Sayang (2)

1415 Kata
Orang-orang pandai sekali mencari kesalahan hingga tidak sadar jika yang perlu diperbaiki adalah perasaan mereka yang membuat kesakitan dihati orang lain. Di sebuah ruangan yang terdapat Sofa di dalamnya, ada juga buah-buahan sudah tersusun rapih. Nana yang baru kangen menelusuri ruangan itu dengan seksama sampai sadar jika ini adalah rumah Ani. Tapi ke mana sahabatnya itu, ada figura foto Ani di kamarnya dengan keluarga, ternyata dulu Ani merupakan anak yang selalu mendapatkan mendali kemenangan di acara pidato sekolah. Pantas saja publik speakingnya bagus sekali. Nana, Ani, dan Aji memang bersahabat sejak mereka masuk dan terjun ke dunia Balai Bahasa. Meskipun masuknya tidak sama. Nana terlebih dahulu, lalu tahun keduanya barulah Aji, dan yang terakhir ada Ani. Tapi kebersamaan mereka setiap hari menjadikan mereka sangat dekat. Apalagi ketiganya punya kesamaan suka sekali menulis, berbicara apalagi makan. "Nana, alhamdullilah udah sadar. Gue panik banget pas lihat lo pingsan tadi. Tadi Aji sama Reygan yang anterin ke sini," jalas Ani yang melihat Nana masih sangat lemas. "Kenapa gue bisa pingsan Ni?" "Kecapean Na, makanya kan udah gue bilang kalo misalnya berat bagi sama gue, ini semuanya lo kerjain sendiri ga mau bikin gue capek, tapi malah lo yang drop," ungkap Ani sedih. Tidak lama Aji masuk dengan berbagai makanan kesukaan Nana, meskipun ceplas-ceplos tapi Aji itu adalah sosok laki-laki yang sangat bisa diandalkan. "Na, ini lo harus makan yang banyak, kasihan Bapak yang buat makanan kalo ga dihabisin. Ini gue beliin semua makanan kesukaan lo Na, jangan sakit lagi lah, nanti siapa yang ngomelin gue di kantor," ucap Aji panjang lebar karena jika Ani atau Nana sakit maka dia akan sangat sedih apalagi teman curhat dan berantem dia hanya mereka berdua. "Aji kaya ibu-ibu komplek, ngomelnya panjang banget," balas Nana tertawa. "Nah gitu Nana ketawa jangan sakit ya," balas Ani lembut. "Tapi kenapa enggak antar ke rumah gue?" "Kata Mama Alin, nanti bakal jemput di sini karena rumah gue lebih deket tadi jadinya di sini." "Maafin ya ngerepotin kalian berdua." "Tau ah Nana emang ngerepotin, nyusahin, herannya gue sayang banget sama lo," balas Ani dengan tawa. "Bener banget, mana berat lagi, jangan bilang lo makan daging malam tadi, kan udah gue bilang kalo makan daging itu berbagi," ungkap Aji dengan semangat, karena memang membuat Nana menjadi tidak enak hati itu menyenangkan dan bisa membuat tertawa. "Becanda Na, serius banget elah. Ringan banget malah," balas Aji tertawa. "Sini mana makanan gue?" tanya Nana yang sudah semangat untuk makan. "Emang kebiasaan kalo dikasih makan wajahnya langsung ceria," balas Ani dengan menyerahkan makanan yang sudah dibeli Aji. Nana memakannya dengan semangat, "Aji, emangnya harus sakit dulu ya, biar lo peduli sama gue?" tanya Nana dengan sedih. "Iya nih, giliran lo sehat gue mikir 10 kalo Na wkwkwk." Tawa Aji pecah setelah mengucapkan itu. "Aji, besok kayanya gue juga pusing deh, sabilah Mcflurry matcha," timpal Ani dengan senang. Memang kedua sahabatnya ini kadang mengesalkan tapi sangat dia sayang. "Iya gapapa, sebelum gue punya bini membahagiakan sahabat dulu yang satu ditinggal ldr dan satunya lagi jodohnya belum kelihatan hilalnya," balas Aji dengan semangat, giliran membicarakan masalah percintaan orang lain Aji semangat. Padahal kisah cintanya lebih tragis ditinggal nikah H-1 sebelum akad padahal hari sebelumnya masih jalan seperti tidak bersalah. "Iyain aja Na, kasihan ketua ijotomat ini, udah ditinggal nikah dan dihantui masal lalu," jawab Ani tertawa. "Mengsedih." "Oh iya, tadi gue ke sini bareng Reygan, tapi udah gue suruh pulang, dia nitipin makanan tambahan ini Na," ucap Aji yang memberikan banyak sekali kue. "Kadang gue heran kenapa Reygan enggak mencoba membuka hati buat orang lain aja. Soalnya dikantor banyak yang mau sama dia apalagi diluaran sana." "Tapi dia kan nyamannya cuma sama Nana," balas Ani dengan memakan donat lalu meminum teh hangat yang dia buay barusan sebelum masuk kamar. "Nah itu, makanya kalo nyaman kita ga bisa maksain hati buat si A, si B atau si C pasti aja bakal balik ke titik awal yang memang sejalan dan yang kita mau." Nana adalah orang yang sangat baik dan selalu memberikan banyak keajaiban, pernah waktu itu hujan, dia rela untuk menjemput Ani yang sedang di luar padahal arahnya berlawanan dari rumahnya. Karena dia tahu kita hanya punya kesempatan untuk menolong sekali karena setelah itu untuk yang selanjutnya orang akan segan jika yang pertama saja sudah ditolak. "Agal kenapa ga pernah kasih kabar ya semenjak yang hari itu?" tanya Nana kepada teman-temannya. Dia sedih jika suaminya tidak memberi kabar. "Na, sebenernya gue kadang bingung kenapa lo milih buat nerima perjodohan itu?" tanya Ani yang tahu jika Nana tidak pernah menolak perjodohan itu malah menerima dan bahagia bisa berjodoh dengan Agal. "Ya, karena sayang Aniku, kalo enggak sayang gimana mau bertahan," jawab Nana semangat. Mungkin hanya Agal yang bisa membuat Nana tidak memikirkan sakit diabaikan, diacuhkan, dan tidak dianggap ada. "Udah ah menggalaunya, lebih mengsedih gue Na, sampai sekarang belum menemukan jodoh," balas Aji tertawa, mereka pun ikut tertawa karena jodoh itu tidak bisa dipaksakan orang mau kebut-kebutan jodoh juga tidak akan bisa karena yang ada itu memaksakan diri. "Kalo enggak kuat tenang Na, masih ada kayu buat menopang, kalo enggak besi untuk bersandar." "Emang sahabat ni gini," balas Nana mencubit Aji dengan cukup keras. "Sekarang ayo makan!" ajak Ani yang sudah meletakkan semua makanan di atas piring. Rumah Ani memang sepi karena kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi sementara adiknya sudah menikah di Padang. Mereka makan sambil sesekali Aji menjahili Ani dengan meletakkan kecap di piringnya padahal Ani tidak suka sama sekali kecap kebalikan dari Nana yang suka sekali kecap. Tidak disangka setelah beberapa jam, akhirnya Bunda Lily menjemput Nana dengan Ayah Beni yang datang dengan wajah panik. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam Tante, ayo masuk dulu Tan." Sekarang yang menjemput ayah dan ibu mertua karena sangat panik ketika tahu Nana sakit. "Bunda, Ayah. Kok bisa tahu Nana di sini?" "Tadi Bunda mau ke apartemen tapi ternyata telepon sama Mama Alin kalo Nana lagi sakit di sini. Jadi Bunda bilang aja biar sama Ayah aja jemput Nana." "Iya, ayah sampai bawa kendaraan ngebut katanya takut menantu kesayangannya kenapa-kenapa." "Ayah, maafin Nana ya ngerepotin. Ini kayanya kecapean ditambah sebenarnya Nana bergadang nonton drakor lagi malam tadi." Memang kebiasaan anak drakor harus tamat hari itu, tidak sadar jika matanya sudah seperti zombie. "Gapapa Nana, Ayah seneng bisa jemput Nana." "Makasih ya Nak, udah rawat Nana. Tante mau ajak Nana pulang dulu ya." "Iya Tan. Om kapan-kapan main catur bareng ya, soalnya dari wajah kelihatan Om jago main catur," timpal Aji yang keluar dari topik tapi itu membuat wajah Ayah Beni menjadi sangat bahagia. "Wah bener banget Om suka main catur, boleh nanti saya ajak kamu ya Nak Aji." "Siap Om." Akhirnya Lily dan Beni mengajak Nana pulang ke rumah mereka juga sempat bertanya apakah Nana sudah makan atau mau ke dokter saja. Tapi Nana bilang dia kalo sakit abis makan banyak maka akan sembuh. "Nana beneran ga mau ke dokter Nak?" tanya Bunda Lily panik karena kalo Nana sakit dia juga merasa sedih. "Enggak papa Bunda, ini Nana udah mendingan, mau pulang ke rumah aja Bunda," balas Nana dengan senyuman. "Tadi Ayah khawatir loh pas tahu Nana sakit langsung aja ajak Bunda sambil melewati kemacetan dengan jurus super," balas Ayah tersenyum sedih. "Wah Ayah mah, maafin Nana jadi ngerepotin ya." "Enggak Na, malahan Ayah ngerasa sedih banget kalo Nana sampai kenapa-kenapa." "Agal belum tahu ya Nana sakit?" tanya Bunda yang mulai mau menelepon anaknya yang berada jauh di perbatasan. "Enggak usah Bunda, kasihan Mas Agal juga sibuk." "Dia kalo kerja jarang sekali pegang gawai kadang ada sebulan tidak memberi kabar Na, karena keterbatasan sinyal dan anaknya fokus sekali dengan pekerjaan kadang Bunda maunya Agal di sini saja," jelas Bunda membuat Nana menerawang jauh. Baru awal pernikahan saja Nana harus dihadapkan dengan LDR yang cukup jauh. "Gapapa Bunda, kan Mas Agal kerja di sana juga buat Nana." "Emang anaknya itu suka bikin khawatir Na, nanti Ayah omelin kalo pulang, mau dijewer juga." "Hahah nanti jadi pinnocio Yah, kupingnya panjang." "Itu hidungnya yang panjang Na." "Oh, iya ya Yah, lupa Nana." "Nana lucu banget sih," timpal Bunda tertawa. Mereka akhirnya terus mengobrol ringan sambil mengantarkan Nana ke rumah Mama Alin dan Papa Hanif. Untuk Reygan baru-baru saja memberikan pesan singkat melalui aplikasi ganggang hijau, dia bilang Nana jangan lupa istirahat. Nana kadang memang suka memanggil Rey atau Gan, sesuka dia saja dan senyaman Nana. "Iya Gan, terima kasih. Besok Nana beli lagi ya Gan kalo tertarik sama gawainya." Balas Nana dengan ucapan khas gan/ sis ketika menawarkan barang di olshop. Memang Nana suka aneh-aneh dan menyebalkan tapi banyak yang sayang Nana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN