"Ada yang hilang di pelupuk mata tapi berkembang di dalam sanubari, saat kehilangan menjadi titik temu, di mana perjuangan akan selalu memiliki ruang rindu."
-Agal-
***
Sudah seminggu semenjak sakit akhirnya Nana bisa kembali bekerja lagi. Terakhir dia di antar dengan mertuanya ke rumah Mama Alin dan Papa Hanif.
"Na, hari ini enggak sarapan dulu di rumah?"
"Kayanya enggak Ma, soalnya enggak enak udah izin seminggu sama Bu Gendut, apalagi gaji dipotong, kan lumayan buat beli Skincare," jawab Nana semangat, hari ini dia sudah kembali dengan Nana yang ceria, selama sakit Agal tidak ada sekalipun memberikan kabar kepada Nana.
"Ini bekal Nana ya, dimakan jangan sampai telat lagi," peringat Mama Alin sebelum anaknya itu berangkat bekerja.
"Siap Mama, Papa mana Ma?"
"Lagi kerja Na, kata Papa nanti kalo Nana mau dijemput biar Papa jemput aja ya," balas Mama sambil memberikan pelukan hangat untuk anak semata wayangnya itu.
Nana mengaggukan kepala mengerti, memang Mama Alin selalu saja ingin yanh terbaik untuk anaknya sama seperti ibu di luar sana yang ingin melihat anaknya terus bahagia.
Seandainya saja dia tidak dijodohkan mungkin tidak akan sesulit ini, sekarang antara bertahan dengan seseorang yang hatinya bukan milik kita.
Ke kantor kali ini ada Aji yang siap siaga mengantar Nana dan sudah menunggu di depan rumah.
"Assalamualaikum Tante, Aji sama Nana berangkat kerja dulu ya Tan."
"Iya Aji, Hati-hati. Jangan terlalu ngebut ya, pokoknya yang penting selamat sampai tujuan."
"Siap Tante."
Setelah itu Aji kembali menyalakan mesin motornya dan melihat Nana yang sudah siap untuk berangkat bekerja.
"Na, lo kenapa ngelamun aja?" tanya Aji penasaran karena tidak biasanya Nana diam, kan anaknya tidak bisa diam.
"Ji, kenapa ya Agal enggak ada ngasih kabar sama gue?"
"Kan di perbatasan susah cari sinyal Na," balas Aji karena mengingat pesan Agal untuk menjaga Nana sebelum dia masuk ke daerah perbatasan.
"Semoga aja gitu Ji, takutnya nanti malah selingkuh di sana," balas Nana yang kesal kalo sampai Agal begitu.
"Enggaklah, kalo dia berani gitu. Gue orang pertama yang ngelempar pakai sendal," omel Aji seperti pawang untuk kedua sahabat perempuannya.
"Hahhaha iya juga ya Ji."
Mereka akhirnya membelah jalan ibu kota dengan berbagai kejadian lucu di kantor yang Aji ceritakan selama Nana tidak masuk.
"Kemarin Reygan salah panggil orang, dia kira itu Bu Gendut ternyata itu sepupunya Bu Gendut, mana udah bilang cantik lagi. Alhasil sepupunya Bu Gendut jadi mau dijodohin sama Reygan," ucap Aji semangat sekali menceritakan hal itu.
"Hahahh, dia kan paling menggoda wanita," balas Nana tertawa.
"Cuma lo aja yang enggak kegoda sama dia Na, mana dia udah berharp banyak sama lo Na."
Nana hanya membalasnya dengan senyum yang tidak enak hati apalagi kalo sampai Reygan sakit hati tentu saja dia merasa tidak tega.
***
Di kantor ternyata sudah ramai yang lain menunggu Nana apalagi Reygan dan Ani yang sudah duduk di sebelaj bangku Nana bekerja.
"Nana, selamat datang kembali. Kita besok ditugasin buat ke Jogja, ada acara sastra yang bagus banget. Wah sekalian liburan," ucap Ani senang sekali.
Jogja itu adalah tempat yang bagus sekali untuk melakukan healing terbaik apalagi dengan sahabat.
Mendengar itu Nana langsung memeluk Ani, sudah lama sekali dia ingin ke Jogja lagi, tetapi waktu yang membuat dia harus fokus terhadap pekerjaan terlebih dahulu sebelum memikirkan liburan.
"Wah, seriusan Ni, seneng banget kalo misalnya ke Jogja."
Mereka mulai dipanggil Ibu Gendut untuk memgambil SK dan uang saku sebagai uang untuk perjalanan mereka nantinya.
Besok mereka sudah harus bersiap menghadiri acar seminar kebahasaan dan menyiapkan laporan setelah itu. Nana, Reygan, Aji, dan Ani yang dipercaya untuk perjalan dinas kali ini.
Pasti banyak sekali tugas yang akan mereka lakukan selama pelatihan, tetapi memang menyenangkan untuk perjalanan dinas ini.
Sekalian berpetualang dari penatnya dunia dan menemukan hal yang baru untuk sejenak meringakan beban dari kehidupan, kadang memang liburan sangat dibutuhkan untuk menyembuhkan hati yang sedang penat dengan hidup.
Mereka berempat akhirnya keluar ruangan dan mengadakan rapat kecil untuk persiapan besok. Ada yang ingin mereka kumpul dulu dan ada yang bilang langsung saja di Bandara.
Sampai akhirnya keputusan terakhir yang didapat mereka langsung kumpul di Bandara dan langsung menunggu di sana.
"Jangan samapai ada yang telat besok, tidur yang cukup, untuk perjalanan kali ini gue yang jadi leader," ucap Reygan yang memimpin, jika sedang serius dan urusan pekerjaan Reygan bisa profesional dan berwibawa.
"Siapp," balas ketiganya kompak.
***