"Kita punya banyak cara untuk mensyukuri pemberian sang Pencipta, mungkin ada banyak kata yang sering kali tidak sesuai dengan harapan tetapi kita punya banyak cerita untuk bersyukur bahwa pemberian-Nya sudah dari cukup."
***
Hari yang ditunggu akhirnya tiba, setelah persiapan yang begitu matang dari sewa gedung, kudapan, makan siang serta pemateri yang sudah di konsepkan dengan begitu baik membuat Nana, Mbak Mika, serta Ani bisa bernapas lega.
Dekorasi yang sederhana karena memang untuk acara seminar hanya perlu spanduk pendukung serta Layar infocus yang sudah Nana persiapkan.
"Na, tadi gue ajak Mama buat lihat Nana," ucap Reygan dengan membawakan berbagai buahan yang sengaja dia beli agar Nana tidak kelaparan selama acara.
"Wah bagus kalo Tante datang ke sini."
"Iya, katanya mau lihat calon mantunya," balas Reygan enteng. Memang kalo bicara tidak ada filtrasi lagi padahal Nana sudah sering sekali bilang dengan Reygan untuk tidak terlalu berlebihan karena kan Nana yang tidak enak hati jika nanti memperkenalkan diri.
"Reygan, harus ingat kan Nana udah menikah, jadi sebaiknya sekarang Reygan harus move on," ucap Nana memberikan nasihat.
"Hahhah, gue becanda Na, gue mah paham tapi kan enggak ada salahnya kalo gue jadi sosok yang selalu ada buat lo," balas Reygan dengan senyuman jahilnya.
"Oh, sekarang Nana ngerti."
"Apa Na?"
"Kalo Reygan mau jadi pengawal Nana, harus seleksi dulu, minimal kalo Nana bilang terserah Reygan tahu berarti itu lagi banyak maunya, terus kalo Nana bilang gapapa berarti itu ada apa-apa, sama satu lagi kalo Nana lagi PMS pengen makan yang banyak," jelas Nana tertawa memang dia selalu saja santai menyikapi Reygan.
"Bener-bener nyebelin ya," balas Reygan mengelus pucuk kepala Nana dengan pelan.
Ternyata bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Apalagi berjuang sendirian, ibaratnya kalian ditengah hujan dalam kedinginan sementara si dia di dalam rumah sambil tidur nyenyak. Sakit banget kan, nah begitulah kalo mencintai tapi tak dicintai.
"Tapi Reygan sayang kan," balas Nana tertawa.
"Iya lah Na, mana ada yang enggak sayang sama lo."
"Ada kok, itu buktinya Agal ga suka sama Nana, katanya Nana ini kaya anak kecil," balas Nana dengan tertawa hambar, kadang dia memang terlalu polos dan sangat lugu.
"Mau gue ruqiyah itu suami lo," omel Reygan karena dia tidak akan segan untuk merebut Nana dari tangan laki-laki yang tidak bisa menghargai perasaan perempuan yang dia sayang.
Bu Gendut datang dengan tas hitam yang lebar, pasti saja sudah siap untuk mengisi materi hari ini. Memang di balai bahasa sendiri ada bagian-bagian yang menangani tentang Sastra dan Linguistik. Tidak heran jika pelaksanaan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra sangat dibutuhkan sekarang ini. Apalagi mengenai bahasa daerah yang perlu diresapi maknanya. Kadang penggunaan Bahasa Indonesia ini mudah sekali terganti dengan bahasa asing di mana orang-orang lebih merasa keren jika menggunakan bahasa luar tetapi juga bahasa ibu kadang lebih membuat mereka nyaman.
"Nanti kudapannya udah ada kan Na?" tanya Bu Gendut mrmastikan karena sebelum acara dimulai mereka ingin peserta mendapatkan kenyamanan.
"Amann Bu, udah Nana bilang sama pihak konsumsi dan katanya semuanya akan tiba setelah jam 9."
Mrndengar itu Bu Gendut menjadi lega karena nanti materi yanh akan disampaikan cukup banyak dan harapan Bu Gendut semua mahasiswa serta siswa dapat mrnikmati acara.
"Ibu, maafin ya tadi Ani telat, soalnya ban motornya pecah," ucap Ani yang baru datang memang sudah telat sekali tapi apa mau dikata namanya juga faktor tidak disengaja, tentu saja tidak akan ada yang mau motornya pecah.
"Iya gapapa Ni, kamu bantu Nana ya, soalnya nanti Aji jadi pembawa acara. Mbak Mika panitia acara nah Reygan yang nanti bantu buat sesi dokumentasi."
"Untuk pemateri yang satunya udah datang Bu?" tanya Nana mrmastikan karena memang Bu Gendut lebih mengenal pemateri itu.
"Iya, namanya Dinda. Dia sempat menjadi duta bahasa 5 tahun yang lalu dan sekarang sudah bekerja juga di Balai Bahasa Bandung."
Mendengar itu Nana tersenyum, untung saja Bu Gendut baik sekali dan sabar mengajari Nana untuk terus berproses.
"Na, nanti temenin gue benerin ban ya," ucap Ani setelah Bu Gendut naik ke singgasananya di atas panggung yang dihadapannya ada minuman, kudapan dan banyak lagi.
Acara pun segera dimulai karena anak-anak mahasiswa, siswa sudah hadir sebanya 50 orang dari berbagai SMA dan perguruan tinggi.
Dinda--adalah sosok yang cantik, lemah lembut serta berwajah bak malaikat tentu saja Nana menjadi sangat takjub melihatnya.
"Cantik banget ya Dinda, gue jadi ngefans, dia pakai bedak apa ya bisa bening banget kaya gitu?" tanya Nana dengan Ani.
"Astaga Na, lo kok jadi salfok gini?"
"Abisnya Dindanya cantik."
Memang Nana anak yang polos dan jujur ini kadang juga meresahkan jika sedang jujur karena terlalu polos kadang juga Nana suka digoda di kantor dan menjadi bahan lucu-lucuan.
"Tapi menurut gue, cantikkan lo deh Na."
"Wah tumben banget sih sahabat gue ini muji, biasanya bilang kalo gue suka PD-an."
"Hahhah nah itu lo tau Na, lagian orang lain aja berlomba mau jadi Nana Europa seorang gadis cantik mungil yang putih."
"Duh jadi malu, nanti deh gue teraktir seblak kecap, apa sekalian mau kecapnya Ni?"
Susah memang dengan Nana kalo sedang percaya diri suka sekali meresahkan, contohnya sekarang.
Hari ini memang Nana memakai seragam hitam dengan rambut yang dikuncir sangat cocok dengan wajah imutnya yang membuat siapa saja akan merasa jika Nana masih terlalu imut untuk ukuran perempuan yang bekerja.
Bu Gendut sedang menjelaskan materi dan banyak sekali yang memperhatikan dengan semangat.
"Ketemu lagi sama si cantik ini," ucap Juple yang duduk di bangku belakang memang saat pendaftaran peserta Nana tidak melihat orang itu datang.
"Kamu lagi," balas Nana kaget tetapi segera menstabilkan wajahnya dengan senormal mungkin.
"Wah, kalo kita ketemu tiga kali itu bukan kebetulan tapi itu takdir," balas Juple semangat.
"Na, ini siapa lagi? inget udah ada Agal," protes Ani yang berada di belakang Nana.
"Gue enggak tahu dia siapa Ni, tapi emang beberapa kali sempat ketemu," balas Nana yang santai saja karena memang dia tidak ada masalah dengan Juple.
"Kenalin calon jodohnya Nana," ucap Juple mengulurkan tanhannya dengan semangat.
Ani mengaggukan kepala dan menjabat tangan Juple.
"Kan Nana udah bilang kalo udah punya suami, lagi kamu kenapa sih malah gangguin Nana terus."
"Gapapa, kan masih bisa usaha untuk menaklukkan hati Nana."
Reygan yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik lelaki itu segera melindungi Nana.
"Jangan ganggu Nananya gue!" bentak Reygan tegas, seperti tidak suka miliknya diambil.
Kenapa kedua laki-laki di hadapannya ini tidak mengerti jika Nana sudah mempunyai suami, tentu saja dia tidak mungkin lagi membuka pendaftaran menerima jodoh, meskipun maskipun masih cinta bertepuk sebelah tangan, tetapi Nana optimis jika terus berusaha tentu saja lambat laun Agal akan mengaggap keberadaannya.
"Emang Nana sepatu udah ada lebel kepemilikannya?" tanya Juple tidak terima karena menurutnya Nana lebih berharga dari itu.
