BAB 48

1456 Kata

BAB 48 Anggita berjalan berjingjit menuju pintu. Hatinya ketar-ketir, semakin tak menentu. Andai yang datang adalah polisi, dia akan melarikan diri lewat pintu belakang. Perlahan, tirai jendela itu disibak. Hati yang ciut seketika menghangat ketika melihat Wisnu-lah yang berdiri di depan pintu. Akhirnya, lelaki itu muncul juga. Anggita gegas membuka daun pintu. “Mas, cepetan masuk!” Anggita menarik lengan Wisnu. Bahkan, melangkah keluar pun dia tak berani. Dirinya benar-benar takut. Wisnu menatap Anggita sekilas. Tanpa banyak tanya, ia pun gegas masuk. Lelaki itu duduk di sofa putih yang melingkasir meja. Tangannya baru saja meraih remote televisi, tetapi Anggita menepisnya. “Mas, jangan nonton tivi, please. Aku gak mau lihat berita.” Wisnu menatap Anggita yang baru saja menjatuhkan b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN