Karena Jogja Punya Cerita

1549 Kata
Hidup itu untuk dijalani bukan dikeluhkan, menerima apa yag sudah terjadi dan berusaha untuk melakukan yang terbaik sebelum hasil. Bandara merupakan tempat yang ramai suasana penuh dengan manusia disekelilingnya, perbincangan antar kelompok sebagai sesama penumpang atau kelaurga yanh mengantar kepergian. Bandara kali ini masih sama koper yang berjajar rapih di tempat pemeriksaan barang untuk diletakkan ke bagasi. Berat yang mungkin bertambah atau berkurang setelah pulang dari perjalanan atau berangkat. Nana, Aji, Reygan, dan Ani sudah berangkat kr Bandara dengan di antar Bu Gendut. Mereka sudah menentrng koper masing-masing, tidak terlalu banyak dan sedikit tetapi sedang. Sejak tadi Nana memang sedang menelepon Agal, baru hari ini suaminya itu memberikan kabar dan meminta Nana untuk tidak aneh-aneh di sana. "Iya, saya masih lama pulang. Kamu baik-baik di sana. Kan udah saya bilang kalo makan yang teratur. Kenapa kemarin sempat sakit?" tanya Agal dengan nada tegas. "Wah Gagal lagi perhatian sama Nana ya," goda Nana dari seberang telepon. "Enggak usah GR, Bunda marahnya ke saya kalo kamu sakit. Bisa enggak seenggaknya jangan buat saya susah." Kalimat dingin yang Nana dengar barusan malah membuat dia tersenyum, mungkin kalo orang lain akan sangat tersinggung. "Gapapa Gagal dimarahin, lagian siapa suruh cuekin Nana." "Kamu itu ya, bikin saya darah tinggi aja." "Makanya Gagal di sana makan timun jangan makan daging terus." Terdengar juga suara Leon yang berteriak, "Mbak Nana, kami semua kangen. Lain kali ajakin Eon nontom drakor lagi ya. " "Kalian pemanasan aja duluan, jangan gangguin dulu ya." Mendengar itu membuat Nana tersenyum, meskipun Agal dingin tapi Nana belum mau menyerah. Ada tantangan sendiri untuk mendapatkan hatinya Agal, mungkin ada alasan yang harus Nana pecahkan. Berjuang sampai titik darah penghabisan kalo kata orang. "Nana, kan kangen di omel sama Agal." "Makanya enggak usah nyusahin, kan saya udah bilang mending kamu bilang kemarin ga usah setuju. Buat repot aja." "Nana, ayo kita udah mau berangkat," ajak Reygan dengan mendekat pada Nana. "Iya Gan. Siap." Nana kembali lagi ke gawainya dan tertawa, "Gagal, Nana udah mau berangkat. Doain sampai tujuan dengan selamat ya, makasih udah ngomelin pagi hari Nana dan buat jadi indah." "Iya." "Cuma itu aja balesannya?" "Iya." "Enggak mau bilang apa-apa lagi?" "Enggak." "Emang Gagal enggak mau kasih peluk?" "Udah sana pergi." "I love you. Jangan lupa kalo kangen Nana segera hubungin, kalo mau bilang cinta juga gapapa japri aja, siapa tau Agal masih malu buat bilang langsung." Setelah itu langsung Nana matikan sambil tersenyum senang setelah menggoda Agal, memang dasar Nana jahil dan kesukaannya adalah menggoda Agal. Mereka pun berangkat menuju pintu check in dan siap untuk terbang. Reygan menggenggam tangan Nana dan satunya lagi membawa koper. "Biar enggak hilang," ucap Reygan dan masuk ke dalam ruangan. Bersama Aji dan Ani yang menyusul di belakang, mereka juga berbincang berdua dengan banyak sekali obrolan random. Tidak lama Aji menyusul dengan memotong genggaman tangan keduanya. "Jalannya berempat biar gandengan banyak, jangan berdua aja," ucap Aji memisahkan keduanya. "Lo mah gangguin aja," omel Reygan dengan kesal. "Lagian lo mah mengambil kesempatan dalam kesempitan, jagain itu boleh, apa mau gue kasih bon cabai biar enggak terlalu deket sana Nana," peringat