"Masalah hidup itu bukan sekadar A dan B menjadi C namun lebih besar hingga sampai Z. "
***
Sore ini sehabis pulang dari kantor Nana tidak menyangka mendapatkan kejutan dari Bunda Lily dan Ayah Beni, mereka sengaja menjemput Nana karena tahu hari ini dia minta tolong Ani untuk di jemput.
"Na, hari ini emangnya hari apa? " tanya Aji yang sejak seharian tidak ada menucapkan kata selamat ulang tahun dengan Nana. Di kantor tidak ada yang spesial, satupun tidak ada yang ingat hari ulang tahun Nana. Menyebalkan memang tapi Nana tidak ingin berpusing ria, dia tetap positif thingking mungkin teman-temannya memang sibuk.
"Bunda, hari ini Nana enggak tahu kalo pulangnya se sore ini. bu Gendut lagi banyak maunya. Memang hari ini Nana revisi sampai 45 kali semuanya tidak sesuai tapi ketika Nana mengubahnya ke yang terakhir ternyata sama seperti pekerjaan awal. Ingin marah tapi Nana tidak mungkin melakukan hal itu, bisa-bisa dia langsung di berikan SP.
"Gapapa Na, ini Bunda juga sama Ayah baru aja berangkat. "
"Nana, ayo cepat masuk, nanti sakit, " ucap Ayah Beni sangat perhatian. Ayah memang sangat menyayangin Nana seperti anaknya sendiri makanya kadang Agal takut jika waktu itu menolak perjodohan itu.
"Ayah, siap. Nana naik ya. "
Nana pun masuk dengan duduk di belakang sudah seperti anak kandung mereka.
"Tadi Ayah malah salah panggil orang, kirain itu Nana ternyata Mbak-Mbak yang lagi nunggu di halte. "
"Hahah...kok bisa Ayah lupa? " tanya Nana ikut tertawa ternyata ayahnya ini masih saja suka ceroboh.
"Mana tadi Na, Ayah sampe turun dari mobil karena dipanggil-panggil enggak nyaut, " timpal Bunda dengan tertawa.
"Lagian Ayah masa enggak ngenalin mantunya sih, " ucap Nana pura-pura ngambek.
"Hahhaha, Ayah kira itu tadi Nana soalnya mirip banget. "
"Ada-ada aja Ayah, " ucap Nana masih dengan tawa yang sama.
"Hari ini mau nginap dulu di rumah Bunda Na? "
"Mauuu Bundaaa, kebetulan besok libur, Nana pengen main di ayunan sambil bantuin Bunda masak. "
Di tengah guyuran hujan Ayah Beni juga menghidupkan lagu Sepanjang Jalan kenangan yang membuat mereka sama-sama bernyanyi menebus guyuran rintik hujan yang semakin lebat membasahi jalanan.
"Na, kamarin ketemu Agal kan? " tanya Bunda ketika mereka sudah mulai santai selepas bernyanyi.
"Iya Bun, " jawab Nana tersenyum, bertemu Agal dengan sikapnya yang dingin. Ternyata mencintai manusia es kutub memang penuh tantangan.
"Agal baik kan sama kamu? "
"Baik Bun, kan Mas Agal selalu kasih Nana yang terbaik, selalu kasih apa yang Nana mau." Bohong. Nana sudah jago berakting sekarang, tapi kenyataannya bukan seperti itu Agal terlalu dingin dan beku selalu menghindari Nana.
Kalo boleh bilang sebenarnya Nana ingin menyuarakan hatinya tapi aib suami cukup dirinya saja yang tau.
"Alhamdulillah, Bunda takut kalo Agal berlaku dingin sekali sampai buat kamu sakit. "
"Ayah akan selalu jagain Nana, kalo misalnya Agal nakal Ayah yang akan kasih hukuman. "
Lawakan Ayah yang mengucapkan itu sambil memperagakan seperti Ayah di dalam film yang selalu siap siaga ternyata mampu memcairkan suasan menjadi ceria lagi.
"Nana sayang banget sama Mas Agal, Bunda, Ayah. Emang dia itu pangeran es batu. Dengan cara matahari pasti akan terus Nana usahakan mencairkannya. "
Tawa ayah juga ikut pecah karena kalimat yang barusan Nana ucapkan tentang masalah Agal.
"Dulu aja pas zaman sekolah pernah banyak perempuan datang ke rumah malah dia suruh anjing tetangga lepas biat mereka pada pulang, alhasil mereka pada lari ketakutan. "
"Hahahha serius sampe segitunya Bun? "
"Iya Na, sampe Bunda bingung sendiri harus gimana."
"Dulu suka ayah marahin kalo dia malah kasih harapan dan ngecewain cewek-cewek. "
"Ternyata unik juga ya Yah. "
"Emang anaknya banyak prestasi Na, cuma ya gitu terlalu dingin tapi sama orang ya tertentu aja. Dia bisa cair kalo sama orang yang bikin dia nyaman. "
"Dulu pernah ada satu cewek yang berhasil."
Nana jadi penasaran perempuan seperti apa yang bisa meluluhkan hati Agal karena sulit sekali bagi Nana untuk tampak ada dihadapan si tuan es.
"Bunda, udah jangan diceritain sama Nana, itukan cuma masa lalau sekarang juga udah berbeda jalannya."
"Gapapa Ayah, Nana mau denger. "
Bundapun melanjutkan ucapannya dengan Nana yang sudah siap mendengarkan karena mau bagaimana pun masa lalu pernah menjadi tempat Agal untuk mengukir mimpi dan banyak kenangan di dalamnya.
"Namanya Dinda, dia orang yang berhasil meruntuhkan ruang es kutub itu, dia memang selalu membuat Agal tertawa sampai pada hari di mana Agal memilih untuk berhenti karena alasan yang Bunda juga enggak tahu gimana alasannya putus sama Dinda. "
Nana pikir Dinda juga alasan kenapa Agal sulit untuk menyukai orang lain, Nana harus mencari tahu seperti apa Dinda dan bagaimana wujud perempuan itu.
"Nah kita udah sampe. "
Nana ikut turun masuk ke rumah Bunda dan Ayah yang masih sama seperti terakhir kali Nana berkunjung hanya saja sekarang pekarangan rumah Bunda jauh lebih banyak pohon dan bunga.
"Bunda, nanti Nana mau berenang ya di kolam, " ucap Nana semangat sekali, memang anaknya ceria dan selalu saja tersenyum dan membuat orang lain juga tertawa.
"Iya Na, ayo masuk dulu. "
Saat masuk suasana rumah sangat gelap Nana pikir memang sedang mati lampu, jadi dia hanya mengikuti langkah Bunda yang membawanya untuk ke kamar katanya.
"Bunda, ini kok gelep bangat, Nana enggak nampak apa-apa, " ucap Nana hanya mengikut langkah kaki mertuanya itu.
"Pegang tangan Bunda aja ya, nanti biar Bunda yang nuntun Nana.
"Ayah, juga hilang lagi, nanti malah susah kalo misalnya ga bareng, " ucap Nana dengan mengeratkan pegangannya pada Bunda. Memang rumah Agal memiliki pagar sendiri jadinya Nana tidak tahu kalo tetangg mati lampu atau tidak. "
Saat mereka sampai di ruangan Nana dibuat kaget karena tiba-tiba mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan "Happy Birthday. "
Nana kaget karena teman-teman kantornya dari Aji, Ani, Reygan, Mama, Papa, Bu gendut, belum lagi ada seseorang yang Ibu Gendut ajak ternyata orang itu adalah Dinda dan bosnya. Memang dunia ini sempit, melihat itu Ayah dan Bunda menjadi sangat akrab apalagi ada Mama Alin dan Papa Hanif yang membawakan kue red velvet kesukaan Nana.
"Bunda, Ayah, makasih ya udah buat Nana bahagia, " ungkap Nana terharu karena mertuanya begitu sangat baik mempersiapkan semua ini demi Nana yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Sama-sama Na. "
Tapi pandangan Bunda jatuh ke sosok Dinda yang datang dengan wajah bahagia.
