"Katanya Kalo rindu itu lebih baik diutarakan dari pada dipendam sendiri tanpa ujung, semakin besar rasanya menempuk rasa hanya akan berujung menyesal. "
---
Kadang apa yang orang lain pikirkan selalu saja membuat kita merasa kecil, bisa tidak sesekali berpikir mungkin apa yang diucapkan bisa menyakiti orang lain.
Nana selalu saja kesal dengan banyak orang yang menjadikan fisik sebagai patokan memaksa orang lain harus sempurna. Memang kalau jelek, pendek, gendut, pecicilan, berisi, hitam dan masih banyak lagi hal-hal menyangkut fisik dihina oleh sesama perempuan. Apakah itu menyenangkan? Sama sekali tidak, memang nanti diakhirat ditanya seberapa cantik kamu? Tidak kan lalu kenapa selalu saja mengataskan fisik dan menyangkut pautkan kata baperan untuk salah yang diperbuat?
Seperti sore ini Nana melihat seorang gadis yang bekerja di cleaning service malah di bully karena gendut, pendek.
"Makanya badan jangan kaya gajah, nutupin jalan," omel Mbak Mika yang bekerja dibagian Lingustik, memang terkenal cerewet bahkah seharusnya dia belajar menggunakan bahasa yang baik dan benar apalagi pekerjaan dilingkungan kebahasaan tentu saja diajarkan makna bahasa dan kalimat pujian bukan ironi yang mematahkan harapan orang lain.
Nana langsung saja menghamipiri keduanya, kebetulan hari ini dia memang lembur bersama Ani yang masih berada dibangkunya untuk minggu depan mereka membuat acara seminar peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia bagi generasi muda.
"Mbak Mika! Kenapa ngomongnya kasar gitu. Emang Mbak berhak menghakimi orang lain?" tanya Nana dengan wajah yang sangat serius karena kalo menghina fisik dia sangat tidak suka dan menurutnya bukan ranah kita untuk menghakimi bentuk fisik orang lain.
"Lah Na, emang bener dia salah dan nabrak Mbak. Terus kenapa kamu malah belain yang salah?" tanya Mika kesal juga, padahal dia yang menjadi korban malah disalahkan.
"Mbak, seharusnya mengingatkan, menegur dengan halus bukan malah kaya gini yang menjatuhkan orang lain apalagi menghina fisik," balas Nana menarik napas teratur mencoba menenangkan diri.
"Kamu balik aja kerja, gapapa kok. Mbak Mika cuma kaget aja. Jangan diambil hati ya," ucap Nana mempersilahkan gadis kecil itu pergi.
Dia masih tampak takut untuk meninggalkan tempat itu karena melihat Mika yang menarik napas sangat cepat mencoba menahan amarah.
"Maaf sekali lagi Mbak Mika, saya benar-benar engga sengaja," ucapnya pelan sebelum benar-benar hilang dibalik dinding pembatas.
"Tuhkan gara-gara kamu sih Na, selalu aja kaya gitu. Nanti ujung-ujungnya mereka besar kepala kalo dibela terus."
"Mbak boleh marah tapi enggak pakai hina-hina fisik. Emang Mbak enggak malu sama Allah udah berani menghina ciptaannya," ujar Nana yang menakuti Mika dengan wajah yang katakutan.
"Na, kok malah gitu sih muka kamu?"
"Kan baru-baru ini tetangga Nana malah kejang-kejang abis menghina fisik orang, emang Mbak Mika mau?" tanya Lana bergidik ngeri.
Mika memegang tengkuknya yang merinding membayangkan jika dia kejang-kejang sehabis mengatai orang dengan menghina fisik.
"Ya...enggak mau lah Na."
"Makanya Mbak Mika mintak maaf sebelum Allah murka terus kasih Mbak Azab. Lagian emang kita udah sempurna sampai ringan mulut untuk membicarakan kekurangan orang lain?" tanya Nana lagi.
"Ya udah deh Na, Mbak mau mintak maaf dulu. Maklum lah kalo setan lagi menguasai kadang enggak sadae ngomong nyakitin orang lain."
Mbak Mika segera pamit dan berlari mengajar anak gadis yang dihinanya tadi, seandainya orang-orang akan sadar setelah melakukan kesalahan tentu saja tidak akan ada kesalahan kedua, ketiga atau keempat.
Tapi namanya hidup di bumi selalu saja ada yang merasa benar atas apa yang dia lakukan.
Akhirnya Nana kembali ke dalam ruang kerjanya dan melihat Ani yang sudah merinding sendiri ditinggal di ruangan ini, memang dia penakut ditambah harus lembur.
"Na, kok lama si, kan gue sendirian di sini," ucap Ani jadi bergidik ngeri sendiri.
"Kan masih sore, udah takut aja Ni, lagian emang jam segini biasanya hantu-hantu pada arisan ghibahin lo."
Memang Nana suka sekali menjahili Ani padahal dia juga penakut. "Ah Nana, kebiasaan nakalnya, nanti kalo pulang kerja ada yang nempel Nana baru tau rasa."
"Ihh, kok jadi Ani yang nakutin Nana padahal kan tadi kebalikannya," protes Nana yang sudah berlari ke meja kerjanya.
"Hahah, abisnya Nana jahil terus sama gue," omel Ani tertawa, mereka malah tertawa bersama karena ulah keduanya.
Untuk hari ini Nana memang sangat senang tadi saja abis di telepon oleh Agal, hanya saja sekarang sudah rindu lagi dengan suaminya itu.
Reygan dan Aji sudah pulang karena memang bukan jadwal mereka lembur sedangkan Nana, Ani, dan Mbak Mika banyak sekali pekerjaan yang menumpuk.
"Selesein semuanya, semangat Nana," teriak Ani yang sudah duduk dengan posisi paling nyaman dan mulai berselancar dengan dunia ketikkan yang dia arungi.
"Semangat," balas Nana juga mulai menulis.
Nana memerikasa beberapa laporan ternyata banyak sekali yang tidak sinkron apalagi diperkembangan ilmu pengetahuan ini sangat banyak bahasa yang mengalami serapan serta bahasa gaul yang bermunculan.
"Lo tau enggak si Na, kemarin ada temennya Agal yang nge DM gue," ucap Ani memulai memberikan keterangan berdasarkan pengalamannya.
"Emang siapa?" tanya Nana penasaran.
"Deri, katanya dia suka banget sama tulisan gue, emang beberapa hari ini gue suka nulis literasi sama beberapa puisi di google," jelas Ani dengan memperlihatkan hasil karnya kepada Nana, memang bagus apalagi diksinya berisikan keadaan indonesia saat ini.
"Perdebatan yang menyeruak tentang tangis dan lapar
Kesusahan yang tak bersuara, bisu dalam kata
Berharap cinta tanah air tetapi yang berdasi menghakimi baju sederhana
Seolah tak ada keadilan
Siapa sangka perjalanan dirangkai dalam bayang-bayang yang dinanti untuk menjadi satu
Perjuangan dalam lapar berharap sesuap nasi dan keadilan tetapi banyak sekali yang tak terduga dan menjadi tanya.
Ada apa dengan negeriku?"
Begitula puisu yang Ani tulis di akun instagramnya, lebih herannya setelah itu Deri langsung mengikutinya.
"Tapi ini bagus lo puisinya Ni," puji Nana tulus.
"Masih minder, si Deri ini jago juga buat puisi."
Memang benar Deri suka sekali menulis barisan puisi apalagi ketika dia sehabis pulang bekerja dari perbatasan tentu saja banyak hal yang dia bagikan di akun pribadi miliknya.
Ternyata Ibu Gendut memperhatikan keduanya yang sedang bekerja sambil membelikan sate madura agar makan malam ini mereka tidak perlu belanja dan bersusah payah.
"Nana, Ani, Mika, makan dulu. Ini udah saya beliin sate," ucap Bu Gendut mengajak ketiganya untuk makan bersama.
"Wah, Bu Gendut cantiknya Nana udah ada di sini," ucap Nana langsung saja memeluk bosnya itu dengan semangat. Meskipun Bu Gendut suka marah tetapi itu semua untuk kebaikan mereka agar bekerja dengan baik.
"Gini ni si Nana kalo lagi ada maunya Ibu di puji terus."
"Ibu harus tau kemarin emang Nana mimpiin Ibu Gendut mau kasih sate ternyata suka bermimpi buat Nana dapat rezeki juga."
"Ada-ada aja si Nana."
"Nana seriusan Bu Gendut, apalagi Bu Gendut itu kesayangan Nana, besok gaji Nana dinaikkin kan Bu heheh," ucap Nana dengan bercanda karena menggoda Bu Gendut sangat menyenangkan.
"Mau dicubit ni Nana, sini Ibu cubit, kaya digigit semut."
"Ampunn Ibu, enggak nakal lagi hehhe," pinta Nana yang mengambil sate madura dan memakan benda dengan tusukan daging beserta kuah kacang yang sangat enak.
"Emang Nana itu mintak dimusiumin Bu," timpal Ani setuju dengan mengaggukan kepalanya tanda setuju.
Mereka tertawa bersama akibat ulah Nana yang selalu saja mencairkan suasana, untuk hari ini Nana juga rindu dengan Agal padahal baru sehari semoga saja rindu ini bisa segera terobati.
"Na, udah ada kan pemateri kedua setelah Ibu?"
"Udah Bu, aman. Kalo ada Nana, Ani, dan Mbak Mika tentu saja semua teratasi."
Acara ini akan mengundang mahasiswa, pelajar untuk meningkatkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.