BAB 68 Celia tertegun dan terdiam. Berulang kali dia menelan saliva. Tiba-tiba ada yang merembes dari sudut netranya. Entah apa atau bagian mana yang membuatnya merasa sedih. “Ma, cepet bawa Papa berobat, biar omongannya gak ngelantur ke mana-mana!” ketus Celia sambil melirik ke arah Nuria. “Iya, mama sudah minta Pak Habib untuk siapkan mobil. Kakak bantu bawa Papa turun tangga, y” Nuria menatap wajah anak gadisnya yang mendung itu. “Aku mau saja bantu, tapi ngomongnya jangan ngelantur lagi,” tukas Celia seraya cemberut. Namun, tak urung juga dia mendekat ke arah sang papa yang tampak menggigil. “Papa gak ngelantur, Lili. Gak ada yang tahu umur orang. Papa juga sudah tua, kalaupun harus berpulang, bisa jadi ini sudah waktunya.” Suara Juragan Arga terdengar gemetar. “Kok, papa ngomong