Aji yang memang paling protectif dengan kedua sahabat perempuannya itu. "Udah ah jangan berantem, kan enggak ada bakso yang diperebutkan," sahut Nana berjalan duluan. Untuk perjalanan ke Jogja kali ini pesawat yang mereka naikki sudah siap untuk terbang. Nana paling suka jika sudah terbang ke udara karena dari atas dia bisa melihat pemandangan yang menakjubkan, apalagi awan yang sangat indah dan sungai yang tampak seperti lukisan belum lagi rumah yang seperti google maps. Nana duduk disebelah jendela sambil melihat pemandangan Nana mengucapkan syukr kepada Allah SWT karena sudah menciptakan keindahan yang luar biasa seperti itu. "Na, gue tidur ya. Nanti kalo sampai bangunin," ucap Ani lelah, dia memang kalo perjalanan tim yang selalu tidur. "Iya Ni, lo mah tidur mulu." "Hahahha ga tau kenapa kalo dalam perjalanan tingkat ngantuknya makin menjadi." Nana tertawa mendengar itu, tidak lama memang Ani sudah tertidur pulas di sampingnya ada Aji sementara Reygan dia duduk di kursi yang berbeda dari rombongan. Tidak memerlukan waktu yang lama mereka telah tiba di Jogja kota pelajar yang memang selalu membuat rindu, kalo ditanya kenapa Jogja spesial karena dia punya banyak cerita di dalamnya. Mereka sampai di Bandara Jogja--Yogyakarta International Airport dengan bangunan yang baru di buat ternyata Bandara baru ini arsitekturnya begitu indah dengan ornamen bunga di atapnya dan tiang-tiang lapu berwarna hijau. Mereka ikut keluar dengan penumpang lain yang sudah dibukakan pintu dan disambut oleh cru kabin yang bertugas. Lapangan yang luas sebelum mereka turun ditumbuhi denhan rumput hijau yanh segar dan jalan yang berada di antaranya membuat Nana merasa senang. "Laper Gan," ucap Nana sambil memasang wajah memelas, dia memang sangat lapar tadi sempat diberikan snack di dalam pesawat tetapi namanya Nana dia mudah sekali merasa lapar. "Sabar ya Na, kita ke hotel dulu baru setelah itu makan." "Emang dasar perut karet nih si Nana," timpal Aji dengan mengelus kepala Nana. "Gue juga lapar banget guys," sahut Ani dengan tersenyum. Karena kalo lapar mereka jadi tidak fokus untuk menjalankan aktivitas, ada baiknya membeli makan terlebih dahulu sebelum. Nana berlarian di lapangan itu, kebetulan orang-orang sudah jauh di depan, rasanya seperti bebas dari sangkar dan bisa merasakan tempat yang memang membuat dia nyaman "Hati-hati Nana jatuh," ungkap Reygan takut kalo misalnya Nana terjatuh, tetapi Nana malah semakin kencang berlari. Ibarat kisah cintanya dengan Nana, semakin dikejar maka akan semakin jauh dan sulit tergapai. LDR Paling jauh selain beda keyakinan, ya beda perasaan jika salah satu saja yang sayang apa mungkin akan menjadi hati yang utuh? *** Sekarang mereka sedang ada di Malioboro, sekalian keliling dan mencari makanan khas Jogja pada malam hari. "Di sana biasanya ada pengamen jalanan dan di sampingnya ada Andong yang sering di sini," jelas Reygan seperti pemandu wisata. Nana sudah senang sekali bisa bekerja sambil liburan di sini, ibarat sambil menyelam minum air dan yang lebih serunya banyak toko yang buka. Alhasil Nana membelikan oleh-oleh untuk kedua orangtuanya di rumah beserta mertua dan sanak saudara. "Ini banyak miniatur, kalo Nana suka ambil aja," ucap Reygan semangat memilihkan. "Gue juga mau Gan kalo dibayarin," ungkap Ani yang memang suka sekali memberikan ide untuk ditraktir. "Ambil aja Ni." Reygan itu memang anaknya royal, makanya kalo berteman