BAB 69 Celia bergeming. Tiba-tiba muncul bayangan tubuh papanya yang terbujur kaku. Perasaan bersalah dan sesal itu menyelinap ke dalam dadanya. Dia mendongakkan wajah agar air mata yang menyeruak itu tertahan. Hati Celia memang begitu sensitif, meskipun kerap meledak-ledak. Namun, dia begitu peka jika masalah yang menyangkut hati. “Papa jangan ngomong gitu, dong.” “Kalau gitu, janji dulu, kamu mau nikah sama lelaki pilihan papa.” “Aku gak bisa mutusin sekarang.” “Kamu gak sayang papa, Li? Kamu gak ingin papa sembuh?” “Bukan gitu, Pa. Papa sembuh aja dulu, baru nanti aku akan jawab.” “Tidak, Li. Jawab dulu, itu akan membuat papa sembuh lebih cepat.” Hening sejenak. Pada akhirnya, air mata yang Celia tahan-tahan sejak tadi pun luruh begitu saja. Dia menelan saliva susah payah. Selam

