"Kalo dunia bilang kita harus menyerah bukan berarti harapan itu pupus, hilang sempurna, tetapi kesalahan yang pupus itu bisa diobati dengan banyak bersyukur atas apa yang dimiliki."
***
Nana bernyanyi di dalam kamar mandi, memang hanya di sini suaranya yang merdu ini tidak ada yang memprotes coba saja jika di depan Aji atau Ani sudah habis Nana dilempari dengan kulit kacang.
Mama Alin datang berkunjung ke Apartemen Agal untuk mengajak Nana berdiskusi senja, kalo kata anak sekarang kan bahasa gaulnya diskusi senja padahal kebanyakkan bukan menunggu senja tapi modus melihat cogan indie dan foto untuk diposting kadang sampai lupa untuk berdialog dengan cerahnya alam yang Tuhan ciptakan.
"Na, inget jangan sampe sabun abis gara-gara kamu mandi," protes Mama Alin karena sudah sejam lebih tidak menemukan tanda-tanda Nana akan keluat dari kamar mandi, kebiasaan Nana jika sudah bermain dengan air maka tidak semudah itu untuk lepas.
"Papa mana Ma?" tanya Nana yang hanya mendengar suara omelan khas Mama Alin yang sangat dirindukan.
Memang nanti ketika kita jauh dari orang tua terutama ibu, tentu saja omelan yang awalnya membuat kita kesal menjadi suatu hal yang sangat dirindukan, begitulah sekarang yang Nana rasakan.
"Papa ada, tadi lihat batagor di depan pengen beli, emang selera papa itu kadang aneh-aneh aja. Dari kemarin pengen ke sini. Mama kira kangen anaknya ternyata kangen batagor yang sering mangkal di sini," balas Mama Alin menggelengkan kepala heran akibat ulah suaminya itu.
Nana akhirnya keluar dari kamar mandi sambil berlarian kepelukkan sang mama, menyenangkan sekali ternyata bisa tertawa dan berkumpul dengan keluarga.
"Mama, kangen banget. Ih kan Nana pengen pulang ke rumah, ini kenapa yanh dikunjungin malah Nana?" tanya Nana melihat kedua orangtuanya sangat perhatian.
"Dasar anak kecil Mama ini, kalo mandi masih aja suka becek. Nanti kalo kepeleset gimana?" tanya Mama Alin yang selalu saja heran dengan Nana, meskipun begitu dia sangat paham jika Nana anak yang baik dan selalu saja memberikan banyak energi positif.
"Kan Nana udah ganti baju Ma, lagian tinggal keringin rambut. Biasanya kalo kepala kita berat jadi lebih konsentrasi," jawab Nana asal.
"Kebiasaan suka asal padahal enggak pernah ada teori kaya gitu."
Tidak lama Papa Hanif datang dengan 50 bungkus batagor di tangannya, kenapa Nana bisa tahu karena di depan kantong itu tertulis 50 bungkus.
"Papa mau hajatan?" tanya Nana kaget sendiri, lagian papanya ini ada-ada saja padahal kan Lana hanya sendiri di rumah.
"Kan papa mau berbagi, siapa tahu tetangga sebelah pada mau. Lagian batagor ini jarang ditemuin loh Na."
"Tapi Papa Ganteng kesayangan Nana, ini terlalu banyak, apalagi orang-orang di sini jarang ada di apartemennya Pa."
"Berarti itu tugas Nana buat habisin semuanya," ucap Papa Hanif dan hal itu berhasil membuat Nana syok.
"Papa, kalo udah engga sayang Nana lagi, gapapa Pa antar Nana ke rumah Jungkook, pasti dia bakal ngerawat Nana kaya istri sendiri," balas Nana memegang kepalanya sambil memikat sedikit.
Papa Hanif tertawa mendengar ucapan Nana, lagian diberikan makanan malah Nana bingung sendiri cara menghabiskannya.
Sekarang mereka duduk di meja makan sambil membaca doa dan mempersiapkan diri untuk acara makan besar batagor.
"Papa ini mau buat kita jadi gendut Na," protes Mama Alin yang juga tidak habis pikir suaminya itu bisa membelikan banyak batagor.
***
Agal, Leon, Deri, dan Ajon sedang menjaga markas diperbatasan, mereka latihan menembak dan melemparkan anak panah.
Leon mengambil sebuah batu dan melemparkannya dengan cukup keras ternyata dia sedang mengambil buah rambutan yang sedang lebat.
"Eon, mau ngambilin kapten buah itu, kalo misalnya ketapel ini bisa jatuhin rambutan kapten harus kasih izin besok gantiin tugas Eon yang masak ya," pinta Leon seperti anak kecil yang meminta hadiah kepada abangnya.
"Iya, coba aja dulu."
Leon sangat semangat, sambil pemanasan dengan gaya memutar balikkan badan dan berjoget. Hal itu membuat Ajon tampak mengerutkan dahinya bingung dengan kelakuan Leon padahal anak itu sudah sangat pintar dalam membidik lawan. Tapi selalu saja melakukan yang terbaik agar tempat kami t ditugaskan mendapatkan nilai plus tanpa kurang.
"Coba aja Deri, pasti anak panahnya bisa kalah ngelawan dia."
"Kok bisa kalah Jon?" tanya Agal yang penasaran dengan jawaban Ajon.
"Kalah sama kalimat puitisnya dan malah itu anak panah hanyut dengan jiwa ke sofboyan yang dimilikin anak indie itu," balas Ajon yang tahu persis jika Deri memang anaknya sangat puitis dan kadang kala Agal merasa bingung sendiri bagaimana setiap kata mengalir saja di dalam pikirin Deri.
"Kapten, ini Deri punya banyak puisi baru kalo Kapten mau baca, kali ini tentang pasangan dan permasalah hidup."
Mendengar itu malah membuat Agal jadi semakin ingin mendengar puisi buatan Deri, karena hasil dari buatan Deri tidak pernah mengecewakan.
Sementara Eon memang menunjukkan kemampuannya untuk membidik apa yanh diperintahakan Agal untuk terus latihan dalam menembak.
Sekarang mereka mencari air di sungai untuk mengambil persediaan air yang nantinya akan dimasak sendiri. Untuk tugas itu ini masih dilimpahkan kepada Ajon yang memang ucapannya selalu tepat sasaran.
"Kapten, jangan di sana, itu biasanya ada ranjau baru yang ditanam." Mendengar itu membuat Agal langsung saja melakukan pengecekkan dan dia sudah tahu bagaimana menghadapi hal seperti ini.
"Terima kasih Jon."
"Sama-sama Kapten."
Ajon memang jarang tersenyum tetapi dengan Kaptennya meskipun sedikit dia akan memberikan pertolongan, tapi dari sana Agal juga tahu betapa tulusnya Ajon yang selalu berusaha melakukan yang terbaik.
Deri mulai mengeluarkan lembaran puisinya untuk diberikan kepada Agal.
"Ini banyak permasalahann yang udah Deri tulis, kalo Kapten mau baca kan puisi dari orang ganteng."
"Gantengan Leon lah. Deri itu mah di bawah Eon."
Agal mulai membaca barisan sepenggal kisah September yang Deri tuliskan.
"Sepenggal kisah september
Yang hadir hanya dalan lewat
Tidak benar menetap, namun benar adanya.
Yang menepi dikala senja
Dan terbangun dikala langit selalu menatap iba kepada pujangga
Meratapi setiap duka yang mengalun bagai nirwana sedang kita hanya penjuru yang tak diakui
Karena memang rindu adalah perihal tanya yang tak tahu kapan jawabnya akan terungkap sebelum pertemuan."
Selalu saja Leon yang mencairkan suasana yang beku.
"Bagus banget ini Der," puji Agal yang memang selalu senang jika Deri sudaj
"Sekarang kita makan dulu, nanti diskusi lagi."
Akhirnya Agal mengajak pasukkan kelompoknya untuk makan terlebih dahulu karena pekerjaannya sampai malam sehingga waktu istirahat kadang juga ikut menjadi korban.
"Kapten harus tahu tadi itu ada ikan yang bisa terbang," ucap Leon heboh seperti mendapatkan berita rahasia di suatu negara.
"Itu ikan yang ada di salah satu stasiun TV kayanya Eon," balas Deri yang tertawa.
Sementara Ajon memperhatikan saja, dia memang kalo berbicara irit lebih tapi ucapannya memang penuh pertimbangan.
"Hari ini Ajon makan ikan aja ya," ucap Agal yang memperhatikan anak dalam kelompoknya ini.
"Siap Kapten."
Sejak dulu, ibunya Ajon selalu bilang kalo Ajon tidak pernah makan nasi, entah kenapa dia sangat takut dengan nasi jadi setiap kali masak maka akan dibuatkan indomie, dibelikan kue dan makan telur untuk sarapan.