dengan dia jangan takut kelaparan pasti saja dengan siap siaga dia memberikan apa yang dia punya. Sementara Aji melihat batu-batu kecil untuk gelang yang menarik, dia mencoba dan mengambil gelanng yang unik. Ternyata harganya juga terjangkau membuat mereka menjadi semangat untuk memilih. "Ibu, ini ya. Semuanya berapa?" tanya Reyga dengan ramah. "Semuanya 100 ribu Nak," balas Ibu yang sudah paruh baya itu sambil memasukkannya ke dalam kantong kresek yang sudah di siapkan. Banyak yang Nana pilih karena dia memang menyukai miniatur yang unik apalagi untuk hiasan kamar apartemen Agal nantinya. "Itu ada tukang foto, ayuk kito foto di sana," ajak Aji menarik tangan ke empat rekannya yang berjalan menyusul. Lima ribu saja sudah dapat 5 file foto yang bagus tentu saja mereka memanfaatkan momen itu untuk berfose sesuai dengan gaya andalan apalagi kalo bukan dua garis tangan membentuk huruf V. Mereka juga mengajak ke spot foto yang iconic untuk OOTD. Kebetulan mwreja bertemu Mas Eras dan Abran di jalan Pajeksan atau titik 0 KM. "Makasih ya Mas, udah bantuin fotonya bagus banget," puji Nana senang karena itu bisa dijadikan instastory nantinya. "Sama-sama Mbak, wah ternyata Mbak Nana keren banget gayanya jadi lucu gini." "Hahha, dia mantan model mie ayam dulu Mas," balas Aji berniat menggoda Nana. Tapi malah dilempari Nana dengan bunhkus permen yang malah jatuh ke bawah. "Emang Aji nyebelin." "Mbak Ani juga cantik banget di sini." "Nah kalo itu keturunan bidadari Mas," balas Aji dengan tawa khasnya. "Kalo saya sama Mbak Nana, cocok enggak Mas?" tanya Reygan sambil tersenyum mencari jawaban dari tukang foto itu dengan semangat. "Mulai deh mulai." "Hahhaha jangan ditanggapin ya Mas, soalnya Nana udah punya suami." "Ini namanya tertolak sebelum mengungkapkan," balas Aji tertawa. Nana malah meminta maaf dengan Reygan karena sudah mengecewakan tapi dia tidak mau memberikan harapan yang berujung sakit hati. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan melihat pertunjukkan nyanyi dari pengamen di sana dengan suara yang bagus apalagi lagu kesukaan Nana yang mereka nyanyikan. "Lagu Sheila On Seven memang selalu mempunyai daya tarik untuk Nana dan makna yang diungkapkan selalu saja sampai ke hati." "Gue juga suka lagu ini Na," balas Reygan dengan senyuman. Mereka menikmati suasana Malioboro pada malam hari, untuk makanan mereka Angkringan TB(pak Memed) yang selalu ramai pengungjung. Banyak sekali menu yang ditawarkan sesuai dengan selera masing-masing orang. Semoga saja semua momen ini dapat dijadikan kenangan nantinya untuk melewati berbagai macam rintangan yang ada. "Makan yang banyak Ni, kan pura-pura bahagia juga butuh tenaga," ucap Aji dengan berniat menggoda Ani tapi malah dicubit dengan Ani. "Gini nih suka lupa, kalo dia juga kaum Sadboy yang ditolak beberapa kali tapi masih setia," balas Ani dengan tertawa, tapi hal itu malah dibalas dengan tawa yang kencang juga dari Aji. "Udah ah berantem mulu, kalo ga mau, sini gue habisin," ucap Nana semangat sekali memakan tusukan yang disediakan. Reygan memberikan Nana beberapa sayap ayam dan tempe yang banyak katanya agar Nana selalu kenyang. Seandainya orang yang kita suka bisa memperlakukan kita sama sepertj yang menyukai kita, itu yang Nana pikirkan tetapi Agal bukan Reygan. Dia adalah sosok yang tidak mencintai Nana tetapi sangat Nana cintai dengan setulus hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN