"Banyak hal yang kadang tidak sejalan dengan pikiran orang lain, tapi sesekali kamu butuh berangkat dan tidak memikirkan ucapan yang lain, kadang kali hal-hal kecil itu membuat hidup menjadi rumit. "
-Nana-
***
Cuaca yang mendung dengan kepadatan yang cukup ramai, memandangi jendela dengan kerinduan.
Nana melihat puluhan rumah dari tempatnya bekerja, kadang dia butuh suasana baru untuk menjernihkan otak dari kepadatan dunia.
Pagi ini dia sedang Sibuk-sibuknya mengurusi laporan yang ditugaskan Bu Gendut, seminar peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia bagi generasi muda dia persiapkan, kadang kurang tidur dan lupa makan.
"Na, gue mau beli Nasi, mau nitip engga? " tanya Aji yang sudah bersiap untuk istirahat.
Ani juga menyusul sambil membawa tumblr kesayangannya. "Nana, beneran enggak mau ikut makan bareng? " tanya Ani kasihan melihat sahabatnya itu sudah terkena virus mata panda.
"Lagi riweh banget, Ji, Ni, lagi enggak bisa di sambi, " ucap Nana sambil mengakat tangannya merenggangkan otot.
"Jangan sampe depresi Na, kan engga lucu kalo besok lo terkapar mengenaskan, gue belum buat vidio tik-toknya, " jawab Aji semangat.
Nana langsung tertawa, bisa-bisanya Aji mendokan Nana cepat hilang dari Bumi, "Eh engga gitu konsepnya Aji Bambang."
"Eh Na, itu pangeran berkuda putih loh datang, " ucap aji pelan agar Reygan tidak mendengar ucapannya, ternyata laki-laki itu membawakan berbagai snack, makanan dan nasi.
"Nana udah makan? "
"Belum Rey, ini buat apa banyak banget? "
"Buat Nana, Aji sama Ani, biar makan bareng gue aja, " ucap Reygan mengeluarkan seluruh makanan yang ia beli tadi.
Reygan memang orang kaya tapi dia mau bekerja keras, lihat lah dia lebih memilih menjadi PNS daripada menjadi pengusaha, padahal orang tuanya adalah pengusaha sukses karena Reygan ingin berdiri sendiri tidak mau melanjutkan usaha orangtuanya kecuali jika nanti sudah tidak ada lagi yang bisa menggantikan.
"Kok Reygan beliin kita makanan? " tanya Nana bingung atas perlakuan Reygan.
"Biar Nana enggak sakit."
Sedih itu ketika ada orang yang benar-benar memperjuangkan kita, sementara kita masih menunggu seseorang yang tidak tahu di mana hatinya dan untuk siapa.
Nana merasa, seandainya Agal seperti ini mungkin bahagianya akan terus bertambah, "Ehh ingat Rey, udah punya suami, " ucap Aji yang tidak mau kalo-kalo nanti Reygan menjadi benalu.
"Gue kan cuma mau berteman baik, bukan jadi suami kedua, " balas Reygan santai.
Ani berpikir dengan sangat dalam berarti niat baik Reygan ini harus dipandang baik pula, "Berarti ini udah boleh diambilkan? " tanya Ani semangat.
Reygan mengaggukan kepala tanda setuju, melihat Nana yang diam saja membuat Reygan berinisiatif mengambil sendok.
"Na, sini gue suapin. "
Nana menolak halus," Nana kan bukan anak kecil Rey, bisa makan sendiri. "
"Nanti tulang ikannya nyangkut di tenggorokan, mending gue suapin dengan kasih sayang. "
"Wahh si Reygan makin berani aja, " omel Aji yang tidak mau Nana terkena jurus fakboinya Reygan.
"Gue cuma mau temenan sama kalian Ji, masa engga boleh. "
"Boleh lah, ayo makan juga Rey! " ajak Ani yang sudah membuka kentang goreng dan ayam crispy yang dibeli Reygan.
"Nana suka heran kalo tiba-tiba diperlakuin spesial, " ucap Nana tiba-tiba.
"Kenapa harus heran sekarang Reygan sebagai sayap pelindung Nana. "
Mendengar itu membuat Ani dan Aji berbeda pendapat, Ani menyetujui hubungan Reygan dan Nana tapi kalo Aji dia akan membela Agal 100% entah niat baik Reygan membuat posisi Nana serba salah. Harapnnya Agal tidak akan salah paham jika dia hanya mengaggap Reygan adalah rekan kerja.
Mereka membentuk lingkaran dan makan bersama, sesekali Aji dan Ani melemparkan candaan.
"Na, kapan-kapan jalan sama gue ya. Agal lagi berangkas dinas ya? "
"Enggak deh Rey, enggak baik juga kalo perempuan yang udah punya suami malah jalan sama laki-laki lain, " tolak Nana halus.
"Lagian lo mah, jalan sendiri, udah gede masih aja mau ditemenin, " omel Aji yang tahu perasaan Nana. "
"Kalo bisa dua kenapa harus satu? " jawab Reygan tertawa setelah mengucapkan itu.
Ternyata memang kadang orang yang perduli tidak terlihat oleh mata tetapi yang mengacuhkan diperjuangkan setengah mati.
"Na, ini ni modus buaya, zaman sekarang penanhkaran buaya udah penuh jadi mereka yang ga punya pawang berkeliaran bebas," ucap Aji menjelaskan kepada Nana agar tetap mrnjaga jarak.
"Emang ada ya penangkaran buaya Ji?" tanya Nana menjadi lemot.
"Na, tolong deh, mentang udah lama ga ke kebun binatang jadi tambah pinter," omel Aji yang membuat Reygan tertawa.
"Lo mah kaya siaga 100 aja sama gue Ji," balas Reygan tertawa mendengar penuturan Aji.
"Abisnya Reygan ini suka meresahkan," protes Aji dengan tertawa, meskipun Reygan teranh-terangan menyukai Nana tetapi banyak sisi baik yang selalu dia tampilkan, termasuk suka membagikan makanan dengan orang yang membbutuhkan.
"Rey, ini juga boleh kan buat gue?" tanya Ani yang semangat sekali apalagi kalo makan gratis biasanya rasa yang dihasilkan dua kali lebih nikmat.
"Iya Ni, boleh diambil sampai lo kenyang, jangan ada yang tersisa kecuali tulang, sama hal-hal yang ga bisa dimakan."
"Baik banget Rey, tapi Nana lagi sibuk ngurusin semua berkas yang di suruh Bu Gendut," ucap Nana kembali fokus ke layar leptopnya.
"Sini gue aja yang suapin."
Alhasil Reygan menyuapi Nana, karena memang Nana sedang riweh.
"Wah So sweet, gue jadi iri," ucap Ani sambil bertepuk tangan senang sementara Aji tidak habis pikir kenapa Ani bisa menjadi selemot ini.
"Ni, tolong deh, ini namanya siaga 10 kalo sampai Agal tahu. Bisa marah besar," omel Aji dengan tanggapan Ani yang memang selalu saja membuat Aji menggelengkan kepala kalo virus lolanya sedang menyerang.
Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk dari gawainya Nana ternyata panggilan vidio call dari Agal tidak biasanya suaminya itu menelepon.
"Lagi dimana?"
Pertanyaan pertama yang Agal lontarlan setelah kata Assalamualaikum. Nana yang masih disuapi Reygan tidak sadar masih mengambil vidio yang diarahkan kepada keduanya.
"Kamu sama siapa?" tanya Agal yang menatap curiga."
"Ini sama Reygan, Aji, ada Ani juga," balas Nana sambil tertawa.
Bersama Deri, Ajon, dan Leon ternyata mereka baru akan berangkat ke pulau seberang.
"Katanya ga mau telepon Nana susah sinyal, terus kenapa ini malaj vidio call. Udah kangen ya?" tanya Nana sambil menggoda.
"Mbak Nana, ini Deri pangeran berkuda putih. Kan Deri Ganteng nan rupawan," ucap Deri sambil tertawa mengucapkannya. Sementara Nana sangat lucu jika mendengar sang raja puitis itu sudah bersiap mengeluarkan sajak-sajak romantisanya.
"Deri udah makan tadi di sana?" tanya Nana yang memang sudah mengaggap sebagai adik sendiri karena kadang Deri masih seperti anak kecil yang lucu.
"Udah Mbak Nana, tadi diajakin Kapten Agal buat makan yang banyak, terus tadi diajakin salat sama ngaji bareng. Apalagi suara Kapten Agal bagus bagus banget."
Mendengar cerita Deri membuat Nana menjadi sedih, dia saja tidak pernah didengarkan suara Nana yang merdu.
Memang kita tidak akan pernah tahu sifat asli orang. Belum tentu yang paling baik dimata orang lain mereka memang baik. Kadang yang taat pun masih punya banyak salah apalagi kita seorang pendosa yang masih saja angkuh padahal hidup hanya sebuah persinggahan sementara.
***
Jadiii siapa yang masih nunggian Kapten Gagal? ???