"Dinda," panggil Bunda sambil menghampiri perempuan yang dulu sering sekali dia temui.
Dinda tidak sadar jika ini rumah Agal karena dulu memang Agal tidak tinggal di sini jadilah dia kaget saat mendapati Bunda yang menghampirinya.
"Bunda, " sapa Dinda, langsung memberi salam kepada ibu dari Agal dengan sangat sopan.
"Dinda kok bisa ada di sini? " tanya Bunda yang masih kaget baru saja hari ini dibahas dan sekarang malah benar-benar muncul dihadapan Nana.
Nana masih mengingat siapa Dinda dan ternyata yang dimaksudkan adalah orang yanng sering Nana temui dan puji.
Dinda memang cantik dan Nana selalu kagum dengan perempuan itu, setelah tahu jika perempuan yang ternyata mantan Agal itu adalah Dinda yang selalu Nana bilang cantik, bukannya insecure malah Nana makin semangat bertarung mendapatkan Agal.
"Tadi diajak Bu Gendut buat datang ke acara anaknya di kantor jadi Dinda ikut ternyata ulang tahun Nana. Dinda baru tahu kalo Agal punya adik," ucap Dinda yang spontan saja membuat yang ada di sana tertawa ternyata Dinda tidak tahu jika Agal sudah menikah.
"Bukan adiknya Agal, tapi istrinya Mbak," timpal Ani tersenyum karena Ani juga tidak tahu jika Dinda adalah mantanya Agal.
Wajah Dinda sangat kaget mendengar itu, dia tidak pernah tahu jika Agal sudah menikah dulu memang Agal yang meninggalkan Dinda dengan alasan tidak tega selalu saja LDR, tetapi sekarang Dinda paham jika ternyata seseorang itu melepaskan karena memang punya maksud yang berbeda.
"Ayoo duduk dulu," ajak Ayah karena melihat mereka hanya diam membisu.
"Mbak, ayo duduk dulu, kita makan sama-sama."
Acara ulang tahun ini ditata dengan sangat baik, apalagi dekorasi yang sederhana sangat memuaskan ada banyak bunga yang tertempel di dinding rumah belum lagi foto-foto Nana yang menggemaskan.
"Lo sadar enggak sih kita ngerjain Lo hari ini?" tanya Aji mengingat kejadian tadi bagaimana Nana harus bolak-balik tangga dan tidak ada yang membantu, mereka seperti hanya bilang semangat dan langsung sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Sebenarnya mau sadar tapi ngerasa kayanya emang lagi sibuk, soalnya emang kan laporan di meja kerja kalian banyak banget apalagi Reygan nih nyebelin."
Reygan tertawa mendengar itu karena memang dia tadi yang paling kejam menyuruh Nana membelikan batagor tetapi pesanannya salah terus. Karena Reygan selalu baik dengan dia jadi Nana tidak enak hati kalo menolak.
"Nyebelin banget emang si Reygan, rasanya tadi mau gue lempar kuah batagor itu ke mukanya," lanjut Nana dengan mengomel sambil tertawa.
"Hahhah jarang-jarang gue ngerjain lo, biasanya juga dijadiin ratu," balas Reygan masih saja berusaha mendapatkan hati Nana.
Perjalanan yang selalu membuat Nana merasa jika seseorang itu berhak punya cerita yang baik. Ulang tahun kali ini berkesan karena banyak orang baru yang hadir di hidup Nana termasuk Agal.
"Nana itu, walaupun kesal paling cuma bisa nendang pintu terus sampe rumah ngomel sendiri, nangis-nangis di kamar," ucap papa Hanif menceritakan bagaimana Nana jika ada masalah, dia tidak akan berani bilang langsung dengan orang yang bersangkutan.
"Papa, kan jadi malu," balas Nana tertawa.
Melihat itu Dinda tahu jika Nana perempuan yang beruntung dan wajar jika Agal lebih memilih dia dibandingkan dirinya, tapi apakah bahagia itu tidak pantas untuknya?
Kenapa untuk terus memiliki harus selalu belajar dari kehilangan karena rasa suka dan pemilik hati hanya sang Pencipt yang punya.