"Jangan jadikan sabarnya orang itu manfaat untuk kamu menyakiti hatinya karena kamu tidak pernah tahu sudah berapa banyak pertahanan yang dia coba kuatkan untuk terlihat baik-baik saja. "
***
Malam hari di Bengkulu tidak seramai ibu kota yang selalu sesak dan macet dijalanan, kecuali jika melewati jalan tol tentu saja akan aman tanpa hambatan.
Bengkulu memang tidak seramai kota lain tapi banyak sekali kenangan di sini, Nana sempat besar di kota indah dan menghabiskan banyak sekali pengalaman berharga, meski dia besarnya memang tumbuh di Jakarta, Bandung dan Malang tetapi dia juga sempat menempun banyak cerita di sini.
"Na, ini malamnya emang enak banget ya lewat, ga ada macet, " ucap Ani yang senang berada di sini. Meskipum tidak ada mall besar dan bangunan bertingkat sampai 50 lebih tetapi Bengkulu masih menjadi tempat yang aman.
"Kadang sempet ngerasa bersyukur besar di sini, karena kehidupan ibu kota keras apalagi tentang gaya hidup sama circle pertemanan. "
"Iya bener Na, gue sempet juga nanya sama saudara 'kan, yang tinggal di Bangkulu juga tapi sekarang lagi kuliah di Padang. "
"Gimana Ji? "
"Kaya ya masih aman, kebudayaan terus walaupun budaya modernisasi udah masuk, tapi kejadian yang masih dianggap tabu enggak dibebaskan, tapi kalo di daerah pasti masih kental kan budaya. Cuman kalo di ibu kotanya itu kayanya udah banyak masuk budaya barat, " jelas Aji dengan pendapatnya tentang perkembangan zaman yang saat ini menuntut orang bertahan, bahkan
kadang memang menakutkan.
"Nah iya sampai kaya ngekos berdua padahal belum ada ikatan pernikahan yang sah itu udah sering ditemuin di zaman sekarang," timpal Ani juga karena di dekat rumahnya banyak sekali kejadian seperti itu.
"Karena memang kadang hal-hal yang tabu udah dianggap biasa aja sama orang-orang tertentu, sampai kadang trand lo ga keren kalo ga minum alkohol juga udah ada, " balas Nana juga memang mereka sedang dalam mobil yang sama, menunggu Ajon, Leon, Agal, dan Deri yang sedang bersiap untuk masuk ke mobil mereka.
Kebetulan memang mereka keempat orang itu sedang membeli minum di pinggir jalan, entah kenapa harus berempat katanya bukti kesetia kawanan.
"Ini minum, bagi-bagi ya. Jangan rebutan, " ucap Agal memberikan minuman yang sering disebut dengan anak Bengkulu Minumin yanh harganya terjangkau tapi rasanya sama dengan minuman yang enak lainnya.
"Wah rasa chocolate strawberry kesukaan Nana, " ucap Nana senang sekali mendapatkan minuman itu apalagi dia memang penggemar rasa strawberry.
"Itu tadi kan rasanya cuma satu lagi Mbak Nana, Kapten sampai rebutan sama bapak-bapak satu lagi katanya istrinya lagi hamil ngidam mau ini jadinya bapak itu ngalah, " ucap Leon yang menjelaskan dengan jujur dan semangat tapi langsung saja membuat wajah Agal memerah menahan malu.
"Duh, suami Nana emang manis banget, sini peluk dulu, " ucap Nana membentakan tangannya sambil tertawa. Langsung saja Agal berlari ke kursi kemudi.
"Hahah, Mbak Nana suka banget ngerjain Kapten, sampe malu Kapten," timpal Deri dengan tertawa.
"Udah bucin level 4 Na, " balas Aji tertawa karena dia tahu bagaimana perjuangan Nana untuk mencairkan pangeran es batu yang keras kepala.
"Ayam Geprek kali pakai level, " balas Ajon yang tumben mengeluarkan suara biasanya hanya mengaggukan kepala setuju saja.
