"Jangan takut untuk bersabar, karena hadiah sabar itu datang sangat tepat dan diwaktu yang tepat pula, jangan takut juga bersedekah karena kaya itu titipan sedangkan kita bukan manusia yang kaya sesungguhnya. "
***
Leon, Ajon, dan Deri memang diajak Agal untuk sama-sama liburan ke Bengkulu. Kebetulan pula hari ini Sabtu dan senin mereka sudah harus kembali lagi ke kehidupan yang nyata apalagi kalo bukan dunia pekerjaan.
Bandara kali ini memang padat tetapi masih bisa untuk menyelip di sela-sela kerumunan orang-orang yang fokus untuk mencari sanak saudaranya. Tidak ketinggalan Aji dan Ani ikut pula bersama Nana dan keluarga.
Mungkin Bengkulu bukan kota yang padat seperti Jakarta dan kota lainnya tapi di sinilah mereka ingin berwisata melepaskan penat dari sesaknya ibu kota.
Nana yang sudah membawa koper mengajak untuk menunggu di luar Bandara bersama Mama Alin dan Papa Hanif yang sudah siap siaga untuk mengajak menginap di rumah mereka yang beradi di Penurunan dekat dengan Pantai Panjang.
Mereka pun dijemput oleh pamannya Nana yang tingga di Bengkulu, dan malam nanti mereka akan menghadiri acara resepsi.
"Na, biar saya aja yang bawa kopernya, " ucap Agal dengan tersenyum manis.
Ternyata pangeran es batu jika sudah mencair akan sangat manis dan perhatian, meskipun dinginnya masih akan terus ada.
"Gagal, kaki Gagal sakit engga?"
"Enggak. "
"Bisa jalan? "
"Bisa. "
"Ayo kapan? "
"Itu mah gombalan lama, mending Nana belajar lagi deh, " balas Agal sambil tertawa.
Hari ini Agal banyak tersenyum dan itu berhasil membuat Nana ikut bahagia, kapan lagi bisa melihat senyuman manis seorang tuan es batu.
"Jadi ga mau gandengan, ini tangan Nana nganggur loh, nanti kalo Nana hilang di Bandara gimana? "
Agal langsung mengambil tangan Nana dan menggandengnya erat. "Udah jangan ngomel lagi, pegangan aja, " ucap Agal melanjutkan jalanan mereka menuju ruang keluar dan yang lain menyusul di belakang.
Mama Alin dan Papa Hanif sudah berada di depan sambil memegang koper satu.
"Kapten, giliran di sini aja parah banget, kita di suruh nonton keuwuan yang haqiqi," teriak Leon heboh.
"Eon, jangan ganggu orang pacaran," omel Deri sambil menjewer kuping adik kecilnya itu.
"Sini gue tambahin kuping kiri juga," timpal Aji tertawa, mendengar itu Leon segera berlari di Bandara untuk menjauh dari kedua orang itu.
Ajon masih berjalan santai seperti biasa stay cool, sementara Ani tim yang tertawa melihat kelakuan ketiga orang itu.
Nana memberitahu mungkin Bandara di sini tidak seluas di ibu kota tetapi jarang sekali kemacetan dan polusi udara. Di sepanjang jalan ada beberapa jualan dan juga ada toko biru yang menjual snack tetapi tentu saja harganya dua kali lipat lebih mahal.
Jika ada keberangkatan tentu saja ada kepulangan begitulah yang mereka saksikan di Bandara Fatmawati Bengkulu. Selepas turun mereka sudah ditunggu oleh Paman yang sengaja membawa dua mobil untuk menjemput kakaknya.
"Itu apa Na?" tanya Agal menunjuk sebuah kue tat yang dijual di pinggir tempat duduk oleh seorang ibu-ibu.
"Oh, itu namanya Bai Tat sama anak Tat, nah terus ada selai nanasnya gitu sama kuenya dari tepung, dulu nenek sering masakin Nana itu," jelas Nana sambil mengajak Agal untuk membeli makanan khas Bengkulu satu itu.
"Ini kayanya enak banget Na, " balas Agal sangat tertarik karena tidak pernah ia menemukan kue unik itu di ibu kota.
Nana berjalan ke arah ibu penjual kue itu dan melihat Mama dan papanya sudah menunggu di depan dengan paman yang sudah menjemput.
"Ini Gagal, cobain ya. Kalo udah cocok berarti udah bisa jadi orang Bengkulu. "
Agal mengambil kue Bai Tat itu dan memasukkan ke dalam mulut, awalnya sedikit tetapi lambat laun semakin enak dan membuat dia semakin ketagihan dengan rasanya yang enak.
"Na, nanti pas pulang beli yang banyak ya. "
"Iya Gagal, banyak banget kalo mau cucur dan masih banyak makanan khas Bengkulu yang lainnya. "
"Nana, Agal, ayo ke sini!" panggil Mama Alin melambaikan tangannya pertanda sudah ditunggu.
Nana mengajak Agal untuk segera menghampiri Mama dan Papanya karena paman sudah menunggu.
Ternyata Ajon, Leon, Deri, Aji, dan sudah ada di dalam mobil, mereka pun sudah siap untuk berangkat.
"Paman, maafin ya lama, " ucap Nana memberikan salam kepada adik dari ibunya itu.
"Gapapa Na, ayo naik," ajak Paman Salim yang bekerja sebagai seorang guru di sini. Guru Bahasa Indonesia yang sudah lama mengabdi dengan baik dan selalu terdengar jika Bapak Salim adalah guru teladan yang selalu memberikan materi secara jelas.
Merekapun naik dan di dalam sudah heboh dengan suara Aji dan Leon yang berdebat tentang ke mana mereka setelah ini, lagian seperti dua orang yang tahu jalan padahal sama sekali tidak tahu kemana jalan yanh benar.
Akhirnya mobil keluar dari parkiran Bandara menuju ke arah kiri untuk ke kota di perjalanan banyak orang yang bejualan buah di pinggir jalan serta beberapa toko yang buka di sana.
Tidak lama setelah perjalanan lurus asa tugu burung Garuda yang akan mengantarkan mereka ke kota.
"Wah bagus ya Mbak Na di sini, " puji Leon yang memang menyukai tempat ini.
"Iya Eon, nanti Eon bisa beli goreng dan berbagai makanan khas Bengkulu, nah di sini tempat jualan yang biasanya disebut pasar Panorama, " jelas Nana seperti pemandu wisata sahabat dan suaminya.
"Berarti kalo pagi rame gitu ya Mbak? " tanya Eon memastikan.
"Nah bener banget, rame gitu kalo pagi. Pasar Tradisional yang lengkap. Nanti kita ke sini juga kalo Eon mau, " ungkap Nana tersenyum senang.
"Mbak Na, katanya ada pantai yang panjang gitu?" timpal Ajon yang baru bersuara.
"Bener banget Jon, ada. Wah udah banyak yang tahu nih tempat wisata sini, " balas Nana tertawa dengan keaktifan teman-temannya.
"Kapten Agal tidur ya? " taya Eon ketika melihat tidak ada pertanyaan ataupun balasan dari sang Kapten.
Benar saja Kapten tidur sambil bersandar dengan Nana, sepertinya sangat kelelahan sehabis perjalanan jauh yang memakan banyak tenaga.
Sehabis itu melewati jalanan yang di sebut Simpang 5 yang menjadi pusat kota Bengkulu. Ada air mancur di tengah dan patung Ibu Fatmawati yang sedang menjahit brndera.
"Wah ini kan yang istri bapak Seokarno itu, waktu dia diasingkan di Bengkulu kan ketemu Ibu Fatmawati," balas Leon dengan sangat semangat.
"Ini kayanya pas zaman pelajaran IPS mata lo yang paling cerah Eon, " balas Ani tertawa melihat Leon yang sangat semangat.
"Hahahh, salah Mbak Ani, dulu malah yang sering tidur di kelas kalo pelajaran sejarah gitu. "
"Terus bisa tau gitu. "
"Tapi tidurnya Eon sambil dengerin Mbak," ucap Eon dengan tertawa. Mungkin itulah mengapa Leon bisa memegang juara umum dua periode sekaligus karena dia memang jenius.