"Tapi dia udah ada suami, mending jangan ganggu. Lagian lo siapa sih!?" omel Reygan dengan tidak suka.
Sementara Nana sudah pusing dengan dua orang dihadapannya ini. "Udah ya berantemnya, Nana ini udah punya suami, kalo Reygan sama siapa namanya yang suka ganggu Nana mau berjodoh juga gapapa," ucap Nana lalu meninggalkan keduanya.
"Tuhkan, lagian kalian berdua sih masij aja gangguin Nana, kan udah jelas cicin dijari manisnya."
Juple merasa sedih karena perempuan yang berhasil menaklukkan hatinya ternyata sudah dimiliki oleh orang lain.
"Kalo gue ketemu dia sebelum dia nikah, mungkin dia orang pertama yang mematahkan pandangan tentang cinta pertama itu ada," ungkap Juple berbicara kepada dirinya sendiri.
"Jangan mimpi, mau gue jadiin perkedel?" tawar Reygan dengan memberikan kudapan perkedel yang memang ada di acara ini.
Aji turun ke bawah untuk memberitahukan kepada peserta mengambil kudapan terlebih dahulu, ada makanan manis dan asin yang sudah tersedia sebagai kudapan hari ini dan entah kenapa rasanya sangat enak pantas saja anak-anak antusias.
"Nah, jadi kita harus sering-sering membiasakan penggunaan bahasa indonesia yang baik, seperti sekarang kita sering menyebut kudapan itu sebagai snack padahal dalam bahasa indonesianya 'kudapan' mulai sekarang biasakan menggunakan itu ya, untuk melestarikan bahasa kita sendiri dan bangga terhadap bahasa kita," jelas Bu Gendut tersenyum ramah kepada anak-anak.
Aji turun sambil mencari Nana, dia memberikan sebuah kopi yang sudah diracik.
"Nih Na, tumben kan gue baik, soalnya abis dikasih tf sogokan sama Agal," ungkap Aji dengan senyuman bahagia.
Nana yang lelah hanya membalas dengan senyuman, sekarang dia sedang tidak ingin membahas apapun karena memang beberapa hari ini kegiatan sangat menguras tenaganya.
"Makasih Ji."
"Nana sakit?" tanya Ani yang panik dan mengambil segelas air putih dengan teh hangat.
"Enggak tau Ni, tiba-tiba pusing gini."
"Gue langsung lapor sama kapten Agal ya Na," ucap Aji yang sudah akan mengambil gawainya diurungkan oleh Nana.
"Jangan Ji, ini gue cuma kecapean aja."
Padahal biasanya Nana akan sangat senang sekali jika Agal menitipkan salam untuknya, paling tidak dia akan joget-jeget sambil tersenyum serta menyapa setiap orang yanh lewat.
Acara terus berjalan dan Nana terus menahan diri untuk tetap kuat. Karena sebentar lagi jam makan siang, beruntungnya pihak gedunh sudah menyediakan makanan di sana. Kebetulan pula makanan yang disajikan memang enak sekali apalagi itu semua kesukaan Mahasiswa serta siswa.
"Ini makan dulu Na," pinta Ani yang mengambilkan berbagai makanan untuk Nana.
Nana memakan dengan sangat pelan, kalo sakit pasti saja seperti gawai yang di charger akan sangat sulit bicara.
"Nana, ini gue bawain vitamin," ucap Reygan yang datang entah dari mana.
"Rey, enggak usah," tolak Nana halus.
"Tadi tangan gue luka Na, karena jatuh buat beli obat, tapi gapapa kok."
Nana melihat tangan Reygan yang mengeluarkan banyak darah, segera saja mengambil tisu di dalam tasnya.
"Maaf ya Reygan, selalu ngerepotin. Lain kali jangan lagi ya mengorbankan keselamatan Reygan demi Nana."
"Wah, Reygan bener-bener ya," balas Aji menggelengkan kepalanya, karena jujur saja memang sebenarnya Reygan sangat tulus mencintai Nana tapi kadang kala dia terlalu berlebihan selalu saja mendahulukan Nana di atas kepentingannya.
"Ihh Reygan keren banget. Mau deh nanti gue cari cowok yang kaya lo di olshop."
Karena kadang ada orang yang berjuang agar terlihat dipandangan tapi tidak dihiraukan sementara yang mengabaikan sangat diharapkan muncul dalam pandangan.