Berita Mendadak

1127 Kata
"Bagaimana jika kita hanya sebuah angin yang bersinggah dalam bumi Pertiwi tetapi tidak memiliki celah untuk memilih kepada siapa raga membawa kita dalam tuntutan peran yang hanya tipu daya, karena manusia kadang tidak bisa memilih hanya dituntut bermain peran tanpa tahu apa yang dikejar." -Agal- *** Dari sekian banyaknya hari kenapa harus dipertemukan dengan hari Senin, di mana jadwal sangat padat dan waktu terasa berjalan begitu lambat. Kali ini gantian giliran Aji dan Reygan yang mengisi jadwal untuk seminar sastra, di mana mereka mempelajari tentang keunikan budaya yang ada di masing-masing provinsi. Reygan mencatat materi dengan begitu rapih, lain halnya Aji yang memang lebih suka mencatat poin intinya saja, beda orang dan tipe bagaimana memasukkan materi ke dalam alam ingatannya. "Jadi kita harus bangga terhadap kebudayaan yang ada di daerah masing-masing dan tahap mencintai kebudayaan itu adalah bagaimana cara kita melestarikannya," jelas pemateri dengan senyuman di akhir kalimatnya. Setelah beberapa lam mereka mendengarkan materi setelah itu dipersilahkan untuk pulang karena hari sudah sore. "Ji, nanti malam jangan lupa ya makan gudeg," pinta Reygan yang memang menyukai makanan manis itu. "Siapp, ayo pulang dulu. Gue mau istirahat dulu, mendengarkan materi seharian membuat tubuh menjadi lelah." Mereka pun pulang dengan menyewa driver mobil online, sekalian untuk bisa menikmati waktu Santai bersandar. *** Ternyata berita mengejutkan diberitahu oleh Bu Gendut, kepada mereka berempat untuk kembali melanjutkan perjalanan dinas untuk pergi ke Kalimantan, tentu saja hal itu membuat Nana menjadi senang karena bisa sambil bertemu dengan Agal. "Bu Gendut tahu aja deh," ucap Nana dengan tawa riang, dia memang bahagia jika harus berangkat ke tempat di mana Agal bekerja. "Lo kenapa seneng banget Na, ada tambang emas di sana ya?" tanya Aji penasaran karena jika memang benar ada dia juga ingin ikut untuk menambah pundi-pundi tabungan apalagi untuk melamar anak orang. "Kan di sana tempat suami gue kerja Ji, ya kali enggak seneng." "Nana, gue juga pengen nih punya suami," balas Ani yang menjadi mupeng, apalagi Ani lucu sekali jika sedang mengungkap sesuatu dia menampilkan wajah sangat imut. "Reygan belum tau ya kalo kita ditambah tugaskan lagi?" tanya Nana yang melihat sejak tadi si biang rusuh dan suka mengganggu Nana itu belum terlihat batang hidungnya. "Masih tidur tuh anak, abis pulang pelatihan kayanya belum makan juga. Padahal dari tadi mamanya teleponin." Memang Aji satu kamar dengan Reygan hanya saja berbeda tempat tidur jadi dia tahu apa saja yang dikerjakan temannya itu selama di kamar. "Kayanya dia mimpi dapat warisan 7 turunan makanya enggak mau bangun," jawab Ani dengan menampilkan deretan gigi rapihnya yang putih, memang kadang Nana juga merasa kenapa sahabatnya ini suka aneh. "Ani, tolong deh jangan ngada-ngada." "Tapi begitulah adanya Na," jawab Ani dengan tawanya yang khas. "Ngeselin emang." "Emang ngesilin Na," balas Ani, ada-ada saja jawabannya. "Hahhah, gue buang ke laut juga nih nanti Ni," balas Nana yang sudah tertawa akibat ulah Ani. "Udah Na, ceburin aja. Ikan Piranha juga pasti lebih membutuhkan Ani," ucap Aji dengan nada suara dibuat sedih sedemikian rupa dan wajah-wajah yang seperti orang sedang tertekan dan punya banyak masalah hidup. Nana melempari kedua sahabatnya ini dengan kulit kacang yang sudah dia makan. Kalo yang masih utuh tentu saja rugi banyak dia. "Kalian ngomongin gue ya?" tanya Reygan yang baru saja turun dari kamar untuk ikut pembahasan ketiganya. "Mulai deh ke PD-an, emang dasar Nana suka banget ngomongin gue. Jangan-jangan udah nyaman ya Na sama gue? " tanya Reygan dengan senyuman menggoda. "Ini lagi satu bikin mau dilempar pakai kacang." Jadi di kursi bundar yang mereka duduki, ada banyak makanan yanh sudah disajikan. Memang cocok sekali untuk bersantai sambil memandangi lalu-lalang jalanan dan di sampingnya ada kolam berenang dengan batu-batuan hias di sekelilingnya. "Gan, lo mendingan siap-siap deh. Kita besok mau ke Kalimantan," ujar Aji sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya, memang mereka lapar apalagi suasana yang dingin mendukung percakapan sore ini. "Wah, nyebutin Kalimantannya enteng banget kaya dari sini mau ke kamar kita. " Reygan masih tampak bercanda menanggapi apa yang telah dijelaskan oleh Aji, padahal saat ini mereka memang harus mempersiapkan diri untuk ke Kalimantan. "Beneran tau Gan, makanya kita harus cepet-cepat ke sana biar bisa ketemu suami Nana, " balas Nana semangat karena memang sudah lama tidak bertemu Agal, dia rindu perdebatan dengan suaminya yang dingin itu. "Ya udah, gue makan dulu. Baru mikirin persiapan besok. " Akhirnya mereka menikmati makan malam itu dengan sama-sama membentuk lingkaran yang di sekelilingnya ada banyak hidangan. Dari makanan pembuka, utama, dan penutup semua dikelilingi dengan bentuk yang bagus apalagi ayam bakar madu yang terkenal sangat lezat menjadi hidangan utama malam ini. Hujan yang mebasahi jalanan masih terlihat begitu deras membasahi langit jogja dengan berlomba untuk sampai ke jalan, dia sesekali menyeruakkan aroma yang biasa tercium dengan genangan air di pinggirnya terlihat begitu indah. Nana tampak memperhatikan genangan itu sambil melamun. Kadang kalo sedang hujan biasanya semua kejadian ikut terbayang dan menjadi kilas potret yang kapan saja akan menjadi sebuah cerita di dalam hidup. "Kenapa Na, genangan jadi kenangan? " tanya Aji tepat sasaran. "Orang Nana mikirin gue, tapi Na enggak usaha dipikirin kan gue ada di depan mata dan dalam jangkauan, " balas Reygan santai, kadang dia memang suka sekali mengucapkan kata-kata yang membuat Nana menjadi tidak enak. "Lagian emangnya Reygan enggak mau nerima cewek-cewek kantor, kan semuanya udah antri, " balas Ani yang mewakili Nana dan benar saja Reygan tertawa mendengar hal itu. "Kalo yang mau banyak tapi yang dimau cuma dia, kan enggak boleh dipaksain Ni, " ungkap Reygan sambil tersenyum. "Astagfirullah Reygan, tapi enggak juga istri orang, " balas Aji gemas sendiri. "Tau tuh kenapa nikung gue si Agal, udah tau Nana itu miliknya Reygan. " Kadang Nana bingung Reygan masih suka bercanda dan dia juga bingung sebenarnya itu isi hati Reygan atau bukan karena memang anaknua suka sekali bercanda. "Udah, ayo habisin makanan, jangan dipikirin Na, gue juga tau batasan, " balas Reygan dengan santai dan masih bisa tertawa setelah mengucapkan kata yang membuat Nana kepikiran. "Emang Reygan mau gue ruqiyah dulu, " ucap Ani yang sudah siap dengan pisau yang ada di genggaman tangannya. "Hoy Ani! Lo mau ruqiyah atau bunuh gue? " tanya Reygan panik dan segera berlari ke kamarnya dan aksi kejar-kejaran itu berlangsung sampai depan kamar padahal Ani sudah tidak memeganh pisau lagi, dia tertawa melihat Reygan yang sudah bersembunyi di dalam kamar. "Hahhahah." Nana dan Aji yang melihat kejadian itu ikut tertawa juga, ternyata Reygan sangat lucu dan bisa menghibur. Tapi benar apa yang dikatakan Nana sebenarnya di kantor banyak sekali yang menyukai Reygan hanya tinggal pilih lelaki itu ingin mau yang mana. Tapi namanya nyaman hanya dengan Nana jadi susah untuk berpindah ke lain hati. Dulu Reygan cukup menyebalkan tetapi seiring berjalananya waktu dia berhasil berubah. Sementara Nana sudah berpikir untuk bertemu Agal besok, semoga saja bisa melihat wajah dingin itu lagi dan menggoda Agal adalah salah satu hobi Nana. "Gagal, besok Nana bakal kunjungin Agal, siapa suruh bikin kangen," ucap Nana pada dirinya sendiri yang tidak didengar oleh orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN