah wawasan, dia juga ingin menambah relasi membangun hubungan keakraban. Adik itu hanya diam tanpa membalas ucapan Nana tapi namanya Nana selau suka berbicara dengan siapapun jadi dia terus yang bercerita. Agal masuk ke dalam rumah dan mencari Nana di dapur. "Na, dicariin suami," ucap Bu Rica menggoda Nana. "Iya Mas Agal, Kenapa Mas?" tanya Nana segera menghampiri suaminya yang sudah keringatan. Nana pun mengambil tisu didekatnya untuk mengelap keringat Agal agar tidak merasa risih dan mengenai mata. "Mau air Es," ucap Agal lesu, sepertinya dia sangat haus. Nana segera mengambilkan air dingin dan membuat sirup yang ada di kulkas Mama. "Agal," panggil ibu-ibu di sana seperti jumpa fans. "Ibu, saya minum dulu ya Ibu-ibu dan adik-adik," ucap Agal ramah dan mengaggukan kepalanya sedikit sebagai pertanda permisi kepada mereka. Setelah selesai minum, Agal pun pamit untuk kembali lagi membantu ayah mertuanya yang sedang menyusun halaman sambal ayah bercerita dengan Agal tentang keadaan sekitar halaman rumah yang masih banyak semak belukar. "Dulu itu Nana kalo mau main ke warung depan aja papa kawal terus Gal." "Karena hutannya serem banget dulu ya Pa? "Iya Gal, mana Nana suka banget sembunyi-sembunyi kadang Papa cari di samping atau depan enggak ada ternyata tidur di rumah tetangga," ucap Papa bercerita sambil tertawa. "Emang iseng dari kecil ya Pa," jawab Agal ikut tertawa melihat bagaimana Nana dulu sangat lucu. "Iya Gal, makanya klo sekarang cerewet jangan heran ya Gal, dari dulu anaknya emang doyan ngomong." "Hahha kalo sekarang cerewetnya yang bikin kangen Pa." Papa Hanif bersyukur tidak salah pilih menjodohkan Nana dengan Agal, semoga saja Agal bisa menjaga Nana sampai kapan pun. *** "Mbak Nana, itu tadi suaminya ganteng. banget," puji Lala heboh sendiri karena memang Agal sangat sopan dan ganteng. "Ehh La, inget suami orang," omel Bu Rica sambil tertawa. "Hahah Iya La, makanya mintak dijodohin aja biar dapat suami tampan dan sopan," ucap Nana bercanda dan tertawa. Mereka masih sibuk memasak Juada Kere dan berharap bisa segera selasai memasak itu semua sehingga besok perjalanan ke Bengkulu bisa berjalan dengan lancar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN