"Kalo yang dirasa lelah maka beristirahat sejenak, bukan salah siapa-siapa, terlihat kuat itu adalah bonus sedangkan jeda pembatas adalah ruang untuk tetap menapak meski lelah."
***
Sehabis acara seminar maka mereka bergegas untuk evaluasi dan membereskan semua berkas, kebetulan Dinda yang mengisi materi terakhir dari membuat acara jadi semakin meriah bersama Bu Gendut tentunya.
"Ibu, terima kasih ya udah undang Dinda."
"Wah, iya Din, seneng banget lihat kamu semakin cantik dan wawasannya makin luas," puji Bu Gendut tulus.
"Alhamdullilah Bu, Ibu juga tambah awet muda. Dulu Dinda diajarin Ibu makanya bisa kaya sekarang."
Aji dan Ani tersenyum.mendengar percakapan keduanya, sementara Reygan menjaga Nana di belakang takut perempuan itu terjatuh karena sudah sangat lemas.
"Dulu perasaan suka dianterin sama yanh seragam loreng, eh Agal ya namanya," ucap Bu Gendut mengingat nama itu. Dulu memang hanya mendengar namanya saja tapi tidak pernah terlihat wajahnya tentu saja Bu Gendut tidak tahu jika itu sama dengan nama suami Nana.
"Eh sama kaya nama suaminya Nana, Bu," timpal Nana masih tersenyum cerah meski sudah tampak pucat.
"Wah, kamu Nana ya, saya suka denger tentang kamu dari anak-anak lain, katanya kamu salah satu kariyawan terbaik dan cantik di sini," ungkap Dinda tulus, ternyata pujian itu memang tulus Dinda berikan kepada gadis yang sekarang berada dihadapannya.
"Jangan dipuji Mbak, nanti Nana bisa terbang, takut pelapon pada jebol," sajut Aji yang membuat tawa orang-orang di sana menjadi pecah.
"Tuhkan Mbak, emang Aji ini suka mengkhianati semesta, makasih ya Mbak Dinda, Mbak juga cantik banget apalagi pinter."
"Nana ini anak kesayangan saya Din, tapi ya gitu suka bandel, apalagi kalo pulang cepet dia paling duluan tancap gas."
"Yah, Ibu jangan dibongkar aib Nana, yang ada Mbak Dinda nanti menarik ucapannya," protes Nana dengan mengipaskan tangannya pertanda tidak.
"Gapapa Na, mau kaya gimana pun Reygan tetap sayang Nana," jawab Reygan yang ada di belakang Nana."
"Nyaut aja Rey, kaya petasan di hari Tarawih," balas Ani yang memang sudah siap berargumen.
"Jadi gimana hubungan Mbak Dinda sama pacar yang kemarin?" tanya Aji ikut penasaran, kan siapa tahu saja masih ada kesempatan untuk jalur tikungan sepertiga malam.
"Udah putus, karena waktu Dinda enggak sanggup LDR. Tapi masih sering kasih kabar dengan baik."
Mendengar itu yang lain tersenyum, ternyata memang Dinda adalah sosok bidadari yang dikirim Tuhan untuk selalu memberikan warna.
"Rey, ayo pulang," ajak Dinda yang memang memiliki hubungan saudara dengan Reygan.
"Kalian saudara?" tanya Bu Gendut karena tidak pernah melihat Reygan bersama dengan Dinda sebelumnya.
"Iya Bu, sepupu saya," balas Reygan dengan langkah kaki maju untuk mengantar ke rumah Dinda.
Sementara Nana memang sudah terlihat sangat pucat, ternyata memang Nana sudah tidak kuat lagi, lalu akhirnya pingsan karena memang jika kelelahan dia akan kehilangan keseimbangan dan tumbang.
"Nana!"
"Na, bangun Na."
"Nana, lihat jungkook Na!"
"Nana!"
Kekagetan dari mereka membuat suasana menjadi sangat heboh ternyata memang Lana sedang sakit dan harus dirawat.
Reygan yang sudah sigap di belakang Nana, langsung membawanya ke kursi yang ada tasnya Nana, lalu mereka memberikan minyak kayu putih kepada Nana. semoga saja Nana segera sadar.
"Nana bangun!" ucap Aji yang memberikan terus-menerus panggilan agar Nana segera kembali pulih.