Mereka akhirnya sudah sampai di sebuah perumahan yang besar dan jarang ditinggali oleh pemiliknya.
"Nah, ini rumahnya Tanta sama Om, ayo kita turun dulu, biar bisa istirahat, " ajak Mama Alin dan turun dari mobil sambil mereka masuk ke dalam dengan membawa koper masing-masing yang diletakkan dalam bagasi.
Mereka lalu masuk dan banyak sekali foto keluarga dulu, ternyata ada juga yang menunggui rumah itu.
"Paman pulang dulu ya, nanti kalian datang ya ke pesta. "
"Siap Paman, " balas Nana dan yang lain.
Paman pun pulang dan meninggalkan halaman rumah Nana yang cukup besar. Meraka mulai masuk ke kamar di mana yang cowo dibagian kamar depan dan yang cewek dibagian kamar tengah serta Mama dan Papa di bagian kamar tengah juga.
"Ibu, Bapak," sapa Mbak Nia yang menjaga rumah dan selalu beres-beres di sini.
"Nia, ini tolong bantu ya temen-teman Nana sambil buatin makan siang dulu ya, " pinta Mama Alin yang sudah mendorong kopernya menuju kamar.
"Nah ayo Om antarin ke kamar, " ucap Papa Hanif yang senang jika di rumah ramai karena memang Papa sukanya suasana ramai karena enak untuk bercerita.
"Ayo Om, " jawab mereka bersahutan.
Ternyata kamar itu memang cukup besar dengan tiga kasur di dalamnya pas Untuk Aji, Ajon, Leon, Deri, serta Agal yang ikut tidur bersama.
"Wah keren banget Om kamarnya di sini, " puji Leon yang takjub.
"Iya Eon, nanti bisa kalo mau sambungin Wifi tetangga ya soalnya mereka juga suka bagi-bagi jaringan internet. "
"Wah enak banget buat Deri bikin puisi di sini Om. "
"Alhamdullilah Der, kan bisa menambah ide dan wawasan di sini. "
"Bener banget Om. "
"Wah Om kalo kaya gini rasanya Aji mau tinggal di sini aja, " timpal Aji tersenyum dan senang sekali akhirnya bisa datang ke sini karena biasanya dapat cerita dari Nana saja.
"Hahha boleh Ji, kalo misalnya betah di sini. "
"Iya Om, kalo sama Aji enggak usah bayar, biayanya gratis, " ucap Ajon dengan tertawa.
Menyenangkan sekali bisa membuat Leon dan Deri mulai takjub dan mereka memutuskan untuk istirahat setelah Papa Hanif pergi.
Kamarnya memang luas dan membuat nyaman, ada kamar mandi juga di dalamnya, setelah itu mereka tidur terlebih dahulu karena lelah sekali sehabis perjalanan yang cukup melelahkan. Nanti malam ada acara menjamu dengan orgen tunggal yang telah disiapkan. Besoknya juga masih ada acara, jadi mereka tidak punya banyak waktu itu jalan-jalan hanya sehari dan semoga saja masih banyak tempat yang bisa dijelajahi.
Agal sudah merebahkan diri di tempat tidur karena dia butuh menambah energi yang sudah terkuras abis akibat tadi.
Lain halnya dengan Nana dan Ani yang membersihkan diri dahulu sebelum tidur dan beristirahat karena rasanya tidak enak jika masih menggunakan baju yang tadi.
"Na, airnya dingin juga ya," ucao Ani yang berteriak dari dalam kamar mandi.
"Haha iya Ni, soalnyakan dari air sumur jadi dingin gitu, " balas Nana dari luar yang menunggu Ani.
Nana pun terbaring di kamar yang di dalamnya banyak sekali foto Nana dan sekelilingnya dipenuhi ornamen kayu jati yang indah, warna putih dinding menjadi perpaduan yang pas, lemari yang diletakkan dipinggir kamar serta meja hias yang ada di sebelah kanannya membuat kamar ini terlihat mewah meski sudah lama ditinggalkan tetapi Nana juga nyaman tinggal di rumah ini.