"Udah-udah jangan ribut lagi, nanti minumannya cair, kita kan masih mau ke tempat pesta. "
Nana menunjukkan arah di mana pesta akan dilangsungkan di hotel Horizon dengan berlatarkan pantai dan kolam berenang tentu saja hal itu membuat anak-anak menjadi senang.
"Mbak Nana, kan kemarin aku buat puisi. Menurut Mbak ada yang kurang apa enggak? "
Nana melihat puisi yang Deri buat dengan seksama sehingga suasana di dalam mobil juga hening karena mereka akan menuju ke acara pesta paman, sengaja acara malam ini di rumah karena acara resepsi besok di hotel jadi hari ini di rumah untuk menjamu tetangga dan sanak saudara kebetulan rumah Paman tidak jauh dari hotek itu.
"Nah Mas, itu pas lampu merah simpang lima lurus aja nanti ada lamou merah lagu belok ke kanan. "
Agal mengikuti arahan Nana dengan menjalankan laju kendaraan dengan sedang. Tidak lama HP Nana berbunyi dan itu menandakan ada telepon ternyata Mama yang menghubungi Nana. Apakah anaknya sudah ada dimana.
"Iya Ma, sebentar lagi sampai. Iya bareng semuanya. Siap Mama. "
Begitulah balasan Nana yang menjawab telepon dari sang Mama. Memang tidak terlalu jauh lagi maka mereka akan sampai di lokasi pesta.
Ada janur kuning yang menandakan acara pesta di sana. Saat mereka tiba ternyata adek sepupu Nana belum memasuki singgah sana pelaminan mereka.
Jadi Nana dan yang lain memberikan salam satu-persatu kepada sanak-saudara Mama Alin.
"Wah Nana udah makin cantik sama besar aja," puji Tante Riri yang merupakan adik ipar Mama yang paling kecil.
"Alhamdulillah, Tante juga makin cantik."
"Yang mana suami Nana?" tanya Tante sambil memperhatikan teman-teman Nana yang di belakang kebetulan Agal memang menyusul karena masih memindahkan parkiran.
"Nah itu Tan," tunjuk Leon yang sudah heboh dan benar saja Agal membuat suasana pesta jadi meriah karena pesonanya.
"Na, itu kamu dapat di mana. Mirip banget sama Oppa-Oppa Korea," ungkap Tante Riri dengan heboh.
"Hahahaha, astaga Tante, itu mah oppa Korea keturunan Bandung, biasa Tan emang orang Bandung secakep itu."
"Masih bisa enggak Bahasa Bengkulu Na?" tanya Tante Riri karena sudah lama tidak melihat logat Nana dengan bahasa Bengkulunya.
"Masih bisa Tan," balas Nana tertawa.
"Jadi cak mano lah kerjo di kantor balai bahasa, dapat laki elok Pulo ni Na?" (Jadi bagaimana sudah kerja di kantor balai bahasa, dapat suami ganteng juga Na?).
"Hahhah Alhamdulillah Tan, itu namonyo rezeki," jawab Nana dengan tertawa sementara yang lain menyimak sambil tidak mengerti maksud percakapan keduanya. (Hahahaha Alhamdulillah Tan, itu namanya rezeki).
Agal yang menyusul langsung saja memberikan salam kepada Tantenya Nana. "Assalamualaikum Tan, Agal," ucap Agal memperkenalkan diri.
"Waalaikumsalam, Agal kenapa bisa mau sama ponakan Tante yang suka jahil ini?" tanya Tante Riri penasaran.
"Inilah galak nian burukkan ponaannyo dewek," balas Nana tertawa karena Thu jika Tante Riri memang suka sekali menjahili Nana. (Inilah sering sekali menjelekkan ponakannya sendiri).
Mereka tertawa karena Agak hanya diam tidak mengerti dengan percakapan keduanya.
"Karena Nana lucu dan buat nyaman dan enggak ada yang seperti Nana."
Jawabannya memang mampu membuat orang yang mendengarkan menjadi terbawa perasaan, karena Agal bisa membuat Nana bahagia secara bersamaan.
"Masya Allah, Nana beruntung banget punya suami romantis kaya Agal."
"Agal juga beruntung punya Nana Tan."
Acara sudah mau di mulai mereka pun berpamitan dengan Tante Riri untuk duduk, kasihan juga yang lain sudah pasti kelelahan berdiri di tempat awal masuk sejak tadi.
Nana pun mengajak Aji, Leon, Ani, Deri, dan Ajon masuk ke dalam. Di sana mereka duduk di dekat panggung dan melihat bahwa adek sepupu Nana yang perempuan sudah menikah.
Belum lagi mereka ikut menyanyi dangdut bersama yang lain, apalagi Aji mengajak Leon untuk nyanyi dangdut, tentu saja Leon semangat. Tidak habis pikir jauh-jauh datang ke Bengkulu ternyata mereka berdua ingin menjadi penyanyi.
"Bang Aji, nanti kalo nyanyi agak joget dikit biar dapat saweran dari Kapten Agal," ucap Leon semangat.
Agal yang mendengar itu langsung mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru yang masih sangat baru.
"Mbak Na, enak banget ini kalo punya suami sugar Daddy begini," ucap Leon tertawa.
"Hahhaha, Iya enak Eon, makanya nyanyi yang banyak biar sawerannya Mbak Nana tambah."
Tentu saja Aji juga mau di sawer, "Buat gue juga ya Na."
"Iya Ji, nyanyi aja dulu, nanti saya kasih kamu juga," timpal Agal tertawa.
"Der, enggak ikutan?" tanya Nana melihat Deri belum mempersiapkan ancang-ancang.
"Ikut Mbak Na, tapi nanti, sekarang lagi menyiapkan jogetan maut dulu." balas Deri tertawa, mereka akhirnya sama-sama duduk dan menunggu giliran untuk dipanggil ke atas panggung. Memang kacau hari ini ada-ada saja yang dilakukan oleh teman-teman Nana dan Agal.
Ani malah juga ikutan mu menyanyi. "Gue juga mau nyanyi Na, siapa tahu dapat jodoh."
"Lah itu jodoh udah di depan mat malah dianggurin," tunjuk Nana pada Deri yang masih fokus dan tertawa bersama Aji dan yang lain.
"Sampai hari ini, belum ada ke rumah minta restu sama Mama."
Tapi benar juga kata Ani karena perempuan semakin besar yang ditunggu kepastian bukan malah janji tanpa ujung titik temu.
Nana jadi bingung, padahal Deri bukan laki-laki yang suka obral janji dan mengingkarinya tapi kenapa hari ini malah Deri sendiri yang tidak tepat janji.
Sebelum mereka dipanggil ada acara lempar bunga oleh pengantin perempuan dan yang masih jomblo segera merapat agar ditemukan jodohnya dan yang sudah memiliki pasangan dapat segera dihalalkan.
Tak ketinggalan Ani, Deri, Aji, Ajon, Leon yang ikut memperebutkan bunga itu, Nana dan Agal hanya melihat saja karena tidak mungkin mereka ikutan juga untuk mengambil bunga.
"Hitungan ke tiga kita lempar ya bunganya, satu, dua, tiga," ucap MC dan bunga pun di lempar pada hitungan ke tiga.
Setelah itu mereka penasaran siap yang dapat, ternyata Deri dan Deri pun langsung memberikan untuk Ani.
"Jadi kapan Ani siap A'A lamar?" tanya Deri yang membuat orang-orang baper, padahal pernikahan siapa yang baper siapa.
Baru saja Ani cerita dengan Nana butuh kepastian ternyata Deri langsung mengutarakan maksudnya.
"Sebenarnya udah lama mau datang ke rumah Ani, tapi dari Anunya engga ada balasan, takutnya Ani udah nemuin rumah yang buat lebih nyaman."
Nana jadi terharu dan menangis, dia memeluk Agal seolah mengutarakan bahwa dia sangat terbawa perasaan dengan ini semua.
"Kenapa Deri enggak pernah datang langsung aja, kan Ani udah lama nunggunya."
"Namanya itu memberi jeda untuk sama-sama meyakinkan diri," balas Agal dengan senyuman.
Ternyata jodoh itu tidak pernah disangka kapada datangnya dan tibanya, jangan pernah merasa berbeda ataupun minder karena setiap orang punya waktunya sendiri untuk